SATU LAGI SKOR BUAT IRAN : SETELAH SAUDI, KUWAIT TOLAK PANGKALAN AS
Kuwait menyusul Saudi Arabia: menolak mentah-mentah permintaan Amerika untuk memakai basis militer dan ruang udara mereka. Tamparan kedua yang keras, telanjang, dan menghina untuk Donald Trump. Orang yang selama ini berteriak tentang “kekuatan Amerika” justru dipermalukan di depan sekutu-sekutunya sendiri.
Trump mengumumkan “Proyek Kebebasan” dengan gaya khas pemain reality show yang mengira dunia internasional hanyalah panggung televisi. Ancaman dibungkus slogan murahan, gertakan dikemas seperti trailer film perang, lalu ia berharap semua negara Teluk berdiri tegak di belakang Washington. Yang terjadi justru sebaliknya: pintu dibanting di depan mukanya.
Saudi menolak. Kuwait ikut menolak. Dua negara yang selama puluhan tahun menjadi halaman belakang strategi militer Amerika kini memilih menjaga jarak. Mereka memahami satu fakta yang terlalu jelas: mengikuti Trump berarti menyeret diri ke jurang demi ego seorang pembual yang mengira tweet adalah strategi geopolitik.
Ini adalah penghinaan geopolitik yang brutal. Amerika ditolak oleh sekutu sendiri. Itu jauh lebih memalukan. Selama puluhan tahun Washington membangun citra bahwa Teluk berada dalam orbit penuh Amerika. Kini orbit itu runtuh di depan mata dunia. Negara-negara Teluk melihat Trump sebagai sumber kekacauan, bukan sumber perlindungan. Mereka melihat seorang presiden yang setiap pidatonya penuh ancaman, tetapi setiap konfrontasi nyata berakhir dengan mundur, panik, lalu membual lagi di media sosial.
“America First” berubah menjadi “America Alone”. Iran bahkan tidak perlu menembakkan satu rudal untuk memenangkan babak ini. Cukup berdiri tenang sambil menyaksikan sekutu-sekutu Amerika saling menjaga jarak dari Washington. Ini kemenangan diplomatik yang dingin dan mematikan. Negara-negara Teluk mulai berpikir dengan kalkulasi bisnis dan kelangsungan rezim, bukan dengan loyalitas bodoh kepada Amerika. Mereka lebih memilih hubungan stabil dengan China, perdagangan energi yang aman, dan kawasan yang tidak dibakar oleh ego Trump.
Pangkalan ditutup. Ruang udara diblokir. Jalur operasi dipersempit. Semua itu terjadi ketika Trump masih sibuk menjual ilusi bahwa dirinya adalah “deal maker” terbesar abad ini. Realitas justru memperlihatkan kebalikannya: semakin keras ia menggertak, semakin banyak negara menjauh.
Dunia sudah hafal polanya. Trump mengancam dengan suara keras, lalu realitas menghajarnya beberapa jam kemudian. Ia menjual citra strongman, padahal yang terlihat justru politik gaduh tanpa arah. Setiap proyek besar berubah menjadi bahan tertawaan. Setiap ultimatum berubah menjadi drama gagal. Setiap ancaman berubah menjadi bukti bahwa pengaruh Amerika tidak lagi mutlak.
Negara-negara Teluk akhirnya memahami harga mahal dari mengikuti Washington secara membabi buta. Mereka tidak mau ikut tenggelam bersama kapal yang nahkodanya lebih sibuk bermain citra dibanding membaca arus geopolitik.
Satu lagi skor untuk Iran. Mungkin sebaiknya Trump tak keburu terjungkal agar bisa lebih banyak melakukan tindakan yang bisa menghancurkan AS akibat arogansi dan stupiditasnya.
Penyelidikan awal PBB menemukan kematian prajurit TNI Farizal Rhomadon disebabkan tembakan tank Israel di Lebanon, pada 29 Maret lalu.
https://t.co/7z3rV69jia
Antrian panjang menjelang larut malam di SPBU Tanetea, panic buying setelah desas-desus stok terbatas hingga kenaikan harga BBM. Namun, dari antrian belakang ada juga yang mengomel bahwa ini dampak MBG. Ada-ada saja!
Spanish PM Pedro Sanchez responds to Trump :
"23 years ago, U.S govt dragged us into a war with Iraq, A war said to fight to eliminate Saddam Hussein's nuclear weapons and bring democracy
But NO nuclear weapon was found in Iraq"
You can't fool us twice !! BRUTAL !!
The United States gave Netanyahu over $24 billion in taxpayer dollars to fund his horrific war in Gaza.
That wasn't enough. Netanyahu wanted war with Iran. Trump gave him one.
The American people — not Netanyahu’s right-wing government — should determine U.S. foreign policy.
Israel & Saudi Arabia pushed the U.S. to attack Iran.
Netanyahu killed 72,000 people in Gaza, mostly women & children.
Saudi Arabia is a brutal dictatorship that allows no opposition.
These are the leaders who want to bring “freedom” to Iran?
Does anyone really believe that?
Dukung kemerdekaan warga Palestina itu tidak identik dengan Hamas.
Dukung Iran membalas serangan zionis kecil & besar kepada ratusan anak-anak di suatu madrasah itu tidak identik dengan Syiah.
Dunia ini tidak se-hitam-putih itu. Kita selalu punya alasan untuk suatu tindakan. Kadang ada orang yang bertindak berdasarkan akal sehat dan hati nuraninya. Kadang juga ada yang bertindak karena hal-hal lain yang kita belum paham.
Lebih dari 60 tokoh bersama lebih dari 70 organisasi masyarakat sipil, mengeluarkan petisi yang menyatakan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah melanggar hukum internasional dan merusak perdamaian dunia.
Mereka menilai Dewan Perdamaian yang seharusnya menjaga perdamaian justru bertindak sebaliknya. Karena itu, pemerintah dan DPR didesak segera menarik Indonesia dari keanggotaan Dewan Perdamaian termasuk menolak pengiriman pasukan TNI ke Gaza.
Baca: https://t.co/0LFiUxIwlL
#AdadiKompas
Trump dubbed this war operation Epic Fury with a combat posture.
Today he doesn't have latitude to dictate Op tempo on what happens next, Iran does.
Today he doesn't posses the commanding stance, he runs away from the press, avoids questions on losses and insults journalists with middle finger.
That's a sign of a frustrated trump with failed objectives, losing Gulf allies since he can't provide cover to them from Iranian Missiles, stressed up with crashing Markets and this is exactly how this war will cause jitters much more in Washington than in Tehran.
He could have fled to Russia like Assad or hid in a spider hole like Saddam. In the end he remained in his own residence. It doesn’t take a lot of brains to understand why.
Δύο παραβατικά κράτη, με παράδοση στην υπονόμευση του Διεθνούς Δικαίου, ξεκίνησαν πόλεμο όχι εναντίον του Ιράν, αλλά της Ανθρωπότητας. Στεκόμαστε στο πλευρό των Ιρανών κόντρα στην ιδέα ότι το Ισραήλ και οι ΗΠΑ μπορούν να βομβαρδίζουν όποιον τους καπνίσει https://t.co/Xn8bo7q5Xc
Bombing Iran in the middle of negotiations, while starving Cuba, while genociding Palestinians, while threatening to invade Greenland… the US and Israel are the single greatest threat to humanity and it’s not even close. We are all forced to live in the nightmare they create.
They do blood ritual sacrifices on Purim, specifically of gentile children.
That’s why they made sure to bomb the little girls elementary school in Iran, killing over 34 little girls. They needed to sacrifice them for Purim.
I condemn today’s military escalation in the Middle East. The use of force by the United States & Israel against Iran, and the subsequent retaliation by Iran across the region, undermine international peace & security.
All Member States must respect their obligations under international law, including the Charter of the @UN. The Charter clearly prohibits “the threat of the use of force against the territorial integrity or political independence of any state, or in any other manner inconsistent with the Purposes of the United Nations.”
I call for an immediate cessation of hostilities & de-escalation. Failing to do so risks a wider regional conflict with grave consequences for civilians & regional stability. I strongly encourage all parties to return immediately to the negotiating table.
I reiterate that there is no viable alternative to the peaceful settlement of international disputes, in full accordance with international law, including the UN Charter. The Charter provides the foundation for the maintenance of international peace and security.