Sekelompok orang tidak akan pernah bisa memahami arti "marjinal", "minoritas", yang tertindas, selama mereka belum pernah merasakan menjadi salah satunya.
Mereka tidak akan pernah bisa mengerti mengapa ada perlawanan dari kelompok marjinal/minoritas karena di benak mereka, apa yang terjadi di depan mata mereka adalah sebuah hal yang normal. Bahkan ketika yang terjadi di hadapannya adalah sebuah ketidakadilan, mereka akan menganggap itu biasa saja.
Kelompok marjinal dan minoritas yang tertindas ini bukannya ingin menjadi pihak yang menindas. Mereka cuma ingin hidup tenang dan layak. Mereka tak akan melawan selama hak hidup mereka sudah terpenuhi.
Banyak orang yang mengaku memiliki moral tapi ketika berhadapan dengan kelompok marjinal dan minoritas, pola pikir yang mereka miliki adalah: "Kami membiarkan kalian hidup saja sudah bagus." Ini bukan sebuah bentuk keyakinan untuk mengamankan; tapi sebuah ancaman.
Banyak orang yang tidak akan memahami di mana letak ancamannya karena buat mereka, dengan tidak membunuh manusia lain saja adalah sebuah kebaikan. Mereka tidak akan pernah memahami rasa takut yang dimiliki oleh kelompok marjinal dan minoritas.
Sampai dengan detik ini, gerombolan orang yang secara sadar ingin mengakhiri hidup kelompok marjinal dan minoritas akan terus beranggapan bahwa mereka terusik. Ketenangan dan kenormalan yang selama ini mereka nikmati, "diganggu" oleh sekelompok orang yang hanya ingin mendapatkan apa yang menjadi haknya. Mereka akan selalu menemukan justifikasi untuk melakukan penindasan.
Gw akan selalu berdiri bersama kaum marjinal dan minoritas. Walaupum gw tidak sepenuhnya bisa memahami ketakutan yang mereka hadapi setiap harinya, gw akan tetap bersama mereka. Hal ini tentu akan membuat beberapa pihak tidak nyaman. Bagus. Biarkan ketidaknyamanan itu terus berkembang agar kalian belajar untuk mulai melihat dari kacamata kaum marjinal dan minoritas. Kelompok marjinal dan minoritas dalam bentuk dan nama apapun.
Ketika masuk kelas uyunul masail linnisa', aku selalu buka kelas dengan "menurut kalian, haid tuh apa?"
Most of them jawab "darah kotor mba"
Dari sana, aku selalu jelasin bahwa it is not. It's simply part of dinding rahim yang luruh bla bla bla, and it's not dirty.
Aku notice ttg poin nomer 1. Di indo banyak pemuka agama menjadikan pengecualian ibadah ketika haid itu krn "kotor" "ga layak" "ga sopan", sedangkan di luar tuh mereka menjelaskan pengecualian ibadah ketika haid sbg bentuk kebaikan Tuhan Yang Maha Pengasih.
Tapi jangan khawatir, sebab Allah ga melarang kita sepenuhnya buat beribadah. Kita masih bisa dzikir, baca kalimat thayyibah, tetep bisa muji muji Allah dan Rasulullah.
Ranking paralel didominasi cewe² di sekolah, narasi benevolent sexism kayak stereotip siswi² itu lebih disiplin, rajin, terorganisir ujung²nya ga dianggap pantas jadi ketua.
Men wouldn't say the same thing about women, they would say "Cewe² ga make logika dan ga rasional"
I mean, gaya tulisan belio tuh nyaman banget dibaca. I found KU after such a long journey (emang picky banget kalo baca fiksi), karena mesti ketemu novel yang aku ga cocok sama gaya tulisannya.
Sekadar mengingatkan 🙏🙏🙏 ini kutipan pembuka novel Korpus Uterus, yang saking membuatku garuk-garuk kepala pas baca ulang, aku harus memasukkannya buat penutup catatan bacaan di Medium.
setelah itu jadi sadar, kenapa mesti takut with the idea of “getting replaced”? aint that how this life works? sesederhana memahami ya mungkin sampai di situ aja perannya. dan itu ga papa. not everyone means to stay in our life forever.
some people stay, some teach us a lesson.
🫠🫠🫠 apalagi if you have rejection sensitivity duh 🥹🫠🥹🫠 “kalau ga keterima gimana” “kalau ga boleh gimana” on loop twice speed playing in your brain 24/7. this happens bahkan ke hal sesimpel mau kasih pendapat ketika lagi kerja kelompok 😭 kalau temen kelompoknya langsung
Dear, media.
Kurban itu perorangan. Jika Presiden menggunakan APBN untuk bagi-bagi sapi, maka itu bukan kurban. Itu program politik. Jadi jangan ditulis "kurban Prabowo" karena dananya dari pajak rakyat. Trims...