Unpopular opinion … orang miskin itu bukan hanya miskin harta tapi juga miskin attitude. SDM rendah yang suka hidup jorok, mental pemalas dan mental preman yang sangat kental sekali. Teruntuk para warga Surabaya dan sekitarnya, PERHATIKAN BAIK-BAIK dan TANDAI KETIGA PEREMPUAN LAKNAT INI, jangan beri mereka tempat untuk ngekos atau ngontrak. Dan juga sangat disayangkan mediasi dari Cak Ji justru merugikan pihak pemilik sah rumah tersebut.
GILAAA ternyata biaya pelatihan manajer kopdes ini perorang: 45juta rupiah!!
30juta latihan militer.
15 juta untuk substansi koperasi.
Untuk 30,000 orang jadi 1.35 T!
Dana segini bisa menggratiskan UKT berapa puluh ribu mahasiswa se Indonesia.😢😢😢
KDMP ini udah jelas2 pasti gagal.
Even secara konsep lebih jelek dari MBG.
Ga jelas masalah apa yg coba diselesaikan. Implementasi lebih buruk lg. Cm jd mainan kacang ijo.
Kalo mau mainan roleplay minimarket mah diajak ke Kidzania aja.
Ga perlu sampe bikin bangunan miliaran, beli pick up dari India, ngabis2in uang pajak kita
Jadi sebenere boleh kritik government ga ini?
Soale tiap kritik dicounter, seolah2 yg kritik tu “ga nasionalis” bahkan dijawab “nyenyenyenye”
Ditanya “trus solusimu apa!”
Banyak juga yg udah kasi solusi. Ttp aja dibales dengan narasi offensive.
HITUNG BMI-NYA YUK !!
BMI atau Body Mass Index dihitung dengan rumus:
berat badan (kg) dibagi tinggi badan (meter) kuadrat.
BMI = 75 ÷ (1,82 × 1,82) = 75 ÷ 3,3124 = 22,64
HASILNYA: BMI 22,64
KATEGORI BMI MENURUT WHO
Underweight: di bawah 18,5
Normal / Ideal: 18,5 – 24,9
Overweight: 25,0 – 29,9
Obesitas Kelas I: 30,0 – 34,9
Obesitas Kelas II: 35,0 ke atas
Dengan BMI 22,64, posisinya tepat berada di tengah-tengah zona
NORMAL / IDEAL.
Bukan kurus,
bukan gemuk.
Pas.
Makan noh MBG MBG bolu ketan, di TikTok bahkan percaya orang ini bisa kerja bener cuma karena jadi lebih asyik, cuma karena berdamai dan bisa diledek dengan lagu MBG. Makan itu semua voters 02 bajingan kalian.
Jika MBG dihentikan, bagaimana dengan nasib 1,5 juta penggerak SPPG & supplier bahan makanan?
Saya tidak tahu, dan tidak mau tahu juga. Karena sejak awal realisasi program ini, kan, ngotot "demi" gizi anak-lansia-bumil. Maka, perhatian saya ada di sana, bukan yang lain.
Kalau program ini benar-benar murni demi gizi anak-lansia-bumil, kenapa harus bikin rantai pasok sebesar itu yang ujung-ujungnya cuma bikin ketergantungan massal pada APBN?
Mereka yang ngotot dari awal apakah tahu persis bahwa ini bukan solusi gizi tapi mesin politik untuk bagi-bagi proyek?
Sekarang, tiba-tiba 1,5 juta orang jadi korban ketika programnya dihentikan (setelah mantan Kepala BGN-nya ketahuan korup), apakah mereka dari awal tidak tahu bahwa mereka cuma jadi alat untuk narasi “peduli rakyat” yang murahan?
Siapa yang salah kalau akhirnya nasib mereka terkatung-katung? Warga Indonesia selain 1,5 juta itu? Lho, bukan mereka yang memaksa "program gagal" ini jalan.
Lagian, kalau gizi anak-lansia-bumil memang prioritas utama, kenapa tidak langsung kasih dana tunai ke keluarga daripada lewat supplier dan penggerak yang entah berapa persennya cuma jadi perantara rente?
Seharusnya 1,5 juta penggeral SPPG harus menagih tanggung jawab ke mereka saja, bukannya ngasih tahu warga tentang kondisi mereka yang terkatung-katung itu.
Jadi, ya, jangan salahkan yang kritis dan protes sejak awal. Yang salah justru mereka yang ngotot program ini “harus” jalan, tanpa hitung-hitungan matang soal keberlanjutan, dan dampak jangka panjangnya.
Nasib 1,5 juta orang pengegrak itu, kan, konsekuensi logis dari kebijakan yang dibangun di atas "sandiwara gizi", bukan atas dasar akal sehat, to? Sementara kalian, kan, mengambil itu atas dasar ekonomi, to?
Kenapa harus mengadu ke rakyat non-1,5 juta itu?
NB: 1,5 juta itu bukan "relawan", ya. Mereka digaji pakai APBN. Tidak bisa disebut relawan karena mereka dibayar untuk melakukan pekerjaan itu.
Dan ternyata tidak begitu pecus.