A thirteen-year-old dressed as Saint Bernadette of Lourdes, singing in front of Pope Leo ✝️✨
We can shut down the internet for today
The Catholic Church, beauty, love, faith and truth have won, hands down
Revolusi Perempuan: Kehidupan Membebaskan
Penulis: Abdullah Ocalan, Dilar Dirik, Carne Ross, Necibe Qeredaxi
Penerbit: Penerbit Daun Malam
Tahun terbit: 2022
Tautan baca dan unduh: https://t.co/s0Yzyync5A
Sekali Berarti, Sesudah itu Mati dari Guruh Gipsy.
Bila ditanya apa album Indonesia terbaik? Saya akan mantap menjawab Guruh Gipsy (1976). Era 1970-an adalah era di mana band-band Indonesia berkiblat pada Barat, namun Guruh Soekarnoputra menjadi anomalinya dengan Guruh Gipsy.
Sebuah utas.
Cerita tentang perbudakan di Sumba sepertinya tidak bisa begitu saja dilihat dari kacamata perbudakan a la transatlantik. Ada sejarah, falsafah, dan kompleksitas di balik itu semua.
#Sumba#NTT#YaAkuBakalDibaca
https://t.co/O9RoppKpWY
sila unduh naskah Sejarah Modern Indonesia – Pramoedya Ananta Toer 1964: Bahan Kuliah : Tingkat : I & II FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS “RES PUBLICA”
(tersedia hasil digitalisasi salinan naskah atau dalam format baru yakni dengan pengetikan kembali
https://t.co/6k0a79oRZl
Kumpulan Kliping Media tentang Penculikan 1998 Bagian 1
Penulis: KontraS
Penerbit: Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS)
Tahun terbit: 1998
Tautan baca dan unduh: https://t.co/QsFebEyCMI
Pertama, PAN itu lahir pasca ”Reformasi 1998”. Bisa dibilang lahir langsung dari rahim reformasi.
Saya masih SD waktu itu, namun seingat saya PAN dibentuk barisan intelektual, akademisi kampus, cendekiawan Muhammadiyah, serta aktivis kelas menengah terdidik yang menghendaki runtuhnya rezim otoriter yang anti-kritik.
Jadi, ketika elit-elit mereka di acara kemarin ikut tertawa ketika presiden meledek secara verbal, eksplisit, dan direkam justru memperlihatkan partai ini, atau minimal yang hadir di sana, memiliki ketulian empati (tone-deafness).
Presiden sendiri yang mengaku tidak memakai saran pakar untuk merealisasi MBG dan KDMP, tidak pakai uji akademik dulu pula. Tapi langsung diterabas hingga membuat keuangan negara ini boncos seperti ini.
Presiden dikritik warga, pengkritiknya dituduh antek asing. Presiden dikritik wartawan, pengkritiknya di-ndasmu-ndasmu-kan. Presiden dikritik pakar, pengkritiknya dibodoh-bodohkan.
Saat mereka tertawa di ruang konvensi berpendingin udara, di saat itu pula publik sedang menanggung beban akibat berbagai kebijakan yang minim kalkulasi seperti ini.
Dan ketika rakyat menuntut penyusunan kebijakan yang presisi, transparan, dan berbasis data ilmiah, para elite di ruangan itu malah menertawakan mereka yang menyediakan analisis berbasis data tersebut.
Saya melihat Kaesang tidak ikut tertawa, dan wajahnya menyiratkan nuansa tidak suka dengan pernyataan itu. Dan ini bagus, minimal ketulian yang sama tidak menjangkiti anaknya Pak Jokowi ini.
Kedua, sejak muncul kasus Tom Lembong, Amsal Sitepu, Nadiem Makarim, Ibrahim Arief, dan terakhir Gus Yaqut, saya jadi yakin untuk menolak RUU Perampasan Aset dan hukuman mati bagi koruptor.
Karena yang diperlukan negeri ini belum kedua hal itu, tapi: reformasi penegak hukum.
Korea Selatan, sekadar contoh, bisa relatif bagus karena jaksa-jaksa mereka bagus, dan kepolisian mereka juga bagus. Aparat penegak hukumnya (APH) tidak tumpul ke dalam.
Jika APH di Indonesia masih seperti ini, maka kedua RUU tersebut malah bikin runyam, dan bisa jadi alat untuk siapapun yang ditarget.
Prinsip hukum itu, sejauh yang saya tahu, dibuat untuk membuat orang baik terhindar dari eksekusi.
Ada orang tidak terbukti menerima aliran dana (langsung maupun perantara), tidak terbukti merugikan negara, dan tidak terbukti bersekongkol jahat, namun diseret menjadi tersangka, didakwa, dan dipenjara, maka yang diperlukan negeri ini hanyalah reformasi penegak hukumnya.
Bukannya memberikan ”peluru tambahan” untuk APH yang sinting begini.
Menurut Mochtar Lubis (1977), ada enam sifat manusia Indonesia:
- Hipokrit (munafik)
- Enggan bertanggung jawab
- Berjiwa feodal
- Percaya takhayul
- Artistik (nyeni)
- Lemah karakter
ROTE. Baru pertama ke pulau paling selatan NKRI. Lanskapnya sering digambarkan kering dan tandus. Warganya banyak merantau.
Dengan propaganda itu, Jakarta sedang bikin proyek 13.000 Ha tambak garam (setara luas sawah) yang menggusur tanaman pangan manusia dan ternak, serta mengancam sumber air. Terutama di sisi timur pulau.
Proyek ini di bawah bendera K-SIGN (Kawasan Sentra Industri Garam Nasional). Seperti biasa, iming-imingnya penciptaan 25.000 lapangan kerja.
Padahal Rote sudah swasembada pangan (beras, jagung, ubi, sorgum). Sebagian bahkan dijual ke Kupang (Timor daratan).
Seperti Proyek Strategis Nasional (PSN) lain di seluruh NKRI, warga dan pemerintah daerah tak pernah dilibatkan dalam perencanaan. Semua diputuskan Jakarta.
Punya produksi garam tentu penting. Tapi membebankan produksi nasional pada satu pulau kecil, adalah penghancuran dan pemiskinan. Apalagi di sisi barat, industri pariwisata premium terus mengincar tanah-tanah masyarakat.
Sementara pusat-pusat produksi garam seperti utara Jawa atau Madura semakin hancur karena tekanan industrialisasi dan komersialisasi lahan. Seperti di Sulawesi untuk reklamasi properti.
Garam tak hanya buat masakan. Juga industri farmasi, kecantikan, tekstil hingga kimia. Kalau benar demi ekonomi Rote, buka tambak secukupnya lalu bangun industri hilirnya.
Ini yang akan menciptakan lapangan kerja. Bukan belasan ribu hektar hamparan tambak yang cukup dengan alat-alat berat dan hanya perlu segelintir buruh kasar saja.
Pemerintah daerah jangan obral lahan dan tertipu dengan iming-iming lapangan kerja. Stop membuka lahan baru sampai Jakarta membangun industri hilir di Rote.
Tanpa hilirisasi, proyek ini hanya mengincar lahan murah dan mudah. Korbannya akan banyak. Dari lontar, ternak, hingga potensi wisata.
Kalau perlu pemerintah NTT dan Rote Ndao membuat syarat bahwa setiap 1.000 Ha lahan yang dibuka, harus ada 1 rintisan industri hilir yang dibangun.
Apalagi semua pemerintah daerah sedang dilemahkan lewat fiskal yang terus disedot rezim militeristik Prabowo-Gibran di Jakarta.
Daerah seperti Rote hari ini tak bisa membangun dan hanya sanggup membayar gaji pegawai.
Saya sampaikan salah satu konsep dan gagasan dari buku "Reset Indonesia" ini di forum Rote Mengajar, Agustus lalu di depan bupati, pejabat, ASN, dan warga.
Semoga didengar. Kalau tidak, ingatlah: Ini pulau paling selatan NKRI.
Tahu apa yang terjadi dengan mereka yang kecewa di ujung paling barat dan timur NKRI?
Dulu tertatih-tatih memahami The General Theory karya John Maynard Keynes. Lalu berusaha memahami melalui sumber sekunder, dari para murid dan penafsir Keynes, seperti Robinson, Hansen, Samuelson hingga Minsky, Krugman, Levy.
Baru tahu belakangan buku ini pernah diterjemahkan Prof Willem Makaliwe dan diterbitkan UGM Press tahun 1991.
Yang istimewa adalah kata pengantar Prof Sumitro sebanyak 50 hlm. Ini bukan pengantar biasa. Pak Cum membabarkan historisitas teori ekonomi dan kontekstualisasinya - fasih dan komplit. Ini sangat penting dan membantu saya yang awam memahami Keynes dan sejarah teori ekonomi. Apalagi Pak Cum belajar langsung di Prancis dan Belanda, dan menjadi murid langsung para begawan ekonomi dunia.
Seorang mahasiswa bertanya kepada dosennya:
👱🏻♀️: Pak, semua orang dianggap tahu hukum ya?
👨🏻🎓: Secara asas hukum, iya. Dikenal sebagai “fiksi hukum”.
👱🏻♀️: Bapak hafal semua hukum?
👨🏻🎓: Tentu tidak.
👱🏻♀️: Berarti asas hukum tadi aneh dong, Pak?
👨🏻🎓: Nah, itu yang dipertanyakan M. Fatahillah Akbar (@mfatahilahakbar) dalam artikelnya.
👨🏻🎓: Misalnya seseorang memelihara landak Jawa tanpa tahu bahwa satwa itu dilindungi. Apakah ketidaktahuan itu sama sekali tidak wajar?
👱🏻♀️: Kan tidak mungkin semua orang hafal seluruh satwa dilindungi.
👨🏻🎓: Persis. Pertanyaannya sederhana, tetapi mengganggu banyak asumsi dasar dalam hukum kan.
👱🏻♀️: Beliau profesor ya, Pak?
👨🏻🎓: Belum. Baru diangkat Lektor Kepala.
👱🏻♀️: Serius?
👨🏻🎓: Iya. Secara jabatan tinggal selangkah menuju Guru Besar. Tapi dari kualitas dan tulisan-tulisannya, menurut saya level keilmuannya sudah di sana.
Mengenang Musisi dan Penyair Victor Jara [28 September 1932 - 16 September 1973] : Militer Yang Mengkudeta Presiden Chili Salvador Allende Membunuhnya Dengan 44 Tembakan... https://t.co/gislhAfq15
Tirani itu penakut / lemah, rakyat itu kuat. Apalagi kalau bersatu, terorganisir.
#peoplepower 98 bikin seseorang kabur ke Timur Tengah.
Jangan terpecah. Bersatu lawan kezaliman.