Aldi Taher hadir bersama istri dan anak-anaknya.
Diundang ke salah satu stasiun tv
Dan yang keluar dari obrolan ini jauh lebih dalam dari yang kelihatan di permukaan.
Di balik semua gimmick dan konten viralnya:
Banyak orang kenal Aldi Taher sebagai sosok yang selalu bikin heboh โ lawak, kontroversi, viral.
Tapi di episode ini dia bicara soal sesuatu yang jauh lebih berat.
Ibunya stroke selama 25 tahun.
Bukan setahun dua tahun.
Dua puluh lima tahun.
Dan di stroke kelimanya leher ibunya sampai miring, makan harus pakai sonde.
Saya tidak boleh terlihat sedih di depan ibu saya.
Dan Aldi sendiri adalah penyintas kanker.
Dan dari dua beban berat itu muncul satu filosofi hidup yang sederhana tapi dalam:
Enggak apa-apa disumpahi netizen asal jangan disumpahi langit.
Sekasar apapun komentar yang masuk gambar apapun yang dikirim responnya sama:
istigfar. Lewat. Selesai.
Bukan karena tidak sakit.
Tapi karena dia sudah memilih menggunakan energinya untuk hal yang lebih penting merawat ibu yang sakit, menjaga kesehatannya sendiri, dan membesarkan anak-anaknya.
Soal istrinya Shika:
Shika hadir dan berbicara jujur awalnya kaget dengan haters dan komentar negatif.
Tapi lama-lama belajar bahwa memang tidak ada public figure yang bebas dari itu.
Dan ada satu kalimat Aldi ke istrinya di akhir yang menurut gue sederhana tapi berat maknanya:
Makasih ya sudah jadi istri yang baik, salehah, sudah jadi ibu.
Shika nangis.
Aldi becanda untuk mencairkan suasana karena memang begitu caranya.
Tapi bukan berarti tidak serius.
Yang paling gue ingat dari episode ini:
Aldi bilang dua hal soal kesetiaan yang menurut gue worth disimpan:
Kesetiaan perempuan itu diuji ketika tak berharta. Kesetiaan laki-laki itu diuji ketika sudah segala ada.
Dan soal Al-Qur'an yang dia baca rutin:
Efek baca Quran ada ujian apapun kita bawa husnuzan sama Allah dan bawa happy aja.
Ini bukan motivasi kosong.
Ini dari orang yang ibunya stroke 25 tahun dan dirinya sendiri pernah divonis kanker.
Di balik semua kegilaan konten Aldi Taher yang sering bikin orang geleng-geleng kepala ada seseorang yang setiap hari bangun dan memilih untuk tidak kelihatan hancur di depan ibunya yang sakit.
Yang memilih tertawa bukan karena hidupnya mudah tapi karena dia tahu tertawa adalah satu-satunya cara dia bisa terus berdiri.
Dan itu bukan hal kecil.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiโun.
Turut berduka cita atas wafatnya Bapak Asih Widodo pada 21 Desember 2025. Sepanjang hidupnya beliau teguh memperjuangkan keadilan atas meninggalnya putra tercinta, Sigit Prasetyo, korban peristiwa Semanggi I 1998.
Teror yang gue terima dalam 24 jam terakhir
Teror kayak gini ngga ngebantu masyarakat Sumatera. Toh semua lagi sibuk bantu pemulihan disana kan? Pemerintah, relawan, aparat, dokter teknisi. Bahwa masyarakat yang mengungkapn kebenaran keadaan disana jangan dianggap sebagai ancaman
Anyway reminder yaa teman2 gue masih membuka donasi untuk Aceh Tengah dan Bener Meriah di
https://t.co/GwCw4yOv2o
Stay safe semuanya.
Saling support. Warga jaga warga