Cari AC buat rumah dengan listrik cuma 1.300W ternyata nggak sesimpel cari yang jual mie ayam.
Apalagi ukuran kamar saya diatas 12m2 menghadap barat, jadi siang hari panasnya parah. Ditambah ada ventilasi yang terhubung ke kamar sebelah, bikin suhu kamar lebih susah stabil.
Awalnya saya sudah hampir yakin pilih Midea MSIAF.
garansi kompresornya 10 tahun, dan secara spesifikasi memang menarik.
Tapi ada satu angka yang bikin saya mikir ulang: dayanya sekitar 1.000W.
Kalau daya rumah cuma 1.300W, berarti secara kasar sisa kapasitasnya tinggal:
1.300W - 1.000W = 300W.
Belum lagi kulkas, lampu, laptop, dispenser, atau perangkat lain yang ikut nyala.
AC-nya mungkin bisa jalan, tapi buat kondisi rumah saya rasanya terlalu mepet.
Dari situ saya mulai melihat alternatif lainnya dan akhirnya ketemu Panasonic CS-PU9AKJ 1 PK yang paling pas.
Dayanya sekitar 670W.
Artinya, dibanding 1.000W tadi, ada selisih sekitar 330W.
Dan dari kapasitas listrik rumah:
1.300W - 670W = 630W masih tersisa untuk perangkat lain.
Tapi yang bikin saya makin tertarik bukan cuma angka watt-nya.
Panasonic ini juga punya ECO Mode 2 level untuk membatasi penggunaan daya. Di level tertinggi, dayanya bisa dibatasi sampai sekitar 50%.
Ada juga kemampuan beroperasi di tegangan rendah hingga 160V, jadi nggak perlu tambahan stabilizer untuk kondisi tegangan yang kurang stabil.
Di situ saya akhirnya pindah pilihan.
Sekarang saya pakai CS-PU9AKJ, biasanya di ECO Level 2, suhu 27°C saat malam sudah dingin banget buat kita.
Buat kamar yang kondisinya cukup menantang, hasilnya malah lebih dingin dari ekspektasi saya dan yang paling penting, beban listrik rumah masih terasa aman.
Jadi akhirnya saya sadar:
AC terbaik belum tentu yang angka spesifikasinya dan fitur yang paling tinggi.
Kadang yang lebih penting justru yang paling cocok dengan daya listrik, kondisi kamar, dan pola pemakaian kita sendiri.
anomali indonesia menurut netizen:
- negara kepulauan tapi harga ikan mahal
- negara tropis tapi harga buah mahal
- negara penghasil cpo tapi minyak goreng mahal
- negara kaya sda tapi listrik dan bbm mahal
- negara hukum tapi kasus baru kelar kalau udah viral
- negara agraris tapi sering impor pangan
- rakyat taat bayar pajak tapi jalan tetap berlubang
- gaji pejabat kecil tapi harta kekayaannya banyak
- komisi pengawas banyak tapi pungli tetap jalan terus
- slogan produk lokal tapi bahan bakunya impor semua
- udah digitalisasi birokrasi tapi urus izin tetap minta fc ktp
- lagi darurat iklim tapi hutan lindung malah jadi tambang
- upah minimum naik tapi harga sembako ikut naik juga
@LambeSahamjja Logikanya berpikirnya emang agak laen, masa telat 3 hari tiba2 skill nyetir bertahun2 dianggap ilang dan harus ngulang ujian dari nol.
kocaknya...
@profesor_saham Kemaren pemulung diganti jadi “pekerja pemilah sampah” sekarang ganti nama lagi buat RUU perampasan asset.
Bukannya menyelesaikan masalah intinya malah sibuk dipermukaan.
@profesor_saham Kemaren pemulung diganti jadi “pekerja pemilah sampah” sekarang ganti nama lagi buat RUU perampasan asset.
Bukannya menyelesaikan masalah intinya malah sibuk dipermukaan.
Sudah pendapatan 75 X UMR,
- Masih ditambah masih ada korupsi, masih.
- Melakukan aksi tidur siang pas rapat komisi.
- Rakyat yang di bawah pusing dihajar inflasi.
- Melakukan akrobat regulasi demi nyari posisi.
- Cuma bisa bengong lihat pejabat atraksi.
Kita yang tiap pagi-malam kerja keras banting tulang cuma bisa nangis lihat konspirasi. 🙃
@LambeSahamjja Logikanya berpikirnya emang agak laen, masa telat 3 hari tiba2 skill nyetir bertahun2 dianggap ilang dan harus ngulang ujian dari nol.
kocaknya...
Merdeka dari penjajahan negara lain: YA.
Memiliki hak dan kebebasan sebagai warga negara: YA, dijamin konstitusi.
Merdeka sepenuhnya secara ekonomi, sosial, atau dari tekanan/ketidakadilan: BELUM TENTU, ini bergantung pada kondisi setiap orang dan bagaimana hak-hak tersebut terlaksana dalam kehidupan nyata.
> Seseorang akan lebih benar2 merasakan merdeka ketika ia bebas menyampaikan pendapat tanpa ketakutan yang tidak semestinya.
> Memperoleh pendidikan dan kesehatan yang layak, mempunyai kesempatan mencari nafkah dan meningkatkan taraf hidup.
> Diperlakukan adil di hadapan hukum, serta tidak didiskriminasi karena agama, suku, ekonomi, atau pandangan politiknya.
Jadi, kemerdekaan 1945 adalah titik awal, bukan titik akhir.