Gak ada yang lebih ironis dari kisah Prof. Bambang Hero Saharjo. Ilmuwan yang berjuang nyelametin hutan Indonesia dari kebakaran, malah digugat Rp510 Miliar di negeri sendiri oleh korporat sawit.
Tahun 2018, dosen IPB ini dituntut dengan angka fantastis itu cuma karena beliau jadi saksi ahli KLHK buat ngebongkar kasus pembakaran hutan di Riau. Analisis ilmiahnya yang akurat malah dibalas teror hukum yang nyaris ngehancurin kariernya.
Tapi plot twist-nya bikin nampar muka hukum kita: Di saat dalam negeri beliau ditekan habis-habisan, tahun 2019 lembaga internasional di London, Inggris, justru menganugerahi beliau John Maddox Prize—salah satu penghargaan tertinggi buat ilmuwan paling berani di dunia.
Bukti nyata kalau di negeri ini, jujur dan pakai ilmu buat bela alam itu taruhannya bisa miskin tujuh turunan digugat mafia.
Kita yang ngegaji melalui pajak, lah kita juga yang kerja self-funded pakai kuota sendiri 🫠💀
✨️Just a reminder✨️: this is not normal.
Yang normal jadi WNI berakal sehat, punya nurani (dan akun media sosial) merasa burn out.
Nangis baca kasus tapir dibunuh. Selama 10 thn kerja di konservasi, ga pernah aku nemu yg namanya konflik tapir.
Hewan ini ga ngerusak kebun orang. Ga makan ternak warga. Kalo ketemu manusia cenderung menghindar, gak agresif.
Tapirs are gentle & chill, but they killed him 💔
Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Muhammad Abdimaludin mengaku menerima uang sebesar Rp 20 juta diduga dari oknum polisi. Uang tersebut disalurkan melalui seorang senior alumni Fakultas Hukum UBK dan diterima sebelum aksi demonstrasi mahasiswa pada Senin (15/6/2026).
Uang tersebut diduga berkaitan dengan rencana pemindahan titik aksi mahasiswa UBK di Istana Presiden, Jakarta Pusat.
Gimana kalau menurut kalian? Coba komen!
Content Creator: Dian Reinis
Produser: Akhdi Martin
#demo #demomahasiswa #demojakarta #review
Jakarta emang se-kontras itu ya
Tadi jam 7-an pas balik kantor, aku mutusin jalan kaki dari kantor ke Ambassador. Nggak nyampe sekilo juga sih, tapi sepanjang jalan aku iseng foto-foto dan malah jadi merhatiin orang sekitar.
Ternyata, hampir semuanya kelihatan capek banget. Kayak lagi narik napas panjang, berjuang di titik terakhir sebelum beneran nyerah (jujur energinya masuk ke gue banyak bgt, sampe berasa sedihnya)☹️
Ada yang udah ngantri busway lama tapi nggak dapet-dapet, ada abang starling yang sabar nawarin minum ke setiap orang yang lewat, sampai tukang nasgor yang senyumnya lebar banget pas dagangannya ada yang beli.
Di tengah kondisi ekonomi yang lagi nggak baik-baik aja, masih banyak yang kerja keras banget demi sesuap nasi, walaupun untungnya mungkin nggak seberapa🥺
Please, jangan jahat sama orang lain, ya. Kalau masih ada pilihan buat jadi orang baik, mending pilih jadi orang baik. Kita nggak pernah tahu seberat apa perjuangan orang lain buat bertahan hidup hari ini🤍
Gue lebih takut jenis PHK dari industri tekstil dan apparel
Tahu ga kenapa?
Pertama, sebagian besar buruh industri itu dari lower class. Mereka nganggur, dampaknya langsung ke daya beli lower class..
Kedua, survival mereka lebih sulit. Buruh yang di-PHK kemungkinan besar akan lari ke pekerja informal. Dan ini akan ngaruh ke kesejahteraan mereka
Ketiga, pabrik tekstil itu menyerap pekerja perempuan. Kalau pekerja perempuan di-PHK, itu berdampak ke independensi perempuan itu sendiri dan juga bisa memperkuat potensi KDRT.
Keempat, tutupnya pabrik bakal berdampak ke ekonomi lokal dan informal. Ini akan langsung ngaruh ke pendapatan warung makan, kontrakan, ojek, laundry, toko kecil, pedagang asongan dll.
Kelima, buruh tekstil dan apparel tidak mudah pindah ke sektor formal lain. Skill mereka itu sangat spesifik, sehingga ga mudah direkrut oleh industri lain.
Akhirnya banyak yang turun kelas...
Dari pekerja bergaji tetap menjadi pekerja informal dengan pendapatan tidak pasti. Atau malah beneran jadi pengangguran.
Lama kelamaan, ini bakal ngaruh ke naiknya tingkat kriminalitas di daerah tersebut.
FOTO: ANTARA/Rosa Panggabean/Dok
Nih liat terutama orang² yang masih tone deaf sambil bilang "ahelah kann yang naik Pertamax, bukan Pertalite" sama "harga BBM kita masih jauh lebih murah dibanding negara lain"
Melek matamu 🤌🏼
For those who want a bit more context: a massive student and worker protest is unfolding in Indonesia’s capital in response to the Prabowo government’s decision to raise fuel prices, alongside other policies that many Indonesians are calling corrupt because they deepen the burden on working-class Indonesians already struggling with rising living costs and a weakening rupiah.
What’s fueling the anger even further is the broader feeling that economic pressure is being pushed downward onto ordinary people while major policy decisions continue to favour politicians and the ultra wealthy.
Just last year, Indonesians protested over the same kind of government corruption, which led to a crackdown on its own civilians using military force in cities like Jakarta and Bandung, resulting in multiple deaths and injuries, including those of students.
This situation, however, embarrassed the Probowo government, as people from all over the world began paying attention and massed mobilised to send food, medical/legal aid and financial donations via apps like Grab and Ojek (the region’s equivalent of Uber) the movement received particularly strong support from people across Asia, especially Southeast and East Asia, while also drawing contributions from around the world. This is why Indonesians are asking the world pay attention to their country again.
not my country tapi demi tuhan sakitnya aku pun rasa sekali. dahlah jadi pemerintah pun bodoh, 10+6=17, hantar dia ke kumon pls biar muntah buat math tiap hari.
Hari ini, ada yang turun ke jalan, ada ojol mengawal jalan, ada yang galang dana, nyiapin logistik, repost kabar update, warga saling bantu warga. Doa-doa baik upaya-upaya baik memperjuangkan kebenaran ✊🇮🇩
Atasan aku (WNA) waktu ada demo beberapa waktu lalu: “Gimana menurut kamu soal orang-orang yang demo?”
Jujur, aku pikir beliau mau komplain soal macet atau hal semacamnya. Tapi aku gak mau jawab bohong.
Aku: “Saya mendukung, Pak. Karena mereka menuntut hak mereka, hak-hak kami yang tidak bisa ikut turun untuk demo.” (Takut sbnrnya jawab begini)
Bapake: “Aku juga mikir gitu. Setiap aku lihat driver aku, art aku, karyawan-karyawa local, orang-orang jualan, liat orang yang desak-desakan di transum… hati aku sakit dan aku ngerasa gak tega. Kalian harus tuntut dan dapatin hak kalian. Udah gajinya gak seberapa tapi masih aja ditindas. Aku dukung banget kalian menuntut.”
Aku dengerinnya sampe speechless.
Buat kawan-kawan yang demo, semoga aspirasinya bisa tersampaikan dan lancar semua. Titip aspirasi ya.
Ingat, yang problematik bukan cuma si Wowo. Si Plenger juga. Mereka satu paket, tak terpisahkan.
apapun yang terjadi di waktu-waktu gawat, harus selalu ingat warga jaga warga, rakyat bantu rakyat, senasib sepenanggungan, jangan jadi tumbal akal-akalan alat represi perpanjangan tangan penguasa susupan ke dalam lapis-lapis barisan.