Ada yg ingin menikah muda, ada yg menunda. Ada yg memutuskan sepenuhnya jadi ibu rumah tangga, ada yg memilih menjadi ibu bekerja. Ada yg jadi entrepreneur, ada yg nyaman jadi pegawai. Tiap orang punya jalannya sendiri-sendiri. Hidup itu soal kompromi.
Bareng ibu-ibu warga Petamburan, aku ikut melawan dan mengusir aparat dari pemukiman. Suara teriakan bercampur dengan asap gas air mata yang menyengat.
Tubuh-tubuh perempuan maju paling depan dengan keberanian melindungi rumah, keluarga, dan anak-anak mereka.
Sebel banget dua kali pesen alfag*ft ini, yang pertama memang salah sendiri karena kirim ke alamat lama. Yang kedua ini dia klaim udah dikirim tapi belum ada barang dateng, di wa ga respon 😌, di foto bukti pengiriman begini
Kebangun karena berisik, maksud hati mau matikan tv karena suamiqu tertidur, eh malah harus melihat drama adu pinalti. Alhamdulillah menang euy, tapi baru bangun langsung deg-degan banget gini tuh ga sehat kayanya 😂
ini dari bnb guys, perkara makeup aku udah cocok bgt, quality ok, harganya gak too pricey, packagingnya, perfect buat kaum mendang mending 😭👍🏻
DEFINISI LIFE SAVER, buat yg mau pake cushion tapi maunya gampang, murah, dan sat set
aku shade oatmeal 🫶🏻
https://t.co/b9diZ6XfPY
Tugas
"Bu Mutia, dipanggil ke ruangan Pak Dekan."
"Ada apa ya Mbak Admin?"
"Ada yang mau diobrolin katanya."
"Jam berapa mbak?"
"Jam 1, habis makan siang."
***
"Ada apa Pak Dekan?"
"Bu Mutia kan udah 5 tahun jadi dosen di sini kan ya?"
"Iya Pak."
"Udah Lektor juga kan ya? Tapi ijazah masih S2 ya?"
"Iya Pak."
"Biar karir Bu Mutia lancar, kami minta untuk Tugas Belajar S3."
"Wah, kalau nggak gimana Pak? Saya lagi banyak pengeluaran."
"Nanti karir Bu Mutia stuck di situ."
"Oh gitu, oke Pak."
***
"Mbak Admin, kalau saya mau daftar S3 di univ sini aja, syaratnya apa aja?"
"Kok gak ke luar negeri aja Bu?"
"Anak saya baru masuk kuliah, di jurusan sebelah, adiknya mau masuk SMA."
"Wah udah gede."
"Iya, saya dulu nikah muda dan punya anak cepet."
"Oh gitu, saya cek dulu ya syarat-syaratnya Bu, nanti saya hubungi."
***
"Bu Mutia, syaratnya ini Bu: Ijazah sama Transkrip S1 dan S2, Hasil tes TPA, Hasil tes TOEFL, sama Proposal Penelitian."
"Tes TPA sama TOEFL saya udah kadaluarsa, harus tes lagi?"
"Iya Bu. Oh ya, nanti juga ada tes lagi dari jurusan."
"Bentar, saya ngajar di jurusan Farmasi ini, punya beberapa paper di jurnal internasional di bidang ini juga, masih harus dites kemampuannya?"
"Iya Bu, memang aturannya begitu."
"..."
***
"Mbak Admin, ini saya udah dapat tes TPA dan TOEFL saya, ada reimburse-nya?"
"Gak ada Bu."
"Hah? Kok gitu, bukannya ini saya melaksanakan tugas secara profesional? Kok jadi uang saya pribadi yang keluar?"
"Memang aturannya begitu Bu."
"Uang pendaftaran ke universitas juga nggak ada reimburse-nya?"
"Gak ada Bu."
"..."
***
"Pak Dekan, saya kan udah urus pendaftaran S3 ke sini, untuk biaya UKT per semesternya gimana?"
"Sekitar 15 juta per semester Bu."
"Wah, saya gak kuat harus bayar segitu."
"Bu Mutia cari beasiswa aja, ada LPDP atau BPI."
"Bentar, ini saya kan melaksanakan tugas secara profesional kan Pak? Atas perintah Fakultas?"
"Iya Bu."
"Tapi saya disuruh cari pendanaan sendiri? Antara bayar sendiri atau beasiswa cari sendiri?"
"Iya Bu. Memang begitu. Saya dulu juga begitu."
"..."
***
"Prof. Harjo, bisa jadi promotor S3 saya?"
"Bisa Bu Mutia, tapi saya lagi minim funding beberapa semester ke depan. Hampir semua guru besar di fakultas kita lagi susah Bu."
"Oh gitu Prof, kalau tanpa funding, gimana?"
"Bu Mutia harus biayain penelitian sendiri."
"Maksudnya?"
"Beli mencit, reagen, bahan kimia, sama alat-alatnya secara mandiri Bu."
"Bentar, jadi selain harus bayar UKT, saya juga harus bayar penelitiannya?"
"Iya Bu."
"Kan ini saya bertugas secara profesional kan Prof? Ada surat dari Fakultas loh saya disuruh Tugas Belajar, kok pakai uang pribadi?"
"Saya dulu juga gitu Bu. Memang begitu."
"..."
***
"Bu Mutia, ini ada surat dari lembaga beasiswa yang di-apply kemarin."
"Oh iya Mbak Admin, sudah ada pengumumannya?"
"Iya Bu, ini ada suratnya dari LPDP sama BPI. Dibuka aja Bu."
"..."
"Kenapa Bu, kok sedih?"
"Dua-duanya nggak keterima Mbak, padahal saya juga PNS Dosen."
"Waduh, jadi gimana Bu?"
"Terpaksa bayar UKT pakai uang pribadi."
"..."
***
"Mbak Keuangan Fakultas, ini kok gaji saya tinggal gaji pokok PNS doang? Ini gaji pokoknya mana di bawah UMK pula."
"Bentar saya cek ya Bu Mutia."
"Tolong ya mbak, itu semua tunjangan sama serdos jadi ilang semua, saya lagi perlu biayain anak-anak saya."
"Bu Mutia mulai tugas belajar semester ini?"
"Iya Mbak."
"Oh pantes, memang gitu aturannya Bu, selama tugas belajar yang diberikan hanya gaji pokok PNS."
"Hah, kok gitu? Saya kan mengerjakan tugas ini atas perintah Fakultas?"
"Memang aturannya begitu Bu."
"..."
***
"Halo Pak TU Kampus jurusan sebelah? Ini kok anak saya dapat UKT maksimum?"
"Iya Bu, kan Ibu PNS."
"Gak bisa daftar KIPK gitu?"
"PNS gak bisa Bu. Pejabat dikbud bilang gitu kemarin."
"Tapi gaji saya tinggal gaji pokok doang karena Tugas Belajar. Jadi di bawah UMK."
"Wah, saya gak bisa bantu Bu. Memang aturannya begitu."
"..."
***
"Prof. Harjo, Alhamdulillah ini paper penelitian kita accepted di jurnal Q1."
"Alhamdulillah. Ya udah, urus administrasinya ya."
"Saya harus bayar APC Prof."
"Berapa?"
"USD 3000 Prof. Open Access berbayar. Kalau gak gitu, nunggu review aja bisa 1.5 tahun."
"Waduh, hibah penelitian kita cuma sanggup bayar 10% dari itu."
"Sisanya gimana?"
"Kamu bayar sendiri."
"Hah?"
"Memang begitu. Saya dulu juga gitu"
"..."
***
"Prof. Harjo, biar saya lulus, saya butuh berapa paper jurnal Q1?"
"Perlu empat Bu Mutia. Baru satu yang kemarin kan ya?"
"Iya Prof."
"Berarti yang tiga lagi sama kaya kemarin lagi? Biaya penelitian dan APC jurnal dari saya semua?"
"Iya, terpaksa begitu, kita lagi krisis funding."
"..."
***
"Selamat ya Bu Mutia, sudah berhasil defense."
"Terima kasih atas bimbingannya selama ini Prof. Harjo."
"Saya minta maaf gak bisa bantu banyak ya Bu Mutia."
"..."
***
"Pak Dekan, saya mau resign."
"Hah, kan baru lulus S3 Bu?"
"Saya dapat offer di LN Pak, saya kelilit utang ratusan juta karena biayain penelitian, APC jurnal, kuliah anak pertama saya, sama sekolah adiknya."
"Gak bisa Bu, kalau tugas belajar ada perjanjian harus mengabdi 2n+1."
"Maksudnya?"
"Kan Bu Mutia kemarin Tugas Belajar 4 tahun, berarti harus tetap di sini selama 9 tahun ke depan."
"Hah?"
Rakyat dibikin bodoh dari a) sampai z) edisi dosen episode 2:
a) Biar dapet tunjangan, dosen perlu sertifikasi dosen, padahal PNS di instansi lain langsung aja dapet Tukin,
b) Untuk sertifikasi, mesti nunggu dua tahun dulu syarat dan antriannya seabad,
c) Udah S3 masih disuruh Tes "Potensi" Akademik, emang potensi apalagi yang mau dibuktikan?
d) Tetep disuruh tes TOEFL/IELTS meskipun ijazahnya dari LN, bahkan English speaking country,
e) Yang bayar TOEFL/IELTS kampus? Ya nggak lah, duit pribadi,
f) Syaratnya juga disuruh bikin video kaya konten kreator, padahal bukan bagian kompetensi dosen
g) Mesti ikut PEKERTI, biayanya 2.5 juta, duit siapa? duit pribadi lah, gimana.
h) Udah ada sertifikat pernah ikut PEKERTI, diminta ikut lagi. Ngapain? Yang kemarin dipakai buat jabfung, yang ini buat serdos.
i) PEKERTI juga gak di semua kampus ada, di banyak kampus perlu traveling. Duit siapa? Kampus? Pfft, nggak lah, dana pribadi,
j) Serdos gak ada jaminan kelulusan, ada yang udah 15 tahun, 5 kali tes gak lulus-lulus. Padahal ASN di tempat lain udah dapet Tukin begitu TMT
k) Hibah Penelitian yang paling banyak dapet guru besar, soalnya perlu track record. Padahal untuk bikin track record perlu hibah penelitian. Yang perlu dosen muda. padahal seharusnya professor punya kemampuan utk meraih dana riset mandiri, kalau bisa nyariin peluang riset untuk bangsa, bukannya dikasih jatah
l) Perlu dana talangan buat hibah penelitian, soalnya cairnya gak tahu kapan. Minjem koperasi, jasanya lumayan.
m) Belum juga dananya cair, jadwal monitoring sama evaluasi udah ada, "PROGRESNYA MANA?"
n) Bayar KORPRI tiap bulan, gunanya apa? embuh.
o) Mau bikin serikat nuntut hak juga katanya "Kan udah ada KORPRI?", padahal gak jelas juga mereka ngapain,
p) Biar serdos cair, BKD yang ngisinya runyam itu harus beres dulu.
q) Sitasi dijadiin metrik sasaran, padahal gak bisa kita kontrol,
r) Akhirnya nyuruh temen-temennya sitasi papernya, bikin kartel sitasi,
s) Self-citation bisa sampai puluhan bahkan ratusan,
t) Skripsi mahasiswa bimbingannya ditulis jadi paper SINTA, tapi penulis pertamanya si dosbing,
u) Nyuruh mahasiswa bikin tugas kuliah karya ilmiah, hasilnya nanti disubmit di jurnal SINTA, dosen pengampu jadi penulis kedua, biar banyak publikasinya,
v) Itu juga harus ngesitasi karya sebelumnya, biar sitasinya banyak,
w) Segala urusan penilaian subjektif bukan meritokratif, mesti baik-baikin atasan. Jadi guru besar mesti berpolitik dulu, padahal karyanya udah ngalahin Newton,
x) Ngajar kelas isi 20 orang sama isi 350 orang bedanya gak signifikan, padahal koreksinya berlipat-lipat,
y) Jurusan favorit kapasitas mahasiswanya ditambahin terus, tapi gak ada rekrutmen dosen yang baru, padahal yang di dalem udah teriak-teriak overwork,
z) Mau rekrut dosen juga susah, pada udah lulus S2-S3 susah payah, gajinya masih kalah sama kasir minimarket,