Buka Instagram: ini semua orang happy?
Buka Thread: ini semua orang kaya?
Buka Facebook: ini semua orang jualan?
Buka LinkedIn: ini semua orang sukses?
Buka Twitter: ini semua orang marah?
Buka TikTok: ini semua orang, orang?
Mau tau seberapa besar jurang ketimpangan di Indonesia?
Bayangin ada 100 potong ayam goreng KFC buat 100 orang.
Idealnya, satu orang dapat satu potong.
Tapi di Indonesia:
- 1 orang ambil 50 potong buat dia sendiri
- 9 orang berikutnya masing masing dapat 2 potong
- 40 orang berikutnya harus berbagi 18 potong, per orang bahkan kurang dari setengah potong
- sementara 12 potong ayam sisanya harus diperebutkan 50 orang terakhir, masing-masing cuma dapat suwiran daging yang nempel tulang atau bahkan cuma kebagian tulang yang tercecer.
“Aku mohon perlindungan-Mu ya Allah dari menjadi seorang hamba yang ingkar, yang selalu menghitung banyaknya ujian namun melupakan banyaknya kenikmatan”.
Hari ini 19 tahun lalu, tsunami raksasa menghancurkan Aceh.
Pemerintah saat itu sangat gercep. SBY yang saat itu di Papua langsung terbang ke Aceh.
Keseriusan rezim SBY dilembagakan jadi BRR Aceh-Nias. Tokoh kunci BRR A-N adalah teknokrat Prof. Kuntoro Mangkusubroto, mantan menteri zaman Habibie dan dirut PLN.
Usaha pemerintah tidak hanya berakhir sebagai teater asal-asalan yang sebulan kemudian hilang, padahal orang-orangnya masih kebanjiran di tenda. Instead, selama 4 *tahun*, tangan dingin Prof. Kuntoro memimpin usaha pemulihan ekonomi dan kehidupan Aceh dan Nias yang luluh lantak.
Pada saat yang bersamaan, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan timnya bergerilya melakukan negosiasi perdamaian serius dengan GAM hingga tercapai perjanjian damai tahun 2005.
Baik pemberontak di hutan yang keluarganya dulu dibunuh tentara maupun bos-bos tentara tersebut di Jakarta, ternyata keduanya mau dan berhasil berakhklak cerdas dan profesional untuk mengutamakan kebutuhan rakyat saat itu.
Aceh yang luluh lantak oleh perang dan tsunami pun akhirnya rukun dan berangsur pulih, oleh kerja keras dan gotong royong orang-orang di level daerah, nasional, dan internasional.
Itulah masa ketika pemerintah Indonesia masih bisa merencanakan dan melakukan hal baik. Ada orang yang mau dan mampu membuat rencana-rencana itu. Ada orang yang mau dan mampu mengeksekusinya di lapangan.
Ada kelembagaan. Ada ilmu, yang dicari, dihargai, dan dipakai.
Ada leadership kuat dengan leader yang kompeten dan proaktif. Leadernya tentu bukan raja lalim belagu dan control-freak yang egonya luar biasa tinggi hingga berhalusinasi; bukan juga orang yang merasa jenius padahal sangat tidak becus; bukan pula orang violent yang ngamuk tidak terkendali jika dikritik, seperti anak kecil.
Ada anggaran untuk membiayai. Anggaran negara tidak diumpetin oleh seorang eunuch istana jomok gila kekuasaan yang membuat ulah dan kekacauan internal, tetapi disusun dan dikelola secara profesional oleh para profesional.
Ada kepedulian dan empati, dari bangsa Indonesia terhadap sesama bangsa Indonesia.
Prof. Kuntoro sendiri, yang ilmu dan kompetensinya diakui dan dihargai, akhirnya dipercaya menjadi tangan kanan SBY menjalankan dapur teknis pemerintahan di balik layar sebagai Kepala UKP4.
Atau dengan kata lain, Prof. Kuntoro menjadi "eunuch istana". Tugasnya membantu presiden SBY menjalankan negara dan mendesain kebijakan dengan segala kepakaran dan kecerdasannya. Tentu tanggung jawab sesulit itu sangat tidak mungkin dipercayakan pada orang iseng yang level otaknya hanya bisa menyetel suhu kolam.
the gap between where you are and where you want to be is called work.
it's not magic. it's not luck. it's not talent. it's work.
boring, repetitive, uncomfortable work done consistently over time.