teman2, mohon doanya ya.
medan sedang dilanda hujan deras sekali dgn angin yg sangat kencang. mohon doanya agar cuaca bisa segera aman dan nggak ada banjir lagi.
Pernyataan itu disampaikan Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem saat Kegiatan Apel Siaga Tim Recovery Bencana Aceh di Lanud Sultan Iskandar Muda pada Sabtu (29/11/2025).
Mualem menyebut bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah daerah di Aceh seperti tsunami kedua karena menghancurkan pemukiman hingga menghilangkan sejumlah kampung. Ia pun tak kuasa menahan tangis saat menyampaikan kondisi Aceh saat diterjang banjir dan longsor tersebut.
| Narasi Daily
Conditions in the affected parts of Sumatra Island Indonesia, especially Central Aceh, are becoming more alarming.
Flash floods and landslides have cut off all supply routes, leaving many residents at risk of starvation. People urgently need help from the government and aid agencies to prevent more deaths. The situation is critical and needs immediate action.
Since November 24, 2025, Sumatra has been hit by a series of disasters, including flash floods, river overflows, and landslides. These events have hit areas from Aceh and North Sumatra to West Sumatra. The worst damage happened on November 27, 2025, affecting homes, bridges, roads, farms, and public facilities.
Many places are now cut off, especially in Central Aceh, including Takengon, Bener Meriah, Gayo Lues, and Tamiang. Power is out, communication is unreliable, and aid is hard to reach. Thousands have left their homes, and basic needs like food, clean water, medicine, and blankets are running out.
This disaster is not only destroying infrastructure but also putting many lives at risk.
We urge immediate action, better coordination, and full support to help those affected.
--
Situasi wilayah Pulau Sumatra yang terdampak khususnya di Aceh Tengah semakin mengkhawatirkan.
Banyak warga mulai terancam kelaparan karena akses logistik terputus total akibat banjir bandang dan longsor. Warga membutuhkan bantuan cepat dri pemerintah dan lembaga terkait agar tidak menimbulkan korban jiwa yang lebih banyak. Kondisi di lapangan sangat genting dan segera membutuhkan bantuan yang cepat.
Sejak 24 November 2025, serangkaian bencana hidrometeorologi di Indonesia berupa banjir bandang, luapan sungai, dan tanah longsor melanda berbagai wilayah di Sumatra, mulai dari Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat. Laporan menunjukkan bahwa puncak kejadian terjadi pada 27 November 2025, menyebabkan kerusakan besar-besaran pada pemukiman, jembatan, jalan utama, lahan pertanian hingga fasilitas publik.
Banyak daerah kini terisolasi per hari ini khususnya di Aceh Tengah: Takengon, Bener Meriah, Gayo Lues dan Tamiang. Akiran listrik padam, jaringan komunikasi tidak stabil dan akses bantuan sangat terbatas. Sementara itu, ribuan warga mengungsi dengan kondisi kebutuhan pokok yang semakin menipis, terutama makanan, air bersih, obat-obatan serta selimut.
Situasi ini bukan hanya merusak infrastruktur, tetapi mengancam banyak nyawa warga Indonesia.
Kami menuntut dan berharap tindakan cepat, koordinasi yang lebih sigap, dan dukungan menyeluruh dapat segera diberikan untuk menyelamatkan masyarakat yang terdampak.
#AllEyesOnSumatra
Duka mendalam menyelimuti Sumatra.
Hujan sangat lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi akibat Siklon Tropis Senyar menghantam sejumlah wilayah, menyebabkan kerusakan dan kehilangan yang berat bagi banyak keluarga dan kawan.
Di tengah duka ini, sejumlah fakta lapangan menunjukkan bahwa dampak bencana semakin besar karena kondisi lingkungan yang sudah melemah. Dalam tiga dekade terakhir, hutan di Sumatra terus menyusut dan berganti menjadi perkebunan sawit, kebun kayu, dan tambang.
BMKG mencatat bahwa siklon seperti ini sebenarnya jarang terjadi dekat garis ekuator, tetapi kini makin sering seiring perubahan iklim.
Temuan laporan Toxic20 juga menempatkan Sumatra sebagai salah satu wilayah dengan beban emisi tinggi dari energi kotor dan industri ekstraktif. Tekanan ini memperparah krisis iklim dan meningkatkan risiko terjadinya bencana hidrometeorologi.
Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa bencana bukan semata peristiwa alam, tetapi juga dipengaruhi oleh keputusan politik elit jangka panjang yang menentukan bagaimana lingkungan dikelola.
During a 10-hour flight from Seoul, South Korea, to San Francisco, USA, this mother distributed a plastic bag to over 200 passengers.
The bag contained candy, chewing gum, and earplugs as a pre-emptive apology in case her 4-month-old baby cried during the flight.
The bag also contained a note that read: "Hello, I'm Jan Woo. I'm 4 months old, and today I'm going to America with my mom and grandma for my aunt's coming-of-age ceremony. I'm a little nervous and scared. This is my first flight ever. It's normal for me to cry or cause a disturbance. I'll try to stay calm, but I can't promise. Please use this if my voice gets too loud... Have a nice trip. Thank you."
This is a wonderful example of respecting the freedom of others.
At 32 years old, I came to a heartfelt realization about my parents: they have their own lives too.
This blog post is a gentle reminder that parents are also individuals with their own journeys, hopes, and dreams.
Link on 2nd tweet
Author #BaekSehee, best known for her best-selling essay collection “I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki,” has passed away at the age of 35.
According to the Korea Organ Donation Agency, Baek was declared brain-dead on the 16th and donated her organs, saving the lives of five people. The agency confirmed on the 17th that she donated her heart, lungs, liver, and both kidneys. The exact circumstances leading to her brain death have not been disclosed.
Baek gained widespread love and recognition for her candid and heartfelt writing in “I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki,” an essay inspired by her real-life experiences of being diagnosed with dysthymia (persistent mild depression) and undergoing therapy sessions with her psychiatrist.
The book encouraged many readers struggling with depression to seek professional help. Its popularity surged further after #BTS’s #RM mentioned on social media that he had read it, helping it spread widely through word of mouth.
Her family described her as a warm, compassionate person who was always the first to reach out and offer help to those in need.
Her younger sister said, “My sister hoped to keep writing, to share her heart and dreams of hope through her words. Knowing how kind she was, unable to hate anyone, I only wish she can now rest peacefully in heaven.”
Rest in Love.
https://t.co/K1ms3l4rit
#KoreanUpdates
If your parents are older than 60 years old, you have roughly 10 to 15 Ramadan to spend with them (Indonesian life expectancy)
I wish your family a long, happy, & healthy life