دعوات الأم ليس لها تاريخ صلاحية ، قد ترحل الأم وتبقى بركة دعواتها ترافقك مدى الحياة.
Doa-doa ibu tak kenal tanggal kadaluarsa. Bisa jadi beliau sudah mangkat, tapi berkah doanya menyertaimu sepanjang hidup.
Dalem kangen buk .
Saat bikin status ini, saya kira ada pemahaman bersama bahwa tahlilan itu tidak wajib. Karena tidak wajib, maka jamuan di tahlilan jauh lebih tidak wajib lagi.
Tahukah kalian bahwa di antara sekian banyak pendaku nabi dalam sejarah Islam, hanya ada satu yang perempuan, dan ia sempat berniat menyerang Khalifah Abu Bakar ra.?
Saya punya jawaban 'rumit' dari ahli tasawuf. Saya beri tanda petik karena memang rumit, ya.
Seseorang menengadahkan tangan, memohon rezeki yang berlimpah-ruah, lebih banyak, dan lebih banyak lagi.
Banyak yang mengira bahwa itu kekhusyukan. Namanya juga berdoa menengadah tangan.
Ibnu 'Atha'illah as-Sakandari (w. 709 H), dalam Al-Hikam, menyebut tangan itu sedang "menuduh Tuhan".
Hikmah ke-21: طَلَبُكَ مِنْهُ اتْهَامٌ لَهُ. Permintaanmu kepada-Nya adalah tuduhan terhadap-Nya.
Kok, bisa menuduh?
Ibnu Abbad ar-Rundi (w. 792 H), pensyarah utama Al-Hikam dari Andalusia, membedahnya seperti ini: jika engkau meminta dengan rakus karena diam-diam takut Dia lupa pada kebutuhanmu, maka di situ tersimpan kecurigaan pada Tuhan.
Makanya, engkau sebenarnya sedang melayani hawa nafsumu, bukan Tuhanmu.
Jadi, kalimat "secukupnya atau seserakah mungkin" itu sudah gak tepat. Karena yang ditimbang itu bukan kuantitasnya, melainkan "keuntungan" yang jadi tujuan di balik tadah tangan itu.
Hhe~
Lalu apa yang pantas diminta?
Hikmah ke-75 mengatakan: خَيْرُ مَا تَطْلُبُهُ مِنْهُ مَا هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ. Sebaik-baik yang kau minta dari-Nya adalah apa yang Dia minta darimu. Bukan limpahan materi, lho, melainkan keteguhan di jalan penghambaan.
Imam al-Junayd al-Baghdadi (w. 297 H) memberi contoh dalam doanya sendiri: jadikan permintaanku permintaan atas hal yang Engkau cintai, Tuhan, dan jangan jadikan aku peminta porsi keuntungan pribadi.
Hhe~
Bro... liat lini tengah Portugal 🇵🇹
Lo punya Vitinha yang bisa ngatur tempo dan build-up dari belakang.
Lo punya Joao Neves yang bisa lari 120 menit non stop dan bisa ada di mana-mana.
Dan lo punya Bruno, kreator terbaik di dunia saat ini.
Who is gonna stop this trio? 🥵
Imam al-Ghazali berkata:
“Selama seseorang hidup dalam keadaan aman, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu,
maka kesedihan dan kegelisahannya karena urusan dunia adalah tanda kekurangan dan kebodohannya.”
Artinya, jika seseorang sudah berada dalam keadaan aman, sehat, dan tercukupi kebutuhannya, tetapi masih larut dalam kesedihan karena urusan dunia, maka itu menunjukkan cara pandangnya yang keliru, ia lebih sibuk memikirkan apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri nikmat yang sudah ada.
Kalimat "ini kurbanku" (هذه أضحيتى) masuk dibawah istilah ja'al (الجعل) di dalam buku yang saya rujuk, bukan ta'yin (تعيين).
Istilah ta'yin, di buku ini, hanya dipakai untuk kurban nadzar, Gus.
Meskipun keduanya sama-sama jadi kurban wajib yang gaj boleh dimakan.
Kalau kalian beli kambing untuk kurban Iduladha, lalu spontan ngomong "ini kurban saya", maka kalian baru saja mengubah hukumnya.
Dari sunnah, jadi wajib.
Konsekuensinya: haram bagi kalian dan keluarga inti memakan satu suap pun dagingnya.
[UTAS] ⤵️
https://t.co/DpM3VODAxE
Apakah kita benar-benar ber-"La ilaha Illallah?"
Seringkali kita merasa telah sangat Islam hanya karena lisan telah berucap "La ilaha illallah". Kita merasa Islam kita sudah sempurna hanya karena tidak lagi bersujud pada berhala, Merasa bshwa sekutu Allah itu hanyalah mereka yang mungkin selama ini dipertuhankan secara kasat mata, dari Yesus, Brahmana, ataupun yang lain, tanpa menyadari bahwa setiap hari hidup kita adalah medan ujian bagi tauhid tersebut.
Kalau kita coba berandai, andai Allah kemudian memerintahkan hambanya, "wahai hambaku, jangan kalian bekerja, niscaya kalian akan menemukan setiap pagi di rekjening kalian berisi 10.000 dollar", lalu saat pagi ia benar-benar melihatnya. Atau andaikan Allah memerintahkan, "wahai hambaku, sakitmu itu, kamu tak perlu berobat, niscaya esok pagi kamu akan sembuh", dan dia benar-benar menemukan dirinya sembuh, niscaya tak ada ujian pada La Ilaha Illallah di sana. Namun, Allah justru membungkus Kemahakuasaan-Nya di balik tirai asbab (sebab-akibat). Allah memintamu bekerja dan berobat, sembari meyakini bahwa yang menyembuhkan dan memberikan rezeki bukanlah pekerjaan dan obat itu, melainkan Allah. Obat dan pekerjaan itu hanyalah sebab, dan Allah yang memberi dampak. Dia memerintahkan kita bekerja seolah dunia bergantung pada tangan kita, namun mengharamkan hati kita meyakini bahwa pekerjaan itulah yang mendatangkan rezeki. Di sinilah letak ujiannya, di saat tangan kita menyentuh sebuah fisikal, namun ruh kita harus melampaui cakrawala asbab. Ini sangat sangat sangat sulit. Beruntunglah bagi mereka yang sampai...
Betapa sering kita melekukan syirik kecil pada perkara-perkara kecil. Misalnya, saat badai kesulitan menghantam kencang, yang pertama kali terlintas dalam benak kita pertama kali adalah saldo bank, koneksi, atau kehebatan akal sendiri, bukannya Sang Maha Pengendali Takdir.
Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik yang aku dan para Nabi sebelumku katakan (qultu) adalah La ilaha illallah...". Banyak yang mengira bahwa yang spoesial dari hadis tersebut, ya, sekedar ucapan "La ilaha illallah..". Kata qultu di sana hakikatnya, bukan sekadar "aku berucap" di lisan, melainkan i'taqadtu, "aku meyakini", dengan segenap jiwa dan ragaku. Ia adalah sebuah i'tiqad bahwa seluruh kerajaan semesta ini dan segala pujian adalah murni milik-Nya secara mutlak.
Maka, hakikat tauhid adalah sebuah proses "peniadaan diri", agar kita tidak lagi melihat makhluk memiliki daya sekecil debu sekalipun. Ia adalah sebuah keyakinan dan penyerahan diri secara total, agar kita tidak diperbudak oleh kecemasan akan hari esok. Ketika qultu telah berubah menjadi i'taqadtu, kita akan melangkah dengan tenang di atas bumi. Kita akan bekerja sebagai bentuk adab kepada syariat yang Allah perintahkan, namun tetap meyakini bahwa hanya Allah yang memegang kendali atas setiap cerita. Dan ketika telah sampai, maka tiada satu pun ujian, kecuali ia mampu membuat hatinya lebih tentram dan lebih baik.
Btw, istri Rasulullah, Sayidah Aisyah, menjadi pemimpin perang pasca Nabi wafat.
Lawan yang ia perangi adalah menantunya sendiri, Imam Ali bin Abi Thalib, suami Sayidah Fahimah binti Rasulillah.
Tapi untuk hadis-hadis Rumah Tangga, memang Sayidah Aisyah paling banyak.
😅
Dari sosok yg moderat, kaya Kiai Afifuddin, sampe yg terkenal konservatif, kaya Mbah Najih dan Habib Rizieq, semuanya berdiri bersama Iran.
Dan situ masih percaya omongannya Felix Siauw, Khalid Basalamah, Abu Janda, Monique, dll. yg nyuruh ga usah dukung Iran???
🇮🇷🚨 Diberitakan Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan militer gabungan oleh Israel dan Amerika Serikat, Namun, sampai ada konfirmasi resmi yang jelas dari pemerintah Iran atau sumber independen lainnya, statusnya masih diperdebatkan di berita internasional.
Siapa sebenaranya Ayatollah Ali Khamenei?
Kenapa Amerika dan Israel menjadikannya target utama?
Apa perannya dalam pemerintahan Iran?
Sini sini gue jelasin pake bahasa tongkrongan: