Sebagian dari mereka masih berwujud mayat busuk. Sebagian lainnya telah kembali ke wujud manusia seperti saat mereka pertama kali dikutuk.
Bli Waja memandangi desa arwah yang sebelumnya hanya dipenuhi patung-patung batu.
Kini, tempat itu telah dipenuhi warga desa aslinya.
Pemandangan yang mengerikan. Sekaligus mengenaskan.
Bli Waja terdiam sejenak. Tatapannya kemudian beralih pada keris yang masih tertancap di dada sang danyang.
“Apa… aku bisa menggunakan keris pembunuh dewa ini?”
Mendengar pertanyaan itu, seluruh warga desa seketika terdiam.
Satu per satu, mereka menoleh. Hingga akhirnya, seluruh tatapan tertuju kepada Bli Waja.
***
(Bersambung Part 12 dan pertarungan akan mencapai puncaknya… )
Akibatnya, mereka harus menanggung kutukan yang tak berkesudahan.
“Tak ada yang bisa kami tanam. Tak ada yang bisa kami minum. Namun kami abadi. Rasa lapar, haus, dan sakit terus menyiksa kami seumur hidup…” ucap Jinten.
“Membunuh danyang? Bagaimana cara kalian melakukannya?” Bli Waja bertanya, masih tidak percaya pada apa yang didengarnya.
Tumbar menunjuk sebuah keris yang menancap di dada tubuh danyang yang telah mati.
“Kami yang membuat keris itu. Kami membunuh danyang yang menolong kami dan menggunakan kekuatannya untuk diri kami sendiri,” jelasnya.
“Ke—ris pembunuh danyang?”
Bli Waja tidak percaya.
Ia menghampiri keris itu. Dari jarak dekat, ia dapat merasakan kekuatan yang sangat berbeda dari pusaka biasa.
Bukan kekuatan digdaya.
Kekuatan keris itu justru seperti mampu menguraikan energi alam tanpa batas.
Bli Waja bahkan tidak berani menyentuhnya.
“Kami menyebutnya keris pembunuh dewa…”
Jinten melanjutkan ceritanya.
Satu-satunya cara mereka dapat merasakan ketenangan adalah dengan mengubur tubuh abadi mereka di dalam tanah dan membiarkan roh-roh warga desa berdiam di dalam patung-patung batu.
“Selama seratus tahun ini, tugas kamilah yang menjaga desa ini,” jelas Jinten.
Setiap seratus tahun sekali, warga desa arwah akan bangkit kembali. Mereka akan memilih penjaga berikutnya untuk menjalankan ritual terhadap tubuh mereka.
Dengan begitu, mereka dapat melepaskan diri dari rasa sakit dan lapar dengan menyegel roh mereka ke dalam patung-patung batu.
“Selama seratus tahun kami berjaga. Sekarang mereka akan memilih orang lain, dan kami akhirnya bisa beristirahat,” jelas Tumbar.
Tumbar dan Jinten kemudian berpaling, kembali berkumpul bersama warga desa yang telah bangkit sepenuhnya.
Blarrrr!!!!
Tak hanya membakar kain dan tubuh itu, Api dari desa Girajah membakar beberapa rumah di desa itu.
”Ber… hasil?” Guntur menunggu reaksi eyangnya itu.
Tapi saat kain itu mulai terbuka, Nyai Jambrong tidak diam. Tiba-tiba saja ia memaksa tubuhnya, melompat ke arah Nyai Walung, dan mendaratkan sebuah pukulan yang diselimuti aura putih menyerupai harimau.
Dharrr!!!
Serangan itu menghantam telak, Nyai Walung terpukul mundur, namun serangan sedhasyat itu tak melukainya.
”Eyang?!” Guntur panik.
“Matilah.. dan bergabung dengan mereka,” ucap Nyai Walung mengeluarkan kembali kain kafan hitam yang lain.
”EYAAAANGGG!!!”
Blarrrr!!!
Kali ini rumah-rumah di sekitar Nyai Walung ikut terbakar dengan sisa api Girajah itu. Ia tak membiarkan kafan itu menyerang nyai jambrong lagi.
”Bodoh!”
Saat tahu kafanya terbakar lagi, Nyai Walung tidak memberi ampun lagi. Ia mengangkat tangannya yang menyerupai cakar mengerikan itu dan seketika sudah ada di belakang Nyai Jambrong.
Deg!
Nyai Jambrong tak mampu menghindarinya.
Tapi sebelum cakar itu menembus tubuhnya, tiba-tiba sesuatu jatuh dari langit. Dan membuat goncangan yang begitu besar di desa itu.
”Datang!! Akhirnya dia datang!!”
Saat itu wajah Nyai Walung yang semula hanya diam, kini tersenyum penuh semangat. Sementara itu, suara goncangan itu membawa perasaan mengerikan yang jauh lebih menyekan dari Nyai Walung.
Tak mempedulikan Nyai Jambrong dan Guntur, Nyai Walung dan setan-setan darah ciptaanya pun buru-buru pergi meninggalkan desa Candayu.
Guntur dan Nyai Jambrong hampir bernafas lega, tapi saat mereka menatap langit, jantung mereka semakin tak karuan.
Entah apa yang jatuh dari langit dan mendarat di dekat mereka, namun kejadian itu memancing munculnya retakan-retakan hitam yang menyala cahaya ungu di langit. Retakan-retakan itu membentuk aksara-aksara tua dan meneteskan darah seperti hujan gerimis.
”I—ini apa, eyang?” Tanya Guntur.
”Entah, guntur… semoga ini bukan kiamat…” Balas Nyai Jambrong yang benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi. Ia memegangi lengannya, sebagian dari tulang-tulangnya retak.
Suara alam saat itu tertutup oleh suara mantra-mantra yang terus menggema dari retakkan-retakaan langit itu.
Melihat hal itu setan-setan hangus itu mengganti arahnya. Mereka kembali ke arah desa Girajah yang masih terbakar, tempat dimana benda aneh itu terjatuh.
Guntur dan Nyai Jambrong mengikuti arah itu. Mereka menembus hutan yang dikelilingi roh-roh yang tak bertuan. Saat itu mereka melihat dengan jelas saat pepohonan perlahan mengering seperti ada sesuatu yang menghisap kehidupannya.
“Ini tidak benar, Eyang!”
“Kita harus tahu apa yang terjadi! Jangan melangkah sembarangan!”
Mereka berlari hingga sampai ke sebuah desa yang masih terbakar kobaran api. Dari arah kejauhan terlihat sebuah batu besar setinggi bukit kecil dengan lambang-lambang aneh.
“Aku seperti pernah melihat lambang itu..” Ucap Guntur.
Ia mencoba mengingatnya, ia merasa lambang itu ada kemiripan dengan apa yang tertulis di kuil dewa di kampung harimau.
Deg!
Perasaan aneh terasa bersamaan oleh Nyai Jambrong dan Guntur. Ia merasa sesuatu menghisapnya, tapi tubuh mereka tak bergerak.
Pandangan mata mereka berubah, roh-roh di sekitarnya terlihat lebih jelas dan melayang-layang membentuk pusaran menuju ke suatu inti.
“Guntur! Mundur!” Nyai Jambrong memperingatkan, ia menyadari ada yang salah. Sayangnya mereka terlambat.
Sebagian roh mereka sudah keluar, batu besar itu menghisap segala kekuatan kehidupan di sekitarnya.
“Eyang! Rohku?!”
Guntur melihat roh dari tubuhnya mulai terpisah. Di hadapan mereka, roh-roh lain terus tersedot ke dalam pusaran dan perlahan musnah, berubah menjadi energi yang diserap oleh batu besar itu.
“Bertahan!”
Nyai Jambrong meraih tangan roh Guntur. Ia berusaha sekuat tenaga mempertahankan roh muridnya agar tidak ikut terseret, meski tubuhnya sendiri mulai kehilangan tenaga.
Namun, di tengah situasi yang mengerikan itu, sesuatu yang aneh muncul di kejauhan.
Beberapa orang berjalan dengan tenang.
Bahkan ada yang menari sambil memainkan alat musik.
Rombongan arak-arakan itu sama sekali tidak terpengaruh oleh kekuatan dahsyat yang menguasai desa.
Di antara mereka, seorang lelaki yang ditandu terus-menerus melantunkan mantra. Suaranya tak pernah berhenti. Kekuatan hitam yang begitu pekat menyelimuti seluruh tubuhnya.
Semakin dekat rombongan itu, semakin jelas sosok yang mereka bawa.
Nyai Jambrong terdiam.
Di tengah rombongan tersebut, seekor makhluk raksasa bergerak merangkak.
Nenek itu begitu besar.
Tingginya hampir mencapai dua lantai.
“Sang Nenek Sawir…”
Kekuatan yang menyelimuti rombongan itu ternyata bukan hanya berasal dari tubuh mereka. Ada sesuatu yang menopang mereka dari tempat yang sangat jauh—sebuah sumber kekuatan yang bahkan belum mampu mereka pahami.
Namun, sebelum Nyai Jambrong sempat mencari tahu lebih jauh—
DUUUMM!
Tanah kembali bergetar.
Tubuh Nyai Jambrong dan Guntur kehilangan keseimbangan. Dan dalam sekejap, roh mereka kembali terlepas dari tubuh.
“Guntur!!!”
Nyai Jambrong gemetar ketika melihat roh Guntur terseret menuju pusaran.
“TAHAAAAAN!!!”
Tiba-tiba suara seorang lelaki tua menggema dari dalam hutan. Seseorang berlari mendekat.
Dengan gerakan cepat, ia mengalungkan sebuah kalung dengan batu hitam ke tubuh Guntur dan Nyai Jambrong.
SRRAASSSHH!
Seketika, roh mereka yang hampir tersedot kembali tertarik ke dalam tubuh masing-masing.
Guntur tersentak. Kalung itu mengikat roh mereka ke tubuh kembali.
“Apa aku terlambat?”
Nyai Jambrong menoleh.
Sosok Mbah Jiwo berdiri di hadapan mereka dengan napas terengah-engah dan wajah pucat.
“TERLAMBAT!”
Mbah Jiwo terkejut.
“Harusnya kamu bawa pusaka awet muda sebelum aku peyot!”
Mbah Jiwo hanya terdiam.
“Mbah Jiwo!” Guntur berusaha berdiri dan menyambut kedatangannya.
“Mbok Sar akan mengumpulkan semuanya. Tempat ini adalah pusatnya,” jelas Mbah Jiwo. “Tapi kita harus selamat dulu!”
“Iya! Kita mundur!”
“Sial!” Nyai Jambrong menggerutu. “Ternyata si Sar! Bisa-bisanya dia sok jadi pahlawan di saat begini!”
Mereka segera berlari meninggalkan Desa Girajah.
Desa itu kini sudah tak lagi tampak seperti sebuah pemukiman.
Ia telah berubah menjadi neraka.
Grrrrr….
Guntur terhenti. Tiba-tiba ia merasa mendengar suara yang samar di telinganya.
“Kenapa?”
PARA PENANTI
Siang hari biasanya tak pernah terasa begitu panas di Desa Candayu. Namun hari itu berbeda. Hawa panas yang menyengat membuat warga memilih menghentikan aktivitas mereka lebih cepat.
“Bu, itu apa?”
Seorang anak kecil menunjuk ke kejauhan. Di ufuk, tampak cahaya jingga yang menyala terang, menyerupai senja yang datang terlalu cepat.
“Sorenya cepat banget? Masih jam empat, lho,” ujar sang ibu, kebingungan.
Tak ada yang benar-benar menggubris keanehan itu. Warga kembali ke rumah masing-masing dan menganggap cahaya tersebut sebagai sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan.
Hingga malam tiba.
Cahaya jingga itu masih terlihat.
Bukan memudar seperti matahari terbenam, melainkan terus menyala dan menerangi satu sisi langit.
Lalu, lewat tengah malam—
Srakk... srak...
Suara aneh terdengar dari jalan desa.
Beberapa warga yang terbangun memberanikan diri mengintip melalui celah jendela. Namun, begitu melihat apa yang berdiri di jalan, tubuh mereka seketika menegang.
Manusia gosong.
Sosok-sosok dengan tubuh menghitam seperti terbakar berdiri di depan rumah mereka, satu demi satu. Sebagian tubuhnya masih mengepulkan asap tipis. Bau daging terbakar dan busuk menyeruak bersama angin malam.
Tak seorang pun berani keluar.
Mereka hanya bisa mengunci pintu dan berharap makhluk-makhluk itu pergi.
Namun malam berikutnya, kejadian yang sama kembali terjadi.
Kali ini, sosok-sosok gosong itu datang lebih dekat.
Mereka tidak lagi berdiri di jalan.
Sebagian berdiri tepat di depan pintu. Sebagian lainnya menghadap jendela, hanya beberapa langkah dari tempat warga bersembunyi.
Bau busuk semakin menyengat.
Dari balik tubuh-tubuh yang terbakar itu terdengar suara-suara lirih yang tidak jelas. Seperti rintihan. Seperti orang yang sedang menahan rasa sakit.
Barulah warga Candayu mulai menyadari sesuatu.
Cahaya jingga yang selama ini mereka lihat ternyata berasal dari Desa Girajah.
Desa itu terbakar.
Api melahap hampir seluruh wilayahnya dan terus berkobar tanpa padam, bahkan ketika hujan sempat mengguyur dengan deras.
“Desa Girajah kenapa?”
“Kenapa apinya nggak bisa padam?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terus bermunculan.
Beberapa pihak bahkan sudah mencoba membantu memadamkan api. Namun usaha mereka sia-sia. Api seolah tidak mengikuti hukum alam.
Akhirnya, sebuah parit dibuat dengan tergesa-gesa untuk mencegah api merambat lebih jauh ke wilayah lain. Namun ada pertanyaan lain yang jauh lebih mengerikan.
“Apa setan-setan itu... warga Desa Girajah yang mati terbakar?”
Pertanyaan itu terlontar dari seorang anak kecil.
Beberapa orang dewasa sebenarnya telah memikirkan hal yang sama, tetapi tak seorang pun berani mengatakannya.
Sejak saat itu, warga Candayu mulai berusaha meminta pertolongan dari desa-desa lain.
Namun malam itu, sebelum bantuan datang, bau menyengat kembali tercium bahkan sebelum langit benar-benar gelap.
Perasaan tidak tenang menyelimuti seluruh desa. Api di Desa Girajah masih berkobar di kejauhan.
Tidak ada tanda-tanda akan padam.
Malam itu, tak seorang pun berani keluar rumah. Semua pintu dan jendela dikunci rapat. Bahkan beberapa warga menumpuk perabotan di belakang pintu sebagai penghalang jika sesuatu mencoba masuk.
Namun kekhawatiran mereka ternyata benar.
Malam itu, setan-setan tersebut datang lebih awal.
Belum sempat warga tertidur, sebuah teriakan memecah kesunyian.
Brakkk!
“Panas! Panas!”
Suara seorang ibu terdengar menjerit kesakitan.
Warga yang mengintip dari balik jendela melihat pemandangan mengerikan.
Dua sosok gosong sedang menyeret perempuan itu keluar dari rumah.
Sebagian tubuh kedua makhluk itu masih dilalap api.
“Brakkk! Brak! Brak!”
Suara benturan kembali terdengar dari rumah-rumah lain.
Teriakan warga menyusul.
Kabar mengenai kondisi Paklek perlahan mulai terdengar hingga ke telinga Nyai Jambrong dan Guntur.
Namun, sebelum mereka sempat membahasnya lebih jauh, Mbok Sar membawa kabar lain.
Ada kejadian di dekat mereka yang benar-benar berada di luar nalar.
“Satu desa terbakar dan apinya tidak bisa dipadamkan?” Guntur bertanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan Nyai Jambrong.
“Kamu yang lebih muda seharusnya bisa mencari tahu!” ketus Nyai Jambrong.
Guntur menggaruk kepalanya.
Ia kemudian mencari tahu lebih jauh dengan bantuan Arum.
Tidak lama kemudian, mereka menemukan sebuah berita mengenai Desa Girajah.
Sebuah desa yang berada di dekat kawasan hutan.
Desa itu tiba-tiba mengalami kebakaran besar.
Petugas pemadam kebakaran telah datang dan berusaha memadamkan api dengan segala peralatan yang mereka miliki.
Namun, api itu tidak kunjung padam.
Tidak ada satu pun warga yang berhasil dievakuasi.
Akhirnya, keputusan terbaik yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan parit-parit di sekitar desa dan memperlebarnya agar api tidak menjalar ke wilayah lain.
“Ini yang serem, Eyang...”
Arum menunjukkan sebuah berita yang ia baca di koran.
Nyai Jambrong mengambilnya. Matanya bergerak membaca tulisan tersebut.
“Warga desa di sekitar lokasi mengaku didatangi sekumpulan orang gosong pada tengah malam.”
Guntur mendekat. Arum melanjutkan membaca.
“Mereka berjalan melintasi desa begitu saja… dengan sisa api yang masih menyala di tubuh mereka.”
Nyai Jambrong menghela napas panjang.
Kekhawatiran tidak lagi bisa disembunyikan dari wajahnya.
“Ada Danyang di desa itu…” gumamnya.
***
(Bersambung)
Namun, di balik kecemasannya, ada sesuatu yang ia rasakan. Sebuah ikatan.
Ia melihat sosok yang duduk di kursi Paklek. Bukan Paklek. Melainkan Jagad.
Ia melihat sosok yang duduk di kursi yang biasa ditempati Cahyo. Bukan Cahyo. Melainkan Dirga.
Dan satu lagi... Tetap Danan. Namun, bukan Danan yang selama ini ia kenal.
Bulek tidak mengerti bagaimana semua ini bisa terjadi.
Tetapi entah mengapa, melihat mereka duduk bersama di meja makan membuat rumah itu terasa sedikit lebih utuh.
…
Menjelang Maghrib, Bara telah kembali berada di Pabrik Gula. Tempat di mana jejak anak buah Raja Danyang pernah dibunuh.
Tempat yang kini tertutup oleh segel gaib para danyang.
Di sanalah gerbang terbesar dari serangan malam ini berada.
Namun, kali ini Bara tidak berjaga sendirian.
Dirga dan Jagad memang tetap berjaga di desa.
Tetapi malam ini, Bara ditemani sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Satu plastik gorengan buatan Bulek, dan satu termos kopi.
Bara memandangi termos bermotif kembang itu. Termos yang sudah ada di rumah Bulek sejak Cahyo masih kecil.
“Semoga aku bisa mengembalikan termos ini tanpa penyok.”
Bara menghela napas.
Malam panjang kembali dimulai.
…
(Di desa paklek…)
“Dirga, Jagad... makan dulu. Dari pagi kalian belum makan, lho.”
Bulek mengingatkan Dirga dan Jagad yang sejak tadi masih diliputi kecemasan atas apa yang terjadi di desa dan Pabrik Gula.
“Iya, Bulek... sebentar lagi,” jawab Jagad.
Ia masih sibuk membaca buku-buku milik Paklek. Sementara itu, Dirga sudah beberapa kali mencoba bermeditasi, tetapi tetap tidak menemukan jawaban yang ia cari.
“Apa kita benar-benar sudah menyinggung sosok yang nggak mungkin kita kalahkan, Mas?”
Nada suara Dirga terdengar cemas. Jagad menutup bukunya sejenak.
“Memangnya ada sosok seperti itu?” Ia mencoba menenangkan Dirga. “Percaya saja sama Danan dan Cahyo. Mereka pasti kembali.”
Tok... tok... tok...
Suara ketukan terdengar dari pintu depan.
Bulek segera bangkit dan membukakan pintu.
Di hadapannya berdiri seorang pria dengan rambut sebahu, kumis dan janggut tipis yang tampak tidak terurus.
Namun, wajah itu... Bulek mengenalnya.
“Danan?”
Mendengar suara Bulek, Dirga dan Jagad segera keluar dari ruangan.
Pria itu menatap Bulek sejenak.
“Sa... saya Danan, Bulek,” katanya pelan. “Tapi bukan Danan yang Bulek kenal.”
Penjelasan itu tentu saja tidak mudah dipahami. Namun, Dirga dan Jagad tahu satu hal.
Mereka tidak akan mampu melewati malam-malam yang akan datang tanpa bantuan Danan dari semesta lain itu.
“Panggil saya Bara saja,” ucap pria itu. “Biar nama itu tetap ada di alam ini.”
Nama Bara bukanlah nama sembarangan baginya. Nama itu memiliki arti yang sangat besar di semestanya.
“Bara, ya?” Jagad mengangguk. “Baik. Ayo masuk. Mau ketemu Paklek, kan?”
Bara pun masuk ke dalam rumah.
Bulek mempersilahkannya, meski masih kebingungan dengan semua penjelasan yang diberikan kepada dirinya.
Dirga kemudian tinggal lebih lama di ruang tamu untuk menjelaskan kepada Bulek siapa sebenarnya Danan dari semesta Bara.
Sementara itu, Bara berdiri di hadapan sosok yang terbaring kaku.
Paklek.
Bara memandangi wajah itu cukup lama. Wajah yang hampir ia lupakan.
Wajah seseorang yang telah meninggal di semestanya sendiri sejak ia masih kecil.
Tanpa menunggu aba-aba, Bara menggoreskan Keris Sukmageni miliknya pada telapak tangannya.
Darah menetes dan jatuh ke bilah keris. Seketika, api Sukmageni membara. Jagad langsung memahami maksud Bara.
Namun, ia belum pernah melihat api Sukmageni menyala sebesar itu.
Bukan hanya besar.
Api itu juga tampak begitu pekat, seolah menyimpan kekuatan yang jauh melampaui apa pun yang pernah mereka lihat.
Saat itulah Jagad mulai memahami cerita Cahyo tentang Danan dari semesta Bara. Tentang seberapa besar kekuatan yang dimilikinya.
Tentang bagaimana seorang diri, Danan dari semesta itu mampu melampaui mereka yang hidup di alam ini.
“Sepertinya perjuanganmu di semestamu tidak mudah,” ucap Jagad.
Bara menatap api di kerisnya.
“Sebanding dengan apa yang kuperjuangkan, Mas Jagad.”
Api Sukmageni kemudian menetes ke tubuh Paklek.
Anehnya, kobaran api itu tidak membakar kulit ataupun pakaian.
Api tersebut justru berpindah ke tubuh Paklek, lalu menjalar perlahan ke seluruh tubuhnya.
Jagad sempat berharap. Namun, Paklek tetap tidak bergerak. Ia masih belum sadar.
“Ternyata memang tidak bisa,” gumam Bara kecewa.
“Sukmanya masih tertahan,” jawab Jagad. “Setidaknya, api Sukmageni sekarang menjaga tubuhnya.”
Bara memperhatikan tubuh Paklek.
“Dan sepertinya ada sesuatu yang juga menjaga sukma Paklek.”
Jagad menoleh.
“Maksudmu?”
“Tubuhnya sama sekali tidak terluka,” jelas Bara.
“Padahal sukmanya berada di tempat yang seberbahaya itu.”
Jagad mengangguk. Ia memahami maksud Bara. Namun, Bara tidak mengatakan apa-apa lagi.
Ia segera bersiap meninggalkan rumah.
“Langsung pergi?” tanya Jagad.
“Malam ini akan ada gelombang besar lagi. Kita harus bersiap.”
Bara kembali ke ruang tamu untuk menemui Dirga.
“Kami paham,” kata Jagad.
Sebelum benar-benar pergi, Bara memasukkan tangannya ke dalam kantung yang ia bawa.
Ia mengeluarkan sesuatu. Sebuah mata tombak. Bara menyerahkannya kepada Jagad.
“Dia memang tidak bisa ikut campur,” ucap Bara. “Tapi dia meminjamkan ini.”
Jagad menerima benda itu.
Matanya langsung membesar.
“Ini...”
Dirga ikut melihatnya.
“Mata Tombak Candramukti!”
Jagad mengenali pusaka itu.
“Pelajarilah cara menggunakannya,” kata Bara.
“Mungkin saja benda itu bisa membantu kalian.”
Bara berhenti sejenak.
“Pesan Candramukti... jangan sampai kau menghancurkannya.”
Jagad menatap mata tombak itu. Ia paham bahwa dirinya adalah penghancur pusaka sejati, namun kali ini ia harus menahan diri.
“Pusaka ini masih dibutuhkan hingga beberapa abad lagi.”
“Aku mengerti.”
Bara kemudian berbalik.
Ia kembali bersiap meninggalkan rumah.
Namun, baru beberapa langkah, suara Bulek terdengar dari belakang.
“Danan!”
Bara berhenti. Bulek segera mengoreksi dirinya.
“Eh... Bara.”
Bara menoleh.
“Makan dulu.”
“Nggak usah repot-repot, Bulek. Terima—”
“Sayur lodeh... ikan asin... sambel terasi...”
Bara terdiam. Ia menatap Bulek.
Kemudian pintu yang hampir ditutupnya kembali dibuka. Ia pun mengurungkan niatnya, dan kembali masuk ke dalam rumah.
Siang itu, meja makan kembali diisi oleh empat orang. Bulek memperhatikan mereka bertiga dengan perasaan cemas.
"Bagi Sang Raja, manusia hanyalah bagian dari alam. Menghabisi mereka pun adalah bagian dari tugasnya menjaga keseimbangan." bisik Nyi Sendang Rangu.
Danan terus menunggu.
Ia berharap muncul seseorang yang mampu menjatuhkan Raja Danyang.
Namun harapan itu tak kunjung menjadi kenyataan.
Lama-kelamaan ia mulai meragukan keberadaannya di sana.
Jangan-jangan semua ini akan berakhir tanpa hasil.
Namun pada malam ketujuh, ketika mayat-mayat hampir menutupi seluruh halaman istana...
...sebuah suara tiba-tiba terdengar.
"Ini waktunya... Pembunuh Raja Danyang akan muncul."
Danan langsung membuka mata.
Ia mencari asal suara itu.
Ia tahu, Nyi Sendang Rangu tidak mendengarnya.
Pada saat yang sama, telinganya kembali menangkap suara-suara yang begitu dikenalnya.
Debur ombak.
Gemuruh gunung berapi.
Retakan dari perut bumi.
Dan gelegar petir yang membelah langit.
Bencana besar di masa lalu itu...
akhirnya mencapai puncaknya.
Danan bersiap melangkah lebih dekat.
Namun suara misterius itu kembali berbisik.
"Kau harus berada di tengah-tengah mereka. Jika tidak, kau tak akan mengetahui apa pun."
Danan ragu.
Ia tahu, tempat yang hendak ia masuki adalah titik paling mematikan di seluruh medan perang.
"Danan! Jangan nekat!" seru Nyi Sendang Rangu.
"Ini saatnya, Nyi. Sesuatu yang mampu menaklukkan Raja Danyang akhirnya datang."
Namun memasuki medan pertempuran itu bukan perkara mudah.
Di hadapannya telah berdiri seorang prajurit raksasa tanpa kepala, setinggi atap rumah.
Di tangannya tergenggam sebuah tombak panjang, dengan beberapa kepala manusia yang masih tertancap di ujungnya.
***
"Raja Danyang... apa benar ada kekuatan yang mampu menghentikannya?"
Untuk pertama kalinya, keraguan memenuhi hati Danan.
Di hadapannya terbentang kehancuran tanpa akhir.
Kekuatan absolut itu membantai siapa saja yang mendekat. Namun anehnya, mantra-mantra dari berbagai penjuru terus bermunculan, seakan menantang sosok yang mustahil dikalahkan itu.
"Mereka sudah gila? Apa yang sebenarnya mereka incar?"
Danan tak mengerti.
Tak seorang pun mencoba melarikan diri.
Sebaliknya, semakin banyak kekuatan berdatangan dari luar medan perang, seolah rela mengorbankan segalanya demi menghadapi Raja Danyang.
"Mantarayuda adalah saat poros-poros kekuatan terbesar mempertaruhkan segalanya, Danan," ujar Nyi Sendang Rangu.
"Mereka tak peduli berapa ratus nyawa yang harus dikorbankan, berapa banyak perjanjian yang harus dibuat dengan para setan, atau apa pun yang harus dihancurkan."
"Untuk apa?"
"Untuk menguasai kekuatan itu... menjadikan Raja Danyang sebagai khodam mereka."
Deg.
Danan terdiam.
Sulit baginya mempercayai bahwa ada manusia atau makhluk lain yang berniat menguasai sosok sekuat itu.
"Bukankah itu mustahil?"
"Kami, para Danyang, tetap terikat pada aturan alam. Bahkan Sang Raja sekalipun."
Suara Nyi Sendang Rangu terdengar tenang.
"Jika mereka menemukan wadah yang memiliki garis takdir yang sama dengan Sang Raja, maka yang perlu mereka lakukan hanyalah menaklukkannya."
Danan berjalan semakin dekat.
Kini ia mulai memahami maksud ucapan Nyi Sendang Rangu.
Ada empat tempat yang dijaga dengan sangat ketat.
Sebuah kuil, sebuah istana, sebuah bangunan batu, dan sebuah rumah dengan pelataran besar.
Di masing-masing tempat itu terdapat satu makhluk yang dijaga mati-matian.
Seorang perempuan berparas luar biasa cantik.
Sesosok mayat yang telah melalui ritual. Seekor ular bermata satu. Dan sebuah pohon dengan dahan-dahan berbentuk ular.
Keempatnya adalah wadah yang terikat oleh garis takdir Raja Danyang.
"Yang mereka ketahui, Raja Danyang adalah makhluk digdaya yang memikul kekuatan para dewa. Padahal, ada hal lain yang membuatnya pantas menyandang gelar raja."
"Apa itu, Nyi?"
"Kecerdikan dan kelicikan. Kebijaksanaan dan amarah. Pengetahuan... dan kekosongan."
Danan akhirnya mengerti.
Yang ia hadapi bukan sekadar monster yang memiliki kekuatan luar biasa.
Melainkan sosok yang jauh lebih agung, lebih cerdas, dan lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.
Ia hanya mampu menyaksikan semuanya dari kejauhan.
Satu malam berlalu.
Lalu malam berikutnya.
Hingga akhirnya Danan sendiri lupa sudah berapa lama ia berada di sana.
Tubuhnya semakin kurus.
Keberadaan Nyi Sendang Rangu memang melindunginya dari gangguan gaib, tetapi juga terus menguras tenaga yang ia miliki.
Beberapa kali Danan mencoba memasuki medan pertempuran.
Namun setiap kali hampir mencapai pusatnya, selalu ada kekuatan tak kasatmata yang menghempaskannya kembali.
Ada batas yang sama sekali tak mampu ia tembus.
Yang membuatnya semakin gelisah, setiap hari ratusan nyawa melayang.
Ratusan roh dijadikan persembahan.
Ia bahkan tak tahu dari mana semua korban itu terus berdatangan.
Seolah kerajaan-kerajaan besar dan kelompok-kelompok sakti telah mempersiapkan semuanya sejak lama demi peristiwa ini.
"Raja Danyang seperti sedang bermain-main..." gumam Danan.
"Ini bukan zaman kita, Danan. Jangan terlalu jauh."
Nyi Sendang Rangu ikut melayang di sampingnya, memastikan Danan tidak bertindak gegabah.
"Apa benar kita tidak bisa menyelamatkan apa pun? Bahkan satu nyawa saja?" tanya Danan dengan geram.
"Hari ini kita menyaksikan kematian. Dan kita masih akan melihat lebih banyak lagi. Namun semua ini harus kita lalui demi menyelamatkan manusia-manusia di zaman kita sendiri. Kuharap... semua pengorbanan ini sepadan."
Perlahan Danan kembali ke tubuhnya.
Ia mengembuskan napas panjang sambil menundukkan kepala.
"Kita selesaikan tujuan kita secepatnya, Nyi."
Ia menguburkan gadis kecil itu seadanya, lalu meninggalkan desa mengikuti arah yang terus memanggil firasatnya.
Di kejauhan berdiri sebuah kerajaan tua yang telah kokoh selama ratusan tahun, dikelilingi pemukiman yang luas.
Namun pada hari itu...
di sanalah bencana yang jauh lebih besar telah menanti.
….
Suara mantra dan doa bergema tanpa henti.
Tak terlihat siapa yang melantunkannya, tetapi lantunan itu datang dari segala penjuru, saling bersahutan dengan bunyi yang berbeda-beda.
Setiap suara membawa tekanan yang begitu kuat hingga membuat siapa pun yang mendengarnya gemetar.
"Arrgghh!"
Danan terjatuh sambil memegangi kepalanya. Mantra-mantra itu seolah merenggut kesadarannya sedikit demi sedikit.
"Manusia biasa tak akan mampu bertahan di sini..." gumam Nyi Sendang Rangu.
Menyadari keadaan Danan, ia melepaskan wujud Rahayunya dan merasuk ke dalam tubuh pemuda itu.
"Terima kasih, Nyi..."
"Lakukan apa yang harus kita lakukan, lalu segera pergi dari tempat ini."
Danan mengangguk.
Ia melangkah semakin dekat menuju kerajaan itu. Dari kejauhan, ia mulai melihat makhluk-makhluk mengerikan yang menguasai seluruh kawasan.
Ular-ular raksasa melilit tubuh seorang buto tua yang dipenuhi rajah. Di atap-atap bangunan bertengger makhluk yang tubuhnya tersusun dari jasad manusia. Api hitam menjelma nenek renta yang terus tertawa lirih.
Di antara mereka, manusia-manusia mengerang kesakitan.
Sebagian masih bertahan dengan ritual yang mereka jalankan. Sebagian lain telah berubah menjadi kantung darah bagi makhluk gaib yang mengikat perjanjian dengan mereka.
Di langit, roh-roh bergentayangan dalam berbagai rupa. Mereka berkerumun seperti awan gelap yang saling bertabrakan. Setiap roh terus mengulang mantra yang sama—memanggil wabah, mengundang bencana, dan menghasut kehancuran.
"Ini... mengerikan..."
Danan hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Saat itu ia merasakan tubuh Nyi Sendang Rangu ikut bergetar di dalam dirinya. Namun seluruh kekacauan itu mendadak berhenti.
Sesosok makhluk jatuh dari langit.
Dalam sekejap, semua kekuatan yang saling bertarung di medan perang seolah kehilangan arti.
Makhluk itu berjalan perlahan.
Setiap langkahnya merenggut nyawa manusia yang berada di sekitarnya. Roh-roh yang terlalu dekat langsung hangus tanpa sempat menjerit.
Danan mengenali sosok itu…
Raja Danyang.
"Sekarang kau melihat sendiri kekuatan itu..."
Suara Nyi Sendang Rangu terdengar semakin bergetar.
Barulah Danan mengerti mengapa selama ini Nyi Sendang Rangu begitu takut kepada sosok tersebut.
MANTARAYUDA
Tepat ketika Danan dan Nyi Sendang Rangu keluar dari gua, pemandangan di hadapan mereka telah berubah jauh dibandingkan saat mereka masuk.
Asap hitam mengepul dari berbagai penjuru hutan. Bau busuk yang menusuk hidung memenuhi udara, sementara kobaran api melahap sebagian pepohonan.
"Nyi! Desa!" teriak Danan panik.
Tanpa menunggu jawaban, ia berlari meninggalkan hutan. Rasa cemas menghantam dadanya begitu keras hingga setiap langkah terasa semakin berat. Ketika akhirnya tiba di desa, pemandangan yang terbentang di depan matanya membuat tubuhnya membeku.
Desa itu tak lagi dihuni manusia.
Yang tersisa hanyalah kematian.
Mayat-mayat warga ditumpuk di tengah desa dalam keadaan mengenaskan. Kulit mereka menghitam, sementara mata mereka meleleh hingga terlepas dari rongganya.
Mereka adalah orang-orang yang pagi tadi masih menyapa dan berbincang dengannya.
Di antara tumpukan mayat itu berdiri sosok seorang kakek yang memikul sebuah kendi besar di punggungnya. Dari dalam kendi itu terdengar jeritan dan rintihan yang saling bertumpuk, memekakkan telinga.
Saat Danan masih mencoba memahami apa yang sedang terjadi, sebuah tangan kecil tiba-tiba muncul dari mulut kendi, meronta-ronta berusaha keluar.
Seketika ia teringat pada gadis kecil yang pagi tadi menabraknya—anak yang dengan polos memberinya buah ciplukan hasil petikannya sendiri.
"KALIAN BIADAB!!"
Danan berlari menerjang kakek itu dengan amarah yang meluap.
Kakek tersebut menoleh. Begitu menyadari kedatangan Danan, ia justru tertawa.
"Khekhekhek...! Masih ada yang bisa dipanen rupanya!"
Tangannya bergerak memutar di udara membentuk pola-pola aneh. Seketika kesadaran Danan terasa goyah. Kelopak matanya menjadi berat, seolah ada sesuatu yang memaksanya terlelap.
"AAARRGGHHH!!"
Tak memberi kesempatan sedikit pun, Danan mencabut kerisnya lalu melemparkannya. Bilah itu melesat dan menancap tepat di bahu sang kakek.
"Bocah tengik!"
Dengan geram, kakek itu meludah. Ludahnya berubah menjadi kepulan asap hitam yang semakin mengacaukan kesadaran Danan.
Namun amarah Danan telah mencapai puncaknya.
Bruaaghh!
Ajian Lebur Saketi menghantam telak. Gelombang pukulan jarak jauh itu menghempaskan tubuh sang kakek hingga kendi di punggungnya terlepas dan menggelinding.
Melihat kesempatan itu, Danan segera berlari menghampiri kendi tersebut.
"Tolong... jangan mati..."
Prak!
Ia menghancurkan kendi itu sekuat tenaga.
Namun di saat yang sama, sang kakek kembali bangkit. Wajahnya dipenuhi amarah saat kembali mengincar Danan.
Sebelum ia sempat bergerak lebih jauh, Nyi Sendang Rangu berdiri menghadangnya.
"Ternyata ada wanita secantik ini di desa ini."
Senyum penuh nafsu tersungging di wajah sang kakek.
Namun kecantikan Nyi Sendang Rangu tak lagi mampu menyembunyikan murkanya.
Ia melangkah mendekat.
Dalam sekejap, wajahnya berubah. Paras ayunya berganti menjadi wajah penuh borok, dipenuhi puluhan rongga mata kosong. Rambutnya rontok satu per satu, sementara bau busuk yang menyengat memenuhi udara.
"Setan...! Setan menjijikkan!"
Kakek itu gemetar ketakutan.
Dengan tangan gemetar ia mencabut pisau berkarat dari pinggangnya dan menikam tubuh Nyi Sendang Rangu.
Namun luka tusukan itu justru menganga lebar.
Di balik daging yang terbuka, tampak wajah-wajah para warga desa yang telah membusuk, saling bertumpuk, menatap tanpa mata.
"Menjijikkan?"
Nyi Sendang Rangu mendekat hingga wajah mereka hampir bersentuhan.
"Ini adalah wujud dari dosa-dosamu."
Seketika tubuh sang kakek menegang.
"Sakit...! Hentikan...!"
Ia berguling-guling di tanah sambil mencengkeram tubuhnya sendiri. Berkali-kali ia mencoba mengatur napas dan melafalkan ritual, tetapi semuanya sia-sia.
"Bahkan kau tak sanggup menanggung balasan dari semua perbuatanmu sendiri."
Craattt!!
Kepala kakek itu meledak.
Darah dan serpihan daging memuncrat, membasahi tanah di sekitarnya.
Perlahan, wujud Nyi Sendang Rangu kembali seperti semula.
Ia menoleh ke arah Danan.
Danan sedang memeluk tubuh gadis kecil itu. Tak ada kata-kata. Tak ada tangisan.
Hanya tubuh mungil yang sebagian telah menghitam. Kulitnya meleleh perlahan, berusaha bertahan dari rasa sakit yang tak mungkin lagi ia lawan.
Anak itu tidak berbicara.
Dengan sisa tenaganya, ia mengangkat tangan mungilnya, menyentuh pipi Danan...
...lalu mengembuskan napas terakhir.
Nyi Sendang Rangu menepuk pelan bahu Danan.
Berusaha menenangkannya.
"Kita terlambat..." bisik Danan.
"Sejak awal kita memang seharusnya kita berada di sini, Danan," jawab Nyi Sendang Rangu lirih.
Danan membaringkan jasad gadis kecil itu dengan hati-hati. Pandangannya kembali menyapu seluruh desa yang kini berubah menjadi lautan kematian.
Menggunakan kekuatan Keris Ragasukma, ia memisahkan rohnya dari tubuh.
Arwah Danan melayang tinggi, mengamati keadaan desa dari atas.
Tak ada seorang pun yang selamat.
Di kejauhan tampak beberapa kakek lain memanggul guci-guci yang jauh lebih besar. Guci-guci itu menjadi tempat tubuh para warga membusuk sekaligus penjara bagi roh-roh mereka.
Danan terdiam.
Pikirannya kembali pada perkataan makhluk misterius tadi. Kalau ingin menghentikannya, kau harus ada di tengah-tengahnya.
“Tapi...” Danan menoleh kepada Nyi Sendang Rangu. “Siapa sebenarnya sosok itu?”
Nyi Sendang Rangu menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
“Dia berbahaya,” kata Danan. “Aku bisa merasakannya.”
Danan kembali menatap tempat makhluk itu sebelumnya berdiri.
“Tapi bersamaan, entah mengapa... aku merasa tidak asing dengannya.”
Belum sempat Nyi Sendang Rangu menjawab, tiba-tiba tanah di bawah kaki mereka bergetar.
DUMM!!!
Dentuman dahsyat mengguncang perut bukit.
Suara gemuruhnya menggema dari kejauhan, seolah sesuatu yang sangat besar baru saja meledak di luar sana.
Danan dan Nyi Sendang Rangu saling berpandangan.
Tak lama kemudian, udara panas mulai merembes masuk ke dalam goa.
Nyi Sendang Rangu langsung menyadarinya.
“Sudah dimulai...” ucap Nyi Sendang Rangu.
Danan langsung bergerak.
“Kita harus ke sana!”
Nyi Sendang Rangu mengangguk.
Danan segera memeriksa kembali mantra-mantra yang telah ia kumpulkan. Ia memastikan semuanya tersimpan dengan baik sebelum akhirnya berlari meninggalkan goa.
Namun, Nyi Sendang Rangu masih berdiri di tempatnya. Ia menoleh sekali lagi ke tempat makhluk misterius yang tidak bisa dilihatnya itu tadi berdiri.
Sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di dalam benaknya. Apa mungkin Raja Danyang datang ke tempat ini untuk mencari sosok itu?
Nyi Sendang Rangu menyipitkan mata.
Dan jika sosok itu tidak bisa kulihat...
Apakah Raja Danyang juga tidak bisa melihatnya?
Pertanyaan itu tidak memiliki jawaban. Setidaknya, belum.
Nyi Sendang Rangu akhirnya berbalik dan menyusul Danan. Apa pun yang sebenarnya terjadi di tempat ini, mereka tidak bisa terus bersembunyi.
Kini, mereka harus melihat dengan mata kepala sendiri bencana apa yang sebenarnya terjadi pada masa itu.
***
Namun, makhluk itu sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit. Ia hanya terus mengulurkan tangannya kepada Danan dan terus emanggilnya.
“Aku selesai di sini...”
Tangan Danan perlahan terangkat. Jari-jarinya menyentuh tangan makhluk itu.
Srrrassshhh!!!
Seketika angin berembus kencang. Tubuh makhluk itu lenyap. Danan tersentak.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, ia merasakan sesuatu mengalir masuk ke dalam tubuhnya.
Sesuatu yang asing. Sesuatu yang seolah menyatu dengan dirinya.
“Danan!”
Nyi Sendang Rangu segera menghampirinya.
“Apa yang terjadi?”
Danan terdiam. Ia memeriksa tubuhnya sendiri, tetapi tidak menemukan luka sedikit pun.
“Sosok itu menghilang, Nyi,” jawab Danan. “Dia bilang, kalau aku ingin menghentikannya, aku harus ada di tengah-tengahnya.”
Danan menggeleng pelan.
“Aku nggak mengerti maksudnya.”
Nyi Sendang Rangu tidak langsung menjawab.
Tatapannya perlahan berubah. Ia memperhatikan Danan dari ujung kepala hingga kaki.
Ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di masa itu, Danan tidak lagi terlihat seperti entitas asing yang datang dari zaman berbeda.
Tubuhnya seolah telah berubah. Seolah-olah keberadaannya kini diakui oleh zaman tersebut.
Seolah-olah...
Danan memang berasal dari masa itu.
“Mantarayuda...”
Suara Nyi Sendang Rangu terdengar lirih. Namun tatapannya tiba-tiba menajam.
Danan menoleh.
“Apa?”
“Sejak awal, kita hanya bisa menyaksikan kehancuran itu dari luar. Kita berada di zaman ini sebagai pengamat.”
Nyi Sendang Rangu menatap tubuh Danan.
“Tapi sekarang... wujudmu telah berubah. Kau seperti bagian dari zaman ini.”
Danan menatap kedua tangannya.
Ia memperhatikan tubuhnya sendiri.
Namun, ia hampir tidak menemukan perubahan apa pun.
“Dengan keadaanmu sekarang,” lanjut Nyi Sendang Rangu, “kau mungkin bisa berada di tengah-tengahnya.”
atau justru membawa mereka pada sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Namun, sebelum Danan benar-benar meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang.
Ia menoleh.
Di belakangnya berdiri sosok makhluk dengan rambut gimbal panjang. Tubuhnya terselimuti lumpur hitam yang mengering di beberapa bagian. Sepasang mata merah menatap Danan dengan tajam, sementara senyum menyeringai terukir di wajahnya.
Perlahan, makhluk itu mengangkat tangannya.
Melambaikannya.
Seolah memanggil Danan untuk mendekat.
“Nyi... itu?”
“Ya?”
Nyi Sendang Rangu menoleh, berusaha memahami apa yang sedang ditunjuk oleh Danan. Namun, ia tidak melihat apa pun.
“Nyi, kamu nggak melihat sosok itu?”
“Sosok apa?”
Danan terdiam.
Ada rasa cemas yang perlahan menyusup ke dalam dirinya. Namun, entah mengapa, sebuah firasat justru mendorongnya untuk mendekati makhluk tersebut.
“Ada sesuatu di sana...”
Danan melangkah maju.
Semakin dekat, semakin kuat perasaan aneh yang muncul dalam dirinya. Ada sesuatu yang terasa begitu akrab dari sosok itu. Namun, bersamaan dengan itu, firasat bahaya juga semakin kuat mencengkeram pikirannya.
“Danan! Apa yang kamu lihat?”
Suara Nyi Sendang Rangu terdengar cemas. Ia benar-benar tidak melihat apa pun yang sedang dilihat Danan.
Danan tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada makhluk di hadapannya.
“Aku tidak punya tubuh untuk berada di sana...”
Suara makhluk itu terdengar berat dan dalam.
“Tapi kamu punya.”
Danan mengernyit. Ia masih tidak memahami maksud perkataan itu.
“Kalau ingin menghentikannya...” lanjut makhluk itu, “kau harus ada di tengah-tengahnya.”
Danan terus melangkah. Makhluk itu kembali melambaikan tangannya.
Memanggil.
Semakin dekat, Danan akhirnya menyadari sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
Di sekujur tubuh makhluk itu terdapat goresan aksara-aksara aneh. Aksara tersebut seperti diukir langsung ke dalam dagingnya. Dari setiap goresan, darah terus mengalir, membasahi tubuhnya yang penuh lumpur hitam.
Raja Danyang…
Danan memandang sosok itu dengan berbagai kemungkinan yang berkelebat di benaknya.
Tak membutuhkan ritual ataupun ilmu besar, makhluk itu mungkin saja mampu menghabisi mereka atau menghancurkan bukit ini dalam sekejap jika ia menghendakinya.
Danan merapalkan Ajian Lebur Saketi. Energi dari ajian itu mengalir melalui telapak tangannya, lalu merambat ke Keris Ragasukma yang tergenggam erat. Ia sadar, mungkin semua itu tak akan berarti apa-apa jika harus berhadapan dengan makhluk di hadapannya.
Setiap langkah makhluk itu tak pernah lepas dari pandangan Danan.
Namun ketika sosok tersebut semakin dekat...
Ia justru melintas begitu saja.
Sang Raja Danyang sama sekali tidak menganggap keberadaan mereka. Tidak menganggap Danan dan Nyi Sendang Rangu sebagai ancaman.
Sosok yang memancarkan tekanan gaib begitu pekat itu melewati mereka tanpa sedikit pun menoleh.
“Dia tidak menyerang kita?” bisik Danan.
“...Jangan senang dulu, Danan,” balas Nyi Sendang Rangu. “Raja Danyang menganggap kita seperti semut yang tak perlu dipedulikan. Kita bukan apa-apa di matanya.”
Danan dan Nyi Sendang Rangu hanya bisa memandangi sosok itu yang terus berjalan, meninggalkan goa tanpa sedikit pun menunjukkan ketertarikan pada keberadaan mereka.
Makhluk gaib itu seolah tidak peduli pada siang ataupun malam. Tidak takut pada apa pun. Bahkan sosok sekuat Nyi Sendang Rangu dan Danan pun tidak dianggap sebagai sesuatu yang layak diperhitungkan.
“Apa Raja Danyang di masa depan juga sekuat itu?” tanya Danan.
“Tidak mungkin lebih lemah,” jawab Nyi Sendang Rangu. “Itulah sebabnya ia mendapatkan gelar Raja.”
Danan menelan ludah.
Pandangannya kembali tertuju pada aksara-aksara yang memenuhi dinding bukit. Untuk sesaat, ia bertanya-tanya apakah di antara rangkaian aksara kuno itu tersimpan mantra yang mampu mengalahkan Raja Danyang.
Beberapa aksara tampak mencolok, seolah sengaja disembunyikan di antara pola-pola lainnya. Namun, tidak mudah untuk memahami ataupun menyatukannya menjadi sebuah makna.
Mereka sadar, waktu yang mereka miliki tidak banyak.
Bisa saja Raja Danyang sewaktu-waktu berbalik dan kembali ke perut bukit.
Danan segera mencatat beberapa aksara yang dianggap penting. Ia berniat mencari tahu maknanya setelah mereka keluar dari tempat itu.
Namun jauh di dalam hatinya, Danan sama sekali tidak yakin.
Ia tidak tahu apakah apa yang mereka temukan di dinding bukit ini benar-benar akan membantu mereka menghadapi Raja Danyang...
MANTARAYUDA
Part 10 - Raja Danyang
Makhluk itu membuat Nyi Sendang Rangu Tak berkutik. Kastanya jauh diatasnya. Raja Danyang mulai menampakkan wujudnya..
#bacahorror@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht
MANTARAYUDA
Part 6 - Ritual di Rumah Susun
Tak harusnya bangunan terbengkalai itu ditinggali, sesuatu yang sudah mati seharusnya tidak digunakan untuk mereka yang hidup...
#bacahorror@IDN_Horor@ceritaht@bacahorror