Bahaya Tabung gas CNG 3kg, Jika Meledak bukan hanya dapur yang hancur tapi rumah bahkan bangunan sekitar bisa hancur, dan serpihannya terbang seperti peluru.
Kanda @bahlillahadalia harus hati-hari sekali ini dengan idenya. Di seluruh dunia tak ada yang menggunakan tabung untuk memanfaatkan CNG (Metana) untuk keperluan rumah tangga.
Bukan karena mereka tidak mampu membuat tabung yang aman, tapi risiko besar yang akan muncul jika CNG dimampatkan ke tabung karena butuh tekanan SANGAT BESAR sampai 200 bar. Bandingkan dengan LPG yang hanya 5 bar.
Tekanan 200 bar itu sama seperti tekanan terhadap benda yang berada dalam kedalaman laut 2.000 meter alias 2 km (1 bar ekuivalen dgn kedalaman 10 meter).
Bayangkan, Kapal Selam TNI AL saja maksimal hanya mampu menahan tekanan sampai kedalaman 500 m (mungkin kurang), lebih dari itu bakal remuk dan pecah karena strukturnya ndak mampu menahan beban.
Sekarang ada tabung gas CNG, yang di dalamnya ada tekanan 200 bar, diurus ibu rumah tangga di Indonesia, yang pasti tidak tahu bahwa ada bom siap meledak jika salah penanganan.
Ingat, saat awal tabung 3kg LPG dibuat, berapa banyak kasus ledakan tabung, padahal cuma 5 bar.
--------------------------
Kenapa bahaya CNG disimpan di dalam tabung untuk didistribusikan? Ini karena sifat dari wujud benda dengan massa jenisnya.
- Benda padat, seperti besi, dengan berat 1kg, akan memiliki volume paling segenggaman tangan.
- Benda cair, seperti air, dengan berat 1kg, akan memiliki volume paling sebotol mineral 1 liter.
- Nah gas seperti CNG, dengan berat 1 kg, akan memiliki volume besar sekali, lebih kurang 1,4m2 atau 1.400 liter.
Bayangkan besarnya ruang (volume) yang dibutuhkan gas CNG dengan berat 3kg, yaitu lebih kurang 4,2m2 di tekanan ruang (normal).
Karena itu lah CNG perlu dimampatkan volumenya. Cilakanya, CNG tidak berubah bentuk saat dimampatkan, tetap dalam bentuk gas. Sehingga butuh besar sekali tekanan agar ukuran ruang yg diperlukan menjadi kecil untuk menyimpan CNG dengan berat 3kg.
Besarnya tekanan yang dibutuhkan dari sisi teknis sekitar 200 bar agar bisa dimasukan dalam tabung yg kecil (lebih besar sedikit dari tabung gas LPG 3g).
Untuk menahan tekanan yang besar sampai 200 bar tsb, butuh bahan tabung dari baja yang tebal, utuh, tanpa sambungan, tanpa las-lasan. Konsekuensinya tabung akan besar sekali, bisa 3-4x berat tabung LPG saat ini.
Berbeda dengan LPG (yang merupakan produk sampingan pengolahan minyak), hanya butuh tekanan sekitar 5-10 bar. Dan ajaibnya gas LPG berubah wujud menjadi cair saat diberikan tekanan 5-10 bar. Itu lah yang menyebabnya tabungnya menjadi kecil sekali, dan ringan.
---------------
Dari sisi ekonomi, Pemerintah harus membelanjakan anggaran yang cukup besar sekali untuk mengganti tabung LPG 3kg, yang digantikan tabung CNG 3kg.
Harga produksi tabung CNG sudah pasti jauh lebih mahal, bisa sampai 20x harga produksi tabung LPG. Berbagai sumber menyebut bisa sampai Rp1,5juta-Rp3juta per tabung.
Tabung semahal itu, dengan isi gas murah, selain membebani uang negara, juga ada risiko hilang dicuri karena mahalnya.
Saat ini saja, data kehilangan tabung gas LPG 3kg saja buanyakkkk pol. Modal Rp15-Rp19ribu, dengan berat tabung 3kg LPG yang 5kg, jika dijual kiloan masih cuan Rp15ribu-Rp20ribu per tabung.
Bayangkan bakal tingginya minat menyikat tabung CNG yang beratnya bisa sampai 20kg. 😅
Apa tidak amsiong itu pemerintah mengawasi dan mengganti jika tabung CNG hilang?
-----------------
Jadi risiko keamanan, risiko anggaran, dan risiko dikilo itu lah yang menyebabkan tidak ada negara di dunia yang mendistribusikan CNG dalam bentuk tabung ke rumah-rumah.
Yang layak secara ekonomi adalah lewat jaringan pipa gas.
-------------------
Saran saya, pemerintah tidak perlu mengkonversi LPG ke CNG dalam tabung 3kg demi mengurangi subsidi yang menekan fiskal. Justru kebijakan ini akan jauh lebih membebani fiskal, bukan menghemat fiskal.
Namun, harus diakui, negara kita yang kaya produksi CNG adalah salah jika tidak memanfaatkannya, malah mengimpor LPG. Impor ini selain akan cipatakan ketergantungan, juga akan membuat bengkak beban keuangan negara, terutama untuk LPG subsidi 3kg.
Untuk itu, solusi yang masuk akal, hemat saya, baik dari sisi keamanan dan ekonomi adalah menggunakan hybrid;
1. Untuk daerah-daerah yang saat ini potensial pemanfaatan CNG karena penghasil gas alam, solusi pipanisasi gas yang perlu dilakukan masif. Misal seperti di Sidoarjo, dan Gresik di Jawa Timur. Yang dapat diperluas ke Kota sekitar seperti Surabaya, Mojokerto, Lumajang.
Jika seluruh Rumah tangga (juga industri, restor, dll) di di daerah ini menggunakan jariangan pipa gas, ini akan dapat mengurangi kebutuhan LPG secara signifikan.
Ya tetu butuh investasi pipanisasi gas. Yang memang mahal, tapi jauh lebih aman dan ekonomis dibanding distribusi dgn tabung gas CNG.
2. Untuk daerah lain yang masih sulit diakses, karena jauh dari sumber gas alam, dan belum punya stasiun storage, baiknya tetap saja gunakan LPG 3kg. Sambil ke depan pelan-pelan bangun stasiun gas dan pipanisasi gas CNG.
Ini lebih masuk akal daripada konversi LPG 3kg ke CNG 3kg.
🙏
Salam
FK
Tiga pertanyaan untuk Mendikti soal LPDP digembleng TNI:
1. Sejak kapan warga sipil yang lolos IELTS, esai, dan wawancara LPDP dianggap kurang disiplin?
Mereka bahkan menghitung sendiri pajaknya tiap tahun di SPT, sesuatu yang (mungkin) prajurit tidak diwajibkan lakukan dengan kerumitan yang sama.
2. Sejak kapan warga yang pajaknya dikorupsi bertahun-tahun tapi tetap bayar PPN setiap belanja dianggap kurang berkebangsaan?
3. Kalau tujuannya supaya awardee balik ke Indonesia, kenapa solusinya pelatihan baris-berbaris dan bukan perbaikan ekosistem riset, gaji dosen, dan kepastian karier akademik di dalam negeri?
Yang bikin doktor enggan pulang itu bukan kurang nasionalisme. Tapi karena kurang lab, kurang dana riset, dan kurang penghargaan.
Kalau pemerintah serius ingin awardee pulang dan berkontribusi, cobah perbaiki ekosistem akademik dalam negeri.
Itu jauh lebih sulit, dan jauh lebih dibutuhkan.
Menurut saya, mengirim calon master dan doktor ke barak untuk diajari “kebangsaan” itu membalik logika.
Yang lazim di banyak negara: kadet militer yang dikirim ke kampus, bukan sebaliknya.
Jangan remehkan warga sipil yang duitnya bocor terus tapi masih setia bayar pajak.
Lagian, tokoh-tokoh kebangsaan terbesar republik ini sebagian besar sipil. Hatta, Sjahrir, Sukarno muda, Kartini, Tan Malaka, Agus Salim.
Tidak satu pun dari mereka yang nasionalismenya dibentuk di barak.
Mereka jadi nasionalis karena membaca, berdebat, hidup di pengasingan, dan berhadapan dengan ketidakadilan kolonial.
Bukan karena baris-berbaris.
😬
Label nutrisi level ini adalah kebijakan yang sangat gue apresiasi dan perlu dikawal banget pelaksanannya.
Melalui label ini diharapkan kita bisa tahu estimasi kadar gula dalam minuman yang kita minum.
Nah yang menarik adalah, ternyata penelitian di negara lain menunjukkan bahwa label level nutrisi seperti ini berasosiasi dengan penurunan konsumsi gula di masyarakat.
Penelitian di Singapura menunjukkan bahwa masyarakat condong memilih minuman yang kadar gulanya lebih rendah dan akhirnya menurunkan konsumsi rata-rata gula di masyarakat secara signifikan.
Mudah-mudahan kebijakan ini juga bisa menurunkan konsumsi gula di Indonesia. Amin paling serius.
Semoga bermanfaat!
Sumber:
Shin (2023). A randomized trial to evaluate the impact of Singapore’s forthcoming Nutri-grade front-of-pack beverage label on food and beverage purchases
"Apakah Jokowi punya utang ke PDIP?"
Di film The Bourne Supremacy ada dialog antara Ward Abbot, pimpinan CIA dengan Yuri Gretkov, raja minyak Rusia yang kaya dengan modal dari CIA.
Abbot: "Yuri, kau bisa beli hak sewa minyak dengan modal uang 20 juta dolar dari CIA. Kau berutang padaku."
Yuri: "Aku telah memberikan bagianmu kepadamu. Kita berdua kaya. Aku tak berutang apapun padamu."
Ketika pendukung PDIP dan pendukung Jokowi saling klaim lebih berjasa, saya ingat dialog di atas.
Harus kita sadari, simbiosis mutualisme tak menghasilkan utang-piutang ataupun utang jasa. Kedua pihak sudah sama-sama diuntungkan.
Begitu juga PDIP dan Jokowi. Keduanya tak ada yang lebih berjasa karena keduanya telah menikmati hasilnya. Kedua pihak tak bisa klaim bahwa dia lebih berjasa.
Izin saya menambahkan konteks biar diskusinya lebih tajam.
Kasus ini bukan cuma soal "jasa editing dihargai Rp 0." Itu memang bagian paling mencolok dan bikin emosi, tapi masalah strukturalnya lebih dalam. Amsal Christy Sitepu itu videografer yang bikin video profil untuk 20 desa di Kabupaten Karo, masing-masing Rp 30 juta. Videonya jadi, sudah tayang di YouTube, dan 20 kepala desa yang jadi saksi di persidangan bilang tidak ada masalah dengan pekerjaannya. Satu pun tidak ada yang komplain.
Yang bikin masalah adalah, auditor Inspektorat Karo menetapkan harga wajar cuma Rp 24,1 juta per video. Selisih Rp 5,9 juta dikali 20 desa, jadilah "kerugian negara" Rp 202 juta. Dan di dalam perhitungan RAB versi auditor itu, lima komponen pekerjaan kreatif, yaitu penciptaan ide/konsep, cutting, editing, dubbing, dan penggunaan mic/clip-on, semuanya dipatok Rp 0. Nol. Alasannya? Tidak ada kwitansi fisik pembelian dari pihak ketiga. Karena proses editing itu terjadi di kepala dan di depan layar komputer, bukan beli semen yang ada notanya.
Nah, ini yang perlu kita lihat lebih jernih. Logika auditor itu memang cacat, tapi cacatnya bukan karena orangnya bodoh. Cacatnya karena Standar Harga Satuan di hampir semua pemda di Indonesia memang tidak punya acuan untuk menghargai kerja kognitif. Pemda fasih menghitung harga semen per sak, aspal per ton, konsumsi rapat per orang.
Tapi tarif per jam kerja editor video? Biaya amortisasi lisensi software editing? Tidak ada pedomannya. Jadi ketika auditor dihadapkan pada komponen yang tidak bisa dibuktikan dengan nota belanja fisik, mereka ambil jalan paling "aman" secara birokrasi, yaitu menolkannya, daripada dianggap subjektif oleh BPK di atasnya nanti.
Tapi bukan berarti itu bisa dibenarkan Yah.
Menolkan nilai editing sama saja bilang bahwa raw video bisa langsung jadi video koheren tanpa campur tangan manusia.
Menolkan ide kreatif sama saja bilang storyboard, konsep visual, dan narasi itu muncul dari udara kosong. Ini penyangkalan total terhadap kekayaan intelektual.
Dan ada masalah hukum yang mungkin luput dari perhatian publik. Amsal didakwa pakai Pasal 3 UU Tipikor, yang intinya soal "menyalahgunakan kewenangan karena jabatan." Masalahnya, Amsal itu vendor swasta. Dia tidak pegang jabatan di pemerintahan, tidak punya akses untuk mencairkan dana APBDes, tidak punya wewenang administratif apa pun.
Yang punya wewenang otorisasi pencairan dana itu justru kepala desa. Tapi 20 kepala desa itu cuma dijadikan saksi, bukan tersangka. Yang ditahan justru penyedia jasanya. Agak aneh kalau dipikir, ya.
Saya nggak bilang Amsal pasti benar seratus persen. Bisa saja ada selisih harga yang perlu dipertanyakan.
Tapi kalau memang ada kelebihan bayar, mekanisme koreksinya seharusnya lewat jalur administrasi atau perdata, bukan langsung dilompati jadi pidana korupsi. Apalagi dengan nominal yang kalau dipecah per desa cuma selisih kurang dari Rp 6 juta.
Besok, 30 Maret, Komisi III DPR akan gelar RDPU soal kasus ini. Dan vonis dijadwalkan 1 April. Semoga majelis hakim punya keberanian untuk melihat bahwa ada yang salah dengan cara kita menghargai kerja kreatif di negara ini.
Karena kalau preseden ini dibiarkan, siapa yang berani ambil proyek pemerintah lagi?
Ini perspektif saya yah, bisa jadi ada sudut yang belum saya lihat.
REMEMBER: In 2025, Ukrainian President Zelenskyy WARNED Trump he would one day need help in war.
In 2026, Trump is now BEGGING his former allies to save him in Iran.
How fast the tables turn!
Gus Yaqut bukan yang pertama yang jadi tersangka korupsi dari kalangan NU.
Namun saya agak heran kenapa pembelaan terhadap GY ini agak berlebihan. Seakan-akan GY adalah representasi NU melebihi tokoh yang lain.
Seakan-akan percaya tuduhan KPK terhadap GY berarti "melawan" NU. Semacam ada framing bahwa GY adalah wajah NU seutuhnya.
Tak percaya GY berarti tak percaya NU. Menyerang GY berarti menyerang NU.
Padahal percaya atau tidak terhadap KPK itu ya biasa saja. Setiap kasus pasti ada yang percaya KPK dan ada yang sebaliknya. Toh semuanya akan dibuktikan di pengadilan. Hakim-lah yang akan menentukan.
Saya sedih ketika pembelaan terhadap GY sampai memakai akun-akun buzzer anonim. Dan sedih kalau kondisi ini sampai memecah belah umat Islam. Terutama ketika sampai ada framing yang memusuhi NU itu adalah Muhammadiyah.
Anda sudah tahu, saya itu bahagia dengan kombinasi NU dan Muhammadiyah di Kementerian Haji saat ini. Antara Gus Irfan dan Dahnil Anzar.
Tolong, biarlah kasus Gus Yaqut berjalan di pengadilan. Nggak usah kita terlalu ribut, apalagi marah-marah di media sosial. Kita tunggu hasilnya, dan kita terima apapun hasilnya nanti.
In this economy..
Musim hujan jgn lupa nyetok dimsum dikulkas, Krn aku jualan dimsum 30rb/10pcs.
Dikirim dr TGR via Paxel flat ongkir 20rb max 6porsi all Jabodetabek.
Bisa Jumat berkah❤️
Order via DM.
Minta tolong Bantu RT postingan aku. Lagi sepi banget orderannya.
Pengalaman tidak mengenakkan di Candi Banyunibo Sleman Yogyakarta.
Pada hari ini, Sabtu pukul Sabtu, 07/03/2026 mimin berkunjung ke Candi Banyunibo tepatnya di Bokoharjo Prambanan Sleman Yogyakarta, karena secara kebetulan Candi Banyunibo berada di atas jalur Sesar Mataram, atau pecahan dari Sesar Opak. mimin kesana dengan sepeda motor, sampai di lokasi karena tidak ada tidak ada zona parkir mimin masuk ke area tsb, sepeda motor mimin parkir persis di belakang plang Candi Banyunibo, kemudian berjalan ke arah pos security. dengan sopan mimin bertanya kepada security yg ada disitu, berapa harga tiket masuknya, dijawab free. kemudian security bilang sepeda motor harus ditaruh diluar, pada pintu masukpun sebenarnya tidak ada larangan untuk membawa sepeda motor utk masuk, yg ada larangan bhw memakai drone harus ada ijin. akhirnya sepeda motor mimin pindahkan keluar, di tepi jalan. Security tsb tidak menoleh sedikitpun dan asik dengan ponselnya, disodorkan buku tamu kepada mimin dan mimin isi. setelah mengisi buku tamu mimin ijin menuju lokasi candi, si security masih asik dengan ponselnya. sekira 15-20 meter ada pohon yg dibawahnya terdapat bangku, di situ mimin mulai mengeluarkan gimbal dan mensetting untuk koneksi dengan ponsel. kemudian mimin dengar security berkata dari jauh tanpa meninggalkan tempat duduknya, dia mengira gimbal yg mimin pakai adalah sebuah drone, dia bertanya dari jauh itu untuk apa? mimin jawab untuk ambil dokumentasi foto dan video. sambil bernada keras security bilang harusnya dari tadi bilang, bagi mimin security tsb tidak sopan, bertanya dan berteriak dari jauh, bukankah sebaiknya si security menghampiri dan bertanya dengan mendekat. security inipun tidak menggunakan atribut atau seragam selayaknya seorang security pada umumnya, dia hanya menggunakan kaos dan bertopi bukan topi security. pada saat tersebut ada pengunjung lain seorang turis mancanegara datang, security masih pada posisi yg sama ketika mimin datang, dia tetap asik dengan ponselnya. dan lantas menyodorkan buku tamu utk diisi oleh wisatawan mancanegara tsb.
akhir kata mimin mengambil beberapa foto maupun video utk edukasi mengenai sesar mataram yg berada persis di lokasi tsb.
mimin cukup menyesalkan kejadian tersebut, mohon kiranya institusi yg menaungi juga memberikan pemahaman maupun edukasi ke semua karyawannya termasuk security dalam hal kesopanan dan menjamu pengunjung. semoga kejadian yang mimin alami tidak akan terjadi lagi ke siapapun di kemudian hari. apalagi lokasi wisata candi juga merupakan salah satu wajah Indonesia di mata negara lain.
cc: @JogjaUpdate@fadlizon
Presiden Prabowo jika dibiarkan akan makin banyak melakukan kesalahan kesalahan yang mungkin tidak ia sadari hingga menyulitkan Indonesia di masa sekarang dan masa depan.
Nampaknya pak Prabowo dapat masukan yang salah dari orang sekelilingnya. Bahkan terkesan ada yang ndorong atau membiarkan ia membuat keputusan yg salah. Terutama terkait penandatanganan ART, keikutsertaannya dalam BOP, hingga keengganannya mengevaluasi total MBG.
Trump yg menurut banyak pihak (di beberapa negara, termasuk di Amerika sendiri) dianggap sebagai presiden AS yang sakit jiwa. Suka perang dan campur tangan ke negara lain. Tapi malah dituruti, diikuti, dan dipercaya bahkan dijadikan Aliance atau sekutu. Ini membuat presiden Prabowo terjebak kesepakatan dengan Trump, kata pak JK.
Persoalannya orang sakit jiwa seperti Trump mengapa diikuti, dituruti, dan dipercaya oleh Presiden kita !!? Sudah begitu, salah langkah ini masih dibenarkan dan dibela bela oleh pendukung atau buzzer konoha. Kasian dan menyulitkan posisi Pak Prabowo jadinya.
Barat dan medianya memaksa sebagian besar penduduk dunia melihat Ayatollah Ali Khamenei sebagai tiran. Tapi belum sepekan perang kita tahu tiran sebenarnya siapa. Siapa yang membunuh ratusan anak sekolah dan membom rumah sakit
Jadi kalian tau sekarang kan adu domba Sunni Syiah sebenernya proyek Mossad dan CIA, demi kepentingan Israel dan AS. Kalau ga mau belajar dari kasus ISIS, Al Qaeda sampai yg paling mudah, mengapa Jolani Suriah bisa jadi kawan dekat AS padahal dulu masuk daftar teroris, nyerah gw
Belum lama Prabowo ngumumin Indonesia swasembada beras terbesar sepanjang sejarah.
Narasinya heroik.
Petani tersenyum.
Timeline para GEMOYER isinya tepuk tangan bangga.
Lalu beberapa hari kemudian Airlangga Hartarto tanda tangan perjanjian impor beras dari Amerika Serikat. 🤣🤌
Kalau memang produksi melimpah, impor buat apa?
Kalau memang butuh impor, berarti klaim swasembadanya prematur dong?
Gedabrus!