"Kaum Intelektual Berjarak dengan Kehidupan Warga"
Jumlah profesor di Indonesia kisaran 6500 - 8000 orang. Tapi berapa profesor yang berani berbeda dengan kebijakan pemerintah?
Ratusan ribu doktor dan dosen yang ada, berapa orang yang berani berbeda dengan kebijakan rektor dan rezim? Bisa dihitung dengan jari.
Dan berapa rektor di PT Islam, yang berani bersura lantang ke Menag Nasaruddin Umar mengkritisi kebijakaannya? Siapa yang berani bersuara ke Menag terkait rangkap jabatan jadi rektor? Sudah berapa kali jadi rektor? Empat atau lima kali berturut-turut? Memang PT Islam yang statusnya swasta fleksibel terkait jabatan rektor tapi harusnya punya kesadaran diri, memberi ruang untuk orang lain menempati pos rektor.
Sebagian besar para profesor dan dosen, menjauh dari kehidupan real. Menjauh dari anak-anak yatim dan dhuafa. Sebagian besar cuek bebek atas kehidupan warga. Ilmunya hanya di diktat-diktat bangku kuliah.
Tuduhan Julien Benda di buku "La Trahison des Clercs" (Pengkhianatan Kaum Intelektual), menjadi benar.
Benda menuduh intelektual modern di zamannya (awal abad ke-20) telah mengkhianati tugas utama mereka. Mereka meninggalkan prinsip-prinsip universal tersebut dan justru membela kepentingan kelompok tertentu (nasionalisme, kelas, politik praktis).
Kaum intelektual kini —menurut Benda —mengajarkan sebaliknya: bahwa keadilan harus tunduk pada kepentingan kekuasaan duniawi. Kebenaran direduksi menjadi alat untuk membenarkan tindakan politik praktis.
Ingin Hidup Penuh Keberkahan? Mulai dari Hal-hal Kecil
1. Jangan kencing berdiri kecuali darurat
2. Jangan nelepon orang lain sambil mengunyah makanan
3. Jangan banyak bicara ketika sedang makan
4. Jangah sebar hoaks dan fitnah
5. Jangan ikut campur urusan orang lain
6. Jangan ikut campur ajaran agama lain
7. Jaga wudhu
8. Sholat di awal waktu. Kalau bisa berjamaah
9. Membaca Alquran setiap hari, minimal 1 jam atau 5 jam
10. Bersedekah setiap hari
11. Menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain
Poin-poin di atas, hanya titik awal hidup ditaburi keberkahan. Met Dzuhur, jamaahlah.
@ainunnajib Yang problematik itu, yang nampak cerdas dan ahli ketika bangun pondok gak dibantu dan diawasi agar kontruksi kuat gak rubuh serta kuota haji reguler gak dijual biar antrian gak makin lama.
"Cak Nur: Nabi Isa Wafat Usia 70 Tahun"
Persoalan ini pernah ramai pada tahun 1993. Cak Nur ketika jadi pemateri seminar di Fisip UI, Depok, menjawab soal Nabi Isa.
Cak Nur merujuk pada bukti-bukti baru bahwa Nabi Isa wafat pada usia 70 tahun, beranak pinak.
Pernyataan Cak Nur ini dibantah Romo Magnis. Terjadilah dialog antara keduanya melalui surat menyurat. Romo Magnis menulis tiga surat, Cak Nur menjawab dengan dua surat. Romo Magnis menganggap Cak Nur tidak menghormati keyakinan agama lain. Terkait kritik ini, Cak Nur membalas bahwa jawaban dia terkait kajian akademik berdasarkan temuan-temuan baru dan tidak masuk ke ranah teologis.
Tapi jeleknya Romo Magnis, surat-surat dia, ditembuskan ke berbagai elemen. Padahal surat menyurat itu, sifatnya pribadi.
@Sentjoko Urus ajaran Nabi mu saja. Kalau masih urus Nabi atau ajaran agama lain, kamu masih golongan binatang. Apakah itu ajaran ibumu?
Atau tampakan wajah aslimu, ketemu di darat. Mau dialog atau apa pun, terserah.
"Jangan Lupa Baca Doa Ini di Akhir Sholat atau di Luar Sholat"
اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Dasar doa itu hadis sahih ya:
Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah memegang tangannya dan bersabda, “Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku sangat menyayangimu, demi Allah, sungguh aku sangat menyayangimu.” Kemudian beliau melanjutkan.....
أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ : اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Aku pesankan kepadamu wahai Muadz, jangan pernah engkau tinggalkan di belakang setiap sholat membaca, allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika"
(Hadis riwayat Imam Abu Dawud dan Imam Ahmad)
Sholat Pencitraan Jokowi:
"Yang Penting Sholat Ketimbang Gak Sholat"
GAK!!!
Pernyataan itu merujuk ramainya orang komen ke video rekayasa sholatnya @jokowi, yang muncul akhir-akhir ini.
Video itu memperlihatkan adegan proses memvideokan Jokowi sholat, dengan banyak kesalahan gerakan sholat. Video rekayasa sholat.
Lantas, ada pembelaan atas kesalahan gerakan sholat Jokowi: "masih mending Jokowi sholat ketimbang orang yang tak sholat".
Sebuah pledoi yang keliru. Karena seseorang yang hendak sholat, harus mempelajari ilmu tentang sholat. Belajar ilmu tentang sholat itu nomor 1. Mengerjakan sholat nomor 2. Ini maknanya sholat itu harus paham syarat dan rukun sholat. Kenapa? Karena sholat....
أَقْوَالٌ وَ أَفْعَالٌ مَخْصُوْصَةٌ، مُفْتَتَحَةٌ بِالتَّكْبِيْرِ مُخْتَتَمَةٌ بِالتَّسْلِيْمِ
"Perkataan dan gerakan dalam sholat sudah ada ketentuannya. Dibuka dengan takbiratul ihram, ditutup dengan salam".
Apa maknanya? Sebelum mengerjakan dan mendirikan sholat, harus dipahami tata cara sholat.
Saya cuplikan bagian akhir dari hadis Nabi tentang sholat. Nabi Muhammad bersabda:
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ القُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا».
".... Apabila kamu berdiri untuk sholat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari Alquran. Kemudian rukuklah sampai kamu tuma'ninah (tenang) dalam rukuk, kemudian bangkitlah (dari rukuk) sampai kamu tegak berdiri, kemudian sujudlah sampai kamu tuma'ninah dalam sujud, kemudian bangkitlah (dari sujud) sampai kamu tuma'ninah dalam duduk, kemudian sujudlah (lagi) sampai kamu tuma'ninah dalam sujud. Lakukanlah hal itu dalam seluruh sholatmu".
Poin-poin pada hadis di atas, tidak tampak pada gerakan sholat Raja Klenik Indonesia, yang bernama MULYONO.
Jadi tidak ada kata "mending" terkait mendirikan sholat. Dan sholat fardhu itu ketentuannya....
(إِنَّمَا تَجِبُ الْمَكْتُوْبَةُ) أَيِ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ (عَلَى) كُلِّ (مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ) أَيْ بَالِغٍ عَاقِلٍ، ذَكَرٍ أَوْ غَيْرِهِ
(Kewajiban melaksanakan sholat maktubah), sholat lima waktu (hanya dibebankan kepada) setiap (orang muslim yang mukallaf), seorang muslim yang telah baligh, berakal, baik laki-laki maupun yang lainnya.
Sholat itu bagi mukallaf, bagi orang yang berakal, yang punya otak. Jokowi tak punya otak!
@indepenSumatera Pejabat makin banyak bloon! Gimana korban mau marah dimedsos boleh dibilang harta bendanya hanyut atau rusak krn banjir, bisa jadi gak puny hp dan dilokasi bencana apa internet gak bermasalah
"Ciri-ciri Hamba yang Ibadurrahman"
Ya Allah, bisakah hamba yang berlumur dosa ini, masuk sebagai bagian hamba yang ibadurrahman?
Saran sih bagi kawan-kawan yang usianya sudah memasuki 50 tahun, hentikan sikap binatang. Sudah harusnya berbenah ke dalam. Gak perlu jadi zioinis tambang, gak perlu jadi buzzerp, gak perlu mengembik ke penguasa zalim, gak perlu memaksakan kehendak diri.
Dunia hanya sementara. Akhirat selamanya.
- Catatan
Al-Furqon ayat 62 - 77, qori Syeikh Misyhary Rashid Alfalasy. Di ayat-ayat ini, dipaparkan sifat dan karakter hamba yang memiliki label ibadurrahman.
"Mitos Orang Alim...."
Ormas keagamaannya, sedang dirundung prahara. Pro kontra bertaburan.
Orang ramai merayakan kata-kata tentang para gus-gusan itu. Para penyokong memproklamirkan para gus-gusan itu orang yang masuk kategori "rojulun yadri wa yadri annahu yadri".
Semboyan yang digelontorkan Imam Al-Ghazali itu berbasis pada "seseorang yang tahu (berilmu) dan dia tahu kalau dirinya tahu (berilmu)", sering kali membuat mereka jumawa. Sikap jumawa itu tampak ketika mereka gemar merendahkan orang yang berbeda pandang dan menghakimi dengan kata-kata bodoh.
Sikap pongah inilah, yang sebenarnya jauh dari kategori mualim, orang berilmu. Mualim itu tentu akan menuntun pada sikap arif. Mualim itu akan menjelma jadi muarif. Ini yang langka pada diri gus-gusan itu. Gak ada sikap tawadhu. Ngaji berbusa-busa kitab kuning, ngaji Ihya Ulumuddin, seperti tak berbekas.
Tapi di mata para penyokong dan penyepongnya, para gus-gusan itu, selalu dipandang tokoh hebat. Sikap distortif mereka ke orang yang berbeda paham, selalu dimaklumi. Yang keliru objek yang didistorsi para gus itu. "Mereka orang alim! Kita wajib takzim. Mereka tak pernah salah. Mereka hanya khilaf," teriak para pemujanya secara serentak di pelataran gedung di daerah Kramat Raya, sebuah bangunan yang tak bertuan, bangunan yang tak punya ruh.
Silakan baca ulang nasihat Imam Al-Ghazali. Sebuah nasihat agar kita membesuk ke lubuk hati paling dalam, hati pada level fuad.
فاتخذ علمه ذريعة إلى التكاثر بالمال، والتفاخر بالجاه، والتعزز بكثرة الأتباع، يدخل بعلمه كل مدخل رجاء أن يقضى من الدنيا وطره، وهو مع ذلك يضمر في نفسه أنه عند الله بمكانة، لاتسامه بسمة العلماء، وترسمه برسومهم في الزى والمنطق، مع تكالبه على الدنيا ظاهرا وباطنا.
Sering bertaburan kalimat:
"Saya bersaksi dia orang baik".
Oke. Kalau memang pernah bertemu dan menyaksikan laku lampah sehari-hari, terus ambil kesimpulan dia orang baik atau jahat, masih bisa diterima.
Tapi kalau kenal hanya lewat medsos dan belum pernah bertemu, terus menyimpulkan dia orang baik hanya lewat tulisan-tulisannya, ini sih ada cacat dalam bangunan berpikirnya.
Bisa saja Si A terlihat baik di medsos tapi sebenarnya jahat. Atau bisa saja Si B terlihat jahat di medsos tapi sebenarnya baik.
Baik dan buruk di mata pengusung Mu'tazilah, itu bersifat mutlak, absolut. Sikap baik buruk bisa dikendalikan oleh akal, tak semata-mata oleh wahyu. Akal manusia dalam terminologi Mu'tazilah, bisa menentukan ini baik, itu buruk. Tak harus bersandar pada wahyu.
Pandangan kaum Mu'tazilah ini berlawanan dengan pandangan Sunni, Asy'ariyah dan Maturidiyah. Dalam pandangan kelompok ini, baik dan buruk itu semuanya ditentukan oleh wahyu. Tak ada peran manusia.
Terkait khair, baik dan syar, buruk, saya sepakat pendapat Imam Jalaluddin Al-Mahalli dalam kitab Jam'ul Jawami': jika masih berurusan dengan hati dan tabiat manusia, akal bisa jadi parameter. Tapi jika berurusan dengan pahala dan dosa, tolok ukurnya wahyu.
"Tak Otomatis Suami Harus Ditaati"
Tidak otomatis suami harus ditaati. Suami yang nusyuz, perlu ditinggalkan.
Opsi alquran ketika ada suami yang nusyuz, diadakan perdamaian. Tapi jika tak bisa berdamai, silakan berpisah. Nah ketika berpisah, jangan takut takut soal rezeki.
An-Nisa ayat 128
وَاِنِ امۡرَاَةٌ خَافَتۡ مِنۡۢ بَعۡلِهَا نُشُوۡزًا اَوۡ اِعۡرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَاۤ اَنۡ يُّصۡلِحَا بَيۡنَهُمَا صُلۡحًا ؕ وَالصُّلۡحُ خَيۡرٌ ؕ وَاُحۡضِرَتِ الۡاَنۡفُسُ الشُّحَّ ؕ وَاِنۡ تُحۡسِنُوۡا وَتَتَّقُوۡا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِيۡرًا
"Jika seorang perempuan khawatir suaminya akan nusyuz atau bersikap tidak acuh, keduanya dapat mengadakan perdamaian yang sebenarnya. Perdamaian itu lebih baik (bagi mereka), walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Jika kamu berbuat kebaikan dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tidak acuh) sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
An-Nisa ayat 130
وَاِنْ يَّتَفَرَّقَا يُغْنِ اللّٰهُ كُلًّا مِّنْ سَعَتِهٖۗ وَكَانَ اللّٰهُ وَاسِعًا حَكِيْمًا
"Jika keduanya bercerai, Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari keluasan (karunia)-Nya. Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Mahabijaksana."
Jika di An-Nisa ayat 34, sikap nusyuz dari pihak istri maka An-Nisa ayat 128, sikap nusyuz dari pihak suami. Sikap nusyuz (arti normatifnya meninggi, terangkat. Merasa lebih tinggi, merasa lebih hebat pendidikannya, kekayaannya, keturunannya dll).
Kelanjutan dari dua ayat (34 dan 128), opsi pertama damai. Tapi jika tak bisa berdamai, silakan ambil jalan perpisahan.
- Catatan
Nusyuz, kedurhakaan atau pembangkangan yang dilakukan salah satu pasangan.
"Banyak Orang Tak Siap Memasuki Usia Pensiun"
Banyak yang tak kuat dan tak siap memasuki usia pensiun. Banyak yang jatuh sakit, stroke dan pikun.
"Apa penyebabnya?"
Banyak. Gak bisa digeneralisir. Prinsip dasar, selalu berpikir positif dan perbanyak aktivitas.
"Adakah kiatnya?"
Ya pengalaman personal, tak otomatis bisa diberlakukan ke orang lain.
Kalau saya pribadi, saya belajar menahan amarah. Menahan amarah itu efeknya luar biasa ke laku lampah sehari-hari. Gak grasa-grusu, gak kesusu (terburu-buru atau tergesa-gesa) atau mikirnya gak ke susu oriented (sexual oriented).
Menahan amarah itu amat berat. Ya berat bagi saya karena awalnya sangat temperamental. Pola belajar menahan amarah itu dengan menjaga wudhu dan menertibkan sholat, khususnya sholat jamaah.
"Loh kok wudhu dan sholat jamaah?"
Ya orang menjaga wudhu itu, untuk bicara kasar dan jorok, itu tertahan karena dalam kondisi bersuci. Untuk berbuat mungkar, terjaga karena kondisinya sedang bersuci.
"Terus sholat?"
Perintah sholat, sering didahului kata sabar. Sabar di luar sholat dan sabar di dalam sholat.
"Ah itu teori thok!"
Coba saja kerjakan. Teori itu lahir dari pengamatan dan pengalaman. Sikap empirik seseorang bisa jadi agregat kehidupan.
Dalam diktat perkuliahan, dijabarkan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman indera manusia bukan dari bawaan lahir. Pikiran manusia ibarat "kertas kosong" (tabula rasa). Kertas kosong itu, kita yang mengisi dengan tulisan, dengan pengalaman. Mau warna hitam, biru atau abu-abu, bergantung dari diri kita.