Our president, leader of the Republic of Indonesia, watches the poor eat their meal.
He does the watching from a lavish setting, his own plate stacked with expensive food.
Poverty as an evening's entertainment.
Saat Raja Mesir Ar-Rayyan bin Al-Walid bermimpi tentang masa paceklik, Nabi Yusuf tidak hanya berkata, “Tenang, Allah sudah menjamin rezeki kita.” Beliau justru menyusun strategi, mengelola cadangan pangan, meningkatkan produksi serta melakukan mitigasi risiko selama 7 tahun. Tawakal bukan berarti menafikan ikhtiar. Jaminan Allah itu pasti, namun mengajarkan perencanaan, kehati2an dan pengelolaan yang baik adalah sunnatullah yg harus kita lakukan.
Hari pertama gw masuk kelas kuliah, gw kepagian.
Masih ada sekitar 30 menit sebelum kelas mulai, ruangan masih kosong. Gw duduk aja di bangku paling depan, persis di depan meja dosen. Laptop gw colok sambil buka-buka materi. Maklum, colokan di kelas itu cuma ada dekat meja dosen.
Sambil baca-baca materi, kelas perlahan mulai terisi. Seperti kampus pada umumnya, mahasiswa cowok memilih duduk makin ke belakang, sementara mahasiswi justru banyak yg di depan.
Akibatnya, tanpa gw sadari, sekeliling tempat duduk gw pelan-pelan dikelilingi mahasiswi.
Tiba-tiba mahasiswi samping gw nyapa.
👱🏻♀️: Hai, namanya siapa?
😐: Oh iya, hai juga. Saya Age.
👱🏻♀️: Aku nggak pernah lihat kamu pas ospek. Dulu di mana?
😐: Iya, saya emang nggak ikut ospek sih, soalnya…
Belum sempat gw selesai ngomong, cewek di belakang dia ikut nyamber.
👩🏻: Loh kamu nggak ikut ospek?
😶: Eh iya, nggak ikut.
👩🏻: Emang boleh ya?
👱🏻♀️: Harusnya boleh. Kata papa ku juga nggak penting kok.
👩🏻: Kalau aku kakak ku yg suruh ikut.
Gw biarin aja mereka ngobrol sendiri ngobrolin ospek. Gw lihat jam, masih ada sekitar 10 menit sebelum kelas mulai. Jadi gw lanjut baca-baca lagi.
Nggak lama mereka mulai memperhatikan layar laptop gw.
👩🏻: Wahhh anak rajin nih. Jarang loh aku lihat anak cowok, ganteng, rajin pula.
😳: Hah? Ah nggak kok, cuma persiapan aja.
👱🏻♀️: Wah, kamu dapat materi presentasi dari mana? Bagi dong.
☺️: Iya boleh, nanti saya kasih.
Gw lanjut baca materi. Mereka lanjut nanya-nanya sama gw.
👱🏻♀️: Boleh minta WA kamu nggak?
😶: Nih.
*Gw kasih kartu nama kantor.
👱🏻♀️: Oh kamu kerja sambil kuliah…?
😐: Nggak juga sih, bukan gitu tepatnya, sebenarnya…
Belom selesai kalimat gw, cewek belakang nyamber lagi,
👩🏻: Kamu kerja?? Kamu ngekos apa tinggal di rumah??
😶: Di rumah.
👱🏻♀️: Daerah mana?
😶: Di (nama mall dekat kampus).
👩🏻: Loh apartemen? Tinggal sendirian?
😶: Ho’oh.
👩🏻: Wiiii… sekali-kali boleh nggak kita main ke apartemen kamu?
Dia nanya sambil tangannya nyamber lengan gw.
😶: Jangan. *sambil ngelepasin tangannya
Mereka ketawa.
Gw lihat jam.
Sudah waktunya kelas dimulai.
Gw angkat laptop, berdiri, ambil tas, lalu pindah ke meja dosen.
Mereka berdua ngelihatin.
👱🏻♀️: Loh, siniii jangan pindah. Kami nggak ganggu lagi deh. 🤣
👩🏻: Iyaaa… dosennya datang bentar lagi. 🤣 dosennya killer loh, nanti kamu dimarahin.
Gw cuekin, colokin laptop ke proyektor, ambil mic, lalu ngomong:
“Selamat pagi teman-teman. Saya Age, dosen kalian untuk mata kuliah ini di semester ini. Silahkan duduk.”
Dua cewek itu langsung diam.
Gw lihat yg depan perlahan menurunkan kartu nama gw dari tangannya.
Yang belakang langsung duduk tegak.
Dan selama mata kuliah gw berlangsung hari itu, mereka nggak pernah lagi nanya-nanya.
Anyway, akhirnya gw tetap temenan sama mereka sampai mereka lulus sih.