Repost utk anak2 muda yg tanya apa maksud saya dgn "wisdom without fear". Intinya: menyuarakan kebenaran lebih nikmat dari mengejar kekuasaan. You should try it too. Boleh disebar.
Saya dapat info bhw ada 17 calon Dubes asing yg sudah tiba di Jakarta tapi sampai sekarang masih MENUNGGU waktu utk memberikan surat kepercayaan kpd Presiden. Dari mereka ada yg sudah menunggu 8 bulan. Ada juga Dubes dari negara ASEAN yg menunggu 6 bulan. Karenanya, mereka belum bisa bekerja secara resmi.
Ini memberikan kesan buruk bagi negara2 sahabat yg mengirim Duta Besarnya ke 🇮🇩, apalagi Dubes 🇮🇩 di luar negeri selalu dgn cepat menyerahkan surat kepercayaan kpd host country. Tanpa menyalahkan siapapun, Mohon masalah ini dapat segera dituntaskan Istana krn menyangkut reputasi diplomatik kita.
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
Soal copyright:
Di dunia akademis, ada perusahaan mafia raksasa bernama Elsevier.
Grup pemilik Elsevier merampok £3.3 miliar per tahun.
Mafia Jurnal Elsevier menguasai distribusi jurnal akademis di planet.
Padahal, mereka tidak berkontribusi terhadap pengecekan kualitas jurnal.
Dosen dan peneliti yang mengecek keabsahan jurnal yang dipublikasi tidak menerima royalti apapun dari Elsevier.
Untuk mempublikasikan paper ke jurnal milik Elsevier, harus bayar.
Untuk mendownload paper dari jurnal milik Elsevier, juga harus bayar.
Elsevier sendiri hanya gabut saja. Mereka tidak melakukan apapun kecuali merampok dan memalak.
Akibat biaya random dan mencekik yang dipalak oleh Elsevier, hingga ratusan dollar per access paper, universitas-universitas di negara miskin menjerit.
Perkembangan riset di negara-negara miskin itu pun terhambat bahkan mati.
Bukan hanya negara-negara miskin, universitas di negara-negara kaya juga menjerit dan sempat mengadakan boikot.
Budaya publikasi preprint ke Arxiv salah satunya berasal dari sini. Jika paper dipublikasi gratis sebelum dipublish, kita tinggal download preprintnya saja.
Sekelompok peneliti di Kazakhstan pun membuat alternatif bernama Sci-Hub yang dengan berani membajak sebanyak-banyaknya paper dari Elsevier dan menguploadnya secara gratis
@odydc Heyy @DindaRizkiO kelas X dari nama Republik Pasca Tsunami (lupa apa depannya cm inget kelas sepuluh enam yummy), kelas XI ujug2 namanya Congat (Coalisi anak sebelas IPA empat), lalu kelas XII kita beda kelas ya.. Aku lupa nama kelas XII IPA 1 aku itu apa..
Ada anak kecil di kampung saya, Ngada, Flores, meninggal bunuh diri. Anaknya dikenal cerdas dan ramah di sekolah. Dia meninggal karena putus asa. Sebelum pergi, dia cuma minta satu ke mamanya.
'Mama, saya minta buku dan pena'
Mamanya ga bs kasi dua hal itu lantaran kondisi ekonomi memburuk.
Mungkin buat penguasa dan media massa, anak ini cuma satu angka di dalam statistik. Bahkan bs jadi mudah dilupakan.
Tapi buat saya, anak ini jadi bukti nyata bahwa kita semua gagal bukan karena pengaruh asing. Kebanyakan kita semua gagal karena kita ga mau berbenah. Kita tetap memilih pemimpin yg itu2 aja. Kita tetap mempertahankan institusi yg diisi oleh orang2 itu aja.
Kita sibuk mencari kesalahan org lain, tp kita ga pernah mau sama-sama berjuang sebagai anak bangsa.
Pak Presiden, bapak selalu bilang kalo Bapak adalah presiden semua orang. Saya gak minta Bapak jadi NABI.
Saya minta bapak tidak membiarkan sistem yg uda bobrok ini semakin bobrok.
Belum pernah sesakit hati ini nulis postingan di media sosial.
aku ngiranya tuh cuma boongan, masuk pemerintahan bakal bikin demotivasi
ternyata beneran bikin demotivasi, apalagi liat lingkungannya yang ah sudahlah & anggaran yg ah kepotong
"Making sure academics are paid well."
Tidak sesederhana itu ternyata. Problemnya lebih dalam, jauh.
Masalah besarnya adalah: "Tidak ada insentif untuk bangsa ini untuk menjamin akademisi (atau pekerja jasa esensial lain, seperti dokter) punya upah layak."
Kenapa gitu? Karena ada 3 faktor yang membuat suatu kebijakan:
1) Kekuasaan. Di sini pemerintah sebagai pengambil kebijakan.
2) Elit. Orang-orang yang menguasai sumber daya alam, uang, kapital, anggaran, industri, dan lain-lain.
3) Insentif. Hubungan antara elit dan kekuasaan, "Saya dapat apa?"
Liat, tidak ada rakyat jelata di sana. Tapi gak apa.
***
Sekarang saya mau fokus ke nomor 2. Elit. Dari mana orang-orang berpengaruh ini dapat kekayaan mereka?
Di Indonesia:
- Tambang: nikel, timah, tembaga.
- Perkebunan: sawit, kopi, karet.
- segala ekstraksi sumber daya alam lainnya.
Cara mereka menambah kekayaan gimana, gampang:
1) Elit dukung calon bupati/gubernur/presiden pas pemilu,
2) Dapet konsesi lahan, bisa untuk tambang, atau perkebunan. Ratusan ribu hektar.
3) Gundulin lahan atau jualin apa yang ada di lahan itu, jadiin modal, buat
4) Bikin tambang atau kebun sawit yang profitable di sana, ekspor hasilnya ke luar.
5) Jaminkan tambang atau kebun sawit ini ke bank, dapet modal buat perluas lahan mereka, sekaligus:
6) Dukung calon bupati/gubernur/presiden pas pemilu.
Lingkaran setan ini menambah kekuasaan elit, cukup dengan mengeruk alam.
Akhirnya apa?
Yang mereka butuhkan adalah orang-orang yang menjalankan pertambangan dan perkebunan sawit mereka.
Apa yang diprioritaskan?
1) UMR pekerja murah. Cek aja daerah perkebunan sawit, ngeri.
2) Tidak perlu lulusan pendidikan tinggi. Buat apa? Kan perlunya cuma pekerja perkebunan?
3) Jadi gak bangun sekolah atau universitas, cukup bare minimum menghasilkan pekerja pertambangan dan perkebunan.
Mereka juga perlu melindungi tambang dan sawit mereka.
Ada alasan kenapa anggaran parcok dan parjo paling tinggi di negara ini.
Apakah mereka perlu dosen, guru, dokter, perawat, peneliti, lulusan S3 dengan jumlah signifikan?
Enggak.
Gak ada insentif untuk itu.
***
Di negara lain gimana?
Balik lagi ke hubungan elit dan kekuasaan.
Ambil contoh aja gini, Korea Selatan, mereka abis dijajah jepang 5 dekade, terus perang Korea.
Tahun 1950 mereka hancur lebur negaranya.
Tapi mereka gak punya apa-apa. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah bikin industri.
Mereka sama-sama bikin lingkaran setan, tapi gak pake sumber daya alam.
1) Elit (Chaebol) dukung calon bupati/gubernur/presiden pas pemilu,
2) Dapet balas budi berupa: aturan dan anggaran yang men-support mereka,
3) Bikin industri dari keuntungan aturan dan anggaran. Samsung bikin hape, LG bikin AC, Hyundai bikin mobil, dan seterusnya.
4) Industri profitable bisa mereka jaminkan ke bank untuk bikin modal industri selanjutnya. Profitnya dipakai untuk:
5) Elit (Chaebol) dukung calon bupati/gubernur/presiden pas pemilu.
Nah, fokus di nomor 3: Industri.
Bikin hape, AC, mobil, dan segala macam itu perlu:
- Engineer, dari material science sampai electrical.
- Scientist, mau fisika, kimia, matematika.
- Dokter, buat memastikan semua orang sehat.
- Segala macam sumber daya manusia yang lain.
Mereka perlu sumber daya manusia. Tidak bisa tidak. Wong gak punya apa-apa.
Ada insentif besar untuk bangun kampus, biayain penelitian, subsidi asuransi kesehatan.
Maka ada insentif untuk:
1) Akademisi dibayar layak. Profesor adalah salah satu pekerjaan paling well-paid.
2) Membiayai penelitian jangka panjang, satu grant biasanya 4-5 tahun, dan menghasilkan sekitar 10 orang lulusan mahasiswa master dan Ph.D.
3) Membayar UMR sangat tinggi (10,000 won per jam), iya, tukang sapu juga dibayar segitu.
Ada insentif untuk investasi di sumber daya manusia.
***
Apakah sempurna?
Ya enggak. Karena basically, yang satunya eksploitasi alam, yang satunya eksploitasi manusia.
Aku baca quran, dan aku baru sadar di Qur'an itu se* edu, mens, nifas dibahas, njir. Terus gak ada canggung bahasnya. Kayak ya udah, fitrah manusia gitu. Tapi, kenapa tiba tiba jadi tabu, ya? Apalagi di muslim commun? Padahal kitab kita yang dibaca dari usia (cont)
Bencana bagiku mirip HAM. Berlaku sama bagi siapa pun, miskin/kaya. Dalam bencana virus, vaksin sebaiknya gratis buat seluruh warga. Bila yg gratis cuma yg untuk 50 % warga, berarti bencananya ya cuma 50 %. Tapi, seingatku, kita masih pakai istilah “bencana” bukan “50 % bencana”
Pemerintah Indonesia paling benar, Percaya tidak? T I D A K
Kalau PEMERINTAH BILANG "A" HARUS A, GAK BOLEH BANTAH.
LOH, ini INDONESIA Negara Demokrasi apa Otoriter JADINYA???
#MataNajwa@NajwaShihab@MataNajwa@narasitv
Paling enak model wakil ketua kaya gini...kerjanya ga ada, tiap bulan lancar gajian dr duit rakyat...kl ada ada apa2 pasti lepas tangan..."lha kemarin pimpinan baleg bilangnya ga ada, kl ada berarti salah pimpinan baleg dong bohong pd saya" #MataNajwa
“Kenapa kemudian ada isu hoaks? Itu penyebabnya adalah ketertutupan dan ketiadaan sosialisasi yang baik soal naskah yang beredar. Dan itu tidak terverifikasi,” kata Ahli Hukum Tata Negara UGM Zainal Arifin #MataNajwaCiptaKerjaManaFaktaManaDusta#MataNajwa