VIRAL KORBAN KEMALINGAN MALAH DIINTIMIDASI & DIKEROYOK OKNUM DI BEKASI!
Nasib malang menimpa seorang wanita bernama Viola Putri di Kelurahan Medan Satria, Kota Bekasi. Menjadi korban pencurian motor, justru berujung diintimidasi dan dikeroyok.
Kronologi: motor korban digondol maling di wilayah RT 003 / RW 007, Kel. Medan Satria, Bekasi lalu maling dilepas. Terduga pelaku pencurian sebenarnya sempat tertangkap, namun diduga sengaja dilepaskan oleh oknum pengurus RT setempat.
Korban Dikeroyok: Pihak terduga pelaku kembali datang ke lokasi bersama kelompoknya dan melakukan pengeroyokan serta intimidasi terhadap Viola Putri dan rekannya. Pelaku bahkan berhasil membawa kabur sepeda motor milik korban kembali.
KEMBALIKAN LETKOL TEDDY KE BARAK !!!
Sebagai pejabat publik beliau telah menyebar kebohongan publik dengan mengatakan,
โMBG tidak memotong anggaran pendidikanโ.
Padahal putusan MK dengan tegas mengatakan,
โMBG telah memotong anggaran pendidikan.โ
Raja Amanuban Bantah Pemberitaan Jokowi Sebagai Raja Timor Maupun Sesepuh Kerajaan, Kami Diundang hanya untuk kalungkan selendang sebagai Ucapan Selamat Datang Pada Jokowi.
Keturunan Raja Amanuban, Pina Ope Nope menegaskan bahwa informasi tentang penobatan Joko Widodo sebagai Raja Timor adalah berita bohong. Kehadiran raja-raja pada Karnaval Gajah yang diselenggarakan di Kelurahan LLBK, Kota Kupang, semata-mata untuk menghormati kedatangan Presiden Ke-7 Rl.
"Kami sama sekali tidak pernah dan tidak ada diskusi tentang penobatan raja. Raja-raja yang diundang untuk hadir hanya untuk mengalungkan selendang sebagai ucapan selamat datang kepada tamu kehormatan, Pak Jokowi," kata Raja Amanuban, Pina Ope Nope kepada RRI Kupang, Minggu, 02 Agustus 2026
Menurut Raja Amanuban, Pina Ope Nope, ada indikasi upaya memfitnah para raja yang hadir dalam kegiatan tersebut. Pemberian gelar sebagai sesepuh atau raja dikatakan memiliki aturan dan mekanisme sehingga tidak dapat dilakukan tanpa tata cara adat
"Para raja sudah menegaskan ke pihak penyelenggara untuk tidak mengartikan yang aneh-aneh dan kalau ada bahasa yang keluar itu hanya isu liar dari orang yang tidak berkompeten. Pernah ada usulan untuk kasih gelar adat, tapi kami menolak karena kalau mau beri gelar adat harus ada kaitan dengan budaya kita," ucap Raja Amanuban, STOP FITNAH! Tegas Pina Nope ..
*Nah kan dibantah lagi kek kejadian di Lampung ๐๐คฃ
Tidak satupun mereka menerima hukuman setimpal atas extra ordinary crime (korupsi) yang mereka lakukan di negara yang tempat ibadah berserak dimanaยฒ, para pemuka agama dengan mulut berbuih menyampaikan dogma/janji dan ancaman!!!! selamat datang di negeri para munafik!!!
Om gue naikin gaji karyawannya Rp2 juta, terus mecat orang itu 3 bulan kemudian. Karyawan lain di tokonya bilang om gue jahat, katanya cuma modus biar orangnya nurut. Gue juga sempet mikir gitu. Terus dia nunjukin catatan penjualan 3 bulan itu ke gue. Dan yang bikin gue kaget bukan angka penjualannya. Tapi apa yang om gue lakuin setelah mecat dia.
Jadi karyawannya namanya Adit, umur 24, udah kerja 1,5 tahun di toko bangunan om gue. Gaji Rp3,5 juta, kerjanya jaga toko sama layanin pembeli. Setahun terakhir om gue ngerasa Adit males. Sering telat, layanin pembeli seadanya, ditanya stok sering gak tau. Om gue mikirnya klasik: mungkin gajinya kurang, makanya gak semangat.
Bulan Maret om gue manggil Adit, naikin gajinya jadi Rp5,5 juta. Naik Rp2 juta sekaligus, tanpa diminta. Cuma dia bilang satu hal, "Om kasih ini karena om percaya kamu bisa lebih." Adit seneng banget, sempet nangis katanya. Om gue pulang hari itu ngerasa udah nyelesain masalah.
Bulan pertama, berubah total. Adit dateng paling pagi, toko rapi, pembeli dilayanin ramah. Penjualan naik dari Rp180 juta jadi Rp205 juta. Om gue seneng, ngerasa tebakannya bener. "Ternyata emang cuma soal gaji," katanya waktu itu.
Bulan kedua, pelan-pelan balik lagi. Dateng jam 9 lewat, pembeli mulai dicuekin, stok gak diapal lagi. Penjualan Rp183 juta. Bulan ketiga lebih parah dari sebelum gajinya naik. Rp171 juta, dan ada 3 pembeli langganan yang komplain. Gaji tetep Rp5,5 juta.
Om gue bilang, di situ dia baru ngerti kesalahannya. "Om kira Adit males. Ternyata Adit gak cocok." Uang bikin orang semangat sebulan dua bulan, terus balik ke aslinya. Kalau orangnya emang gak cocok sama kerjaannya, naikin gaji cuma nunda masalah pake biaya lebih mahal. "Yang om beli 3 bulan kemarin itu bukan perbaikan. Cuma waktu."
Nah ini bagian yang bikin gue diem. Sebelum mecat, om gue ngobrol 2 jam sama Adit. Nanya satu hal yang gak pernah dia tanya selama 1,5 tahun: kamu sebenernya suka bagian mana dari kerjaan ini? Adit jawab, dia gak suka ngadepin pembeli sama sekali. Yang dia suka justru bagian nyusun stok, ngitung barang masuk, rapiin gudang. Kerjaan yang selama ini cuma dikasih sisa waktunya.
Om gue akhirnya jujur. "Kamu gak cocok jaga toko, dan om gak punya posisi gudang penuh waktu di sini." Dia kasih pesangon 2 bulan, terus nelfon 3 temen sesama pemilik usaha yang punya gudang. Dua minggu kemudian Adit keterima di distributor bahan bangunan, bagian admin gudang. Gajinya Rp4,8 juta, lebih kecil dari Rp5,5 juta yang terakhir dia terima. Tapi sekarang udah 8 bulan, dan bosnya baru naikin dia jadi kepala regu.
Gue nanya, kenapa om gue repot-repot nyariin kerjaan buat orang yang dia pecat. Jawabannya nempel banget. "Om yang salah naro dia selama 1,5 tahun, bukan dia yang salah jadi orang." "Kalau om lepas dia gitu aja, dia bakal ngira dirinya karyawan gagal." "Padahal dia cuma lagi di meja yang salah."
Yang gue bawa pulang dari cerita ini dua hal. Buat yang punya usaha, sebelum naikin gaji orang yang performanya turun, tanya dulu dia suka bagian mana dari kerjaannya. Gratis, dan sering lebih nyelesain masalah daripada nambah Rp2 juta. Buat yang lagi kerja dan ngerasa males terus, coba jujur ke diri sendiri: ini beneran males, atau lagi di posisi yang gak cocok? Dua hal itu keliatan mirip dari luar, tapi obatnya beda jauh. Share ke temen lo yang lagi ngerasa gak betah di kerjaannya.
cc : bun.hebat_
MENGAPA PALANG PINTU DI PAPUA TIDAK ADA YANG BERANI MEMBUKA?
Bagi banyak orang, pemalangan jalan di Papua sering dianggap sebagai tindakan yang menghambat aktivitas masyarakat. Namun, bagi masyarakat adat Papua, palang pintu bukan sekadar penghalang jalan, melainkan simbol hukum adat dan bentuk protes terakhir ketika hak-hak mereka dianggap diabaikan.
Pemalangan umumnya dipicu oleh sengketa tanah ulayat, tuntutan ganti rugi yang belum diselesaikan, ketidakpuasan terhadap proyek pembangunan, hingga respons atas konflik sosial. Bambu, kayu, atau kain merah yang dipasang memiliki makna bahwa wilayah tersebut sedang berada dalam status larangan menurut adat dan tidak boleh dilanggar sebelum persoalan diselesaikan melalui musyawarah.
Lalu, mengapa tidak berani dibuka saja? Karena tindakan membuka palang secara paksa bukan hanya soal menyingkirkan penghalang di jalan. Langkah tersebut dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap hukum adat dan penghinaan terhadap hak masyarakat adat, sehingga berpotensi memicu konflik yang lebih besar, bahkan bentrokan yang mengganggu keamanan dan ketertiban.
Itulah sebabnya pemerintah dan aparat keamanan umumnya memilih pendekatan dialog dengan kepala suku dan tokoh adat, sembari menyelesaikan persoalan administratif seperti ganti rugi tanah atau tuntutan masyarakat. Pendekatan ini dinilai lebih efektif untuk menjaga stabilitas sekaligus menghormati keberadaan hukum adat yang masih hidup di Papua.
Meski pemalangan sering merugikan masyarakat luas karena menghambat akses dan aktivitas ekonomi, penyelesaiannya tidak sesederhana membuka paksa palang tersebut. Tantangannya adalah mencari titik temu antara penegakan hukum negara, perlindungan hak masyarakat adat, dan kepentingan publik agar semua pihak memperoleh keadilan.
Ilustrasi : meilan.matsumoto6