@SeekHustle Padahal Nadiem ini bukan orang sembarangan. Ortunya juga.
Masih bisa ditumbalkan ama pemerintah busuk ini.
Memang paling bener, menjauh dari politik di Indonesia.
Di Denmark, ada perpustakaan yang bukunya bisa ngomong balik.
Namanya Human Library.
Kamu datang, pilih "judul buku" dan judulnya bukan novel atau ensiklopedi.
Judulnya: Pengungsi. Penderita Skizofrenia. Mantan Narapidana. Tunawisma.
Kamu duduk bareng mereka. 30 menit. Boleh tanya apa aja.
Nggak ada yang dihakimi. Nggak ada topik tabu.
Konsep ini lahir tahun 2000 di festival musik Roskilde, Denmark dan sekarang sudah ada di lebih dari 80 negara.
Slogannya cuma tiga kata: "Unjudge Someone."
Yang paling sering "dipinjam"?
Orang dengan gangguan mental, skizofrenia, bipolar, anxiety, autisme.
Dan hampir semua pembaca pulang dengan satu kesimpulan yang sama:
"Ternyata dia nggak beda jauh dari saya."
Itulah yang bikin Human Library powerful. Bukan program. Bukan seminar. Cuma ngobrol.
HP temen gue hilang. Besoknya syok berat, tagihan Paylater Rp12 juta dari transaksi yang gak pernah dia lakuin.
Aplikasinya dengan enteng bilang, "Pelaku masuk pakai PIN asli, berarti kelalaian user."
Temen gue sampai depresi. Gue langsung turun tangan.
3 hari kemudian, tagihan itu resmi jadi Rp0. Total biaya jadi Rp0.
Ini yang gue lakuin:
Bukan nyari HP lewat GPS. Prioritas utama adalah, amankan semua akun finansial dari perangkat lain. Login dari device cadangan, force logout semua sesi aktif. Terus telpon operator, blokir SIM card sementara. Ini krusial biar pelaku gak bisa terima OTP via SMS.
Yang paling penting dan kebanyakan orang gak tahu yaitu, minta log IP address + Device ID dari semua transaksi. Email resmi ke CS, minta data lengkap. Ini bukti kuat kalau transaksi dilakuin dari perangkat dan lokasi yang BEDA dari lo.
Buat laporan polisi (STPL). Banyak orang males ke polisi, padahal ini bukti hukum resmi bahwa lo korban, bukan pelaku yang pura-pura hilang.
Kirim surat sanggahan resmi via EMAIL, bukan chat CS biasa. Lampirkan kronologi, foto STPL, permintaan pembekuan tagihan selama investigasi. Chat CS gampang diabaikan, email formal punya kekuatan hukum.
Mereka masih nolak? Lapor OJK. https://t.co/vDQmTDwwDW atau telpon 157. OJK punya wewenang penuh buat nindak platform yang abai perlindungan konsumen. Begitu laporan OJK masuk, respons mereka biasanya berubah 180 derajat.
Alasan "PIN asli = kelalaian user" itu gak valid secara hukum. POJK 6/2022 bilang perusahaan WAJIB punya verifikasi berlapis untuk transaksi tak wajar. Kalo sistem mereka gak bedain pemilik asli vs pelaku, itu kegagalan MEREKA.
Hasilnya, hari 1 laporan polisi + sanggahan. Hari 2 eskalasi OJK. Hari 3 tagihan Rp12 juta DIHAPUS jadi Rp0.
Btw, stop nyatet PIN di Notes HP lo.
Let me trace the timeline here because nobody's connecting it.
Step 1: Scrape the entire internet. Every book, every article, every conversation, every piece of art, every forum post. Do it without asking. Do it without paying.
Step 2: Train a model on all of it. Call it "artificial intelligence."
Step 3: Go to BlackRock's Infrastructure Summit and announce: "We see a future where intelligence is a utility, like electricity or water, and people buy it from us on a meter."
Step 3 is where you sell people's own knowledge back to them. On a meter.
They took the collective output of human thought, compressed it into a model, and now they want to charge you by the token to access a version of what you and everyone you know already created.
One Reddit user put it perfectly: "They stole all this data from us, the people, our life's work, creativity, art, by devouring the internet and blowing through all copyright laws. Now they want to sell it back to us in the form of a utility."
Imagine if someone photocopied every book in the public library, burned the library down, and then opened a subscription service for the copies.
That's the metered intelligence business model.
And they're pitching it to infrastructure investors as though they invented water.
Pope Leo writes, “The speed and ease with which answers or summaries can be obtained risk extinguishing the desire to ask questions.” Curiosity and the human hunger to learn are under attack. They are trying to build a world in which no one *wants* to know anything.
Pope Leo XIV’s address in English at the publication of his Encyclical Letter Magnifica humanitas, on safeguarding the human person in the age of Artificial Intelligence.
Do listen to all of it. It is very good.
In the era of #ArtificialIntelligence, when human dignity is threatened by new forms of dehumanization, ours is the pressing duty to remain profoundly human. We must lovingly safeguard the grandeur of humanity bestowed upon us and revealed in its fullness in Christ, the splendor of which no machine can ever replace. #MagnificaHumanitas
https://t.co/6i9MWs6LJl
4. NGOBROL SAMA ISTRI sebelum dan sesudah keluarga datang.
"Ada yang bikin gak nyaman? Bilang. Aku yang handle."
5. VALIDASI ISTRI.
"Kamu gak salah. Kamu udah lakuin yang bener. Dan aku di samping kamu."
Satu kalimat itu, yang selama ini gak pernah aku ucapkan.
Ini yang dia coba lakuin. Pelan. Tapi JELAS:
1. NGOMONG KE IBU, dengan hormat.
"Bu, soal anak, kami berdua udah sepakat caranya. Kalau ada masukan, sampaikan ke aku dulu. Jangan langsung ke istri."
2. SATU TIM SAMA ISTRI, di depan siapapun.
Kalau ada komentar soal pola asuh → aku yang jawab. Bukan istri.
3. BEDAKAN hormat dan nurut.
Hormat ke ibu = SELALU.
Nurut semua komentar soal pola asuh = TIDAK HARUS.
Beda pendapat itu biasa. Setuju atau enggak itu ga penting. Yang lebih penting itu apa argumen dan landasan berpikir sehingga kesimpulan demikian.
Di kolom opini kompas lagi seru adu pendapat tentang Wealth Tax
Tim Kontra: Tim Pro:
When a human egg is fertilized, it releases an explosion of zinc fireworks visible under a microscope.
Every single human life starts with a flash of light. The universe did the same thing 13 billion years ago, just bigger.