"Ga ada yang bagus."
Kedua tangannya masuk ke saku celana seragam, menatap Clara dengan dagu yang diangkat sedikit dan tatapan datar yang tak pernah Keiji perlihatkan pada @berjingkat sebelumnya.
Ini bukan gadis lugu yang dulu dia jumpai tengah menangis di ayunan. Meminta pertolongan padanya tentang tiga anak nakal yang membuatnya kesal hingga menangis.
Bukan.
Gadis ini benar-benar berbeda, yang tak pernah Keiji sangka sebelumnya.
Katanya, tida orang anak nakal mengatakan pada beberapa anak lain jika mereka tak perlu menemaninya bermain.
Jadilah gadis kecil itu benar-benar dijauhi.
"Ga ada yang berantem,." Lalu memilih untuk menyuap makanannya.
Ayah dan bunda Keiji tersenyum, saling tatap.
"Besok diajak kesini ya, bunda mau buat kue kering. Mau nitip untuk dikasihkan ke mamanya Clara juga."
"Emangnya udah ga main lagi sama Clara?"
Keiji tersentak kecil, menatap piring yang sudah berisi ansi juga lauk pauk berada di dekatnya. Juga kalimat ibunya yang membuat Keiji tersadar dari lamunan.
Alih-alih dimarahi, Keiji justru diberi semangat untuk membela diri jika dirasa tindakannya benar.
Dan dari situ pula Keiji akhirnya memiliki teman bermain di taman. Yang tetapi, pertemanan itu tak berlanjut hingga hari ini.
Begitu pikir Keiji.
Keiji mencoba menegur, namun tiga anak nakal itu justru mendorong Keiji hingga terjatuh. Keiji membalasnya, hingga kejadian itu terdengar di telinga orang tuanya.
Sempat takut, kalimat sang ayah justru terasa menenangkan bagi Keiji.
Keiji kecil sering sekali menjadi target kenakalan anak-anak di sekitar rumahnya. Namun tanpa melawan dengan kekerasan, Keiji tetap bisa dengan santai bermain di taman meski sendirian.
Sampai seorang gadis kecil yang Keiji ingat, menangis di ayunan.
Katanya, tida orang anak nakal mengatakan pada beberapa anak lain jika mereka tak perlu menemaninya bermain.
Jadilah gadis kecil itu benar-benar dijauhi.