MANTARAYUDA
Part 15 - Pertemuan dua Raja
Tak seharusnya manusia mengusik alam yang sudah dipisahkan. Keberadaan raja-raja di alam itu, bukan sesuatu yang bisa dikendalikan oleh manusia.
#bacahorror@ceritaht@bacahorror@IDN_Horor
MANTARAYUDA
Part 11 - Perang Dewa Mantra
...Sosok-sosok dengan tubuh hangus berdiri di depan rumah mereka, satu demi satu.
Sebagian tubuhnya mengepulkan asap tipis. Bau daging terbakar dan busuk menyeruak bersama angin malam.
#bacahorror@ceritaht@IDN_Horor@bacahorror
"Raja Danyang... apa benar ada kekuatan yang mampu menghentikannya?"
Untuk pertama kalinya, keraguan memenuhi hati Danan.
Di hadapannya terbentang kehancuran tanpa akhir.
Kekuatan absolut itu membantai siapa saja yang mendekat. Namun anehnya, mantra-mantra dari berbagai penjuru terus bermunculan, seakan menantang sosok yang mustahil dikalahkan itu.
"Mereka sudah gila? Apa yang sebenarnya mereka incar?"
Danan tak mengerti.
Tak seorang pun mencoba melarikan diri.
Sebaliknya, semakin banyak kekuatan berdatangan dari luar medan perang, seolah rela mengorbankan segalanya demi menghadapi Raja Danyang.
"Mantarayuda adalah saat poros-poros kekuatan terbesar mempertaruhkan segalanya, Danan," ujar Nyi Sendang Rangu.
"Mereka tak peduli berapa ratus nyawa yang harus dikorbankan, berapa banyak perjanjian yang harus dibuat dengan para setan, atau apa pun yang harus dihancurkan."
"Untuk apa?"
"Untuk menguasai kekuatan itu... menjadikan Raja Danyang sebagai khodam mereka."
Deg.
Danan terdiam.
Sulit baginya mempercayai bahwa ada manusia atau makhluk lain yang berniat menguasai sosok sekuat itu.
"Bukankah itu mustahil?"
"Kami, para Danyang, tetap terikat pada aturan alam. Bahkan Sang Raja sekalipun."
Suara Nyi Sendang Rangu terdengar tenang.
"Jika mereka menemukan wadah yang memiliki garis takdir yang sama dengan Sang Raja, maka yang perlu mereka lakukan hanyalah menaklukkannya."
Danan berjalan semakin dekat.
Kini ia mulai memahami maksud ucapan Nyi Sendang Rangu.
Ada empat tempat yang dijaga dengan sangat ketat.
Sebuah kuil, sebuah istana, sebuah bangunan batu, dan sebuah rumah dengan pelataran besar.
Di masing-masing tempat itu terdapat satu makhluk yang dijaga mati-matian.
Seorang perempuan berparas luar biasa cantik.
Sesosok mayat yang telah melalui ritual. Seekor ular bermata satu. Dan sebuah pohon dengan dahan-dahan berbentuk ular.
Keempatnya adalah wadah yang terikat oleh garis takdir Raja Danyang.
"Yang mereka ketahui, Raja Danyang adalah makhluk digdaya yang memikul kekuatan para dewa. Padahal, ada hal lain yang membuatnya pantas menyandang gelar raja."
"Apa itu, Nyi?"
"Kecerdikan dan kelicikan. Kebijaksanaan dan amarah. Pengetahuan... dan kekosongan."
Danan akhirnya mengerti.
Yang ia hadapi bukan sekadar monster yang memiliki kekuatan luar biasa.
Melainkan sosok yang jauh lebih agung, lebih cerdas, dan lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.
Ia hanya mampu menyaksikan semuanya dari kejauhan.
Satu malam berlalu.
Lalu malam berikutnya.
Hingga akhirnya Danan sendiri lupa sudah berapa lama ia berada di sana.
Tubuhnya semakin kurus.
Keberadaan Nyi Sendang Rangu memang melindunginya dari gangguan gaib, tetapi juga terus menguras tenaga yang ia miliki.
Beberapa kali Danan mencoba memasuki medan pertempuran.
Namun setiap kali hampir mencapai pusatnya, selalu ada kekuatan tak kasatmata yang menghempaskannya kembali.
Ada batas yang sama sekali tak mampu ia tembus.
Yang membuatnya semakin gelisah, setiap hari ratusan nyawa melayang.
Ratusan roh dijadikan persembahan.
Ia bahkan tak tahu dari mana semua korban itu terus berdatangan.
Seolah kerajaan-kerajaan besar dan kelompok-kelompok sakti telah mempersiapkan semuanya sejak lama demi peristiwa ini.
"Raja Danyang seperti sedang bermain-main..." gumam Danan.
Tiba-tiba dentuman keras mengguncang seluruh istana.
Lantainya bergetar hebat.
Wajah Cahyo langsung berubah tegang.
"Itu Wanasura..."
Ia dapat merasakan aura pertarungan di luar semakin melemah.
"Sial..."
Cahyo mengepalkan tangan.
"Tunggu sebentar lagi, Wanasura..."
Giridaru kembali memusatkan perhatian pada seluruh mantra di ruangan itu. Pandangannya bergantian menatap ukiran di dinding dan patung raksasa di tengah ruangan.
Semakin lama dipelajari, semakin membingungkan.
Hingga akhirnya ia mengambil keputusan.
Dengan lincah ia melompat, memanjat tubuh patung raksasa itu, lalu berdiri di atas kepalanya.
Dari sudut pandang itu...
Semuanya berubah.
Ukiran-ukiran mantra yang semula tampak acak ternyata saling terhubung. Setiap dinding membentuk satu baris kalimat, dan seluruh ruangan menyusun sebuah mantra utuh.
"Saking pucuking langit... saking telenging bumi... saking segara tanpa wates..."
Cahyo menggumamkan kalimat itu tanpa sadar.
Giridaru langsung menoleh.
Kalimat itu terasa sangat dikenal.
"Mantra pemanggil..." gumamnya.
Ia kembali memperhatikan susunan aksara dari atas patung.
Benar.
Seluruh ruangan memang dirancang agar mantra itu hanya bisa dibaca dari titik tertinggi.
Cahyo melanjutkan bacaannya.
"Krungu panyelukku... rungokna sumpahku... mbukak lawang antarane alam..."
Suara itu berhenti tepat ketika mencapai celah kosong di dinding.
Tatapan Cahyo perlahan beralih menuju tusuk konde yang berada di tangannya.
Ia merasakan denyut energi yang luar biasa kuat dari pusaka itu.
"Kekuatan ini..." bisiknya. "Besar sekali."
Sesaat kemudian sesuatu terlintas di benaknya.
Ia menatap Giridaru.
"Kalau mantra ini mampu memanggil Astana Birawarsa..."
"...bukankah artinya mantra ini juga bisa digunakan untuk memanggil sesuatu yang lain?"
Giridaru mengangguk perlahan.
"Bisa jadi."
Ia menatap tusuk konde itu dengan sorot mata serius.
"Tusuk konde ini bukan sekadar pusaka. Ia adalah wujud fisik dari mantra pemanggil Astana Birawarsa."
Giridaru kemudian menatap Cahyo.
"Kalau begitu... apa yang hendak kau panggil, Bocah?"
Cahyo tidak langsung menjawab.
Ia merogoh sarungnya, lalu mengumpulkan beberapa helai rambut Wanasura dan Kliwon yang menyangkut di sarung dan pakaiannya.
Perlahan ia menggenggam rambut-rambut itu bersama tusuk konde tersebut.
Tatapannya berubah tajam.
"Sesuatu..."
"...yang paling berkuasa di Hutan Gaib."
***
(Di Jagad Segoro Demit…)
Srakk!!
Tiba-tiba Cahyo terjatuh di antara rimbunnya semak dan dedaunan.
Tubuhnya menghantam tanah cukup keras. Namun, benturan itu nyaris tak terasa berkat Roh Wanasura yang merasuki dirinya. Seandainya bukan karena perlindungan roh panglima wanara itu, tulang-tulangnya mungkin sudah remuk sejak tadi.
Cahyo perlahan membuka mata. Ia bangkit sambil mengamati sekeliling, berusaha mengenali tempat tempatnya terdampar.
Sunyi...
Hutan tua itu begitu lengang hingga suara napasnya sendiri terdengar asing. Namun, ke mana pun ia memandang, hanya ada rasa cemas yang semakin menyesakkan dada.
Sebuah hutan yang begitu tua...
"Danan?!" teriak Cahyo.
Ia segera memanjat salah satu pohon tertinggi untuk mencari keberadaan sahabatnya. Pandangannya menyapu lautan pepohonan dari ujung ke ujung, tetapi tak ada satu pun tanda yang menunjukkan di mana Danan terjatuh.
Sesekali kepalanya berdenyut.
Suara-suara tak kasatmata mulai berbisik di dalam benaknya. Semakin lama, bisikan itu semakin jelas, seolah ada sesuatu yang berusaha menyusup ke dalam pikirannya dan mengambil alih kesadarannya.
Memang begitulah Jagad Segoro Demit.
Alam itu memiliki kesadarannya sendiri. Kesadaran yang perlahan menggerogoti siapa pun yang memasukinya hingga kehilangan akal dan jati diri.
Namun, Wanasura berada di dalam tubuh Cahyo.
Kesadaran sang panglima wanara jauh lebih kuat. Berkali-kali ia menepis bisikan-bisikan gelap yang mencoba menguasai Cahyo.
Dengan hati masih dipenuhi kecemasan, Cahyo bergegas mencari jalan untuk menemukan Danan.
Baru beberapa langkah berjalan, seseorang tiba-tiba muncul dari balik pepohonan, seolah memang telah lama menunggunya.
"Kawanmu tidak jatuh di tempat yang sama."
"Siapa?"
Cahyo menoleh.
Yang berdiri di hadapannya bukan manusia, melainkan seekor kera yang mengenakan pakaian layaknya seorang pendekar.
Cahyo tidak langsung menjawab. Ia memiringkan kepala, memperhatikan wajah sosok itu dengan saksama.
"Kita... pernah bertemu?" tanyanya pelan, merasa ada keakraban yang sulit dijelaskan.
"Kalau kau masih bocah nakal yang dulu sering merepotkanku, seharusnya memang kita pernah bertemu," jawab sang kera.
Mata Cahyo langsung membelalak.
"Ka-kamu... Giridaru?!"
Raut cemasnya seketika berubah menjadi senyum lebar.
Ia akhirnya mengingat wajah itu. Memang tampak sedikit lebih tua, tetapi usia bangsa wanara nyaris tak meninggalkan bekas pada wajah mereka.
Tanpa pikir panjang, Cahyo langsung memeluk Giridaru erat.
"Syukurlah... Di zamanku aku melihat akhir hayatmu..." ucap Cahyo dengan suara bergetar. Ia masih mengingat Giridaru yang bertahan hidup hingga usia yang nyaris mustahil.
Setelah memastikan Ujang dan Mang Jangkung meninggalkan rumah itu, Tegar dan Bli Waja kembali memusatkan perhatian pada ruangan yang dipenuhi aksara darah.
Keheningan menyelimuti tempat itu.
Hanya suara napas mereka dan dengung samar dari cawan logam milik Bli Waja yang terdengar memenuhi ruangan.
Tegar berjongkok di hadapan salah satu rajah. Jemarinya menyusuri setiap guratan aksara kuno yang telah mengering menjadi warna merah kehitaman.
Tatapannya begitu tajam, seolah berusaha membaca sesuatu yang tak terlihat oleh mata biasa.
Bli Waja memperhatikannya tanpa berkata apa-apa.
BATAS ALAM MANUSIA
Tegar dan Ujang akhirnya kembali ke desa. Begitu tiba, mereka segera menceritakan semua yang mereka temukan di tengah hutan kepada warga yang sejak tadi menunggu dengan penuh kegelisahan.
"Tempat itu bukan tempat pemujaan," ujar Tegar. "Di sana pernah ada danyang yang dikurung."
"Roh-roh warga Desa Enggal juga masih berkeliaran di hutan," sambung Ujang. "Mereka seperti berada di bawah kendali seseorang."
Ketika nama Raden Brajawi disebutkan, beberapa warga saling berpandangan. Nama itu bukanlah nama asing bagi mereka.
Orang-orang tua masih mengingat sosok yang dahulu dianggap sebagai "dewa" pelindung Desa Enggal. Sebuah kisah lama yang perlahan mulai terlupakan, kini kembali muncul bersama rentetan kejadian mengerikan yang menimpa desa.
Pak Yusni mengembuskan napas panjang. Semakin banyak yang ia dengar, semakin ia sadar bahwa persoalan di Desa Enggal jauh lebih kelam daripada yang mereka bayangkan.
"Bli Waja ke mana, Pak?" tanya Tegar saat menyadari lelaki tua itu tidak berada di desa.
"Beliau sudah berangkat sebelum matahari terbit," jawab Pak Yusni. "Ke rumah yang ada di tengah ladang itu."
"Sendirian?"
Pak Yusni mengangguk pelan.
"Beliau tahu kalian pasti akan menyusul. Tapi pesannya, kalian diminta beristirahat dulu. Datanglah setelah matahari terbenam. Katanya, masih ada yang harus ia persiapkan."
Ujang menoleh ke arah Tegar, meminta pendapat.
Tegar sendiri tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.
Ia tahu Bli Waja bukan orang sembarangan, tetapi tetap saja membiarkan lelaki tua itu menghadapi tempat mengerikan itu seorang diri terasa sangat nekat.
Meski begitu, untuk saat ini ia memilih percaya.
Kalau ada orang yang paling memahami tempat itu, maka orang tersebut adalah Bli Waja.
"Kita istirahat dulu," kata Tegar akhirnya.
"Perasaanku... malam ini bakal lebih kacau daripada semalam."
"Jangan nakut-nakutin, Gar."
Tegar mengangkat lengannya.
"Lihat sendiri."
Bulu kuduk di tangannya berdiri seluruhnya.
"Belum berangkat aja udah begini."
Ujang hanya menggeleng pelan.
"Wah... ini bener-bener nggak beres."
MANTARAYUDA
Part 7 - Perang Dalam Sunyi
Tak ada suara pedang yang beradu, tapi di balik gelapnya malam mantra saling dirapalkan dan kematian datang tanpa ampun.
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht#bacahorror
MANTARAYUDA
Part 6 - Ritual di Rumah Susun
Tak harusnya bangunan terbengkalai itu ditinggali, sesuatu yang sudah mati seharusnya tidak digunakan untuk mereka yang hidup...
#bacahorror@IDN_Horor@ceritaht@bacahorror
Selesai pertunjukkan, Ki Turno yang merasa tidak tenang menghampiri sosok itu dan mendapati bahwa makhluk itu adalah sosok tua, yang sudah ada bahkan sebelum desa itu ramai penduduk.
Ki Turno sadar bahwa makhluk itu tidak mengelilingi desa dengan sembarangan. Ia melakukan ritual. Ritual tanpa henti yang mungkin sudah dilakukan ratusan tahun yang lalu. Ki Turno paham, ritual semengerikan itu akan membahayakan ratusan nyawa.
Sadar akan bahaya itu, Ki Turno menyegel setan itu kedalam salah satu wayangnya dan menjaganya agar tak lagi melanjutkan ritualnya, dan tak lagi menjadi dalang untuk memastikan setan itu tak lagi terbebas.
Tapi sekelompok orang akhirnya mengetahui bahwa hal itu. Sekelompok orang yang ternyata selama ini memberi ‘amunisi’ pada setan itu untuk melakukan ritual.
Setelah bertahun-tahun, mereka menemukan Ki Turno dan merebut kembali setan itu. Mereka tak segan menghabisi Ki Turno dan keluarganya, membakar rumahnya, dan membebaskan setan itu lagi.
Mbah Widjan membaca peninggalan Ki Turno yang bergidik ngeri saat tahu bahwa setan itu terus melakukan ritual, untuk menciptakan mantra. Sebuah mantra yang lahir dari aksara-aksara yang tertulis dengan darah dan melewati berbagai masa.
Cucu Ki Turno memegang sisa wayang yang terikat dengan demit itu, pusaka yang menunjukkan keberadaan setan itu jika meninggalkan kediaman Ki Turno. Dan pusaka itu mengarahkan mereka ke rumah susun yang ada di hadapan mereka.
“Ki Turno menyebut nama sosok itu, Nenek Sawir..” Ucap Panji.
“Nenek?” Rizal bertanya, namun matanya tidak mengarah pada Panji.
Panji mengangguk, tapi ia melihat keanehan pada kakaknya.
“Nenek… itu?” Rizal gemetar. Ia menunjuk sosok yang berdiri di depan gerbang rumah susun di bawah hujan gerimis.
Panji melihatnya, saat itu ia baru merasakan semengerikan apa makhluk itu. Sosok yang terlihat tenang, tapi Panji merasakan kegilaan dari dalamnya.
“Terus kita harus apa?” Tanya Rizal.
Panji mengeluarkan sebuah benda, sisa wayang yang terbakar, kali ini sudah ada darah ayam yang berbentuk aksara jawa tertulis di lembaran itu.
“Bawa kembali makhluk itu..”
Panji ingin segera menghampiri sosok itu, tapi Rizal menahannya.
“Jangan gegabah, Panji. Kamu nggak tahu setan itu bisa ngapain,”
Panji mundur, ucapan kakaknya itu benar.
Saat langit semakin gelap, setan itu tak lagi berdiri di depan gapura. Ia sudah bergerak, masuk ke dalam rumah susun yang seharunya sudah tidak dihuni oleh siapapun itu.
Rizal dan Panji berhati-hati masuk ke dalam Rumah susun itu. Ia menemukan bekas darah di lorong. Mereka tahu bahwa sebuah tragedi baru saja terjadi di sana.
“Darah yang di seret ini.. ritual..” Panji menyadarinya.
Rizal yang melihat dari arah balkon pun sadar bahwa garis-garis itu membentuk aksara yang mengelilingi rumah susun itu.
“Untuk apa? Kenapa setan itu melakukan ritual disini? Bukan di desa sebelumnya?” Rizal bingung.
“Nggak tahu, tapi sepertinya dia sudah makan banyak nyawa..” Wajah Panji semakin serius. Mereka menaiki beberapa tangga, samar-samar mereka mendengar suara teriakan, namun menghilang begitu saja.
RIZAL & PANJI
Belum sempat tenggelam, suara motor terdengar mendekat di dekat rumah susun. Beberapa orang terlihat meninggalkan bangunan itu, sementara orang-orang diluar terlihat berusaha menjaga jarak dari bangunan itu.
“Beneran ini bangunannya, Mas?” Tanya Panji yang segera turun setelah Rizal memarkirkan motornya.
“Kalau dari ceritamu, ya ini. Nggak ada rumah susun lain di sekitar sini,” Balas Rizal. “Lagian Mas juga nggak nyangka masih ada yang mau tinggal di tempat begini.”
Panji mengeluarkan kertas-kertas dari tasnya. Ia membaca aksara-aksara di lembaran itu dan beberapa kali melihat ke rumah susun itu.
“Gerimis, Panji. Neduh dulu..”
Rizal mengajak Panji berteduh di bawah atap rumah tua beratapkan seng. Panji belum selesai dengan apa yang ia lakukan.
“Emangnya Mbah nyuruh apa sih sampai minta kamu kesini?” Tanya Rizal.
Panji menyerahkan satu kertas dengan sebuah foto di klip di sana.
“Ki Turno, mantan dalang meninggal,” Panji menunjuk foto itu. “Keluarganya dibunuh, rumahnya dibakar, tapi pusaka-pusakanya hilang..”
“innalillahi wainnailaihirojiun…” Rizal mengetahui Siapa Ki Turno. Saat ia kecil, sosok itu sempat cukup sering terdengar di kampungnya.
“Eyang sama beberapa kenalannya sudah ngecek, pelakunya orang sini. Dia ngambil sesuatu yang udah dikurung lama sama Ki Turno..”
“Apaan?”
“Demit..”
Rizal menghela nafas, ia sadar apa yang diurus oleh adiknya itu diluar kemampuannya.
“Sejak kapan padepokan Eyang jadi ngurusin perdemitan gini, sih?”
“Nggak pernah urusan sengaja, Mas. Tapi kalau udah bahayain nyawa orang atau warga desa, Eyang pasti nolong..”
Rizal mengerti, tapi jauh dalam hatinya ia khawatir dengan Mbah Widjan eyangnya dan adiknya itu.
“Memangnya demit apa sampai kalian khawatir sebegitunya?” tanya Rizal.
Suara hujan gerimis terdengar lirih di luar bangunan. Angin malam berembus melewati celah-celah beton rumah susun tua itu, membawa aroma lembap yang entah mengapa terasa seperti bau tanah kuburan yang baru digali.
Panji tidak langsung menjawab.
Ia memandang ke arah bangunan gelap di hadapan mereka sejenak, seolah sedang memastikan sesuatu.
Lalu ia berkata pelan.
“Ki Turno berhenti ngedalang gara-gara demit itu.”
Rizal mengernyit.
“Cuma gara-gara satu setan?”
Panji menggeleng.
“Bukan karena takut. Karena dia harus menjaga supaya setan itu nggak pernah keluar lagi.”
Nada suara Panji membuat bulu kuduk Rizal meremang.
Malam terasa semakin dingin. Panji menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
“Puluhan tahun lalu, Ki Turno pernah diundang ke sebuah desa yang lagi kena musibah.”
“Musibah apa?”
“Kekeringan.”
Panji menatap ke kejauhan, seolah sedang melihat kembali kisah yang hanya ia ketahui dari cerita turun-temurun.
“Sumur-sumur mengering. Sawah gagal panen. Ternak mati satu per satu. Tapi itu bukan yang paling bikin warga ketakutan.”
Rizal diam mendengarkan.
“Mereka sering melihat sesuatu berkeliaran di malam hari. Bayangan-bayangan yang nggak dikenal. Orang-orang yang sudah mati terlihat berjalan di jalan desa.
Ada yang mendengar suara tangisan dari ladang kosong. Ada yang melihat perempuan berdiri di tengah sawah yang kering, lalu menghilang begitu didekati.”
Angin berembus lagi.
Membuat dedaunan liar di sekitar rumah susun berdesis seperti bisikan.
“Karena itu warga mengadakan Merti Desa.”
Panji melanjutkan.
“Harapannya supaya keadaan membaik. Supaya desa kembali tenteram.”
Acara berlangsung besar-besaran.
Doa dipanjatkan.
Sesajen dilarung.
Dan seperti tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun, malam harinya ditutup dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.
Ki Turno menjadi dalangnya.
Sebagaimana para dalang tua yang telah mencapai tingkat kebatinan tertentu, Ki Turno tahu bahwa penontonnya malam itu bukan hanya manusia.
Di balik warga yang duduk mengelilingi kelir, ada penonton lain.
Penonton yang tak kasat mata. Mereka berdiri di antara pepohonan. Duduk di atas genting.
Bergelantungan di dahan-dahan besar. Menyimak pertunjukan dengan diam.
Ki Turno sudah terbiasa melihat mereka.
Namun menjelang tengah malam, perhatian Ki Turno teralihkan. Ada sesuatu yang berbeda.
Sesuatu yang tidak menyaksikan pertunjukannya.
Di kejauhan.Di batas desa yang hanya diterangi cahaya bulan. Ia melihat sosok berjalan perlahan.
Sosok yang hanya berputar-putar mengelilingi desa dengan menggumamkan sebuah tembang. Sosok nenek berambut panjang, berkebaya lusuh, tingginya benar-benar setinggi pohon.
SISA API
Suara pintu dibanting terdengar saat sekeluarga meninggalkan sebuah ruangan tua yang benar-benar tidak layak huni.
“Rasma! Pergi! Jangan tinggali tempat ini lagi!” Teriak ibu yang memperingatkan seorang perempuan yang masih berada di ruangannya bersama satu adiknya.
“Pergi kemana lagi? Cuma disini aku bisa tinggal! Kalau wajahku terlihat, polisi pasti langsung nangkap aku!”
“Seburuk-buruknya lu Cuma dipenjara, Rasma. Bukan mati!”
Rasma tetap tak menggubris ucapan ibu itu. Ia memilih untuk tetap bersama adik laki-lakinya yang masih berumur sepuluh tahun itu.
Ibu itu tak lagi peduli. Saat ini ia lebih khawatir dengan keluarganya.
Tempat itu adalah sebuah rumah susun tua di pinggir jakarta yang pernah hangus terbakar. Hanya tersisa sedikit atap, namun tempat itu adalah persembunyian terbaik bagi orang-orang yang dianggap tidak pantas hidup di ibukota.
Rumah susun tua itu sudah terbengkalai lebih dari sepuluh tahun setelah kebakarannya menewaskan lebih dari seratus penghuninya. pemukiman di sekitarnya telah pergi setelah daerah itu dicemari oleh limbah dari pabrik-pabrik yang berdiri tak jauh dari sana.
“Kak, mereka pada kenapa? Kok pada pergi?” Yunus, adik Rasma mempertanyakan apa yang ia tak mengerti.
“Biarin aja, Nus! Mereka cuma orang-orang penakut!”
Yunus keluar melihat ke arah lorong. Sebagian besar rumah-rumah tak berpintu itu tak lagi berpenghuni. Namun ia masih melihat ada beberapa ruangan yang disinari cahaya lilin. Beberapa masih bertahan.
“Asal sama Kak Rasma, aku dimana aja nggak masalah,” Ucap Yunus yang kembali lagi ke kardus yang ia gelar di sudut ruangan yang jorok itu.
Rasma dan Yunus sudah bertahan disana lebih dari satu tahun. Prinsipnya, disana adalah hukum rimba. Pencopet, pembunuh, preman semua bersarang disana. Tapi mereka disana bukan untuk beraksi, tapi untuk tinggal.
Mereka tidak mencari masalah, kecuali bersinggungan. Masalah yang sering terjadi adalah rebutan ruangan yang sebenarnya tak pantas untuk diperebutkan itu.
Dinding bekas terbakar, tanpa pintu dan daun jendela. Tetesan air yang menggenang dan bau tak enak sudah menjadi makanan sehari-hari.
Tak ada manusia normal yang ingin memasuki rusun itu. Mereka yang lewat takkan menyangka ada puluhan nyawa hidup di sana.
Sempat saat ramai, Rasma dan Yunus tersingkir. Sekelompok bandar obat terlarang menguasai tempat itu, perkelahian terjadi dan banyak yang terpaksa meninggalkan tempatnya dan tidur di lorong atau pinggir tembok rusun. Tapi hal seperti itu biasa tak berlangsung lama.
Biasanya mereka pergi saat mampu mendapatkan tempat yang lebih bagus, atau tertangkap.
Tapi kali ini masalahnya bukan sesuatu yang bisa dijelaskan. Warga disana pergi karena sesuatu yang tidak bisa mereka selesaikan.
Sudah tujuh kejadian tak masuk akal terjadi di sana. Orang kerasukan sampai mati, kamar dipenuhi darah, orang yang berjalan membuang kepalanya sendiri di tong sampah, dan sebelum kejadian itu orang-orang di sana mengaku melihat nenek yang tinggi kepalanya sampai menembus balkon.
Setiap nenek itu terlihat, selalu ada yang mati dengan tidak wajar.
Rasma bangun cukup siang. Ia melihat adiknya Yunus sudah ngobrol dengan Mang Codet, salah satu orang yang masih bertahan.
“Aku cari makan dulu,” Pamit Rasma pada Yunus.
Ia keluar dengan celana jeans robek dan kaos kumal yang kebesaran.
“Nggak usah, Kak. Itu ada bekasan besek,” Ucap Yunus.
“Kamu yang nyari?”
“Iya, pas ada aja..”
“Ya udah aku cari buat makan ntar..”
Belum sempat pergi, Mang codet menarik kerah kaos Rasma.
“Udeeh, diem bae-bae aja disini,” Ucapnya. “Ngobrol-ngobrol aje kite, mau gimane kita abis ini?”
“Gimane apanya?” Rasma tak mengerti.
“Kita lagi ngomongin kejadian kemarin-kemarin, Kak.” Jelas Yunus.
“Lu yakin nggak bakal diapa-apain sama tu setan?” Tanya Mang Codet.
“Yeee, preman takut setan,” Ledek Rasma. “Malu lu!”
“Ya kalo gua yang mati sih gapape, masalahnya kalo anak bini gua. Nggak rela gua.”
Rasma menyimpan lagi senyumnya. Ia mulai paham keresahan Mang Codet. Hal yang sama juga yang ia takutkan jika setan itu benar ada dan Yunus yang menjadi korban.
Kali ini Rasma duduk di tanah, dekat mereka.
“Masalahnya gua sama Yunus udah ditandain. Muka kite udah ada di koran sama tembok-tembok.
Sekarang gua cuma bisa bertahan dulu disini..”
“Sampai kapan?” Tanya Mang Codet.
Rasma melihat ke adiknya Yunus. Ia ingin menjawab, sampai ia mendapat cara bagaimana Yunus bisa hidup normal layaknya anak kecil biasa. Tapi untuknya sekarang, impian kecil itu terasa begitu mustahil.
“Sampai Yunus bisa menjaga dirinya sendiri,” Rasma menyederhanakan isi pikirannya.
Tuk! Yunus melemparkan kerikil ke kakaknya.
“Kita lewatin semuanya berdua, Kak..”
Mang Codet menatap mereka berdua bergantian. Tak ada tatapan lain selain rasa kasihan pada mereka berdua saat itu.
“Emang kasian lu pade,” Geleng Mang Codet.
Ia berdiri, merapikan pisau lipatnya di kantong dan bersiap pergi.
“Pokoknya kalo kalian liat tu setan, bilang aje ke Mang Codet. Kite langsung kabur bareng..” Ujar Mang Codet. “Sekarang gue mau kerja dulu!”
“Iya! Ati-ati copet, Mang!” Teriak Yunus.
“Kampret, Lu! Gue copetnya!” Balas Mang Codet berpose pura-pura ingin memukul. Saat itu Yunus dan Rasma hanya tertawa melihat tingkah preman berwajah sangar itu.
“Makan dulu, Kak. Yunus udah duluan,” ucap Yunus.
“Abisin berdua aja, tar cari lagi..” Balas Rasma yang ragu jika adiknya benar-benar sudah makan lebih dulu.
***
POV lagi hari gajian. 🥲
👩🏻: "Mas, kamu salah transfer nominal deh."
👨🏻: "Hah? Masa sih? Bentar aku cek dulu."
Beberapa detik kemudian...
👨🏻: "Nggak kok, Sayang. Udah bener."
👩🏻: "Lho? Bulan ini cuma Rp3,5 juta? Aku mau nambah biaya daftar ulang adik, bayar listrik ibu, beliin buku adik, sisanya buat ongkos aku..."
👨🏻: "Sayang... kita baru 2 bulan nikah. Bukan aku nggak mau bantu keluarga kamu. Tapi kamu juga tahu gaji aku cuma Rp5 juta. Kalau segitu yang keluar, terus kita hidup sampai gajian bulan depan gimana?"
Beberapa detik hening...
👩🏻: "Oh... gitu ya. Oke, Mas."
Nggak lama kemudian dia lanjut ngomong,
👩🏻: "Kalau gitu mulai sekarang aku nggak bakal minta uang ke kamu lagi. Tapi jangan salahin aku ya kalau nanti aku minta uang ke orang lain.
Sepulang kerja kepalanya penuh. Mikirin keluarga, mikirin masa depan, mikirin kondisi keuangan, sampai mikirin apakah pernikahan yang baru seumur jagung ini bakal sanggup bertahan kalau setiap masalah diselesaikan dengan ancaman seperti itu.
Namanya rumah tangga pasti bakal ketemu fase ekonomi lagi sempit. Tapi kalau setiap keterbatasan dibalas dengan kalimat yang bikin pasangan merasa tertekan, yang capek bukan cuma dompetnya, tapi juga mentalnya.
Guntur yang tak menemukan celah untuk memasuki kampung harimau itu tak punya pilihan selain menanti pertiga malam, sesuai petunjuk harimau putih itu. Ia menanti waktu yang tinggal sesaat sambil memulihkan lelah dan lukanya.
Tepat saat waktu yang di maksud, Guntur benar-benar merasakan keberadaan buas di kampung tua itu perlahan melemah.
“ucapan harimau putih itu, benar..”
Guntur mengendap-endap ke kampung tua itu. Ia melihat kampung itu sudah sepi, hanya tersisa beberapa harimau yang tertidur disemak.
Ada bau khas di reruntuhan kampung itu yang tidak bisa ia jelaskan, seperti bau yang berhubungan dengan hewan.
Semakin melangkah, ia menemukan sebuah kuil menyerupai candi yang sudah hancur, namun sebuah patung masih berdiri. Patung itu berwujud dewa dengan wajah harimau.
Guntur menduga bahwa penduduk desa itu sebelumnya adalah pemuja dewa yang digambarkan dengan patung itu. Dan yang mengkhawatirkan, darah kering berserakan disana. Beberapa tengkorak kepala manusia pun masih berada di sana.
Ia menebak, Ina bukan sekedar mangsa biasa. Namun sesuatu yang berhubungan dengan ritual di tempat itu.
Namun Guntur tahu, waktunya tidak banyak. Ia harus cepat-cepat menemukan Ina.
Tapi ternyata, itu tak sulit. Saat berjalan semakin dalam, Guntur menemukan sebuah lubang di tanah yang sangat besar. Ia mengintip kedalam dan menemukan Ina terbaring di sana bersama sisa-sisa mayat dan bangkai yang bercampur.
“Ina..”Bisik Guntur.
Ina tak sadarkan diri, Guntur buru-buru turun kedalam lubang besar itu. Ia memeriksa tubuh Ina, luka-lukanya begitu dalam. Guntur membebat bagian yang berdarah dan mencoba menyadarkan Ina.
“Ina.. bangun ina..” Bisik Guntur.
Butuh beberapa saat sampai akhirnya Ina tersadar.
“Mas Guntur…” Ina tersadar dengan tangis.
“Sssst!”Kita pergi dari sini selagi mereka tertidur.
“Tahan dulu nangisnya, ya..”
“Tapi sakit..”
“Mas Tau.. nanti mas obatin..”
Guntur membalik badannya, membiarkan Ina naik ke punggungnya. Dan saat ia melihat ke atas untuk naik, Guntur melihat sesuatu yang mencolok di lubang itu.
Tak hanya bangkai hewan dan sisa jasad manusia. Tapi di dinding lubang itu terukir aksara-aksara jawa yang terukir jelas. Seperti ada dinding batu dibalik tanah yang menutupinya.
“Ini tempat apa?” Guntur mulai merasa tempat itu lebih dari sekedar lubang penyimpanan mangsa.
“Sang pamengku alas kang wingit, rohing sima kang jaga bumi…”
Guntur membaca aksara itu, mencoba mengerti tempat apa yang sebenarnya mereka datangi itu. Ada apa dibalik kampung harimau yang berdiri di reruntuhan desa itu.
“Kedengeran kayak mantra..” Bisik Ina.
Blarrr!!
Tepat saat Guntur selesai membaca mantra itu dalam hati, tiba-tiba terdengar suara api dari arah desa.
Guntur menyadari ada yang salah. Ia pun buru-buru keluar dari lubang itu. Sialnya, sosok harimau hitam yang membawa Ina ke tempat itu sudah menantinya di atas.
“Merebut mangsa kami, artinya menantang kami..” ucap Harimau hitam itu.
“Kami manusia bukan mangsamu!” Balas Guntur.
“Kalian menangkap hewan-hewan di hutan kami, mereka mangsa kami.. lantas mengapa kami tak bisa memangsa kalian?”
Guntur paham, posisi sekarang mereka hanyalah makhluk yang berada di rantai makanan. Namun keadaan kuil pemujaan, mantra, dan kampung itu menunjukkan bahwa semua yang ada disana lebih dari itu.
Guntur tak ada pilihan lain selain melawan dan mencari celah untuk melarikan diri.
Tapi tanpa ia sadari, tiba-tiba sudah ada harimau-harimau hitam lain yang berdatangan dan mengelilingi mereka.
“Mas… Ina takut..”
Kali ini Guntur tak menjawab. Ia sendiri tak tahu cara untuk lolos dari keadaan itu. Ia melirik ke berbagai arah, mencari celah untuk melarikan diri, tapi harimau-harimau lain malah semakin berdatangan.
Grrrr!
Harimau hitam itu bersiap menerjang.
“Lepaskan kami. Akan kugantikan anak ini dengan hewan yang lebih besar..” Ucap Guntur.
“Kami tak pernah bernegoisasi dengan mangsa..”
Harimau hitam itu melompat menerkam Guntur. Ia berhasil menghindar, namun serangan berikutnya tak terelakkan. Cakar harimau itu kembali melukai tubuhnya.
“Mas Guntur!”
“Te—tenang Ina. Kita pasti bisa cari cara untuk selamat!”
Sayangnya tidak. Kampung itu sudah dipenuhi puluhan harimau yang siap memangsa mereka kapan saja. Gunturpun kesulitan menghadapi harimau itu sambil menggendong Ina.
Dan saat tak ada celah lagi bagi Guntur untuk menghindar, tiba-tiba satu tubuh harimau terlempar dari kejauhan.
Bruuuggghhh!
Seketika semua tatapan harimau-harimau itu mengarah pada sosok yang mendekat, sosok yang melempar tubuh harimau yang sekarat itu.
“Ki Loreng… dia muridku..” Suara Nyai Jambrong terdengar. Ia muncul bersama dua harimau hitam lain yang terus mengawasinya dari belakang.
“Nyai Jambrong?”
Seketika Sosok harimau yang menyerang Guntur berubah menjadi sosok manusia berkulit hitam pekat dengan belang dari bekas lukanya. Taringnya putih tajam, dan kalung dari kuku-kuku harimau menghiasi dadanya.
“Eyang!” Guntur bergegas berpindah, dan mendekat ke arah nyai jambrong.
Nyai Jambrong memeriksa Ina, darahnya sudah habis terlalu banyak. Matanya sayu dan suaranya tak lagi terdengar.
“Kau sudah kelewatan Ki Loreng,” ucap Nyai Jambrong.
Nyai Jambrong ingin segera menerjang Ki Loreng, tapi harimau-harimau lain menghadangnya. Nyai Jambrong dan Guntur saling berpunggungan bersiap menghadapi mereka semua.
“Tinggalkan anak perempuan itu, muridmu kubiarkan pergi,” ucap Nyai Jambrong.
“Eyang..” Guntur tak setuju.
“Kau tahu itu tidak mungkin, Ki Loreng,”
“Kau benar-benar sudah berubah, Jambrong. Dulu nyawa manusia tak berarti demi kesaktianmu..” Ucap Ki Loreng.
Guntur memandang mereka berdua, ia tak mengerti apa sebenarnya hubungan diantara mereka berdua.
“Kekuatan sejati bukan dari makhluk lain, Ki Loreng. Kalian mengorbankan segalanya. Kehidupan, wujud, dan segalanya demi kekuatan yang tak membawa kebaikan apapun,” ucap Nyai Jambrong.
“HAHAHA!! Kebaikan?! Seorang Nyai Jambrong bicara kebaikan?!”
“Kau pun pasti sadar, dengan segala pengorbananmu pun, kau tetap tak bisa mengalahkan muridku yang hanya bocah… dan manusia biasa…”
Mendengar perkataan itu Wajah Ki Loreng berubah. Ia termakan provokasi Nyai Jambrong
“Kau meremehkanku?”
“Memang pernah aku tidak meremehkanmu?” Balas Nyai Jambrog.
Seketika Ki Loreng berubah kembali menjadi wujud harimau. Ia mendekat.
“Suruh muridmu menghadapi aku! Jika dia menang, kalian bisa pergi!”
Guntur mengerti maksud Nyai Jambrong. Para harimau siluman ini memiliki harga diri. Mereka tak terima jika kekuatannya yang mereka dapatkan dengan membuang segalanya diremehkan.
“Tidak masalah buatmu kan, bocah?” Tanya Nyai Jambrong.
“Memangnya ada pilihan lain lagi, eyang?” Ucap Guntur sambil menurunkan Ina yang hampir kehilangan kesadaran diri lagi.
Blarrrr!!
Tiba-tiba suara api terdengar. Suara Guntur baru menyadari bahwa suara api yang ia dengar tadi berasal dari kuil dewa berwujud harimau itu.
KAMPUNG HARIMAU
"Mas Guntur! Tunggu!"
Suara nyaring seorang anak perempuan terdengar dari halaman SD Impres yang selalu dilewati Guntur setiap pulang sekolah.
Guntur menoleh dan tersenyum.
Itu Ina, murid kelas dua SD yang hampir setiap hari menunggunya hanya agar bisa pulang bersama.
"Iya, sini!" panggil Guntur sambil melambaikan tangan.
Dengan langkah kecil yang tergesa, Ina berlari menghampirinya. Tas sekolah yang hampir sebesar tubuhnya bergoyang-goyang di punggung. Wajah mungilnya tampak sumringah saat berhasil menyusul Guntur.
"Minggu depan Mas Guntur masuk pagi, kan?" tanya Ina polos.
"Iya. Kenapa?"
Berjalan di samping Guntur, senyum Ina perlahan memudar.
"Berarti Ina nggak bisa nungguin Mas Guntur lagi."
Guntur tersenyum kecil. Ia mengacak lembut rambut anak itu.
"Nggak usah nungguin, Ina. Mas sekarang sudah SMP, pulangnya selalu siang. Keburu ibumu panik kalau kamu belum pulang."
Wajah Ina langsung cemberut. Pipi chubby-nya mengembung.
"Tapi Ina maunya pulang bareng Mas Guntur."
Melihat ekspresi itu, hati Guntur menghangat.
"Nanti bulan depan, kalau jadwal Ina masuk siang lagi, kita pulang bareng lagi."
Mata Ina langsung berbinar.
"Janji ya, Mas?"
Guntur mengangguk sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
"Janji."
Ina segera menyambutnya dengan antusias.
Setelah jari mereka saling terkait, Guntur menatap Ina dengan lebih serius.
"Tapi kalau pulang sendiri, jangan pernah mau diajak orang yang nggak dikenal, ya."
Ina mengangguk patuh.
"Langsung pulang ke rumah."
"Iya!"
"Kalau ada yang bikin takut?"
Ina berpikir sejenak sebelum menjawab dengan mantap.
"Lari ke rumah Pak RT."
Guntur tersenyum lega.
"Pintar."
Ina tersenyum bangga karena berhasil menjawab dengan benar.
Lalu, tanpa ragu, gadis kecil itu menggenggam ujung lengan seragam Guntur sambil terus berjalan di sampingnya.
Bagi Ina, perjalanan pulang terasa lebih aman jika bersama Mas Guntur.
Dan bagi Guntur, menjaga Ina sudah seperti menjaga adiknya sendiri.
…
MANTARAYUDA
Part 4 - Kampung Harimau
Kemunculan harimau yang menghadang Guntur menuntunnya menuju sebuah kampung mati, tempat dimana sebuah tragedi pernah membinasakan banyak nyawa...
#bacahorror@bacahorror@ceritaht@IDN_Horor
“Tak ada kejayaan yang benar-benar abadi…”
Mbah Katih pun mendapatkan petunjuk akan sebuah tanah di kaki gunung, ditandai dengan pohon beringin dan mata air yang muncul dari akar-akarnya. Dan yang terpenting, tempat itu dilindungi oleh sosok gaib di empat penjuru.
Saat menceritakan tentang tempat itu, Warga desa terbagi. Ada yang yakin akan tempat itu, namun ada juga yang khawatir akan keberadaan sosok-sosok gaib di sana. Walau begitu, mereka tetap pergi ke tempat itu dan mendapati tempat itu adalah tempat yang sangat nyaman hingga mereka sepakat untuk menetap.
Desa Kalimutih pun kembali berdiri di kaki gunung itu.
Namun saat mereka merasa kehidupan mereka mulai terbangun, di hari ke seratus mereka kejadian aneh terjadi.
Ada sosok hitam yang berlari masuk ke desa, ia masuk ke salah satu rumah, menculik anak gadis di rumah itu, dan menyeretnya di tanah sambil berlari. Semua itu terjadi begitu cepat dan dengan tidak wajar.
Orang tua gadis itu berlari mengejar dan meminta pertolongan. Sontak warga keluar untuk mencari anak gadis itu, namun anehnya, ia tidak ditemukan.
Sampai pada pagi harinya, perempuan itu kembali. Ia kembali dalam wujud macan hitam berkepala manusia. Tubuhnya hitam, kepalanya adalah kepala sang gadis.
Warga kebingungan melihat sosok itu masuk perlahan ke desa.
”Kita sudah menyinggung raja mereka…” Hanya tangis yang terlihat di wajah gadis itu. “Kita tidak akan selamat…”
Wajah gadis itu terlihat putus asa. Ia tahu tak ada yang bisa menolong keadaanya saat itu. Dan kejadian itu pun hanya sesaat sampai gadis bertubuh macan hitam itu jatuh dan tergeletak. Mati dengan keadaan yang tak pernah ia bayangkan.
Seketika warga dipenuhi kepanikan. Mbah Katih mengambil kerisnya, mengikuti jejak gadis itu ke dalam hutan, mencari tahu tentang sosok apa yang telah mereka singgung.
Saat itulah, Mbah Katih sampai ke sisi hutan yang begitu indah. Namun kengerian terasa bersamaan seolah tempat itu adalah tempat yang dikuasai sosok mengerikan. Mbah Katih bertemu banyak sosok, mulai dari yang mengerikan, hingga yang cantik.
Beberapa mencaci, namun beberapa memberi petunjuk. Dan Mbah Katih pun mendapati kenyataan mengerikan bahwa keempat sosok gaib yang menjaga tempat itu sudah lama musnah, sosok raja para danyang yang singgah di sana menghabisi keempat sosok itu.
“Raja Para Danyang…” Wajah Mbah Katih seketika pucat, namun ia terus melangkah ketika sadar di belakangnya bergantung nyawa warga desa.
Dengan sisa nyalinya, Mbah Katih pun tiba di singgasana hutan. Tempat makhluk itu singgah. Mbah Katih bahkan tak mampu menengadah menatap sosok itu, ia hanya menunduk, dan berusaha mengumpulkan keberaniannya.
“Ka—kami tak ada niat untuk menyinggung…” Satu kalimat itu keluar dengan susah payah dari mulut Mbah Katih. Setelahnya ia terjatuh berlutut tak mampu menahan tekanan di tempat itu. Ia pun bersujud menunjukkan hormatnya pada sosok mengerikan itu.
Satu jam, satu malam, satu hari… entah berapa lama Mbah Katih bersujud di hadapan sosok itu. Ia tahu jika ia sembarang mengangkat wajahnya ia akan mati di tempat itu. Atau lebih parahnya, ia akan mati seperti anak gadis yang kembali ke desa.
Saat Mbah Katih berada di ujung nyawa, tiba-tiba penglihatan muncul di pikirannya. Ia melihat beberapa warga desa menebang kayu dari hutan keramat, membunuh peliharaan sang raja, menemukan emas gaib dari wilayah sang raja dan membawanya. Ia kini sadar akan amarah sosok mengerikan itu.
Mbah Katih yang mulai mengerti mencoba meredakan amarah sang raja. Ia menjanjikan mengembalikan semua yang diambil, ia menawarkan sesaji, namun semua itu tak berhasil.
Hari ketujuh Mbah Katih kembali, wajahnya pucat, tubuhnya kurus. Entah apa yang ia makan untuk bertahan hidup saat itu. Ia tak mempedulkan apapun dan segera menceritakan apa yang terjadi.
Mbah Katih segera memanggil warga desa yang bersalah. Ia tak punya pilihan selain menyerahkan warganya sendiri ke makhluk penguasa itu. Ia mengambil keputusan itu sendiri tanpa ingin membebani warga desanya.
Pemandangan mengerikan kembali terjadi setelahnya. Sama seperti gadis yang dibawa pergi dengan paksa oleh sosok aneh, Mereka kembali dengan tubuh yang menyatu dengan binatang, dan mati.
Mbah Katih sedih, namun itu pun bukan akhir. Satu-satunya cara agar seluruh warga selamat adalah sebuah perjanjian.
Warga desa tak boleh lagi mengganggu wilayah sang raja. Mereka harus menjaga tempat itu, menjaganya tetap tak tersentuh, dan menjadi bagian dari alam itu sendiri. Warga desa menjadi pengikut sang raja, dan menyembahnya.
Dan bagian terpenting adalah, setiap jasad dari warga desa dan keturunannya harus dimakamkan di tanah itu. Tak ada manusia yang hidup dari tanah itu yang boleh meninggalkannya baik dalam keadaan hidup, ataupun yang mati.
Sebagai gantinya, desa itu akan terlindungi dari bencana. Orang-orang yang berniat jahat takkan bisa menyentuh desa itu dan warganya, letusan gunung takkan menyentuh mereka. Air jernih, tanah yang subur selalu tersedia untuk mereka.
Mbah Katih menyadari bahwa semua itu adalah yang diharapkan warga desa. Ketenangan tanpa campur tangan pihak luar. Namun ia cukup merasa berat membiarkan warganya yang bersalah harus menerima ganjarannya.
Semenjak saat itu desa itu tumbuh pesat, menyatu dengan alam, berkembang bersama tradisinya. Bahkan ketika Sang Raja Para Danyang tak lagi berada di sana, tak lagi ada manusia yang mengancam desa mereka.
Ratusan warga yang tersisa tak menyalahkan Mbah Katih. Ia menyadari bahwa keputusan yang ia ambil adalah yang terbaik untuk desanya.
Tapi bagi Mbah Katih sendiri, ia sendiri ragu dengan keputusannya itu. Apalagi perjanjian itu mengikat Mbah Katih sebagai pengabdi sang raja danyang.
***
Meninggalkan makam leluhur, Meninggalkan sawah, hingga kenangan selama mereka hidup di tanah itu.
Namun setelah mendengar apa yang terjadi di desa-desa lain, tak ada lagi yang berani membantah.
Lebih baik kehilangan rumah daripada kehilangan seluruh keluarga.
Saat warga mulai berkemas, seorang anak perempuan menghampiri Mbah Katih.
“Mbah...”
“Ada apa, Nak?”
“Benarkah prajurit-prajurit itu sekejam itu?”
Mbah Katih berjongkok dan mengusap kepala anak itu.
“Bukankah mereka manusia juga seperti kita?” Tanya anak itu.
Sesaat Mbah Katih terdiam, kemudian ia tersenyum tipis.
“Manusia itu seperti wadah kosong, Nak.”
Anak itu mengerutkan dahi.
“Maksudnya?”
“Apa yang mengisi hidup mereka akan menentukan seperti apa mereka nanti. Ada yang mengisinya dengan kasih sayang. Ada yang mengisinya dengan keserakahan. Ada yang mengisinya dengan kebencian.”
”Cara mengisinya gimana?”
Mbah Katih mengajak anak perempuan itu menatap warga desa yang saling bantu untuk mengosongkan desa.
”Apa yang kau lihat, apa yang kau dengar, dan apa yang kau rasakan. Itulah yang menentukan apa yang mengisi dirimu..”
Anak kecil itu setengah bingung, namun ia sedikit mengerti bahwa tidak semua manusia hidup dengan kebahagiaan. Apa yang terjadi di tanah mereka berbijak, keputusan-keputusan yang dibuat, mungkin itu yang membuat para prajurit bisa berbuat sekejam itu.
Sebelum ayam berkokok desa sudah ditinggalkan. Bara api menyala, rumah-rumah yang dulu ditinggali kini berkobar hangus bersama kenangan yang terjadi selama ratusan tahun. Saat matahari semakin meninggi, rumah-rumah di desa itu sudah berubah menjadi arang, tak ada yang tersisa.
Dan benar saja, Prajurit-prajurit musuh sampai ketika matahari berada di puncaknya. Mereka mendapati tempat itu sudah hangus dan menganggap bahwa desa itu sudah lebih dulu dijarah oleh prajurit lainnya. Mereka pun meninggalkan desa itu tanpa curiga.
Sementara itu Mbah Katih melakukan perjalanan, menyusuri sungai, menghindari daerah yang mencolok, hingga mereka tiba di pemberhentian.
Sebuah hutan dengan aliran sungai yang jernih. Mbah Katih menggunakan tempat bermukim sementara itu untuk bertapa, mencari petunjuk untuk menemukan tempat tinggal baru untuk mereka.
Sebelumnya Mbah Katih sudah berunding bersama warga bahwa mereka tidak lagi ingin tinggal dibawah kepemimpinan kerajaan apapun, mereka ingin tinggal sebagai desa yang mandiri, dan menghidupi kebutuhannya sendiri.
MANTARAYUDA
Part 2 - Hidup dan Mati
“Ternyata sejak perjanjian Mbah Katih, tak ada satupun dari leluhur kami yang benar-benar mati.
Jasadnya memang terkubur di dalam tanah, namun jiwanya masih mendiami tanah itu…”
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht#bacahorror