kehilangan spark itu aneh, kamu masih jadi diri kamu, tapi rasanya udah ga sehidup dulu. losing your spark slowly is scarier than being sad all at once.
In another life gw mau jd cowo teknik sipil yg selalu ngabarin, makan, duduk di jok mau otw, mau mandi, tidur pun liveloc biar cewenya prcaya, pas lg facecall sharescreen semunya sampe ke wa biar cewenya percaya she's the only one, pas cewenya marah bilang 'marah kenapa sih ntik'
Minimal banget lagu solo. Album terakhir yang aku ikutin tsv cuma ada remix member bukan yang bener bener lagu. Managment belift untuk enha harus diperbaikin sih.
Dan mungkin kalau enha lebih 'bebas' nggak akan ada kejadian 10 maret, member udah punya lagu solo dan ig pribadi
Setelah baca ini pun aku malah tambah menyalahkan agensi. Why? Menurutku enhypen overworked karena ada tour. Ibaratnya grup lain tour setahun sekali mereka setahun 3 kali. Aku rasa di umur enha yang udah mau 7 tahun ini harusnya mereka paling nggak punya instagram pribadi --
Aku bantu translate ke bahasa indonesia ya teman-teman, supaya kita para wni bisa membacanya dengan baik dan benar. Supaya ini jadi pencerahan juga untuk kita semua agar pikirannya lebih terbuka.
—
Setelah nonton dokumenter Evan, baca ulang semua official statement, dan sempat baca juga soal organizational research (nemu ini secara nggak sengaja), aku rasa akhirnya aku mulai ngerti kenapa dia ambil keputusan itu.
Yang paling kerasa buat aku itu… dia bukan seseorang yang udah kehilangan rasa cinta ke musik atau ke ENHYPEN. Tapi lebih ke seseorang yang kelihatan bener-bener burnout. Kayak orang yang udah lama banget nyimpen ide, lagu, dan mimpi, tapi nggak pernah punya waktu atau kebebasan buat ngejalanin semuanya sepenuhnya.
Dia sendiri udah sering banget ngomong kalau dia pengen rilis musiknya sendiri, bahkan member lain juga ikut hype itu. Tapi rencana itu terus ketunda, sementara jadwal grup makin padat. Buat aku, ini nggak pernah keliatan kayak dia berhenti cinta sama ENHYPEN. Tapi lebih ke dia pelan-pelan kehilangan kesempatan buat berkembang jadi artis yang juga dia pengen.
Setelah coba lihat dari berbagai sisi, jujur aku ngerasa mimpinya dari awal bukan buat “pergi”. Dari yang dia dan pihak agensi sampaikan, kelihatannya dia sebenernya pengen dua-duanya—tetap jadi member ENHYPEN sambil pelan-pelan bangun kariernya sendiri. Dan itu bukan hal yang mustahil, karena banyak idol lain juga bisa jalanin dua-duanya.
Tapi justru karena mereka makin sukses, hal itu malah jadi makin susah. Jadwal grup yang nggak ada hentinya—tour, comeback, promosi, konten, brand deal, dan banyak hal lainnya—bikin ruang buat hal di luar grup jadi makin sempit. Semakin besar grupnya, semakin kecil juga ruang buat hal lain.
Aku juga sempat baca research dari Westover (2025) dan Grote (2020) yang ngebahas kenapa orang kadang keluar dari tim yang sebenarnya sangat sukses. Menariknya, alasannya sering bukan karena mereka nggak bahagia, nggak loyal, atau udah nggak percaya sama timnya. Tapi karena sistem yang bikin tim itu sukses justru jadi terlalu kaku.
Pas sebuah tim udah ada di puncak, fokusnya biasanya berubah jadi menjaga apa yang udah berhasil—jadwal yang fix, rutinitas yang udah terbukti, dan memastikan semuanya tetap jalan bareng. Tapi tanpa sadar, struktur itu malah nutup ruang buat berkembang, berkreasi, atau ngejar tujuan pribadi di luar jalur yang sudah ditentukan itu.
Aku bantu translate ke bahasa indonesia ya teman-teman, supaya kita para wni bisa membacanya dengan baik dan benar. Supaya ini jadi pencerahan juga untuk kita semua agar pikirannya lebih terbuka.
—
Setelah nonton dokumenter Evan, baca ulang semua official statement, dan sempat baca juga soal organizational research (nemu ini secara nggak sengaja), aku rasa akhirnya aku mulai ngerti kenapa dia ambil keputusan itu.
Yang paling kerasa buat aku itu… dia bukan seseorang yang udah kehilangan rasa cinta ke musik atau ke ENHYPEN. Tapi lebih ke seseorang yang kelihatan bener-bener burnout. Kayak orang yang udah lama banget nyimpen ide, lagu, dan mimpi, tapi nggak pernah punya waktu atau kebebasan buat ngejalanin semuanya sepenuhnya.
Dia sendiri udah sering banget ngomong kalau dia pengen rilis musiknya sendiri, bahkan member lain juga ikut hype itu. Tapi rencana itu terus ketunda, sementara jadwal grup makin padat. Buat aku, ini nggak pernah keliatan kayak dia berhenti cinta sama ENHYPEN. Tapi lebih ke dia pelan-pelan kehilangan kesempatan buat berkembang jadi artis yang juga dia pengen.
Setelah coba lihat dari berbagai sisi, jujur aku ngerasa mimpinya dari awal bukan buat “pergi”. Dari yang dia dan pihak agensi sampaikan, kelihatannya dia sebenernya pengen dua-duanya—tetap jadi member ENHYPEN sambil pelan-pelan bangun kariernya sendiri. Dan itu bukan hal yang mustahil, karena banyak idol lain juga bisa jalanin dua-duanya.
Tapi justru karena mereka makin sukses, hal itu malah jadi makin susah. Jadwal grup yang nggak ada hentinya—tour, comeback, promosi, konten, brand deal, dan banyak hal lainnya—bikin ruang buat hal di luar grup jadi makin sempit. Semakin besar grupnya, semakin kecil juga ruang buat hal lain.
Aku juga sempat baca research dari Westover (2025) dan Grote (2020) yang ngebahas kenapa orang kadang keluar dari tim yang sebenarnya sangat sukses. Menariknya, alasannya sering bukan karena mereka nggak bahagia, nggak loyal, atau udah nggak percaya sama timnya. Tapi karena sistem yang bikin tim itu sukses justru jadi terlalu kaku.
Pas sebuah tim udah ada di puncak, fokusnya biasanya berubah jadi menjaga apa yang udah berhasil—jadwal yang fix, rutinitas yang udah terbukti, dan memastikan semuanya tetap jalan bareng. Tapi tanpa sadar, struktur itu malah nutup ruang buat berkembang, berkreasi, atau ngejar tujuan pribadi di luar jalur yang sudah ditentukan itu.