“Dari udara hingga darat, seluruh kekuatan terus bergerak.”
Begitu kata Seskab Teddy soal penanganan karhutla.
64 pesawat.
54.394 personel.
Sementara sejak Januari, 895.657 hektare lahan sudah terbakar. Lebih dari 13 kali luas Jakarta.
Sejak Agustus, lebih dari 175 ribu orang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan.
Orangutan ikut terdampak. Asap lintas negara.
Dan sekarang media internasional ikut memberitakannya.
Jadi penasaran, yang bergerak cepat itu pemerintahnya atau apinya?
Untuk warga X kami dari org Kalimantan minta tolong di up di setiap pemberitaan yg kami posting karna itulah yg terjadi sekarang ini.
KAMI CAPEKKKK kasian petugas pemadam sampai bbrp org yg meninggal 😭🏳️
Saya ditipu o/Pak @jokowi dgn telak. @AksiKamisan di Jakarta dipakai u/kampanye pemilu 2014 di televisi.
Janji menyelesaikan tragedi Semanggi I, Semanggi II, Trisakti dan menghapus impunitas, tdk terbukti.
@dipanggilwawan korban Semanggi I -13 November 1998
Mohon bantuannya @menuembegejelek
Saat ini, ada pihak SPPG yang mengancam dan mengintimidasi sebuah sekolah di kampung saya, bahkan mengancam akan membawa tim hukum. Hal ini dipicu oleh keputusan sekolah yang menolak pasokan MBG (Makan Bergizi Gratis) dari dapur mereka.
Penolakan dari pihak sekolah tentu sangat beralasan. Sebelumnya sudah sering terjadi insiden kelayakan makanan, seperti makanan basi dan buah busuk. Puncaknya, baru-baru ini ditemukan sebuah kapsul "obat" di dalam salah satu porsi MBG siswa.
Pihak sekolah sebenarnya beritikad baik dengan menyarankan pelibatan Kepolisian dan BPOM untuk menguji kandungan kapsul tersebut dan menyelidiki kasusnya secara transparan. Namun, pihak SPPG menolak.
Lebih fatalnya lagi, ketika pihak dapur dikonfirmasi, mereka bukan hanya menyangkal, tetapi juga melakukan tindakan yang sangat berbahaya. Mereka menjemput anak SD yang menemukan kapsul tersebut untuk diinterogasi secara sepihak, tanpa pendampingan dari pihak sekolah maupun orang tuanya. Ini adalah pelanggaran serius.
Sampai detik ini, pihak SPPG tidak menyegerakan penyelidikan internal mereka karena takut kasus ini viral. Tanpa ada iktikad menyelesaikan akar masalah, mereka justru menekan pihak sekolah untuk kembali menerima pasokan MBG mereka. Jika menolak, sekolah diancam akan dihadapkan dengan tim hukum dan dipaksa menandatangani surat pernyataan.
Saya akan terus memantau situasi ini. Jika pihak SPPG berulah lebih jauh, saya mohon bantuan teman-teman semua untuk memviralkan kasus ini. Kita harus bersuara dan mengawal isu ini agar pihak sekolah tidak menjadi korban intimidasi dan keselamatan anak-anak tetap menjadi prioritas.