Pertama, kita bahas aturannya dulu ya biar engga dikira asal kritik, apalagi dikira mau ‘menghina’.
Permenkes No. 1096 Tahun 2011: Di sini jelas banget, penyelenggara jasa boga itu WAJIB punya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. Pertanyaannya, dapur-dapur MBG ini udah diaudit belum? Punya sertifikatnya engga?
Kalau memang sudah punya, kok bisa pekerjanya engga paham kalau yang mereka lakukan itu salah dan melanggar aturan? Sertifikat itu bukan cuma pajangan kertas di dinding, tapi bukti kalau dapurnya sudah memenuhi standar keamanan pangan, termasuk perilaku pekerjanya, karena pasti udah melewati audit dan penyuluhan.
Pasal 17 (Aturan Pekerja): Pekerja itu harus sehat, pakai baju kerja yang bersih, dan DILARANG melakukan kebiasaan engga higienis, termasuk engga pakai baju lengkap. Jadi, aksi bertelanjang dada pas lagi nyuci itu pelanggaran ya, teman-teman. Kamu lagi kerja di dapur publik, bukan lagi jadi Larry si Lobster di Pantai Goo Lagoon.
Kepmenkes No. 942 Tahun 2003: Aturan ini saklek banget soal cara nyuci dan simpan makanan demi mencegah KERACUNAN MASSAL (no wonder it happened).
Sebenernya yg bikin sedihnya lg: kenapa ya saat defending case KS, kita seringkali perlu bawa narasi “bayangin kl itu terjadi ke ibu/kakak/adik/pasangan kalian” dulu cuma utk nyadarin hati nurani laki-laki about how fucked up sexual violence is.. Why isnt basic humanity enough :(
Kusebut sebagai muhasabah. Buat bersyukur dan merenung. Tiap trip harus ada free time buat momen kaya gini.
Otak ga auto pilot karena berada di tempat asing dan yg ga kita hafal. Waktu jadi lebih pelan dan lebih terbuka pikiran. Bener bener live the moment.