“nama pemain jumlahnya ratusan kamu hafal, giliran aku cerita sesuatu kamu lupa”
i pray that all of you sweet, thoughtful women never have to know and be with a man like this :/
Udah sampe separah ini kok para pemuka agama yg katanya “besar” itu kok pada diem aja ya?? Dulu ayat keplintir dikit aja demo besar besaran.
Sekarang pada dapet tempat ternyaman kah?
@tempodotco Jangan jahat2 sama orang miskin. Mereka gak maling duit rakyat, gak nebang pohon di hutan, gak ngerusak alam dgn nambang, bukan mrk yg bikin banjir. Mereka cuma mau cari makan dan hidup aman yg gak bisa kalian jamin sebagai pejabat.
"Kok kamu memuji-muji kebijakan militer China terus, kamu buzzer China ya?"
Kebalik. Tweet-tweet ini hanyalah suatu ungkapan kepanikan.
China sedang bersiap perang. Produksi alusista sangat melimpah. Reformasi ketentaraan sangat dikejar.
Indonesia malah santai-santai.
Bahkan dari segi pengondisian politik domestik, China jauh lebih unggul dari kita.
Pemerintah China mendengarkan dan melayani rakyatnya, lewat layanan seperti hotline 12345. Kalau HP jatuh di bus, akan dicarikan.
Akibatnya, secara umum rakyat China percaya pada polisi, percaya pada tentara, percaya pada pemda, percaya pada pempus, percaya pada Partai.
Secara umum, rakyat China percaya pada rezim, karena rezim mengayomi mereka. Apabila pecah perang, 1.4 miliar rakyat China akan berbondong-bondong ikut rezim.
Kalau pecah perang di Indonesia seperti Belgia yang terjebak di tengah Perang Dunia I padahal tidak mau ikut, apakah rakyat Indonesia akan berbondong-bondong ikut pemerintah?
Kalau pecah konflik di laut Sumatera, apakah rakyat Sumatera akan percaya pada kompetensi dan kepedulian pemerintah Indonesia untuk melindungi mereka?
Pembukaan UUD 1945 menugaskan pemerintah untuk melindungi segenap tumpah darah Indonesia.
Apakah pemerintah sanggup memenuhi tugas mulia itu, dan bukannya malah bengong dan dilindas seperti Irak dan Venezuela?
---
"Daripada perang, kenapa kita tidak fokus ke strategi diplomasi yang cerdas saja? Toh kemerdekaan Indonesia dicapai lewat diplomasi."
Ini memerlukan Kemenlu yang cerdas dan penuh inisiatif kreatif. Minimal setara Agus Salim dan gengnya saat kemerdekaan.
Bagaimana kinerja Menlu hari ini?