Prabowo: "Kenyataan bahwa setelah 7 tahun tumbuh 5% masa penduduk miskin tambah. Negara tambah kaya, rakyat miskin tambah. Ini kan sesuatu yang aneh yang anomali.
Yang kelas menengah yang sudah tadinya lepas dari kemiskinan, turun, Saudara-saudara"
If you're an Arsenal fan and never got the chance to watch Arsenal's trophy lift, you can relive all 44 minutes of Arsenal's title winning celebrations here 😍
🚨 NEW : Klasemen akhir Premier League musim 2025/26, jika keputusan wasit ataupun VAR benar.
Berdasarkan penilaian KMI Panel, KMI Panel adalah badan independen yang terdiri dari mantan pemain, wasit dan perwakilan PGMOL yang dibentuk oleh Premier League sejak musim 2022/23.
Tugas utamanya adalah memberikan penilaian independen dan objektif apakah keputusan penting wasit di lapangan dan VAR apakah sudah benar atau salah.
📸 @TheAthleticFC
Arsenal di Premier League musim ini:
🥇 Poin terbanyak (85)
🥇 Kemenangan terbanyak (26)
🥇 Selisih gol terbanyak (+44)
🥇 Clean sheet terbanyak (19)
🥇 Clean sheet terbanyak berturut-turut (4)
🥇 Gol dari set-piece terbanyak (23)
🥇 Gol dari sundulan terbanyak (16)
🥇 Penghargaan WhoScored MOTM terbanyak (29)
🥇 Kekalahan tersedikit (5)
🥇 Gol kebobolan tersedikit (27)
🥇 Tembakan kebobolan per pertandingan tersedikit (8.2)
🥇 Kartu kuning tersedikit (51) dan kartu merah (0)
Juara 🔴⚪️🏆
Stat by @WhoScored
#AFC
🚨Jürgen Klopp on Mikel Arteta winning the league with 82 points while he didn’t with much higher totals:
🗣️ “Football can be funny sometimes, eh? I remember seasons where we finished with points that normally win you the league very comfortably and then you look across and see another team with even more. That was our reality.
But this is football. You cannot say, ‘Ah, I had more points, so I deserve this one instead.’ Every season has a different story, different opponents, different pressure.
If Arteta wins it with 82 points, nobody will remember the number in 10 years. They will only remember that he won the Premier League.
And trust me as a manager, medals feel much better than calculations.”
#VARSENAL
#PGMOLTROPHY
🚨🏆 𝗡𝗘𝗪: From everyone laughing at him… to CONQUERING England:
• Mikel Arteta joined Arsenal in the 2019/20 season. Arsenal were going through one of the darkest periods in the club’s modern history: no UCL football, no major success, and years of instability
• Arteta took over a broken Arsenal and started rebuilding everything in his own way, step by step
• He won the FA Cup in his first season and it looked like bigger things were coming, but Arsenal then went more than 5 YEARS without winning a major title
• Fans were losing patience. Rival fans mocked Arsenal constantly. They came close so many times, finishing 2nd again and again
• This season, Arsenal dominated the Premier League. At one point, it looked like they would bottle it once more and finish 2nd again… but not this time. This time Arteta DID IT
• Arsenal have now won the Premier League for the first time since 2004 and made history
And in just a few days, they will play a Champions League final. 🏴✨
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
Guys, kasus korupsi Chromebook ini menyimpan satu detail yang menurut gua adalah salah satu hal paling menggelisahkan yang bisa terjadi dalam sistem hukum sebuah negara.
Ibrahim Arief mantan konsultan teknologi Kemendikbudristek dituntut 15 tahun penjara.
Bukan 6 tahun.
Bukan 8 tahun.
Lima belas tahun.
Sementara dua direktur kementerian yang secara eksplisit mengakui menerima aliran uang hasil korupsi Sri Wahyuningsih dan Mulyatsyah masing-masing hanya dituntut 6 tahun.
Berhenti sebentar dan pahami itu.
Orang yang mengakui terima uang korupsi dituntut 6 tahun.
Orang yang tidak mengakui menerima apapun dan mempertahankan bahwa dirinya tidak korupsi dituntut 15 tahun.
Selisihnya 9 tahun.
Dan ini bukan kebetulan angka.
Ini adalah sinyal yang sangat jelas tentang bagaimana sistem ini bekerja.
Mulyatsyah sendiri didakwa menerima 120.000 dolar Singapura dan 150.000 dolar Amerika Serikat dan sebagian uang itu dibagikan ke beberapa pejabat kementerian lain.
Dia terima uang,
dia akui
dia tuntutannya 6 tahun.
Ibam?
Uang pengganti Rp16,9 miliar yang dituntutkan kepada dia pun dia bantah ada kaitannya dengan pengadaan Chromebook.
Dia bilang itu semua uangnya sendiri dari pekerjaan lamanya di Bukalapak bukan dari korupsi.
Tidak ada kaitan dengan Kemendikbud, tidak ada kaitan dengan Nadiem, tidak ada kaitan dengan Chromebook.
Dan di luar soal tuntutan ada pengakuan lain yang jauh lebih mengejutkan yang Ibam sampaikan sehari sebelumnya di konferensi pers.
Dia mengaku sebelum ditetapkan sebagai tersangka, ada seseorang yang menghubunginya melalui penghubung dengan pesan yang sangat jelas buat pernyataan yang mengarah ke atas.
Kalau tidak bisa, perkara ini akan diperluas.
Ibam menolak.
Alasannya sederhana dan sangat manusiawi kalau dia mengarang pernyataan yang tidak ada faktanya,
itu dosa yang harus dia tanggung di akhirat.
Dia tidak mau.
Jawaban dari pihak yang mengirim pesan itu?
Sangat pendek dan sangat dingin.
Oke, akan kami proses.
Tiga minggu kemudian Ibrahim Arief resmi jadi tersangka.
Dan sekarang dia dituntut 15 tahun.
Coba gua tanya satu pertanyaan sederhana.
Kalau seseorang dituntut jauh lebih berat dari orang yang mengakui terima uang korupsi apa logika hukumnya?
Biasanya dalam sistem hukum yang berfungsi, orang yang kooperatif dan mengakui mendapat keringanan. Orang yang tidak kooperatif mendapat hukuman lebih berat.
Tapi yang kooperatif dalam konteks ini bukan kooperatif dalam arti mengaku bersalah melainkan kooperatif dalam arti menunjuk orang lain ke atas.
Dan Ibam menolak menunjuk siapapun karena katanya memang tidak ada fakta yang mengarah ke sana.
Hasilnya? Tuntutan 15 tahun.
Di sisi lain kita tahu bahwa audit BPKP terhadap harga Chromebook tidak menemukan masalah.
Yang menjadi catatan adalah distribusinya, bukan harganya.
Ini artinya tuduhan kerugian negara Rp2,1 triliun itu sendiri masih sangat bisa diperdebatkan tapi tuntutan sudah keluar dengan angka yang sangat besar.
Ibam sendiri bilang dia menolak tawaran gaji berkali lipat untuk bekerja di Kemendikbud karena ingin membantu negara.
SPT pajak-nya dibongkar di muka umum.
Gajinya dibongkar.
Dan ternyata semuanya menunjukkan dia hidup sederhana dan bersih.
Tapi tetap dituntut 15 tahun.
Sementara di sisi lain kita melihat apa yang terjadi di tempat lain.
Kepala BGN santai bicara soal semir sepatu Rp1,25 miliar dan motor listrik Rp1,2 triliun untuk program makan siang anak-anak.
Proyek IT Rp1,2 triliun yang klarifikasinya hanya berupa narasi tanpa data yang bisa diverifikasi publik. Pejabat-pejabat yang terang-terangan melakukan hal di luar protokol tanpa ada yang menjadi tersangka.
Tapi seorang konsultan yang menolak berbohong dan menolak menunjuk orang yang menurutnya tidak bersalah dituntut 15 tahun.
Gua tidak sedang bilang Ibam pasti tidak bersalah. Proses hukum harus tetap dihormati dan pengadilan yang menentukan.
Tapi ada dua hal yang sangat perlu dijawab secara terbuka oleh pihak kejaksaan.
Pertama — apa justifikasi hukum yang membuat seorang konsultan yang tidak mengakui menerima uang apapun dituntut lebih berat dari direktur kementerian yang mengakui menerima ratusan ribu dolar?
Kedua — apakah ada penyelidikan terhadap pengakuan Ibam bahwa dia diancam dan diminta membuat pernyataan yang mengarah ke atas sebelum dijadikan tersangka?
Karena kalau dua pertanyaan itu tidak dijawab dengan serius dan transparan maka apa yang kita saksikan bukan penegakan hukum.
Itu adalah pelajaran yang sangat mahal tentang apa yang terjadi kepada orang yang memilih jujur di negara ini.
Dan Pancasila sila kelima yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
mungkin untuk tidak semua rakyat
hanya rakyat yang terpilih
kan kita tidak tau siapa yang memilih itu