“tolong do’ain aku ya” is my biggest cry for help. sebagai orang yang susah banget minta tolong dan lebih sering usahain sendiri dulu, ini tuh udah level tertinggi rasa takut. udah ngerasa ga sanggup dan ga mampu kalau harus sendiri. jadi nyari bantuan lewat doa dari orang lain.
ga semua konflik itu masalahnya di komunikasi. kadang masalahnya di kapasitas intelektual dan emosional. mau sebanyak dan sejelas apa kita menjelaskan, kalo kemampuan berpikir dan kematangan emosinya ga setara, dia tidak akan mengerti dan memahami substansi masalahnya apa. makanya terkadang ngejelasin hal kompleks ke orang yang belum mature emosinya cuma buang buang energi.
Dulu, sebelum nikah, aku punya pacar. Kami putus baik-baik.
Nggak ada orang ketiga. Nggak ada drama. Dia cuma bilang satu kalimat.
"Kita orang yang tepat, tapi waktunya belum."
Aku angguk. Aku percaya. Aku pulang dengan dada sesak.
Bertahun-tahun aku bawa kalimat itu. Setiap ada yang nanya kenapa putus,
aku ulang kalimat yang sama. "Kita tepat, cuma waktunya belum."
Kedengarannya dewasa. Kedengarannya damai.
Kayak kami korban takdir, bukan pelaku pilihan. Tapi makin ke sini, kalimat itu makin aneh.
Karena kalau aku perhatiin, "waktu yang belum" itu nggak pernah datang pas dia lagi sendiri.
Dia muncul pas ada hal lain yang lebih dia perjuangkan. Karier. Keluarga. Kebebasan.
Dan aku, nomor sekian. Aku nggak mau percaya itu.
Tapi lambat laun, aku mulai sadar.
Aku lihat dia 3 tahun kemudian. Dari foto teman.
Dia nikah. Bahagia.
Aku lihat tanggalnya. Setahun setelah kami putus.
Aku mikir, "Waktunya belum? Tapi setahun kemudian waktunya pas?" Aku nggak bisa jawab.
Dadaku sesak lagi. Tapi kali ini beda.
Aku nggak bilang dia salah milih. Semua orang berhak milih hidupnya.
Tapi aku baru paham. "Right person, wrong time" itu bukan penjelasan.
Itu pembungkus. Biar keputusan ninggalin seseorang kedengarannya kayak takdir.
Bukan pilihan.
Dan itu yang paling nyakitin.
Malam itu aku cerita ke istriku. Bukan karena aku masih sayang sama mantan.
Tapi karena aku baru paham. Aku bilang, "Dulu aku percaya banget sama kalimat itu."
Istriku diem. Lalu dia jawab. "Kalau kamu masih percaya sampai sekarang, kita nggak akan pernah nikah, Mas."
Aku kaget.
Istriku lanjut.
"Dulu kita pacaran, kamu nggak punya uang. Aku nggak punya uang. Waktu itu susah." "Tapi kita nggak pernah bilang 'waktunya belum.'" "Kita bilang 'kita cari jalan.'" "Dan kita jalan sampai sekarang."
Aku nelen ludah. Dia bener.
Aku baru sadar. Orang yang beneran nganggap kita tepat,
nggak nunggu waktu yang benar. Dia bikin waktunya.
Dia nggak nyari musim.
Dia nyari cara. Dan kalau dia pergi sambil bilang "waktunya belum,"
sebenarnya dia lagi bilang, "aku milih yang lain."
Sekarang aku udah nikah.
Punya anak. Dan aku bersyukur istriku bukan tipe yang nunggu waktu.
Karena kalau dia nunggu waktu yang pas, kami nggak akan pernah mulai.
Kami akan terus nunggu. Dan nunggu itu nggak pernah berakhir.
Coba jujur di komentar. Pernah nggak kamu dikasih alasan "waktunya belum"?
Atau kamu sendiri yang ngasih alasan itu ke orang lain? Sekarang setelah baca ini,
apa kamu masih percaya? Atau kamu mulai sadar kalau itu cuma pembungkus?
Menurut kalian, “right person, wrong time” itu beneran ada, atau cuma cara halus untuk bilang bahwa seseorang memang nggak memilih kita?
Asbun kui jawane toni (waton muni)
Conto asbune wong jowo:
Mbahmu kiper.
Lambe nek adoh seko silit.
Wong kok kurang sak ons.
Wes jarno wae, penting ra mangan gapuro.
Nek sekirane masalahmu abot, rasah ditimbang.
Opo meneh lur?
Istri saya sering banget kalau udah kecapekan ngeluh,
"Loh, kok tiba-tiba ada memar lagi ya?"
Padahal habis jatuh enggak.
Kebentur juga enggak.
Apalagi saya KDRT. 😭
Akhirnya kami konsulkan ke dokter.
Jawabannya ternyata menarik untuk disimak sampai habis. 🧵
ya Allah, jika ada hati seseorang yang terluka atas perlakuanku, hingga menghambat doa-doa yang setiap hari ku langitkan, tolong sembuhkan rasa sakitnya, beri balasan kebaikan untuknya berkali-kali lipat, kemudian ampunilah aku.
Airmata bisa jadi salah satu bentuk paling jujur yang keluar dari tubuh manusia tapi bisa jadi juga salah satu bentuk paling jahat yang dikeluarkan manusia.
Dia wanita dengan segudang cerita, dia wanita random yang dikit-dikit ngadu, dia wanita dengan 20.000 kata perhari, tapi sayangnya dia ga punya someone to talk. Padahal dia pengen kayak, "aku punya banyak cerita loh hari ini, aku mau cerita".
@worksfess Dateng kepagian dan ga pernah telat gaada reward, dan pulang lebih akhir dari yg lain alias lembur gaada uang lembur. Welcome to the wqwq land✨😭