Sahabat gw HRD di perusahaan multinasional. Udah 8 tahun bolak-balik rekrutmen, pegang ribuan CV lulusan S1 tiap tahun.
Gw iseng nanya: “Kandidat lo yang paling bikin merinding itu yang kayak gimana?”
Dia nggak jawab “yang gaji terlalu tinggi” atau “yang skill-nya kurang”.
Dia malah bilang:
Ditengah situasi Indonesia yg merana,
IHSG hancur parah,
Rupiah tembus 18000/usd,
MBG yang dia banggakan dikorupsi,
Yang dia instruksikan...
Potong Ayam.
Jadi 14 bagian.
DI podcast Bang Radit, bareng dr. Tirta, dr. Ikhsan yang tayang tadi malam.
Di bagian akhir, dr. Ikhsan yang katanya kurang ngikutin bola bertanya ke saya dan dr. Tirta:
“Kenapa sih bisa jadi fans Manchester United dan Liverpool?”
Malamnya saya mikir lagi.
Iya juga ya. Kenapa saya bisa jatuh cinta sama Manchester United?
Ternyata yang membuat saya melekat dengan MU itu karena ada nilai hidup yang sama.
Nilai pantang menyerah.
Sampai ada istilah Fergie Time.
Jangan berhenti nonton MU sebelum pertandingan selesai. Karena berkali-kali, sejarah membuktikan, MU bisa bangkit di menit-menit akhir.
Justru masa perpanjangan waktu sering jadi momen paling menegangkan, paling hidup, dan paling layak ditunggu.
Dan mungkin itu yang paling relate.
Bahwa selama peluit akhir belum dibunyikan, selama napas masih diberikan, selama Allah masih memberi waktu, kita masih punya kesempatan untuk bangkit.
Tetap jalan. Tetap berjuang. Tetap percaya.
Sampai peluit terakhir hidup kita berbunyi, dan kita pulang kepada-Nya dalam keadaan sudah memberikan yang terbaik.
Halo.
Saya sering memakai kereta api untuk perjalanan rutin Semarang-Jakarta, dan sebaliknya. Di kereta, saya sering mendapati contoh seperti ini.
Dan salat seperti ini: tidak sah (jika yang dikerjakan adalah salat fardu).
Pertama, semangat shalatnya patut diapresiasi. Tapi harus diketahui bahwa salat itu ada fikihnya, dan contoh di bawah ini bisa jadi melewatkannya.
Berdiri (qiyam) adalah rukun salat fardu. Kecuali si Mas salat sunnah, maka tidak perlu berdiri (meski bukan di kereta, salat sunnah dengan duduk diperbolehkan).
Maka berdiri, meskipun sedang di kendaraan apapun (termasuk kereta), masih menjadi wajib bagi orang salat. Fikih menjelaskan: jika kalian mampu berdiri, ya wajib berdiri.
Ada pengecualian, tapi sempit:
1. Kalau kendaraannya terlalu bergoyan sehingga berdiri benar-benar membahayakan kalian,
2. Tidak ada ruang sama sekali untuk berdiri, atau
3. Khawatir waktu salatnya habis sementara turun tidak mungkin.
Sebagai pengguna setia KAI, saya cukup tahu betul umumnya sudah ada musala yang bersih di gerbong dekat restoran.
Kalau ada musala, dan fisiknya si Mas mampu berdiri, maka salat di kursi penumpang seperti ini: belum sah menurut kebanyakan ulama (jumhur).
Sekali lagi, niat si Mas sudah benar, dan harus diapresiasi.
Tinggal mengubah caranya saja.
🙏
@hiliricaci@cxlxrx31 Tapi, ibu2 kalo dikasih ip nanti bakal sering servis batre gak ya? Khawatir sering ditinggal waktu ngecas, atau suka nonton yt sampe lowbat.
Sebenernya banyak, tapi yg paling inget waktu umroh kemarin pingin bgt megang ka’bah, mbatin ‘ya Allah pingin nyium ka’bah tp jangan sampe nyakitin orang lain’ -bom- tiba2 jalan depan mata kosong kayak jamaah membelah jd dua, akhirnya lari ke ka’bah, padahal area ka’bah rame bgt
apa bukti Maha Baiknya Allah ke dalam hidup kalian?
me first : pernah lagi di jalan naik motor, trus langit gelap dan gerimis.
otomatis doa komat kamit “yaAllah tolong yaAllah, jangan hujan dulu sampai hamba tiba di rumah”
LANGSUNG BERHENTI HUJANNYA😭🤍