Salam hormat untuk Pak @prastow
Gila, gila, di Threads banyak banget yang berusaha mendelegitimasi "Pesta Babi" dengan narasi Soros-Soros, antek-antek asing.
Guys, ada nama yang menurut gue perlu dibahas lebih serius dari yang selama ini dibahas media.
Letkol Teddy Indra Wijaya.
Sekretaris Kabinet.
Bukan menteri.
Bukan jenderal bintang empat.
Tapi dalam konteks kebebasan pers dan kontrol informasi di pemerintahan Prabowo dia adalah satu nama yang paling banyak disebut oleh para jurnalis yang berbicara di balik anonimitas.
Apa yang terjadi di bencana Sumatra
dan di mana Teddy masuk:
Akhir November 2025.
Banjir dan longsor menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
BMKG sudah memberikan peringatan
delapan hari sebelumnya.
Tidak ada rapat darurat.
Tidak ada langkah antisipasi dari pemerintah pusat.
Saat bencana meluas Prabowo tetap menjalani agenda seperti biasa.
Rapat soal koperasi.
Ketemu Menteri Kelautan.
Menerima Ratu Belanda.
Baru di tanggal 27 November setelah 72 orang meninggal dan 54 orang hilang rapat penanganan bencana digelar.
Dan per Januari 2026, korban tercatat 1.199 orang meninggal dan 114 orang hilang.
Di tengah semua itu ada wartawan bernama Rina yang dikirim liputan ke Aceh.
Lebih dari tiga minggu di lapangan.
Dia melihat beras menumpuk di posko tapi tidak disalurkan.
Seorang pria yang istrinya harus diamputasi tapi tidak bisa karena tidak ada alat.
Orang-orang yang mengaku sudah siap bunuh diri karena tidak kuat lagi.
Rina melakukan siaran langsung.
Dia tumpahkan semua yang dia lihat.
Dan Teddy Indra Wijaya Sekretaris Kabinet
menonton siaran itu dari Jakarta.
Lalu Teddy menghubungi pemilik media tempat Rina bekerja. Mengamuk.
Dan meminta pemimpin redaksi media itu diganti.
Bukan insiden tunggal ini pola:
Wartawan lain bernama Indira yang dikirim ke Padang mengalami hal serupa.
Setelah dia melapor bahwa bantuan belum datang dan pemerintah belum terlihat atasannya langsung menelepon.
"Next, jangan sebut kalau belum ada bantuan masuk, ya."
"Tapi memang belum ada bantuan.
Faktanya begitu."
"Cerita soal dampaknya aja.
Tapi jangan kasih tahu kalau bantuan belum masuk."
Indira akhirnya siaran langsung di depan sebuah ekskavator yang membersihkan sisa longsor bukan karena ada kemajuan nyata, tapi karena itu satu-satunya hal yang bisa terlihat seperti "pemerintah bekerja."
"Maksa banget," kata Indira.
Teddy dan pola Orde Baru yang sangat familiar:
Project Multatuli yang menginvestigasi ini menarik perbandingan yang sangat tepat dan sangat tidak nyaman.
Di era Orde Baru tidak ada larangan tertulis soal apa yang boleh dan tidak boleh diberitakan.
Yang ada adalah telepon.
Pejabat atau perwira militer tertentu menelepon petinggi redaksi untuk memberi arahan, teguran, atau larangan atas isu tertentu.
Tidak perlu SK.
Tidak perlu aturan resmi.
Cukup satu telepon dari orang yang tepat dan seluruh redaksi paham apa yang harus dilakukan.
Apa yang dilakukan Teddy?
Persis sama.
Menelepon pemilik media.
Mengamuk.
Meminta pemred diganti.
Tanpa surat resmi.
Tanpa proses hukum.
Cukup satu telepon.
Yang paling ironis Teddy adalah simbol harapan yang berubah menjadi simbol yang lain:
Banyak yang dulu berharap besar pada sosok militer muda yang masuk lingkaran dalam Prabowo.
Ada harapan bahwa generasi baru perwira akan membawa cara kerja yang berbeda.
Lebih profesional.
Lebih terukur.
Yang kita saksikan sekarang adalah seseorang yang menggunakan posisinya sebagai Sekretaris Kabinet posisi administratif,
bukan posisi keamanan untuk mengontrol arus informasi tentang kegagalan pemerintah dalam menangani bencana.
Bukan mengontrol berita palsu.
Bukan melawan disinformasi.
Tapi meminta media tidak memberitakan bahwa bantuan bencana belum datang saat bantuan memang belum datang.
Dan Teddy tidak merespons pertanyaan dari Project Multatuli:
Pertanyaan dikirim ke nomor pribadinya dan ke email resmi humas Setkab.
Tidak ada respons sampai artikel diterbitkan.
Tidak ada klarifikasi.
Tidak ada bantahan.
Hanya diam.
Ketika seorang Sekretaris Kabinet bisa menelepon pemilik media dan meminta pemimpin redaksi diganti hanya karena wartawannya melapor bahwa bantuan bencana belum datang itu bukan soal satu orang yang arogan.
Itu adalah sistem yang memang dirancang untuk memastikan bahwa rakyat hanya mendengar apa yang penguasa mau mereka dengar.
Dan sistem seperti itu pernah kita kenal.
Namanya Orde Baru.
Dan kita butuh 32 tahun untuk keluar dari sana.
โ ๏ธ Disclaimer: Berdasarkan investigasi Project Multatuli dalam serial Dead Press Society. Semua nama wartawan disamarkan untuk melindungi sumber. Teddy Indra Wijaya tidak merespons pertanyaan yang diajukan sampai artikel diterbitkan.
Hanya Terjadi di Indonesia
Bukan diberi penghargaan tapi Remaja ini malah di Vonis 8 Tahun Penjara Karena Membacok Penjahat Yang telah merampas uang hasil dagangan ibunya
@Fatih_Back@rouppme Bisa pakai burung hantu. Bukan untuk menghilangkan atau memusnahkan, tapi untuk mengendalikan populasi tikus agar tidak menjadi hama. Intinya menjaga keseimbangan ekosistem rantai makanan. Lengkapnya bisa di cek disini ๐๐ป
https://t.co/GRJc0LQTXR
Sebagai orang yang kerja di IT, Rp1,2 triliun buat "Managed Service IT & IoT di 5.000 lokasi" dalam 3 bulan, penunjukan langsung, dan tanpa tender โ itu udah red flag gede sebelum liat vendor-nya kosong.
Proyek infra skala nasional gak mungkin dikerjain 3 bulan sama "pemain tunggal" yang NPWP-nya aja gak ada di portal.
Dimutasi saat sedang usut kasus korupsi, seorang polisi memilih mundur secara terhormat dari Kepolisian.
Sosok Vicky Katiandagho adalah seorang Polisi yang sebelumnya dikenal karena keberaniannya dalam menangani kasus-kasus yang disegani berbagai pihak. kini Vicky Katiandagho resmi mengakhiri pengabdiannya di institusi kepolisian setelah sebelumnya sempat dimutasi oleh atasannya.
Menyala ASN ku...
Dia lupa klo layarnya 2 arah.
Ntr klo viral lalu ada pengumuman klo ASN terkait sudah dikeluarkan dari instansi karena tidak mencerminkan visi misi.
Sedih bgt siang ini.
Anak muda dikriminalisasi. Anak muda disiram air keras.
Ga ada satupun dr mereka yg pegang senjata. Semua modalnya suara dan partisipasi.
Makin hari tanda-tanda mau menindasnya semakin ditunjukin.
๐พ TERITIP SEMAKIN BANYAK
temen-temen tau teritip, kan?
betuls, yang suka ada di tubuh penyu dan lambung kapal.
nah, tau gasii, ternyata jumlah teritip sekarang tuh banyak banget dan mengganggu kehidupan di laut.
termasuk si penyu ini.
kok bisa ya?
[thread belajar bareng]
ICW meminta PT Agrinas Pangan Nusantara untuk membuka informasi terkait impor 105 ribu unit mobil pikap asal India senilai Rp24,66 triliun untuk program Koperasi Merah Putih. Meskipun uang muka Rp7,39 triliun telah cair dan ribuan unit telah tiba di pelabuhan, ICW menemukanโฆ
Kenapa sih di Indonesia jadi ASN itu kayak โpekerjaan impian banyak orangโ? Ada jurnal menarik tulisan mas @arifnovianto_id yang bukan sekadar bahas โkenapa orang pengen jadi ASNโ, tapi ngebedah fenomenanya dari akar struktur ekonomi negara.
(a thread)
Selesai baca laporan tempo mengenai kegagalan PSN Tambak Udang di Kebumen. Ada beberapa poin:
- PSN ini dibangun 2023, tapi sejak Juli 2025 sudah berhenti beroperasi. Padahal proyek ini dijadikan sebagai percontohan pengelolaan tambak udang nasional.
- Target panen tidak tercapai, hanya sekitar 327 ton. Padahal 149 tambak dengan luasan 60 ha itu ditargetkan menghasilkan 40 ton per ha.
- Lingkungan sekitar tercemar, terutama kualitas air. Kandungan logam dan amonia melebihi ambang batas. IPAL masih jadi persoalan. Penyu yg sebelumnya menetas telur di pesisir pantai, sekarang menghilang.
- Petani lokal tergusur. Dari 100 petani tambak kini tinggal 15. Masyarakat lokal tidak dilibatkan.
Dengan kondisi ini, maka tak heran jika banyak pihak khawatir kegagalan proyek ini terulang di Waingapu yg luasnya 20 kali lipat lebih besar dibanding Kebumen.
https://t.co/IXgbLnt8nF