Aku gak janji masalah hidupmu akan lebih ringan jika bersamaku..
Yang pasti,seburuk apapun masalah yang kau alami,aku gak akan meninggalkanmu.
Aku janji..
Anak itu punya pemikiran dan karakter yang berbeda.
Jadi perlakuan padanya gak bisa disamakan juga.
Pernah saat SD dulu, kedua anakku cowok kuminta mengisi polibag dan menanam bibit. Kusiapin 100 polibag kecil. Upah mengisi dan menanam adalah 2 ribu rupiah per polibag.
Si Kakak yang rajin belajar benar-benar mengikuti instruksi. Dia ngisi polibag trus nanam. Si Adik yg gak suka belajar, caranya lain lagi. Dia isi dulu semua polibag dengan media tanam. Setelah polibag terisi, baru dia tanam bibitnya. Dengan begitu Si Kakak gak bisa lagi dapat polibag.
Alhasil, Si Kakak bisa menanam 25 polibag dan Si Adik bisa menanam 75 polibag :)
@mulkanjabariyan@KapudS640 Coba check jurnal yang ini om
No danger from magnetic fields in electric cars - SINTEF https://t.co/jO36kXKpVu
BfS - Press releases - Radiation protection study: analysed electric cars comply with recommended maximum values for health protection https://t.co/YbcAiOFIiU
@karirfess Biasanya di kantor tu gini
Keuangan
"Pak ini cash flow kta menuju minus klo diteruskan"
Bos
"Lha gmn si ? Kn km keuangannya, km bsa ngatur gak?"
Keuangan
"Ya kan, nuruti perintah dan proyek bos jg"
Bos
"Lha malah nyalahin saya, ya kmu itu yg ga bisa. Dah buat surat resign aj"
Sebenarnya kaget banget dimention ini karena menurutku simple banget tipsnya 🥺🥺🥺
Jadi, dl dibilang kl akun bola susah gajian, lalu kupelajari deh algonya sama baca2 insight dr teman2 lain
Nah, yang kulakuin dan kushare pas kopdar sama @MiskinTV_@kicknost dan @Makaryo0 adalah sebagai berikut
1. Biasakan reply2 atau jb jb ke mutual cenblue sebelum posting, ya -+ 30 menit sebelum lah, usahakan jb jb 15-50 post mutualmu
2. Kalau sudah post jangan ditinggal, kalau ada reply atau engagement masuk, segera tanggapi
30 menit pertama sebuah post sangat menentukan buat kelangsungan post
Baiknya kl ada reply, dijawab dan dijadikan diskusi
Jadi, makin ada diskusi makin bagus
3. Kalau udah post, sembari nunggu ada engagement masuk, baiknya reply2 atau jb jb lagi
Tujuan poin 1 dan 3 adalah agar post mu direkomendasikan ke TL nya mutual cenblue
Nah untuk itu, makin banyak mutual cenblue makin bagus
Semoga tips ini bermanfaat, ga selalu lsg gajian gede, tp Insya Allah bantu temen2 gajian rutin 😇😇😇
Inovasi Kampus Indonesia: Ide Bagus yang Susah Jadi Produk
Bayangkan kamu udah bikin penemuan keren di lab kampus, menang lomba, dapat pujian dosen, bahkan masuk berita nasional.
Tapi setahun kemudian, penemuan itu cuma jadi pajangan di lemari.
Familiar? Ini sudah jadi pola yang terus berulang di Indonesia.
Indonesia tidak kekurangan talenta dan ide brilian. Setiap tahun, ribuan inovasi lahir dari kampus dan lembaga penelitian di Tanah Air.
Paving Block daur ulang seperti yang aku QRT ini bukan yang pertama, tapi implementasi dan komersialisasi ke masyarakat umum memang tidak terasa.
Mayoritas penemuan lainnya juga terjebak dalam laboratorium, mati muda karena terjatuh ke dalam jurang maut inovasi.
BRIN misalnya, memiliki hampir 600 paten. Tapi hanya sekitar 10 paten yang pernah dilisensikan dan digunakan oleh industri.
Angka itu cukup menyedihkan kalau dipikir-pikir. Ratusan paten, tapi hampir semuanya tidur di laci.
Masalahnya sering berakar pada kurangnya informasi soal cara mengkomersialisasikan hasil penelitian, sehingga riset yang punya potensi besar pun berakhir hanya sebagai naskah skripsi atau tesis.
Kampus tidak mengajarkan cara menjual ide, cara memproduksi massal, cara membaca kebutuhan pasar. Kita benar-benar kekurangan "manufacture-mindset".
Jurang maut inovasi adalah kesenjangan antara hasil riset laboratorium dengan kebutuhan industri yang nyata.
Di sinilah kebanyakan inovasi Indonesia gugur. Ide sudah matang, prototipe sudah jadi, tapi tidak ada yang tahu bagaimana menyeberangi jurang itu menuju produk yang bisa dibeli orang.
Sistem akademik kita ikut berkontribusi. Dosen dan peneliti dinilai dari publikasi di jurnal internasional, bukan dari produk yang berhasil masuk pasar. Jadi wajar kalau begitu riset sudah dipublikasikan, prosesnya dianggap selesai. Tidak ada dorongan kuat untuk melanjutkan ke tahap komersialisasi.
Sekarang lihat China. Mereka membangun ekosistem manufaktur terintegrasi yang mencakup seluruh rantai nilai, dari bahan baku dasar hingga produk akhir bernilai tinggi.
Skala produksi masif menciptakan economies of scale yang sulit ditandingi, sementara kecepatan inovasi dipacu oleh kombinasi investasi negara dan kompetisi domestik yang sengit.
Yang membuat China beda bukan hanya soal modal atau tenaga kerja. Pemerintah China sejak lama menyiapkan kawasan industri terpadu lengkap dengan listrik, air, jalan, hingga pelabuhan. Investor tinggal masuk, bangun, dan langsung produksi tanpa hambatan panjang.
Bandingkan dengan Indonesia yang masih bergulat dengan perizinan yang tidak seragam di tiap daerah dan biaya energi yang lebih mahal. Belum lagi pungli dan preman-preman yang acapkali mengadu domba pengusaha dengan masyarakat sekitar.
Di China, hampir semua komponen dan bahan baku bisa didapat dalam radius yang pendek. Dalam satu kota industri, kamu bisa menemukan pabrik layar LCD, pemasok plastik, hingga pembuat baut dan mur, semua dalam satu wilayah.
Sistem ini yang membuat produk China bisa lebih murah dan lebih cepat diproduksi, bukan hanya karena buruhnya murah seperti stereotip lama. Bahkan sudah banyak buruh China yang bisa hidup sejahtera sekarang ini.
Data menunjukkan nilai investasi manufaktur China pada 2024 menembus lebih dari USD 4 triliun, sementara Indonesia masih berada di bawah USD 150 miliar.
Selisih itu akibat dari skala ekosistem yang dibangun selama puluhan tahun secara konsisten.
Indonesia itu terus berlari menuju digitalisasi dan industri 4.0, tapi fondasi manufaktur dasarnya belum kuat.
Sejak 2018, pemerintah meluncurkan peta jalan "Making Indonesia 4.0" dengan ambisi menjadikan Indonesia 10 besar kekuatan ekonomi dunia pada 2030.
Tapi data 2024 dan 2025 menyingkap realitas yang kontradiktif: di balik narasi digitalisasi, mesin industri nasional justru menunjukkan tanda-tanda kelelahan struktural yang serius.
Kontribusi manufaktur terhadap PDB Indonesia menurun tajam dari sekitar 31,95% pada 2002 menjadi 18,52% pada pertengahan 2024. Ini menunjukkan Indonesia mulai meninggalkan sektor industri sebelum sempat benar-benar matang di sana.
Fenomena ini disebut deindustrialisasi prematur, yaitu kondisi di mana kontribusi industri melemah sebelum mencapai titik optimalnya. Di Malaysia dan Thailand, penurunan proporsi industri sejak 2008 tidak lebih dari 4%. Di Indonesia, penurunannya lebih dari dua kali lipatnya.
Lalu kenapa? Salah satu jawabannya ada di komoditas. Indonesia sempat terlena oleh buaian harga komoditas. Pada periode 2008 hingga 2012, harga komoditas melonjak tajam sehingga menjual bahan mentah ke pasar ekspor sudah sangat menguntungkan. Tidak perlu mengolahnya di industri.
Akibatnya, kemampuan manufaktur tidak pernah berkembang dengan serius, karena tidak ada tekanan untuk berkembang.
Kita skip fase belajar membuat produk dengan benar, lalu tiba-tiba ingin punya industri digital kelas dunia. Ini seperti mau lari maraton padahal belum pernah latihan jalan cepat.
Persaingan antara produk China dan produk lokal Indonesia bukan pertarungan setara antara efisiensi perusahaan, melainkan antara model industrialisasi negara.
Tanpa kebijakan industri yang lebih kuat dan konsisten, produsen lokal akan terus berada dalam posisi defensif, bahkan ketika kualitas dan potensinya sebenarnya tidak kalah.
Di sisi kampus, kabar baiknya sudah mulai ada gerakan. Universitas Indonesia misalnya baru-baru ini menggelar pelatihan transfer teknologi dan komersialisasi kekayaan intelektual, sebagai bagian dari upaya mempercepat hilirisasi riset agar bisa memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan industri.
Tapi ini baru langkah awal, dan perlu menjadi kultur, bukan sekadar program sesekali.
Setidaknya ada tiga hal yang perlu jalan bersamaan.
Pertama, kampus perlu mulai mengajarkan cara berpikir produksi dan komersialisasi, bukan cuma cara menulis paper.
Kedua, pemerintah perlu membangun ekosistem industri yang sungguh-sungguh terpadu, bukan cuma memindahkan labelnya ke "Industri 4.0" tanpa fondasi yang kuat.
Ketiga, ada butuh jembatan yang nyata antara peneliti dan pelaku industri, bukan sekadar forum sesekali.
Karena selama tiga hal itu tidak jalan bareng, inovasi terbaik Indonesia akan terus tidur di laboratorium, dan kita akan terus mengagumi produk dari negara lain yang sebenarnya tidak jauh lebih keren dari buatan kita.
Bantuan Pemeriksa APK (BAPAK)
Aplikasi pemeriksa Berkas yang dikirim dari aplikasi perpesanan
Hasil pemeriksaan jika terbukti Spyware, maka akan dikirimkan 741
PlayStore msh nunggu approve
Bisa diunduh disini
https://t.co/vZwijqgBq9
Dan
https://t.co/3cuFxR4g5R
Cara kerjanya belum 100% otomatis.
Pertama:
Extract dulu nama file dari folder. Kalau foldernya banyak, bisa pakai VBA untuk ambil nama foldernya, lalu dibantu rumus FILES.
Jangan lupa gabungkan juga direktori dengan nama filenya.
Kedua:
Tentukan direktori tujuan. Jadi tiap file mau dipindah/di-copy ke mana? Perlu di-rename atau tidak?
Kalau iya, sekalian ubah juga nama filenya (jangan sampai ekstensi terlewat).
Ketiga:
Eksekusi pakai VBA untuk copy file ke folder tujuan. VBA ini bisa sekalian membuat folder baru kalau belum ada.
Nah, yang masih manual itu bagian penentuan direktori tujuan. Tapi ini masih bisa diakali pakai rumus atau dibuatkan VBA tambahan.
@JeniusConnect bantu dong min, buka rekening baru via app jenius di android, sampai tahap masukkan kode yg dikirim via email, baik di inbox atau spam gak ada email apapun yg masuk
udah 3 hari gak bisa2