Pembodohan Publik:
Menampilkan pejabat dan petugas menggunakan sarung tangan hitam secara formal, memotong kabel di kebun, lalu memamerkannya di depan jurnalis hanyalah sebuah drama teatrikal (gimmick).
Tujuannya jelas:
memberikan "kambing hitam" instan yang mudah dicerna oleh masyarakat awam agar perbincangan publik berhenti di situ, tanpa harus membongkar bobroknya manajemen atau kegagalan sistem proteksi PLN yang sebenarnya.
Bagi siapa saja yang paham dasar teknis kelistrikan, rilis pers dalam video tersebut bukan sebuah fakta hukum, melainkan sebuah komedi birokrasi. 🤣🤣🤣
Kesimpulan logis dan teknis atas rekaman video rilis pers tersebut adalah sebagai berikut:
Salah Alamat Secara Teknis Kelistrikan (Mismatch): Barang bukti yang dipamerkan di video tersebut adalah Kabel Tanah (Underground Cable) atau kabel utilitas lokal, bukan kabel udara transmisi fasa SUTET/SUTT.
Kabel tersebut memiliki perisai baja luar (Steel Wire Armor) yang strukturnya hanya ditemukan pada kabel yang ditanam di dalam tanah atau kabel telekomunikasi/optik pelindung.
Kabel Kosong / Tidak Aktif:
Visual saat kabel dipotong di kebun maupun saat dipamerkan menunjukkan bahwa kabel tersebut TIDAK memiliki inti konduktor logam (tembaga atau aluminium tebal) di dalamnya.
Itu adalah selongsong kabel kosong atau bagian luar kabel yang umumnya sudah tidak aktif/bekas, di mana material berharganya (inti logam) kemungkinan besar sudah dikupas atau diambil terlebih dahulu.
Skala Dampak yang Tidak Masuk Akal:
Sistem interkoneksi kelistrikan se-Sumatera ditopang oleh jalur udara tegangan ekstra tinggi (SUTET 275kV) yang mengalirkan ribuan Megawatt daya antar-provinsi lewat menara-menara raksasa di langit.
Secara ilmu teknik elektro, gangguan atau putusnya kabel tanah lokal berserabut seperti di video ** mustahil memiliki kapasitas beban untuk meruntuhkan (blackout) sistem kelistrikan satu pulau**.
Dampak putusnya kabel sekecil itu maksimal hanya memadamkan area lokal (sekelas perkebunan atau desa sekitar). 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Kesimpulan Akhir:
Narasi yang menyatakan bahwa potongan kabel di video tersebut adalah "pemicu utama blackout Sumatera akibat cuaca" adalah narasi yang keliru, dipaksakan, dan tidak memiliki dasar validitas teknis.
Visual yang ditampilkan justru membongkar bahwa barang bukti tersebut tidak ada hubungannya dengan kegagalan sistem transmisi interkoneksi SUTET Sumatera.
🤣🤣😎
BPJS Kesehatan berjalan jadi sukses dan dibanggakan oleh Menkeu lebih baik dari NHS (pas keynote speech di acara suatu simposium) semata-mata krn sedekah dari para nakesnya.
No need to argue for this.
Sejauh saya kerja untuk client dan partner yang sukses secara finansial,
berikut beberapa hal yg bisa saya bagikan ke temen2
1. Investment terbaik bagi sebagian besar dari mereka (sekarang) adalah waktu, kesehatan dan pendidikan.
Ini pola yang saya amati.
- sebuah utas -
#echofirst#CardioTwitter
Talking about PLAX in these 1️⃣2️⃣3️⃣4️⃣ patients
🔎 What do you 👀?
🤔 What are the most probable diagnoses?
All 4 patients have exercise intolerance.
3️⃣ & 4️⃣ have fever
A Thread summarizing my recent PGY-2 talk: "Advanced Cardiopulmonary Echocardiography:
Managing the Critically Ill Patient with Decompensated Pulmonary Hypertension and RV Failure" (1/5).
🔴 🫁 ADVANCED THORACIC #POCUS 🫁
🔸🅰️-Line: Physiologic reflection of pleural line
🔸🅱️-Line: Vertical comet tail artifacts
🔸🦓 Z-line: ill defined artifacts shorter in depth that look like B-lines but aren't
🔸🆎Lung profiles can help with diagnoses
🔴The AHA update on STEMI EQUIVALENT ⤵️
1. Hyperacute T waves
2. De winter ECG
3. LBBB
4. Posterior wall MI
🔹https://t.co/g2BwrIlHWo
🔹https://t.co/7TKh9uNvXn
#echofirst#CardioTwitter
Middle aged male with MR and evidence of pulmonary hypertension.
🔻 end-systolic D-sign = RV-pressure overload
🔻 mid-systolic notch in RVOT PW Doppler signal
🔻 shortened pulmonary acceleration time (PAT) < 100 ms
https://t.co/4heiy45VNE