Happiness is number one. It’s like breathe in the fresh air in my body, see the green everywhere in mountainous area, has enough fresh water, no more people disturbing my daily, good job to do, around people whom I love. All of those are priceless in my life. Being grateful too.
Saat suara adzan berkumandang, kesanalah aku berlari, rumah yang akan selalu mendengarkan keluh kesah.. Ternyata sudah sejauh ini tertahan, untuk membangun benteng pertahanan, menempuh jalan yang cukup panjang, sambil mendengarkan nyanyian gagak.
@ardisatriawan Masih menunggu update info di komentar ig banyak yang bertemu ybs di korea, Australia dengan topik penelitian berbeda-beda.. Sudah saatnya kita bersuara, banyak yang melakukan hal serupa disekitar kita namun tidak berani krn bisa merusak citra.
Ada yang lagi rame:
DUGAAN Beberapa orang Indonesia melakukan pemalsuan riset terorganisir dan TERUNGKAP di Konferensi ilmiah di Denmark??
Masih menunggu kesimpulannya.
Karena ini berpotensi mencoreng nama baik ilmuwan Indonesia di mata internasional.
Semalem gue baru belajar istilah baru
Kalian pernah denger “duck syndrome” gak?
Duck syndrome itu kondisi pas seseorang keliatannya santai, hidupnya aman2 aja. Padahal aslinya lagi capek, banyak tekanan, burnout, sama stres yang dipendem sendiri.
Kenapa dianalogiin sama bebek?
Salah satu gudeg favorit saya di Jogja karena tidak manis sama sekali
Jaman dulu, tempat ini baru mulai jualan mulai jam 11 malam, dan harus mengantre setidaknya 20-30 pelanggan sebelumnya, tutup jam 5 pagi. Kedai yg agak ghoib
Saya sempatkan singgah ke warung ini setidaknya satu kali setahun
Gudegnya berwarna coklat tua kemerahan selayaknya gudeg serius, sambal krecek yg gurih dan pedasnya kuat, gulai ayam kampung kekuningan tapi takberasa kunyit, dan tahu bacem yg takmanis juga. Ini menu yg selalu saya pesan
Selain itu ada ayam broiler yg dimasak bacem, dan lauk-pauk lainnya yg saya takhapal
Sekarang takperlu antre, entah dampak kapitalisme, ramainya kompetisi, atau gegara dolar naik
Sempatkan kalau pesiar ke sini
Saya sertakan foto 4 tahun terakhir
#kulinerjogja
18 tahun. Itu tuntutan jaksa buat seseorang yang udah ngabisin waktu bertahun-tahun mencoba memajukan negara ini. Terlepas dari kamu setuju atau gak sama pandangan politiknya, coba deh renungin baik-baik angka itu.
Ini bukan kejadian yang pertama kali. Indonesia itu punya pola yang diam-diam menghancurkan: orang-orang pinter, kompeten, dan punya niat tulus masuk ke pemerintahan, tapi ujung-ujungnya malah dihancurin sama sistem. Gak selalu karena mereka bersalah, tapi seringnya cuma karena kehadiran mereka "dianggap mengganggu".
Tapi anehnya, kita terus-terusan nyuruh anak-anak muda terbaik kita: "Masuk dong ke pemerintahan. Mengabdi dong buat negara. Bawa perubahan."
Siapa juga yang mau kalau mereka ngelihat langsung kejadian kayak gini di depan mata?
Siapa pun dalang di balik semua ini, mereka sama sekali gak lagi ngelindungin Indonesia. Mereka justru lagi ngajarin satu generasi orang-orang berbakat kalau jalan paling aman itu ya mending diam aja. Atau sekalian pergi ke luar negeri.
Buat yang suka nyinyir, "Ya udah, pergi aja sana!", tolong berhenti nutupin ego kalian dari kenyataan. Banyak kok orang Indonesia yang super cerdas dan bener-bener cinta sama negara ini. Mereka tetap stay di sini. Mereka ngebangun sesuatu. Mereka nyari cara lain buat berkontribusi di luar pemerintahan, karena masuk ke dalam sistemnya itu terlalu bahaya.
Tapi ini realita yang lebih pahit: sehebat apa pun startup, kreator, atau inovator kita di kancah dunia, KALAU pemerintahnya tetap korup dan gila kuasa, KALAU aturannya gak ngelindungin rakyat atau gak ngasih ruang buat industri berkembang dengan sehat, terus kita sebagai masyarakat bisa berharap apa?
Ini momen yang sedih banget buat Indonesia. Bukan cuma karena ada satu orang yang lagi diadili, tapi karena pesan yang ditangkap sama semua orang pintar dan idealis yang lagi ngelihatin kasus ini: bahwa negara ini sepertinya belum siap buat ngelindungin orang-orang yang berani membawa perubahan.
Bu Wamendikti, begini loh
Pendidikan (termasuk kesehatan, transportasi publik, dsb) itu bukan pasar bebas.
Itu Kebutuhan Dasar.
Pendidikan seperti sekolah dan kampus negeri itu semestinya gak for profit. Negara butuh supply SDM berkualitas utk generasi berikutnya.
Toh, gimana mereka mau compete kalau perutnya kosong? Kalau fasilitas kampusnya ga disediakan?