Ke mana lagi nemu ART nginep begini? 😭
Minta gaji Rp2,5 juta, uang makan Rp25 ribu sehari. Sabtu pulang karena rumahnya dekat, balik Minggu malam.
Dikasih list begini sama dia, suruh siapin.
H1 kerja, rak cuci piring stainless kinclong. Area dapur kerasa bersinar, pipa-pipa bawah wastafel bersih, toilet sampai keset banget, sampe takut pakenya. 😭 Ngepel lantai juga keset.
Kalau matahari lagi panas di pagi hari, dia keluarin bantal sama selimut, digebrak-gebrak di balkon buat dijemur.
Start jam 5 pagi, jam 11–12 udah kelar.
Istirahat dia keluar ke warteg. Kadang ya dia masak, goreng telur, dll. Dia beli sendiri.
Abis makan, dia scroll medsos. Udah istirahat. Dia nanya, “Mau bantu masak apa?”
Karena udah beres kerjaan dia, masih mau bantu di luar jobdesk. Nggak usah disuruh.
Jam 7 malam dia udah naik. Biasanya sore cuma lanjut cuci piring sama pel area dapur.
Jam 8 atau 9 dia bilang masih oke kalau dibutuhin, tapi udah jam 9 dia siap mau tidur.
Semua barang diletak rapi dalam lemari, dialasin baking paper atau kertas koran.
Dia minta dibeliin karbon buat nyerap lembap, nanti seminggu sekali dia jemur bergilir.
Dia juga bilang beli lidah mertua, katanya buat kamar mandi bagus. Nanti sesekali dia jemur. Minta pot yang ada rodanya biar nggak encok. 😭
Profesional sekali, lulusan SD.
Saya tanya, “Kok nggak kerja di luar negeri? Gaji gede.”
Dia bilang, “Ya saya kerja cari cukup.”
Buktinya bisa beli sawah dan rumah.
Alasan pindah kerja? Bosnya pindah ke luar negeri.
Gaji sekarang dia naikin dikit karena apa-apa mahal sekarang.
Btw, dia kalau keluar pakai jaket sama baju luaran, rambut ditudung, pakai masker. Udah kayak mau maling. 🫠
Ternyata dia bilang lagi musim virus. Nanti masuk rumah, jaketnya dijemur di balik gerbang biar kena matahari. 😭
Ini list tahunan dia, btw. 😭
Menurut kalian, nemu ART yang kerjaannya serapi dan seprofesional ini tuh termasuk hoki banget nggak sih?
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
MEGA-THREAD
Yg muncul 5 tahun sekali itu bukan isu pelanggaran HAM berat, tapi video & pernyataan Cak Munir yg dipotong2 & lalu disebarluaskan dg konteks yg salah.
Cape bgt ngeladeninnya, tp ya gmn hrs dilakukan toh.
Berikut arsip2 pernyataan Cak Munir ttg kasus penculikan.
Reza Arap dan Adam Levine selingkuh jadi inget kata² Raditya dika: "kalau pernah diselingkuhin pacar/pasangan, langsung putusin. orang yang pernah selingkuh kemungkinan besar akan selingkuh lagi". "krn bagi orang yang sering main hati, ga akan ngerti arti cinta sehidup semati."
🚨 #FPLExtraTime 22/23 is Live!🚨
Syarat Join:
1. Registrasi akun @indodax: https://t.co/haOkLbfghb
2. Join Liga: https://t.co/f5bg0e84Ev
3. Isi Formulir: https://t.co/EJzkEhLlot
4. RT & Like tweet ini
5. Pemenang dipilih hanya yg sudah terdaftar di Formulir.
Let’s Go! 🔥