Ini bener. Kalau akhirnya bimbel menentukan hasil belajar, terus sekolah fungsinya apa?
Pertanyaan klasik yg gagal dijawab oleh pedagog Indonesia.
Mentok jawabannya, "Sekolah lebih fokus ke karakter bla bla bla".
Berengsek! Sulit sekali diukur. Singkat saja: gak konkret!
liberal suka menyerang ruling class based on moralism (misal: pemerintah jahat) karna kalo yg jahat itu orangnya, ya tinggal ganti aja presidennya dan cari yg lebih baik, tapi sistem yg mereproduksi eksploitasi ini tetep intact. pada akhirnya ga ada perubahan berarti.
Kalau menurut saya: kalau kamu belum siap karyamu dikata-katain jelek, sampah, dll, jangan dulu lempar karyamu ke publik. Itu risiko berkarya dan lempar karya ke publik.
Kalau menurut saya: kalau kamu belum siap karyamu dikata-katain jelek, sampah, dll, jangan dulu lempar karyamu ke publik. Itu risiko berkarya dan lempar karya ke publik.
Orang yg tau persis apa yg dia mau, mungkin akan lebih lama menemukan yg dia cari.
Tapi ketika akhirnya betul2 ketemu, dia akan betul2 yakin memang itulah yg dia cari.
Sempat ngalami juga
kebetulan jadi editor sukarela calon novel temen yg jadi porto pertama dia (porto gw ngedit juga sih)
Isinya sangat sangat Wattpad + TL coded ternyata 😭
Masih soal fiksi 🤣🤣🤣
Jangan bosan ya.
Saya sedikit berbagi pengalaman saja saat saya menjadi seorang development editor untuk sebuah penerbit di Amerika yang menerjemahkan karya penulis Indonesia.
Bagi yang belum tahu apa itu development editor, ia adalah editor yang memeriksa kekonsistenan cerita, baik itu dari segi alur plot, waktu, ruang, dan fakta2 dalam cerita yang bisa dianggap mengganggu.
Saya terus terang kurang tahu apakah editor semacam ini cukup lazim di Indonesia. Pekerjaan ini terlalu berat untuk dirangkap oleh editor bahasa, karena cukup melelahkan.
Ini ada beberapa contoh koreksi yang pernah saya lakukan.
1. Kesinambungan jumlah orang dalam satu adegan. Kalau di awal adegan 10 orang misalnya, sampai akhir adegan ya mesti 10 orang juga. Di film ini juga sering kasus dalam continuity shot. Kalau shot diambil dua kali, padahal adegannya kontinu, bisa jadi ada barang yang hilang atau bergeser.
2. Cek fakta sains. Misalnya jika umur anjing maksimal umumnya adalah 15 tahun, maka jika di dalam cerita digambarkan anjingnya ada sejak tahun 2000 dan masih hidup sampai tahun 2025, tentunya aneh.
3. Cek fakta sejarah. Ini penting banget, terutama untuk novel yang settingnya riil. Misalnya diceritakan ada adegan di mal di suatu kota di tahun 1980, padahal mal pertama di kota itu dibangun tahun 1990. Jadi aneh, bukan.
4. Cek kesinambungan waktu. Misal perjalanan dari titik A ke titik B jika naik kuda dengan kecepatan rata2 maksimal 40 km/jam, dibutuhkan waktu 2 jam, dan di cerita hanya 1 jam, jadi aneh bukan? Kecuali digambarkan dalam dunia fantasi dan kudanya dikasih ramuan khusus atau ada efek sihir.
5. Yang paling sulit adalah kewajaran istilah yang dipakai. Misal kata gokil itu baru dimulai di akhir 70-an. Jadi kalau adegan ceritanya tahun 60-an, pemakaian kata ini jadi terdengar tidak wajar.
Masih soal fiksi 🤣🤣🤣
Jangan bosan ya.
Saya sedikit berbagi pengalaman saja saat saya menjadi seorang development editor untuk sebuah penerbit di Amerika yang menerjemahkan karya penulis Indonesia.
Bagi yang belum tahu apa itu development editor, ia adalah editor yang memeriksa kekonsistenan cerita, baik itu dari segi alur plot, waktu, ruang, dan fakta2 dalam cerita yang bisa dianggap mengganggu.
Saya terus terang kurang tahu apakah editor semacam ini cukup lazim di Indonesia. Pekerjaan ini terlalu berat untuk dirangkap oleh editor bahasa, karena cukup melelahkan.
Ini ada beberapa contoh koreksi yang pernah saya lakukan.
1. Kesinambungan jumlah orang dalam satu adegan. Kalau di awal adegan 10 orang misalnya, sampai akhir adegan ya mesti 10 orang juga. Di film ini juga sering kasus dalam continuity shot. Kalau shot diambil dua kali, padahal adegannya kontinu, bisa jadi ada barang yang hilang atau bergeser.
2. Cek fakta sains. Misalnya jika umur anjing maksimal umumnya adalah 15 tahun, maka jika di dalam cerita digambarkan anjingnya ada sejak tahun 2000 dan masih hidup sampai tahun 2025, tentunya aneh.
3. Cek fakta sejarah. Ini penting banget, terutama untuk novel yang settingnya riil. Misalnya diceritakan ada adegan di mal di suatu kota di tahun 1980, padahal mal pertama di kota itu dibangun tahun 1990. Jadi aneh, bukan.
4. Cek kesinambungan waktu. Misal perjalanan dari titik A ke titik B jika naik kuda dengan kecepatan rata2 maksimal 40 km/jam, dibutuhkan waktu 2 jam, dan di cerita hanya 1 jam, jadi aneh bukan? Kecuali digambarkan dalam dunia fantasi dan kudanya dikasih ramuan khusus atau ada efek sihir.
5. Yang paling sulit adalah kewajaran istilah yang dipakai. Misal kata gokil itu baru dimulai di akhir 70-an. Jadi kalau adegan ceritanya tahun 60-an, pemakaian kata ini jadi terdengar tidak wajar.
@senogp Sampai saat ini belum bisa berhenti tercekat sama cara Dostoevsky menorehkan isi hati dengan kata-kata
Of Mice and Man boleh sihh, mau coba explore Steinback juga
Maaf kemarin sibuk baru bisa GA sekarang
Giveaway Buku
Saya mau giveaway buku di bawah dan buku senilai 150rb untuk dua orang pemenang.
1. RT/Like tweet ini
2. Penulis favorit kamu
3. Pilih salah satu (tiga buku di bawah atau buku senilai 150rb)
Ditutup malam ini, Kamis 3 September 2026, 23.00 WIB.
#Bagibagibuku
Not beating the allegation that many men marry the body, and the body only.
"Udahlah, lu cakep, duit w banyak.
Ga usah ribet2, sama w lu akan kenyang."
Padahal perut aja yg keisi, hatinya kosong. Lha wong aspirasi dan preferensinya sbg seorang istri/manusia ga dianggap penting.
Dalam The Second Shift karya Arlie Hochschild, dijelaskan bahwa perempuan harus menanggung beban ganda berupa "shift kedua", yakni bagaimana perempuan yang pulang bekerja kantoran masih harus lanjut "bekerja" mengurus rumah tanpa bantuan seimbang dari pasangan.