@clumsygyuu@BigAlphaID lo masih ngomongin perorang, perorangan udh diperpanjang sebulan sampe April masa gak bisa laporin. yg penghasilannya lbh dri 1M aja pada bisa lapor di Maret - April.
Semejak ada viral ikan Sapu-Sapu ini gw benar2 jd gak nafsu dan gak mau lg beli Siomay di abang2. Mau muntah sndiri klo bayangin itu ikan benar dicampur oleh adonan Siomay ๐ ๐ฅฒ๐ญ
@maspay19@Yopiluthfi2@regar_op0sisi Capek ya bang benerin orng2 yg logical fallacy, gk bs bedain pngkat & jabatan. Diemim aja bang, mkanya quotes "Never argue with stupid people, they will drag you down to their level & beat you with experience" relate krn orng2 kya mereka yg logical fallacy. Benci blh tp bego jngn
@PaulERS89@maspay19@regar_op0sisi Berarti conclutionnya yg salah yg nunjuk jd seskab kan? Kalo emng mau letkol jd seskab dia harus mundur yg benar dri TNI?
Guys, Sherly Tjoanda Gubernur Maluku Utara baru duduk di depan salah satu pewawancara politik paling tajam di Indonesia dan jawabannya lebih jujur dari kebanyakan politisi yang pernah gue dengar.
Tapi justru itu yang bikin gue khawatir.
Konteks yang perlu diingat dulu:
Sherly bukan politisi karir. Dia pengusaha. Istri Bupati Morotai Benny Laos yang meninggal dalam kecelakaan kapal 12 Oktober 2024 42 hari sebelum pilkada.
Malamnya ketua partai langsung datang ke rumah sakit dan bilang Sherly harus lanjutkan perjuangan. Sherly menolak. Lalu anak-anaknya minta dia maju. Dan dia akhirnya setuju bukan karena ambisi politik tapi karena tidak mau cita-cita suaminya selesai begitu saja.
51% suara di pilkada. Menang. Dilantik sebagai gubernur.
Yang pertama langsung dihajar oleh host:
"Anda tidak merasa dimanfaatkan oleh partai-partai politik itu?"
Jawaban Sherly yang membuatnya berbeda dari politisi kebanyakan:
"Dalam hidup ini kita semua saling memanfaatkan dengan tujuan masing-masing. Tujuan saya waktu itu saya harus menang dan menyelesaikan janji almarhum."
Tidak defensif. Tidak berpura-pura murni. Tapi juga tidak naif dia sadar bahwa ada transaksi di balik semua dukungan itu.
Pengakuan paling jujur dari seorang gubernur:
"Saya ini kertas kosong. Kanvas kosong. I know nothing."
Dan dia tidak bilang itu untuk merendah. Dia bilang itu karena itu fakta dan dia memilih belajar dari nol daripada pura-pura tahu.
9 bulan pertama dia habiskan untuk belajar teknis birokrasi ketemu semua dirjen, semua OPD, baca sendiri, bahkan tanya ChatGPT untuk hal-hal teknis yang belum dia pahami.
"Saya bahkan bilang langsung ke delapan partai koalisi dari awal: saya tidak bisa bicara bahasa politik. Kalau menginginkan A katakan A. Saya tidak mengerti kalimat bersayap."
Dan inilah yang membuat host langsung pasang sinyal bahaya:
Maluku Utara bukan provinsi biasa. Ini provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia 39% karena nikel dan tambang yang luar biasa besarnya.
Dari smelter saja ekspor per tahun mencapai hampir Rp150 triliun. IUP yang aktif menghasilkan sekitar Rp54 triliun setahun.
Tapi Maluku Utara sebagai daerah tidak punya satu pun IUP sendiri. BUMD-nya tidak aktif sejak 2016 kena pemeriksaan BPK dan KPK dan untuk mengaktifkannya kembali butuh waktu 6 bulan sampai 1 tahun.
"Kalau ini perusahaan BUMD punya satu IUP saja PAD bisa tambah 2 sampai 3 triliun per tahun."
Tapi itu tidak dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya selama 10-15 tahun tambang jalan.
Siapa yang menikmatinya? Bukan rakyat Maluku Utara.
Dan di sinilah host menyampaikan pesan yang paling penting:
"Anda sudah terlanjur bersepakat. Partai-partai mendukung Anda. Pada saatnya Anda harus tahu diri Anda harus bayar hutang."
Sherly sadar akan ini. Tapi jawabannya jujur:
"Belum. Saya belum menyiapkan diri untuk itu."
Bukan karena tidak mau. Tapi karena dia benar-benar belum sampai ke titik itu dan dia tidak mau berpura-pura sudah siap untuk sesuatu yang belum dia pahami sepenuhnya.
Soal oligarki dan dinasti pertanyaan yang paling tidak nyaman:
Host bertanya langsung: apakah Sherly merasa bagian dari oligarki dan dinasti?
"Saya tidak merasa bagian dari itu."
Tapi host tidak membiarkan itu lewat begitu saja. Suami Sherly mantan bupati. Sekarang Sherly gubernur. Peta bisnis keluarga ditampilkan di layar puluhan PT terhubung dalam satu grup.
Sherly menjawab: sebelum dilantik dia sudah keluar dari semua kepengurusan. Saham masih ada karena secara hukum boleh. Dan LHKPN almarhum suaminya justru turun selama 5 tahun jadi bupati bukan naik.
"Semua yang dimiliki sudah ada sebelum beliau menjadi bupati. Almarhum bahkan tidak boleh saya menggunakan fasilitas jabatan. Dia bilang ada yang namanya korupsi kepatutan."
Satu hal yang gue catat dan menurut gue penting banget:
Sherly menang pilkada tanpa money politics. Tidak ada uang di hari H pemilihan. 367.000 orang memilihnya.
"Saya harus memulai dengan benar. Karena ketika rakyat memilih pemimpin karena uang bukan karena hati nurani mereka akan menghasilkan pemimpin yang memperbudak nurani."
Di negara di mana money politics sudah menjadi norma pernyataan itu bukan sesuatu yang bisa diabaikan.
Yang paling bikin gue mikir dari seluruh obrolan ini:
Host menutup dengan satu kalimat yang tajam:
"Ada kecerdasan di dalamnya. Ada keteguhan. Tapi ada juga naif di dalamnya."
Dan itu mungkin diagnosis yang paling akurat. Sherly cerdas dan tulus tapi dia masuk ke sistem yang tidak dirancang untuk orang seperti dia. Sistem yang sudah menunggu untuk mengujinya dan yang paling berbahaya sudah menyiapkan tagihannya.
Apakah dia akan tetap berdiri setelah 5 tahun? Atau akan menjadi satu lagi nama yang kita sebut sambil menggelengkan kepala?
"Undang saya lagi 5 tahun dari sekarang. Saya akan duduk di sini dan bilang: I did it."
Gue harap dia benar.
@kring_pajak@hodobical Min mau nanya ini PPh unifikasi masa gak wajib dilaporkan jika nihil ini apakah ini ada kaitan mempunyai pendapatan atau tidak? Jadi punya atau gak pendapatan selama PPh unifikasinya nihil tidak diwajibkan lapor kah?
Siap tidak siap kita akan melihat perubahan harga BBM di tanggal 1 April nanti.
Gw nyiapin ke kantor pake sepeda 15 km sekali jalan. Lo nyiapin apa buat bulan depan?
Comedy special MENS REA dari @pandji melakukan sesuatu yang sangat kita butuhkan hari ini: membicarakan isu-isu politik yang genting dengan berani dan gampang dipahami dengan memberi konteks, membongkar absurditas hidup bernegara kita, dan mengingatkan kita bahwa banyak hal yang kita anggap โbiasaโ sebenarnya tidak normal dan tidak seharusnya diterima begitu saja.
Cerdas, lucu, dan getir di saat yang sama. Pengingat seperti ini semoga selalu ada dan sering biar kita nggak ba'al karena terlalu sering dikadalin orang-orang inkompeten yang kebetulan menentukan hidup kita.
Selucu comedy special luar yang juga ada di Netflix. Dan ini juga milestone buat komika Indonesia. Salut, Pandji!