Most people have never heard of Burckhardt Compression.
Yet its machines are installed on 65 of the 76 LNG carriers worldwide that use high-pressure engines.
The Swiss company has quietly become a critical part of the machinery moving energy around the planet.
Founded in 1844 and headquartered in Winterthur, Burckhardt Compression generated CHF 1.06 billion in sales last year and employs 3,305 people.
Its specialty is reciprocating compressors.
These machines compress gases to enormous pressures for LNG shipping, petrochemicals, hydrogen, industrial gases and plastics production.
On an LNG carrier, the problem is particularly interesting.
LNG is transported at around -160°C.
Some inevitably evaporates during the voyage.
Burckhardt's Laby-GI compressors capture this "boil-off gas", compress it to hundreds of bar and allow it to be used as fuel by the ship instead of wasting it.
Its latest systems can deliver gas at 330 bar.
And the company says it is the only manufacturer able to compress methane to 300 bar in a large compressor system without cylinder lubrication.
That technology has accumulated more than 2.5 million operating hours.
This year, South Korean shipbuilder Hanwha Ocean placed Burckhardt's largest-ever marine order: 14 compressors for seven next-generation 174,000 m³ LNG carriers.
But shipping is only one part of the story.
Burckhardt also makes enormous "Hyper Compressors" that compress ethylene at pressures up to 3,500 bar to manufacture LDPE and EVA.
EVA is particularly interesting because it is used in the encapsulation films protecting photovoltaic cells.
And hydrogen is becoming another market.
Burckhardt has decades of experience compressing hydrogen and is supplying high-pressure oil-free equipment to projects such as Gasunie's H2CAST underground hydrogen storage project in Germany.
The company therefore sits in a strange position:
LNG shipping.
Hydrogen infrastructure.
Solar manufacturing.
Petrochemicals.
Industrial gases.
Different industries, same fundamental requirement: gases often need to be compressed reliably at extreme pressures.
There is also a very Swiss story behind the company.
Burckhardt was acquired by industrial giant Sulzer in 1969.
Then, in 2002, managers bought the compressor business back.
They floated it on the Swiss stock exchange four years later.
Twenty-four years after that management buyout, the original MBO shareholder group still owns around 8.6% of the company and has just renewed its shareholder agreement until 2031.
And there is an even better detail.
Burckhardt trains apprentices in the Swiss vocational system.
It currently has 68 apprentices, including trainees in India, where it helped establish an apprenticeship system based on the Swiss model.
Every year, apprentices who successfully finish their training receive something unusual:
a Burckhardt Compression share.
They literally become co-owners of the company.
So behind parts of the world's LNG fleet, hydrogen infrastructure and chemical industry sits a 182-year-old engineering company from Winterthur.
CHF 1.06 billion in sales.
3,305 employees.
65 of 76 high-pressure LNG carriers.
And apprentices leaving their training as shareholders.
Some of Europe's most strategic industrial companies are hiding in remarkably boring places.
it works, and it is fast. It also teaches every counterparty to price political risk instead of commercial risk — and that bill arrives in the next investment cycle, unattributed
a recurring pattern in Indonesian economic policy: the state sets a target, then instructs private parties to absorb the cost of meeting it.
No budget line. No compensation rule. No notice.
Baru aja baca laporan investor asing di Indonesia.
Bersedia bayar pajak lebih banyak asal extortion dan corruption ilang.
Jangan nerima penjelasan investor kabur gara2 buruh nuntut gaji naik.
Pemerintah yg korup dan pungli ormas ini masalah sebenarnya.
Prabowonomics is essentially an economic strategy in which the state aggressively crowds out the economy by diverting scarce capital toward the least productive, least sustainable, and poorly planned programs, optimized for rent-seeking rather than growth or equality.
Saying that the protest is unnecessary because the market and rupiah are making a rebound is like saying you can cancel your dentist appointment because the painkillers stopped your toothache. The symptom improved, not necessarily the problem.
A liquid LNG spot market makes term contracts more attractive, not less. And deep term commitment is what puts enough volume into the market to make spot viable.
They don't substitute each other. They constitute each other.
People respect you more when they don't see you often. Even parents. Trust me. It's strange how distance rearranges love, how absence restores what closeness erodes. When people are deprived of your presence, they start seeing you clearly again, not through habit but through awareness. Proximity dulls perception. Space sharpens it. That's just how the human mind works.
Saudara kandung gw seorang psikolog yg sehari-hari kerjaannya dengerin dan beresin isi kepala orang lain yg berantakan. Pas kita lg kumpul kemarin, dia buka obrolan.
Dia bilang, "lo tau nggak paradoks paling lucu dari profesi gw?"
Dia cerita, pernah nanganin pasien yg semuanya punya pola masalah yang sama. Mereka gak ada yang bener2 sakit secara fisik, tapi badannya rontok karena pikirannya selalu merantau ke masa lalu atau masa depan.
Siksaan batin yg dijelasin saudara gw ini namanya Mental Time Travel.
Kondisi dimana otak kita terlalu canggih sampe bisa loncat ke masa lalu buat nyeselin hal yg udah lewat, atau loncat ke masa depan buat nyemasin hal yg belum tentu terjadi.
Efeknya? Lo kehilangan masa kini. Lo lagi makan makanan enak tapi nggak ngerasain rasanya, lo lagi jalan sama anak-istri tapi pikiran lo lagi sibuk mikirin cicilan 5 taun ke depan, atau sibuk nyeselin blunder kerjaan minggu lalu.
Dia cerita, banyak pasiennya yg kalau malem sebelum tidur, otaknya kayak muter kaset rusak. Mereka selalu terjebak di zona "Regret & What if"
"Kenapa ya dulu gw gak ambil kesempatan itu?"
"Gimana kalau nanti umur 40 gw mendadak di PHK dan gak punya tabungan?"
Siksaan batinnya adalah masa lalu udah jadi abu, masa depan masih jadi kabut, tapi lo ngorbanin satu2nya hal nyata yg lo punya sekarang, yaitu detik ini. Lo dapet capeknya, tapi gk dapet solusinya.
Gw tanya ke dia, "Kenapa otak kita secara psikologis bisa se terjebak itu?"
Dia jelasin kalau secara evolusi, otak manusia itu emg didesain buat bertahan hidup dg cara mengantisipasi bahaya (masa depan) dan belajar dari kesalahan (masa lalu).
Tapi di jaman sekarang, insting itu malah jadi bumerang. Tiap hari kita liat pencapaian orang lain di medsos yg bikin kita cemas ama masa depan kita sendiri.
Kita dipaksa buat selalu berlari ngejar target, sampe lupa caranya berhenti sebentar buat napas.
Ada satu istilah psikologi yg ngena banget buat kondisi ini:
"The Illusion of Control"
Kita mikir dg merenungkan masa lalu berulang kali, kita bisa mengubah rasa bersalah kita. Atau dengan mencemaskan masa depan, kita bisa mengendalikan hasil akhirnya.
Padahal itu semua cuma ilusi. Satu2nya momen dimana lo punya kekuatan penuh buat bertindak dan mengubah sesuatu itu cuma ada di masa kini.
Gimana cara kita buat lepas dari penjara waktu ini?
Saudara gw kasih terapi simpel yg biasa dia kasih ke pasiennya:
Grounding Technique (5-4-3-2-1)
Pas pikiran lo mulai melayang entah ke taun berapa, paksa mata dan tubuh lo buat fokus ama sekitar.
Sebutin 5 benda yg lo liat sekarang, 4 hal yg bisa lo sentuh, 3 suara yg lo denger, 2 bau yang lo cium, dan 1 rasa di lidah lo.
Cara ini bakal menyeret paksa kesadaran emosional lo kembali ke realita tempat lo berdiri.
Langkah kedua adalah bergaul sama kenyataan, bukan asumsi.
Kurangi bikin skenario terburuk didalam kepala. Kalau emg ada hal yg perlu disiapin buat masa depan, tulis di kertas jadi action plan yg nyata, after itu tutup bukunya.
Belajarlah buat menikmati hal-hal kecil yang gratis.
Dinginnya air pas lo wudhu atau cuci muka, angetnya obrolan ama pasangan sebelum tidur, atau rasa pahit manisnya kopi yg lagi lo seruput.
Pesan dari saudara gw ini:
Masa lalu itu udh selesai tugasnya, dan masa depan itu bukan urusan lo sekarang.
Satu2nya tanggung jawab lo adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Jgn biarin hidup lo lewat begitu aja cuma karena lo terlalu sibuk jadi penjelajah waktu di dalam kepala lo sendiri. Rebut kembali kendali pikiran lo mulai hari ini.
tulisan by ryn pedia
cc: istory selebriti (facebook)
What this export centralization also reveals is that Danantara has little operational independence from the government. It functions as a large off balance sheet policy tool whose priorities largely mirror the president's strategic agenda. Danantara the SWF was dead on arrival.
Mungkin ada yang belum tahu kalau kita bisa membaca artikel-artikel dari majalah The Economist secara GRATIS dengan cara mendaftar sebagai anggota perpustakaan digitalnya British Council. Setelah mendaftar keanggotaan, kita tinggal mendownload app pressreader dan sign in menggunakan kartu kita.
Bukan hanya The Economist, tapi kita bisa mengakses dan membaca gratis banyak majalah dan koran-koran dari berbagai negara. Tidak hanya topik politik atau bisnis, bahkan sampai ke topik tentang hewan, gardening, architecture, travelling, entertainment, cooking, dst.
Contohnya ini yang aku pinjam (lihat gambar 3 & 4)
Ringkasan dari "Presiden Indonesia Membahayakan Ekonomi dan Demokrasi" (The Economist, Mei 2026)
Laporan terbaru dari The Economist memberikan peringatan keras bagi arah kebijakan nasional Indonesia. Di bawah kepemimpinan saat ini, Indonesia dinilai sedang mempertaruhkan stabilitas makroekonomi dan kemajuan demokrasi yang telah dibangun dengan susah payah selama era Reformasi demi mengejar pertumbuhan populistik jangka pendek.
1. Perjudian Fiskal: Akhir dari Era "Hawkish"?
Selama dua dekade, Indonesia dikenal dengan disiplin fiskalnya yang ketat, terutama kepatuhan terhadap batas defisit anggaran 3%. Namun, laporan ini menyoroti bahwa kebijakan tersebut kini berada di ujung tanduk:
Beban Program Populis: Program "Makan Bergizi Gratis" senilai $20 miliar menjadi titik tekan utama yang mengancam keberlanjutan anggaran.
Erosi Kepercayaan Institusional: Penggantian tokoh-tokoh teknokratis dengan sosok yang dianggap lebih akomodatif terhadap target pertumbuhan 8% telah memicu kekhawatiran pasar.
Respons Pasar Global: Lembaga pemeringkat seperti Moody’s dan penyedia indeks seperti MSCI mulai memberikan sinyal negatif, mencerminkan ketidakpastian investor terhadap keberlanjutan utang dan transparansi fiskal.
2. "Family Affair": Personalisasi Kekuasaan di Atas Institusi
Dua pilar demokrasi—meritokrasi dan kontrol sipil atas militer—terlihat sedang mengalami pelemahan yang signifikan:
Konsolidasi Dinasti: Istilah "family affair" yang digunakan merujuk pada kecenderungan untuk memprioritaskan loyalitas personal dan hubungan kekerabatan dalam pengisian jabatan strategis negara. Hal ini berisiko menciptakan lingkaran kekuasaan yang tertutup dan mengabaikan kapasitas profesional.
Ekspansi Peran Keamanan: Undang-undang yang disahkan pada tahun 2025 memberikan ruang lebih luas bagi militer untuk masuk ke ranah tata kelola sipil dan pertahanan siber. Langkah ini dipandang sebagai pengikisan perlahan terhadap batasan-batasan yang ditetapkan pasca-1998.
Penyempitan Ruang Kritik: Adanya label "tidak patriotik" bagi kritikus kebijakan ekonomi menciptakan efek gentar (chilling effect) bagi para analis dan akademisi.
3. Sintesis: Pertumbuhan Jangka Pendek vs Stabilitas Jangka Panjang
Analisis ini menyimpulkan bahwa Indonesia sedang melakukan pertaruhan besar. Di satu sisi, pemerintah berupaya memutus rantai kemiskinan melalui belanja masif. Namun, di sisi lain, pengabaian terhadap checks and balances serta disiplin fiskal dapat merusak "keajaiban ekonomi" Indonesia yang selama ini bertumpu pada stabilitas dan kredibilitas institusional.
Jika institusi penjaga (seperti Kementerian Keuangan dan lembaga hukum) terus melemah demi mengakomodasi ambisi politik, maka risiko downgrade ekonomi bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan ancaman nyata yang bisa menghambat visi Indonesia Emas.
Real books change your very psyche. Not the self-help books. The long, difficult, soul-altering books. The Brothers Karamazov. One Hundred Years of Solitude. The Stranger. The Old Man and the Sea. Crime and Punishment. In Search of Lost Time. Writers who understood loneliness. Meaning. Human suffering. The quiet chaos inside the mind. Writers who sat alone for years and pulled something true out of their inner darkness and put it on a page so that one day you could read it and feel less alone in your own. They change the way you see people. They expand your perception. They upgrade your consciousness. That's what real books do.
They alter you.