LOS MÉDICOS NUNCA TE DIRAN ESTO:
1. Ansiedad – Magnesio, B6, Omega-3
2. Depresión – D, B12, Omega3
3. Irritabilidad – B1, B6, Magnesio
4. Niebla mental – B1, B12, Omega3
5. Insomnio – Magnesio, B12, D
6. Baja libido – Zinc, D, B3
7. Estreñimiento – Magnesio, C, Fibra
8. Espasmos oculares – Magnesio, B12, Potasio
9. Antojos de azúcar – Cromo, Magnesio, Zinc
10. Manos frías: Hierro11. Falta de apetito: Zinc
12. Ojos secos: Vitamina A13. Falta de aliento: Hierro
14. Caída del cabello: Hierro
15. Boca seca: Vitamina A
16. Uñas quebradizas: Biotina (B7)
17. Cansancio todo el día: Vitamina D
18. Sentirse decaído: Vitamina B6
19. Olvidos: Omega 3
20. Calambres en las piernas: Magnesio21. Niebla mental: Vitamina B12
22. Debilidad muscular: Potasio
23. Hormigueo o entumecimiento: Vitamina B6
24. Mala calidad del sueño: Magnesio
🚨🚨 Tu "salud mental" y otros síntomas podrían ser una simple deficiencia de micronutrientes disfrazada...
Consulta siempre con tu médico, aunque me temo que de nutrición poca idea. Ellos son expertos recetando dr0gas sintéticas para paliar síntomas, encontrar la raíz de las enfermedades no interesa al modelo de negocio...
PERNIKAHAN MENGALAMI 6 FASE, tapi sebagian berhenti di fase ke-3.
1. Fase Romantis (Awal Menikah)
Semuanya terasa sempurna. Setiap hal kecil terasa manis. Tapi fase ini bukan selamanya ini adalah masa adaptasi penuh cinta.
2. Fase Realita Mulai sadar
pasangan punya kekurangan. Kebiasaan yang dulu lucu, sekarang bikin jengkel. Inilah masa transisi dari “jatuh cinta” ke “belajar mencinta.”
3. Fase Konflik dan Ujian
Mulai ada benturan ego, lelah, salah paham, bahkan keinginan untuk menyerah. Tapi justru di sinilah cinta diuji: apakah tetap bertahan, atau hanya ingin menang.
4. Fase Penyesuaian dan Pemahaman
Mulai belajar komunikasi dengan hati, bukan emosi. Mulai memahami bahwa pernikahan bukan tentang bahagia terus, tapi tentang bersama dalam segala musim.
5. Fase Kedewasaan
Cinta Suami istri mulai saling menerima tanpa banyak tuntutan. Tidak lagi sibuk mencari siapa yang benar, tapi fokus memperbaiki diri masing-masing. Cinta jadi tenang, sederhana, tapi dalam.
6. Fase Kebersamaan Spiritual
Fase di mana pasangan mulai menyatu bukan hanya secara fisik dan emosi, tapi juga dalam arah hidup dan ibadah. Mereka tak lagi saling mengandalkan, tapi sama-sama menggantungkan diri pada Allah.
Jika sekarang kamu sedang di fase berat, jangan buru-buru menilai pernikahanmu gagal. Mungkin Allah sedang memindahkan cintamu dari sekadar rasa, menjadi ibadah yang berharga.
BAB KE 109
NGAJI KITAB AL HIKAM
SYEH IBNU ATHA' ILLAH AS -SAKANDARI
Syarah SYEKH ABDULLAH ASY-SYARQAWI AL-KHALWATI
سُبْحَانَ مَنْ سَتَرَ سِرَّ الْخُصُوصِيَّةِ بِظُهُورِ الْبَشَرِيَّةِ ، وَظَهَرَ بِعَظَمَةِ
الرُّبُوبِيَّةِ فِي إِظْهَارِ الْعُبُودِيَّةِ
Mahasuci Dzat yang menyembunyikan keistimewaan (seorang wali) dengan menampakkan sifat-sifat kemanusiaan(nya), dan memperlihatkan keagungan Rububiyah-Nya di dalam kehambaan (makhluk-Nya).
DI ANTARA "KEISTIMEWAAN" yang dimaksud dalam hikmah di atas adalah ilmu pengetahuan dan rahasia-rahasia Ilahi yang diberikan dan dilimpahkan Allah ke dalam hati para wali-Nya.
"Sifat-sifat kemanusiannya" ialah hal-hal duniawi yang biasa dialami dan dihadapi manusia secara umum. Terkadang, sebagian wali berprofesi sebagai pengemudi keledai tunggangan atau penenun. Bisa jadi tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa ia adalah seorang wali karena keistimewaan mereka tertutup profesi yang digeluti atau tersamar oleh sikap-sikap mereka yang tidak berbeda dengan kebanyakan manusia lainnya, seperti bertengkar atau beradu mulut dengan orang.
Namun, terkadang pula, Allah menampakkan tanda-tanda keistimewaan itu pada sebagian manusia, seperti pada para dai. Allah menampakkannya pada para dai agar dengan peran mereka seluruh manusia menjadi baik dan sempurna.
Dan keagungan Rububiyah-Nya terlihat ketika Dia memperlihatkan kehambaan makhluk. Artinya, keagungan Rububiyah Allah akan tampak manakala Dia memperlihatkan tanda kehambaan seluruh makhluk. Yang dimaksud dengan tanda kehambaan makhluk adalah kondisi-kondisi yang membuat seorang makhluk membutuhkan Tuhan, seperti penyakit atau kemiskinan. Seorang hamba, jika mengalami salah satu kondisi itu, ia akan berlindung kepada Tuhannya dan memohon agar diselamatkan dari kondisi itu.
Di sinilah rububiyah Allah akan ditampakkan-Nya kepada hamba-Nya itu. Allah ingin menegaskan bahwa hamba itu memiliki Tuhan yang Mahakuasa dan bisa menghilangkan kondisi yang dialaminya. Tanpa hal itu, Allah tidak akan mengenalkan keagungan Rububiyah-Nya. Tanpa hal itu juga, keagungan rububiyah Allah hanya akan terselubung dan tidak akan tampak ke permukaan.
Oleh sebab itu, asy-Syadzili berkata, "Ubudiyah adalah isi. la akan ditampakkan oleh rububiyah."
Mahasuci Tuhan Yang Mahalembut dan Maha Meliputi segala sesuatu.
Tertulis di tongkat Nabi Musa as :
1. Bahwasanya orang Alim jika tidak mengamalkan ilmunya, maka dia dan iblis tifak ada bedanya,
2. Penguasa jika tidak adil diantara manusia, maka dia dan Fir'aun tidak ada besanya,
3. Pedagang jika tidak .......
Salah satu amalan yang sebaiknya kita lakukan setelah melakukan suatu amal baik adalah MEMBACA ISTHGFAR.
Ada beberapa contoh dari Al Qur'an maupun hadits perihal itu:
1. Setelah sholat, disunnahkan utk membaca istighfar 3x (HR. Muslim).
2. Setelah sholat malam, ditutup dengan istighfar (Q.S Ali Imran:17 dan Al Muzammil : 20).
3. Setelah haji, ditutup dengan istighfar (Q.S Al Baqarah : 198-199).
4. Setelah perang sekalipun, dihasung untuk istighfar (Q.S At Taubah : 117-118).
Mengaji kitab Tajul Arus ( Mahkota Pengantin )
Pelajaran Mendidik Jiwa
SYEH IBNU ATHA' ILLAH AS -SAKANDAR
BAB 4: BAHAYANYA MAKSIAT
BERPINDAHLAH DARI KEMAKSITAN
PERANGILAH NAFSUMU
NAFSU DUNIA
BAHAYANYA MAKSIAT
Ketahuilah bahwa maksiat itu mengandung arti merusak Jan dan melepaskan ikatan cinta dengan mengalahkan Tuannya (Allah) dan mengikuti kesenangan hawa nafsunya, melepaskan tutupnya rasa malu, dan cepat cepat menuju Allah dengan mengerjakan perkara yang tidak diridhoi oleh Allah.
Selain itu semua, bekas maksiat yang dhohir (nyata) seperti pada diri orang yang maksiat terlihat suram, dimatanya kelihatan keras, malas berkhidmat kepada Allah, tidak bisa menjaga kehormatan, berusaha keras menuruti keinginan hawa nafsunya dan tidak bisa mengerjakan ketaatan.
Bekas maksiat yang batin seperti: kerasnya hati, memenuhi dadanya dengan syahwat, hilangnya rasa manis (nikmatnya) taat, banyaknya penghalang dari makhluk yang selalu menghalangi terpancarnya Nur, selalu dikalahkan oleh kekuasaan hawa nafsu, dan selain itu semua masih ada seperti hati selalu ragu-ragu, lupa kalau nanti kan kembali menghadap Allah, dan lamanya penghitungan amal.
BERPINDAHLAH DARI KEMAKSITAN MENUJU KETAATAN
Sudah cukup menunjukkan jeleknya maksiat dengan bergantinya nama, karena bila kamu menjadi orang yang taat, kamu disebut orang yang mengerjakan kebaikan, sedangkan bila kamu maksiat, maka akan berubah dan disebut orang durhaka. Itulah artinya berpindahnya sebutan/nama. Lalu bagaimana kalau yang berganti itu atsar/bekas?, yaitu dari bekas rasa manisnya taat berubah menjadi manisnya maksiat.
Bekas nikmatnya mengabdi kepada Alláh berganti menjadi nikmatnya syahwat. Begitulah bergantinya bekas, lalu bagaimana kalau yang berubah itu sifat? Yaitu setelah kamu memiliki sifat yang baik dihadapan Allah, lalu berganti menjadi orang yang memiliki sifat yang buruk. Itu yang berhubungan dengan pergantian sifat, lalu bagaimana kalau yang berubah itu kedudukan? yaitu setelah kamu menjadi orang yang sholih/baik dihadapan Allah, lalu menjadi orang yang rusak dihadapan Alláh , setelah kamu menjadi orang yang berhati-hati dihadapan Alláh berubah menjadi orang yang ingkar dan khianat kepada-Nya.
Maka apabila macam-macamnya dosa itu sudah terbuka dihadapanmu, maka segeralah minta pertolongan kepada Alláh dan mengungsilah kepada-Nya dan taburi tanah di kepalamu
(merasa hina) dan berdo'a:
اللَّهُمَّ انْقُلْنِي مِنْ ذُلِّ الْمَعْصِيَّةِ إِلَى عِزَّ الطَاعَةِ.
Artinya: "Ya Allah, pindahlah kami dari hinanya maksiat menuju kemuliaannya taat kepada-Mu".
Dan berusahalah kamu untuk bisa berziarah kemakam-makam para Auliya' dan Sholihin, dan bacalah "Yaa Arhamar-roohimiin (Wahai Dzat yang sangat belas kasih, belaskasihi kami).
Bersambung
Mengaji kitab Tajul Arus ( Mahkota Pengantin )
Pelajaran Mendidik Jiwa
SYEH IBNU ATHA' ILLAH AS -SAKANDAR
BAB 2 MENGIKUTI RASULULLAH
HINDARI SIFAT SOMBONG
ARTIKATA MENGIKUTI
TINGGALKAN BERBUAT DHOLIM
BAB 2:
MENGIKUTI RASULULLAH
Kamu tidak akan termasuk orang yang ditelantarkan kecuali sebab kamu meninggalkan mengikuti Nabi Muhammad Dan kamu tidak akan mendapatkan keluhuran derajat dihadapan Allah, kecuali kamu mengikuti Nabi Muhammad
Sedangkan mengikuti Nabi Muhammad itu ada dua macam:
1. Jaliyyah (Terang-terangan)
2. Khofiyyah (Sembunyi-samar).
Mengikuti Nabi secara Jaliyyah itu seperti: sholat, puasa, zakat, haji, jihad dan lain-lain. Mengikuti Nabi secara Khofiyah (Samar) yaitu: I'tiqodnya hati menghadap Allah dalam sholatmu dan berfikir maknanya dalam membaca Al Qur'an. Jadi jika kamu mengerjakan ketaatan, seperti shalát dan membaca Al Qur'an, akan tetapi kamu tidak merasa menghadap Alláh shalatmu dan berfikir maknanya dalam membaca Al Qur'an. dalam
HINDARI SIFAT SOMBONG
Ketahuilah, dalam dirimu itu ada penyakit yang tersembunyi
(samar) yaitu penyakit takabbur (sombong) atau 'ujub (membanggakan amalnya sendiri) atau penyakit-penyakit lainnya
Alláh telah berfirman:
سَأَصْرِفُ عَنْ أيْتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقُّ
Artinya: "Aku akan membelokkan (menjauhkan) dari ayat-ayatku atas orang-orang yang sombong di muka bumi ini yang tidak punya hak (sombong)". (QS. Al A'raf: 146)
Jadi perumpamaan dirimu itu seperti orang yang sedang sakit panas, yang merasakan pahitnya gula. (padahal gula itu manis rasanya).
Maksiat yang menyebabkan rasa hina dan mengharapkan rahmat dari Alláh itu lebih baik daripada ketaatan yang menjadikan rasa agung dan sombong dalam hati.
ARTI KATA MENGIKUTI
Alláh telah berfirman yang menceritakan tentang Nabi Ibrahim :
ج فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي
Artinya: "Siapa saja orang yang mengikuti aku, orang itu menjadi bagian dari golonganku." (QS. Ibrahim: 36)
Pemahaman ayat ini, barang siapa yang mau mengikuti Nabi Ibrahim, maka orang tersebut menjadi bagian dari golongannya Nabi Ibrahim.
Alláh juga berfirman yang menceritakan Nabi Nuh:
ج وَنَادَى نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَكِمِينَ.
Artinya: "Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku
dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil." (QS. Hud: 45)
Lalu Allah menjawab dengan firmannya:
قَالَ يُنُوْحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ.
Artinya: "Allah berfirman Hai Nuh! Sesungguhnya dia (kanan) itu bukan bagian dari keluargamu. Karena dia memiliki amalan yang tidak baik" (QS. Hud: 46)
Jadi yang dinamakan mengikuti yaitu menjadikan orang yang mengikuti seperti bagian dari orang yang diikuti. Walaupun yang diikuti orang lain. Seperti contoh sahabat Salman Al Farisi. Karena Nabi telah bersabda:
سَلْمَانُ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ
Artinya: "Salman itu bagian dari keluargaku".
Sudah maklum bawa Sahabat Salman itu orang Persia, akan tetapi sebab dia mengikuti Nabi. Nabi Muhammad bersabda tentang pribadi Salman, karena untuk mengajari umatnya, Bahwa mengikuti itu menyebabkan bertemu dan tidak mengikuti/ingkar itu menyebabkan perpisahan.
Alláh sudah mengumpulkan semua kebaikan itu ada di dalam rumah. Dan Allah menjadikan kuncinya rumah itu berupa mengikuti Nabi Muhammad, maka dari itu berusahalah kamu untuk mengikuti Nabi. Dengan berqona'ah dari rizki yang diberikan Allah kepadamu, zuhud, mengambil sedikit dari dunia, dan meninggalkan ucapan atau pekerjaan yang tidak berguna
Bersambung
BAB KE 107
NGAJI KITAB AL HIKAM
SYEH IBNU ATHA' ILLAH AS -SAKANDARI
Syarah SYEKH ABDULLAH ASY-SYARQAWI AL-KHALWATI
Salah Satu Tanda Lemahnya Iman adalah Tidak Melihat Lembutnya Takdir
مَنْ ظَنَّ انْفِكَاكَ لُطْفِهِ عَنْ قَدَرِهِ فَذَلِكَ لِقُصُوْرِ نَظْرِهِ
Siapa yang mengira kemahalembutan-Nya terlepas dari kemahakuasaan-Nya, berarti ia memiliki pandangan yang sempit.
KEMAHAKUASAAN ALLAH TERLIHAT Saat Allah menimpakan petaka dan ujian kepadanya. Jika ia mengira bahwa kelembutan Allah itu terpisah dari kekerasan-Nya, hal itu menandakan pandangannya sempit. Sekiranya pandangannya sempurna, ia akan menyadari bahwa dalam petaka dan ujian itu ia banyak mendapat kelembut-an Allah. Misalnya, dengan ujian itu, ia bisa mendekatkan diri kepada-Nya.
Ujian yang ditimpakan Allah kepada hamba-hamba-Nya pasti bertolak belakang dengan keinginan mereka dan membuat nafsu syahwat mereka meronta. Tentu setiap hal yang mengganggu atau menyakiti nafsu pasti akan berbuah baik, bahkan sebelum hamba itu
kembali kepada Allah dan mengetuk pintu-Nya. Ini adalah faedah terbesar dari ujian dan cobaan. Hamba yang mendapatkan ujian akan mendapati bahwa jiwanya lemah, kekuatannya terbatas, dan sifat-sifat yang telah mendorongnya melakukan dosa atau maksiat serta menguatkan keinginannya terhadap dunia adalah batil.
Dengan ujian itu, biasanya seorang hamba akan meraih ke-tundukan hati, sabar, rida, tawakal, zuhud, dan ingin bertemu Allah. Bagaimanapun, sebiji sawi amalan hati lebih baik daripada segunung amalan anggota tubuh. Dengan ujian itu pula, ia akan mendapatkan penghapusan dosa dan kesalahan serta meraih kelembutan Ilahi lainnya.
Hasan Al-Bashri ra :
Barang siapa yang merendahkan dirinya dihadapan orang banyak (umum), maka (disaat yang sama) ia telah (memancing pendengarannya untuk) memuji (tentang ketawadhuan) dirinya sendiri dan itu adalah sebagian contoh dari tanda-tanda Riya'.,
Syeikh Sholih Al-Marri ra mengumpamakan orang yang rajin berdo'a dengan berkata :
"Bukankah orang yang terus menerus mengetuk pintu, suatu saat pasti akan dibukakan untuknya ??",
Seorang perempuan lalu bertanya :
"Apakah Allah swt menutup pintu-Nya ??",
Beliau menjawab :
......
BAB KE 106
NGAJI KITAB AL HIKAM
SYEH IBNU ATHA' ILLAH AS -SAKANDARI
Syarah SYEKH ABDULLAH ASY-SYARQAWI AL-KHALWATI
Penawar Pedihnya Cobaan
ا لِيُخَفِّفَ أَلَمَ الْبَلَاءِ عَنْكَ عَلَّمَكَ بِأَنَّهُ – سُبْحَانَهُ هُوَ الْمُبْلِي لَكَ ، فَالَّذِي وَاجَهَتَكَ مِنْهُ الْأَقْدَارُ هُوَ الَّذِي عَوَّدَكَ حُسْنُ الْإِخْتِيَارِ
Agar ujian terasa ringan, engkau harus mengetahui bahwa Allahlah yang memberimu ujian. Dzat yang menetapkan beragam takdir atasmu adalah Dzat yang selalu memberimu pilihan terbaik.
KAU HARUS SADAR bahwa Allah yang mengujimu, bukan yang lain. Dia yang lebih mengetahui maslahatmu daripada dirimu sen diri. Kesadaran ini akan menjadi sebab kebahagiaan, kesenangan, hiburan, ketawakalan, dan kesabaranmu. Dzat yang menetapkan berbagai perkara yang ditakdirkan untukmu, seperti penyakit hilangnya harta dan anak, atau yang lainnya, adalah Dzat yang memilihkan untukmu perkara terbaik yang sesuai denganmu.
Dalam kehidupan ini pun kau kerap menyaksikan bahwa orang yang selalu berbuat baik kepadamu bisa saja sewaktu-waktu
bersikap buruk dan berbuat kasar kepadamu. Sekalipun demikian, kau tetap sabar menghadapi sikap buruknya karena mungkin saja kekasaran dan keburukan sikapnya itu didasari oleh niat baik dari dalam lubuk hatinya.
Demikian pula seorang hamba, jika ia mengetahui bahwa Allah swt. Maha Pemurah, Mahalembut, dan Maha Melihat kepadanya, setiap petaka dan ujian yang dijatuhkan kepadanya tidak perlu dipedulikan karena Allah tidak menghendaki darinya kecuali kebaikan. Dengan kesadaran itu, ia akan berbaik sangka kepada Allah dan yakin bahwa itu adalah pilihan-Nya untuknya. Ia harus yakin bahwa dalam ujian itu terkandung maslahat tersamar bagi dirinya yang tidak diketahui, kecuali oleh Allah.
Allah swt. berfirman, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. al-Baqarah [2]: 216)
Abu Thalib al-Makki berkata tentang ayat ini, "Seorang hamba benci kemiskinan, kekurangan, kelemahan, dan bahaya, padahal itu lebih baik baginya di hari akhir. Mungkin ia suka kekayaan, kesehatan, dan popularitas, padahal di sisi Allah itu lebih buruk baginya dan lebih jelek akibatnya
BAB KE 105
NGAJI KITAB AL HIKAM
SYEH IBNU ATHA' ILLAH AS -SAKANDARI
Syarah SYEKH ABDULLAH ASY-SYARQAWI AL-KHALWATI
أَنَارَ الظَّوَاهِرَ بِأَنْوَارِ آثَارِهِ ، وَأَنَارَ السَّرَائِرَ بِأَنْوَارِ أَوْصَافِهِ ؛ لِأَجَلٍ ذَلِكَ أَفَلَتْ أَنْوَارُ الظَّوَاهِرِ ، وَلَمْ تَأْقِلْ أَنْوَارُ الْقُلُوْبِ وَالسَّرَائِرِ ؛ وَلِذَلِكَ قِيلَ : إِنَّ شَمْسَ النَّهَارِ تَغْرُبُ بِاللَّيْلِ وَشَمْسُ الْقُلُوْبِ لَيْسَتْ تَغِيْبُ
Allah menerangi alam lahir dengan cahaya makhluk-makhluk-Nya, dan menerangi alam batin dengan cahaya sifat-sifat-Nya. Cahaya alam lahir pasti terbenam, dan cahaya hati tak kan pernah padam. Karena itu seorang penyair berkata, "Matahari siang terbenam dengan datangnya malam, matahari hati takkan pernah sekalipun menghilang."
ALLAH MENERANGI SELURUH langit dan bumi dengan cahaya dari jejak sifat-sifat-Nya atau dengan cahaya matahari, bulan, dan bin-tang, yang kesemuanya mencerminkan sifat qudrah dan iradah Allah. Seluruh fenomena alam nyata ini menjadi terbuka bagi kita dengan cahaya bintang-bintang. Saat itu, kita bisa melihat seluruh alam semesta dan mengambil manfaat darinya atau menghindari bahayanya.
Allah menerangi relung batin dengan ilmu pengetahuan yang bersumber dari penampakan sifat-sifat-Nya pada hati orang-orang 'Arif. Relung batin orang-orang 'arif itu menjadi terbuka dengan cahaya ilmu pengetahuan yang bersumber dari sifat-sifat Allah atau meresapnya sifat-sifat itu dalam hati mereka. Saat itulah, orang-orang 'arif akan bisa melihat berbagai sifat yang ada dalam batin mereka sehingga mereka akan menghindari bahayanya dan mengambil manfaatnya.
Alam semesta bisa nyata dengan cahaya makhluk-Nya dan relung batin bisa nyata dengan cahaya sifat-sifat-Nya. Cahaya makhluk bersumber dari sesuatu yang hadits (baru), sedangkan cahaya sifat-sifat-Nya bersumber dari Dzat yang Qadim (terdahulu). Semua cahaya lahir (yang berasal dari makhluk) itu akan redup
Cahaya matahari akan hilang di malam hari. Cahaya bintang dan bulan akan hilang di siang hari. Namun, cahaya hati yang bersumber dari penyaksian terhadap sifat-sifat Allah yang Qadim tidak akan pernah hilang dan redup. Tentu saja cahaya yang bersumber dari Yang Maha Qadim tidak akan sirna.
Yang membuat cahaya itu tidak tampak adalah sifat-sifat ke-manusiaan yang ada pada diri orang-orang 'Arif, sehingga cahaya itu seolah-olah tak ada. Padahal, cahaya itu tetap ada dalam hati mereka. Oleh sebab itu, seorang penyair berkata, "Sesungguhnya, matahari siang terbenam menjelang malam, namun matahari hati tiada pernah tenggelam."
Syair lain mengatakan:
"Matahari pencinta Tuhan akan terbit di malam hari.
la akan memancarkan sinarnya dan tak pernah terbenam."
Di sini terkandung peringatan bahwa perkara-perkara yang abadi itulah yang harus disukai, disenangi, perlu dilestarikan, dan dijaga kondisinya. Lain halnya dengan perkara-perkara fana yang bisa terbenam, ia tak perlu digandrungi. Bila demikian, seorang hamba akan mengikuti keyakinan dan prinsip Ibrahim saat ia berkata, "Saya tidak suka sesuatu yang terbenam dan hilang."
Nasab, nasib dan nisob setiap orang berbeda.
Nasab tak bisa dipilih.
Nasib terus diikhtiarkan dengan maksimal.
Nisab adalah amanah yang dipertanggungjawabkan.
Maka jangan iri pada hidup orang lain, dan jangan merasa lebih mulia dari siapa pun.
Setiap orang memiliki jalan yang telah Allah tetapkan.
Tugas kita adalah berikhtiar, bersyukur dan bertawakal. Karena hanya Allah yang benar-benar mengetahui takdir terbaik bagi setiap hamba-Nya.