@spicychickend@tirta_cipeng kemungkinan penumpukan dari makananan tinggi karoten. Tp kakinya saja kah? Kalo mata dan bagian tubuh lain jg kemungkinan bisa penyakit hati. Kalo sebaju2nya jg kemungkinan besar kader golkar 🙏🏻
As casual and unserious it may sound, when I say “sehat2 ya” to the people around me, I really really do wish you to be healthy. You’re that important to me.
Mau daftar s3 di salah satu kampus,
Biaya per semester jebul 25 jutaan. Selama 6 semester.
Mau daftar ppds di salah satu kampus, biayanya juga 7.5-15 juta / semester dan 5 tahun ga digaji
Usia sudah 33.
Dan kamu bilang ke aku sekolah bukan soal priviledge?
Bapakmu sugih lur
Kesulitan hidup memang drastis lebih parah saat 2 periode kemarin. Tapi penguasa sekarang jg bagian dari itu dan ikut kompak bersinergi, semisal kebaikan BBM, omnibus ciptaker, hingga omnibus kesehatan. 🤦🏿♀️
Banyak pertanyaan yang nadanya serupa, datang dari saudara, kerabat, teman, bahkan orang yang tak begitu dikenal.
"Gia, Fira, sudah punya anak belum?"
"Fira sudah hamil?"
"Sudah isi belum, Fir?"
Aku sebenarnya tak terlalu terganggu. Aku tahu, nyawa itu hak prerogatif Tuhan.
Tapi aku khawatir Fira akan kepikiran. Maka malam itu, dalam suasana kamar yang tenang, aku bertanya pelan,
"Sayang, kamu terganggu enggak sih sama pertanyaan-pertanyaan tadi?"
"Lumayan, kepikiran juga." Jawabnya sambil berusaha senyum.
Aku memandangnya penuh kasih. "Gak perlu terbebani. Karena pertanyaan kayak tadi bakal terus ada. Bahkan setelah punya anak pun, akan ditanya lagi, kapan anak kedua, ketiga, dan seterusnya."
Fira menggenggam tanganku. "Bukan itu Sayang yang bikin aku kepikiran, aku berharap, kalaupun sampai aku enggak bisa punya anak, jangan tinggalin aku, ya."
Aku langsung memeluknya. "Enggak, Sayang. Kalau kita belum punya anak, itu bukan salah siapa pun. Kita usaha dan berdoa. Jangan pikir aneh-aneh. Kamu adalah rumahku, dengan anak atau tidak."
Lalu, dengan nada ringan agar tak membuat malam jadi terlalu serius. aku ingin berbagi sesuatu yang sering aku pelajari,
"Say, kamu tahu enggak? Otak laki-laki dan perempuan itu beda banget cara kerjanya."
Dia menatapku dengan penuh rasa ingin tahu. "Oh ya? Gimana tuh?"
"Otak laki-laki itu seperti kumpulan kotak-kotak kecil. Ada kotak isi mobil, kotak isi kerjaan, kotak isi keuangan, kotak isi istri, dan kotak isi hobby seperti sepak bola." Fira mendengarkan serius.
"Prinsipnya untuk laki-laki, dia akan susun kotak itu sedemikian rupa agar setiap kotak tidak bersentuhan sama sekali. Sehingga Kalau ada dua laki-laki bertemu, maka masing-masing hanya akan mengambil 1 kotak bahasan dan hanya bahas isi kotak itu saja. Satu kotak sekali buka."
Fira tertawa kecil.
Aku lanjut, "Sementara otak perempuan, itu kayak gulungan kabel kecil berwarna-warni yang tersambung semuanya. Everything is connected to Everythiing. Jadi lagi mikirin satu hal, bisa nyambung ke seribu hal lainnya. Lagi bahas keuangan bisa nyambung ke mertua ke hobby suami dll, dashyat banget koneksinya. Dan aliran listrik kabel-kabel itu diperkuat oleh sebuah daya energi bernama EMOSI."
Fira ketawa lagi. Dia menepuk pelan lenganku. "Ooh gitu yaa, Pantes ya aku gampang ke-trigger sama hal-hal kecil."
"Iya. Dan kamu tahu enggak, laki-laki itu punya satu kotak paling favorit. kotak itu akan kita akses kapanpun kita sempat. Namanya kotak KOSONG. Dan Isinya literally nothing."
Fira terkejut. "Maksudnya gimana?"
"Jadi, kalau aku tiba-tiba bengong, ganti-ganti channel TV cepat banget, atau buka buku cuma satu menit, itu artinya aku lagi di kotak kosong. Enggak mikir apa-apa." Fira ngangguk2.
“Kayak kalau kamu liat laki-laki lagi di kursi depan indomaret, atau kamu liat laki-laki mancing berjam-jam, percayalah itu mereka lagi mengakses kotak kosong mereka masing-masing.”
Dia tertawa. "kalau gitu Boleh enggak aku masuk juga ke kotak kosong kamu?"
Aku ikutan tertawa. "Enggak bisa, Sayang. Kalau kamu masuk, pasti kamu bawa barang, bawa pikiran, bawa pertanyaan. Itu jadi kotak isi, bukan kosong lagi."
Kami tertawa bersama. Malam itu terasa ringan.
"Dan soal stres pun kita beda. Kalau laki-laki stres, dia akan masuk ke kotak kosongnya. Butuh ruang, butuh diam. Sementara perempuan, harus cerita. Harus diselesaikan lewat kata-kata. Makanya, banyak laki-laki bingung saat istrinya cerita panjang lebar. Mereka pikir harus kasih solusi. Padahal perempuan hanya ingin didengarkan."
Fira mengangguk-angguk lagi. "Bener banget itu."
Aku menatapnya. "Itu kenapa aku cerita ini. Supaya kita saling ngerti. Supaya kita tahu cara jaga hati satu sama lain. Karena cara otak kita bekerja beda, cara sayang kita juga beda. Tapi kita bisa belajar untuk saling mengisi."
Fira menggenggam jemariku. "Trus apa yang terjadi pada Otak yang terganggu oleh penyakit? Jadi mengganggu kepribadiannya karakternya?"