@unmagnetism Overall seru, karena banyak epic comeback dan tensinya gila. Secara gak langsung jg harus diakui negara2 cukup “merata” kekuatannya, disamping cerita2 kontroversial sebelum mulai nih pildun. Yang bilang gaseru orang yg overhate aja sama Amerika Serikat aja
Jujur waktu awal2 Stella masuk kabinet, gue kek "wow....ada harapan buat perbaikan pendidikan Indonesia". Tapi makin lama, kok gue liat ga ada gebrakan yang "wow" juga.
Eh nemu berita ini, jujur gue patah hati sih ;( orang secerdas Stella kok nerima2 aja buat rangkap jabatan.
@LambeSahamjja Ini boleh dibilang "bom waktu fiskal" yang Bloomberg baru ledakkan ke publik global. Coba kita baca strukturnya...
POLA YANG SEDANG TERJADI mengarah ke "State Capture of Finance":
1. Tiga bank global (Citi, StanChart, HSBC) bukan kabur karena rugi operasional. Mereka kabur
@LambeSahamjja Sedang menunggu omongan beliau begini "kalau ekonomi sulit dan daya beli masyarakat turun, gampang, tinggal suruh BI utk mencetak uang yg banyak, supaya peredaran uang di masyarakat meningkat dan daya belinya naik".
Tinggal tunggu waktu saja beliau akan ngomong begitu 😂
🚨ALASAN INVESTOR KABUR DARI INDONESIA.
Mindrasos baru saja nonton YT The Generalist yg berjudul, "Hard Truths from Indonesia's Startup Scene."
Beberapa alasan investor kabur dari Indonesia adl:
1. Korupsi di level operasional.
Martyn bercerita bahwa dia mendapat tagihan pajak senilai $100.000. Kemduian, pejabat Indonesia mengatakan bisa mengurangi tagihannya asalkan membayar $20.000 kepadanya (pejabat indo).
2. Indonesia krisis meritokrasi
Banyak pendiri startup bukan berasal dari kalangan inovator teknis yang membangun solusi dari nol, melainkan didominasi oleh kelompok elit atau jejaring keluarga kaya (privilege). Hal ini membuat akses modal lebih didasarkan pada nama besar atau koneksi, bukan performa bisnis yang sehat.
3. Birokrasi Indonesia bersifat memeras
Martyn menyoroti lingkungan yang proteksionis dan birokrasi yang terkadang bersifat memeras. Ia menceritakan pengalamannya menghadapi aturan konten lokal yang tidak masuk akal, serta kesulitan mendapatkan dukungan nyata.
4. Ilusi Demografi dan Pasar '270 Juta Penduduk'
Martyn menekankan bahwa narasi besar mengenai jumlah penduduk Indonesia sering kali menyesatkan karena tidak dibarengi dengan analisis daya beli. Dengan PDB per kapita di bawah $5.000, model bisnis B2C yang menargetkan massa sering kali gagal mencapai profitabilitas tanpa subsidi 'bakar uang' yang terus-menerus.
5. Akhirnya pilih kabur ke Singapura
Di Indonesia, kepastian hukum, transparansi, dan kepercayaan investor global sudah punya reputasi buruk — ditambah isu fraud yang berulang — membuat investor internasional enggan masuk. Singapura beri semua yang Indonesia belum mampu jamin.