menghafal itu bukan kecerdasan paling rendah.
merujuk taksonomi Bloom, bentuknya aja piramida bukan flow chart. artinya apa?
susunan teratas itu berdiri di atas pondasi kuat di bawahnya.
pisau analisis hanya akan setajam “kecerdasan” dalam mengaplikasikan. tidak bisa menerapkan kalau tidak paham. dan tidak akan paham kalau tidak ingat.
PENTING!
Belasan cara singkat menghafal pertolongan pertama kasus2 kegawatan rumah tangga!
1. Meriang → Ukur suhu, banyak minum + kompres anget
2. Demam → Suhu >38 °C, pamol
3. Heartburn, mual → Minum antasida
4. Mimisan → Tekan cuping hidung, duduk condong ke depan
5. Terkilir → Batasi gerak, angkat, kompres es, balut. JANGAN diurut!
6. Perdarahan → Tutup tekan lgsg pd luka, angkat, balut
7. Luka bakar → Aliri air mengalir 20 menit
8. Tersedak (bisa batuk) → Batuk efektif
9. Tersedak (gabisa ngomong) → 5 back blows + 5 heimlich manuver; ulang terus bergantian sampe sumbatan terbatukkan keluar
10. Radang tenggorokan → Isep antiseptik mulut (Degirol) + banyak minum air hangat
11. Nyeri dada mendadak → Dudukkan + segera ke UGD
12. Henti jantung → CPR
13. Pingsan → Rebahkan di bidang datar + kaki ditinggikan
Nomor brp aja yg udah hafal & paham di luar kepalaaa?
Keren banget sih ini Penabur Interculturual School, berani mengeluarkan murid yg merupakan pelaku bullying dengan prosedur yg tepat. Background anak ini gak kaleng-kaleng loh, dia yg salah tapi ke sekolah dia yg dijaga tentara 🤣🤣🤣 Masih di area sekolah aja malah main game.
Kabarnya sekolah elite lainnya juga MENOLAK menerima anak ini karena bekas pelaku bullying. Semoga hal-hal seperti ini dinormalisasi!
This is what football is about 👏
Como played their first ever Champions League home game yesterday, 119 years after the club was founded.
Demand was huge and thousands of supporters missed out, so president Mirwan Suwarso and several club directors gave up their own seats....
They gave them to fans born in 1950 or earlier - supporters who had followed Como through every division, long before nights like this ever felt possible 🥹
You can spend years playing for a club and feel deeply connected to it, but there are supporters in the stands whose relationship with that badge goes back 50, 60, even 70 years.
They’ve seen the relegations, the rebuilds and all the years when a Champions League night would have sounded ridiculous.
Players and managers come and go. Fans like these are the constant.
What a way to make sure the right people were there for history 🤝💙
(📷 AP Photo/Luca Bruno)
Bayangin sudah mendukung sebuah klub selama puluhan tahun, melewati masa-masa sulit, bahkan melihat klub tersebut jatuh sampai harus memulai lagi dari Serie D.
Lalu suatu hari, klub yang lo cintai akhirnya memainkan pertandingan Champions League untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.
Tapi masalahnya, tiketnya sangat-sangat terbatas. Dan di tengah situasi ini, Presiden Como 1907 Mirwan Suwarso bersama beberapa direktur klub justru memilih memberikan kursi mereka kepada para supporter, tapi dengan syarat khusus: yakni hanya untuk mereka yang lahir pada 1950 atau sebelumnya.
Artinya, mereka yang berusia 75 tahun ke atas, dimana mereka adalah orang-orang yang sudah menunggu momen ini paling lama.
Como sendiri baru kembali ke Serie A pada 2024 setelah melewati perjalanan panjang dari Serie D. Sekarang, hanya dua tahun kemudian, mereka sudah berada di Champions League.
Dan ketika akhirnya malam bersejarah itu tiba, Suwarso ingin orang-orang yang sudah mencintai Como jauh sebelum klub ini punya sorotan sebesar sekarang ikut merasakannya dari dalam stadion.
What a beautiful gesture.
Karena sepak bola pada akhirnya bukan tentang siapa yang datang ketika klub sudah sukses. Tapi juga tentang siapa yang tetap bertahan ketika belum ada alasan untuk percaya bahwa hari seperti ini akan pernah datang.
Besok, Como akan memainkan pertandingan Champions League pertamanya sepanjang sejarah melawan RB Leipzig. Dan beberapa kursi di Sinigaglia akan ditempati oleh orang-orang yang sudah menunggu momen ini selama lebih dari setengah abad.
They waited the longest. So they deserve to be there. ❤️💙
1883 Krakatau mega-erupsi
83-88 Paceklik, pajak jalan terus
1888 Pemberontakan Banten
1996 Mega-deforestasi 1 juta Ha
1997 Kebakaran, krisis ekonomi
1998 Soeharto tumbang
2003 Darurat militer
2004 Tsunami
2005 Otonomi khusus untuk Aceh
BuzzeRp:
Bencana = konspirasi asing.
Gue bikin web gratis buat cek abu vulkanik dari gunung yang lagi siaga di Indonesia. Tinggal buka, gak perlu install apa-apa. Yang bisa lu cek: gunung mana aja yang statusnya siaga sekarang, abunya lagi ke arah mana.
Kalau belum pernah, sekali-sekali ngobrol deh dengan anggota dewan. Di level apa pun. Partai apa pun.
10 menit pertama omongannya mungkin akan sangat mengagumkan: "ternyata hari gini masih ada ya orang yg segitunya mikirin rakyat".
Lewat 30 menit: "ah elaah.." 😪😪
Kita dukung dan hargai kerja keras untuk mengatasi masalah karhutla ini.
Saran :
Fokus saja untuk melanjutkan kerja keras dengan makin terkoordinasi, sistematis, masif dan terarah, sehingga makin efektif.
Tidak perlu dengan penjelasan yang mengundang potensi residual, seperti arah angin, asap tak berindentitas, atau sejenisnya.
Asap ke arah manapun, bergerak atau tidak bergerak jauh, yang penting adalah bagaimana mengatasi titik apinya. Untuk saat ini. Dan lebih penting agar tahun-tahun berikutnya keadaan menjadi lebih baik. Tidak menjadi “masalah tahunan” yang seperti selalu “jatuh ke lubang yang sama.
Gue mulai kepikiran, bangun rumah di desa tapi yg ga jauh dari kota dan akses internet memadai. Setelah rumah jadi, resign.
Kira2 di mana ya yg masuk kriteria dan tanahnya masih murah capt??
Anaknya 9 bulan, posisinya blum bisa duduk sendiri. Ibunya mulai khawatir.
Neneknya bilang: "Biasa. Anak zaman dulu juga gitu. Sabar aja."
Tetangganya bilang: "Anak saya dulu juga telat. Sekarang udah normal kok."
Bidannya bilang: "Tiap anak beda, Bu. Jangan dibanding-bandingin."
Temannya bilang: "Loh, anak temen gue malah baru jalan umur 2 tahun. Santai."
Semua menenangkan.
Semua bermaksud baik.
Ga ada yang bermaksud meremehkan.
Jadi ibunya nunggu.
Menunggu.
Dan menunggu.
Sabtu siang. Mall ramai. Bapak habis bayar parkir, mood masih oke.
Anak berhenti di depan toko mainan. Mata nempel di etalase. Nunjuk robot kuning gede.
"Pa, minta itu."
"Gak. Minggu lalu udah beli mainan."
Dua detik keheningan.
Lalu, meledak.
Nangis. Kenceng. Guling di lantai. Kaki nendang2 keramik. Mulut teriak hal2 yang gak masuk akal. Orang2 mulai noleh.
Bapak berdiri di sana. Muka merah. Rahang ngunci. Darah naik ke kepala.
"Diam. DIAM. DIAM KAMU!"
🏡 Bayangin punya kamar ukuran 3 x 2,4 x 3 m3.
🪟 Praktis-praktis aja nih. Gimana cara nentuin posisi bukaan jendela?
Riset ini jadi bukti empiris biar ga dibilang ngarang:
Simulasi posisi bukaan pintu dan jendela terbaik untuk rumah
Single-sided versus Cross ventilation
Tahun lalu pernah buat survei 4 desain kamar, apa yang paling banyak terpilih berikut penjelasan fisika bangunan ada di kutipan twit
Bayi 4 bulan. Lagi tengkurep di kasur. Fokus lihat tangannya sendiri. Jari-jari kecil bergerak-gerak. Matanya serius.
Bapak datang dari belakang. Langsung angkat. Gak bilang apa-apa.
Bayi kaget. Badan menegang. Tangan terlempar ke samping. Nangis.
"Lah kan cuma digendong. Lebay amat."
Pak, bayi Bapak bukan boneka yang bisa diangkat kapan saja dari posisi manapun tanpa aba-aba. Dia MANUSIA KECIL.
Paolo Maldini itu anomali statistik yang jarang dibahas: 25 tahun di level tertinggi, 902 laga buat satu klub doang, tapi dia cuma pernah dapet kartu merah SEKALI seumur hidup.
Defender lain andelin speed sama tekel keras, makanya cepet abis di usia 30.
Maldini kebalikannya.
Dia baca permainan 2-3 detik lebih awal dari lawan, jadi nggak perlu sprint atau body contact buat menang duel.
Intersep sebelum bola nyampe, bukan tekel pas bola udah lewat.
Ini yang bikin dia makin "susah dilewatin" pas makin tua justru karena defending-nya berbasis antisipasi, bukan atletis.
5 Liga Champions, 7 Scudetto, dan dia baru pensiun di usia 41 masih starter reguler.
Bukan soal siapa yang paling kenceng.
Soal siapa yang paling duluan mikir.
Anak minta gendong. Bapak turuti gendong.
2 menit kemudian: "Turun, Pa." Bapak turunin.
3 menit kemudian: tangan ke atas. "Endong, Pa." Bapak gendong lagi.
5 menit kemudian: "Turuuun." Turun. Jalan 10 langkah. Berhenti. Tangan ke atas lagi: "Endooong."
Naik. Turun. Naik. Turun. 15 kali di satu trip ke mall. Bahu Bapak pegal. Pinggang Bapak ngilu. Dalam hati: "Manja banget sih. Mau gendong apa mau jalan? Pilih satu!"
Pak, itu bukan manja.
pernah mengadakan workshop, dengan mengundang Bu Albertina Ho ke Fakultas.
beliau sama sekali ngga berkenan dijemput atau diantar. Sangat memudahkan. Ngga banyak protokoler.
beliau menyampaikan, bahwa:
pendidikan hukum tidak cukup menghasilkan sarjana yang cerdas secara kognitif. Tantangannya adalah membentuk profesional hukum yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan yang beretika.
😔