“Segala sesuatu yang digunakan untuk bermaksiat kepada Allah akan berbalik menjadi kerusakan bagi pelakunya.
Siapa yang bermaksiat dengan hartanya, maka hartanya akan menjadi rusak baginya.
Siapa yang bermaksiat dengan kedudukannya, maka kedudukannya akan menjadi rusak baginya.
Dan siapa yang bermaksiat dengan lisannya, hatinya, atau anggota tubuhnya, maka semuanya akan menjadi rusak baginya, meskipun ia tidak menyadari kerusakannya.”
—As-Sawa’iq al-Mursalah
Sekuat, secerdas, dan sepandai apa pun dirimu, suatu hari kamu akan sampai pada titik di mana hidup terasa begitu berat hingga membuatmu terdiam, bahkan menangis.
Maka, biasakanlah lidahmu untuk berdoa:
اللهم أسألك العفو والعافية
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan kesehatan.”
Sebab, tidak ada yang lebih menenangkan hati kecuali kembali kepada-Nya, bahkan sebelum ujian itu benar-benar datang.
The U.S. military strike on Venezuela is deeply regrettable, as it contradicts the very principles of sovereignty and multilateralism that America has long championed. As a self-proclaimed guardian of global democracy, this unilateral action raises serious questions about their consistency, especially in today’s multipolar world where Russia’s and China’s influence in Latin America is growing stronger. It risks sparking widespread instability, compelling nations like Indonesia to navigate our national interests more strategically, rather than simply following ideological currents.
What happens to Venezuela also sets a precedent for other developing countries. It goes beyond a violation of sovereignty. It’s a deliberate effort to restrict the Global South’s freedom to manage its own resources. We must bolster solidarity among developing nations to safeguard the non-intervention principles we have long fought for.
The weaknesses of multilateral diplomacy, such as through the UN or the OAS, are becoming all too evident, rendering soft approaches like the ASEAN Way less effective against direct confrontations. It’s time for us to develop a more proactive diplomacy, including networks with non-state actors for effective mediation, rather than a passive neutrality that leaves us vulnerable as collateral damage.
This strike could also serve as a catalyst for reforming global governance from a Southern perspective. Indonesia has the opportunity to lead initiatives at the UN to amplify the voices of developing countries, particularly on strategic resources. This isn’t merely a moral response, but a survival strategy in a fragmented world, emphasizing leadership that builds bridges rather than yielding to destructive powers. •••
Invasi militer & penangkapan/penculikan Presiden Venezuela Maduro oleh AS menandakan bhw hukum rimba tlh gantikan hukum internasional. Negara yg kuat merasa berhak melakukan aksi "semau gue" thdp negara lain. Ini pertanda kita memasuki a dangerous world order. Bagaimana sikap DK PBB ? Sikap G7 ?Bagaimana sikap Amerika Latin ? Bagaimana sikap 🇮🇩 ? Ujian bagi polugri bebas aktif yg berlandaskan pd prinsip.
Bila di daerah lain kita telah melihat bencana banjir gelondongan kayu, maka di Nagari Sungai Batang, Agam, Sumatera Barat ini banjirnya tak kalah dahsyat dan merusak, yaitu banjir batu-batu besar.
Akses sempat terputus, listrik dan sinyal hilang, membuat wilayah ini luput dari jangkauan alat berat di hari-hari awal. Saat ini, bersama warga, @HumaniesProject menyewa unit ekskavator untuk membangun tanggul darurat, menahan aliran Sungai Batang agar tidak meluas dan memicu bencana susulan.
Usaha ini dilakukan sambil terus menguatkan semangat warga bantu warga, memastikan pemulihan berjalan aman, adil, dan bermartabat bagi seluruh saudara kita.
لا يوجد شيء يستحق القلق بشأنه في هذا العالم للبشر غير خطاياهم
Tak ada yang pantas dikhawatirkan oleh seseorang di dunia ini kecuali dosa
dosanya
كل بشبع يكفي، شبع لا يسلب جوع الآخرين
"Makanlah dengan kenyang yang cukup, Kenyang yang tak merebut dari laparnya orang lain.”
لو أنك رغبت
دعنا نتبادل الأدوار
فأنني عند العزلة
وأنك في العشق
Andai saja engkau mau
Ku ajak engkau tukar posisi
Aku yang pergi mengasingkan diri
Dan engkau yang merindukanku