Sudahkah netizen mengecek ada di desil kesejahteraan berapa?
Jika belum cek maka sempatkan mampir ke:
https://t.co/W51R16C3gu
Jika dikatagorikan sbg desil 9 atau 10, maka berpotensi tidak termasuk yg bisa beli Pertalite dan terima bansos.
Penasaran apa ada mekanisme banding buat yang tidak puas dgn penetapan BPS....
Baru cari info dan berikut sumber2 data yg digunakan BPS dlm analisa penetapan desil kesejahteraan kita:
- DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional)
- DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial)
- Regsosek (Registrasi Sosial Ekonomi)
- P3KE (Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem)
- Data Kependudukan (SIAK)
Variabel penilaian tingkat kesejahteraan desil meliputi:
-Kondisi fisik rumah (lantai, dinding, atap)
-Sumber air minum dan fasilitas sanitasi
-Daya kapasitas listrik rumah tangga
-Kepemilikan aset bergerak dan tidak bergerak (tanah, kendaraan)
-Status dan jenis pekerjaan utama anggota keluarga
-Tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan
- Jumlah anggota keluarga atau tanggungan rumah tangga
- Pengeluaran konsumsi pangan dan non-pangan per rumah tangga
- Status kesehatan dan kepemilikan jaminan sosial / kepesertaan BPJS
Apa ada faktor yg perlu ada tapi tidak masuk? Atau sebaliknya yg ada di list tapi tidak cocok?
Info Gambar: Screen Capture situs DTSEN
your mind lies about being tired to keep you safe, soft, and comfortable.
dr. vermeulen's core message is uncomfortable:
the majority of your limits are psychological constructs, not physical ones. when you stop giving your brain permission to fail, it rewires itself to survive.
the complete breakdown below.
Menurut operator CSIS Jusuf Wanandi, Soeharto itu aslinya sangat insecure. Ia lulusan SD. Kicep dikelilingi profesor.
Soeharto pun punya ambisi ego: ia harus bisa unggul dari mereka, yaitu dengan menjadi bos dan menjadikan mereka pion dalam papan caturnya.
Ini contoh manajemen insecurity yang sukses. Soeharto, yang emosinya matang (dan jahat), berhasil menyalurkan insecurity nya untuk membentuk kleptokrasi yang sangat efektif dan bertahan 32 tahun.
Ia sangat gembira ketika dikelilingi profesor seperti Mafia Berkeley kemudian melihat bagaimana para profesor itu tunduk dan mengikuti kepemimpinannya, yang hanya lulusan SD.
Habibie paling sukses dalam hal ini. Ia bisa mencium insecurity Soeharto. Ia tahu reputasi pribadinya sebagai orang jenius terpintar di Indonesia. Habibie pun gercep menjilat habis Soeharto, yang langsung kesengsem karena terus menerus dipanggil "Super Genius Soeharto" (SGS) oleh orang sekaliber Habibie. Kemudian Habibie jadi wapres lalu jadi presiden.
Insecurity negatif adalah kecemburuan. Melihat orang pintar, orang rusak seperti ini tidak akan berpikir "bagaimana saya bisa mengungguli mereka", melainkan "bagaimana saya bisa menghancurkan mereka".
Orang toxic egomaniak gila sombong seperti ini sangat gelisah, sakit, tersiksa, kejang berbusa melihat orang lain lebih pintar dan lebih jago daripada dia yang bodoh, betulan bodoh, dan dihina dan ditertawakan sebagai bodoh oleh jutaan orang. Hatinya yang busuk penuh dengan iri, dengki, dan kebencian.
seneng banget kalo nonton koh nex.
dia tuh ga mau sama sekali kalo di kasih gratis dari banyaknya foodvloger yang oengen makan gratisan.
jurus andalannya koh nex kalo dikasih gratis nanti konten dia ga naik🤣🤣
yang punya warung jadi ga punya pilihan lain wkwk
dan yang lebih bikin respect adalah dia selalu bayar lebih dan ga mau dikasih kembalian.
sehat sehat ya koh🥰
Presentasi saya di acara ILUNI FEUI mengenai pentingnya institusi. Cerita Odysseus yang mengikat diri di tiang kapal untuk menahan diri dari godaan Sirene.
Institusi adalah tali yang mengikat kita pada tiang kapal: ikatan yang dipasang sebuah bangsa pada dirinya sendiri ketika akalnya masih jernih, karena ia tahu suatu hari kejernihan itu bisa memudar. Ketika itulah Sirene mulai bernyanyi: mencetak uang untuk membiayai pemborosan, melonggarkan pagar demi hasil yang segera.
Odysseus mengikat dirinya karena ia tahu ia bukan malaikat. James Madison menulis, “If men were angels, no government would be necessary.” Institusi lahir bukan karena manusia selalu bijak, melainkan karena kita tahu suatu hari kita bisa khilaf atau sewenang-wenang.
Ringkasan hasil research nya lihat artikel saya di Kompas untuk edisi Kemerdekaan @hariankompas
Gara-Gara Ucapan Suka-Suka, Ny4wa Melayang: Kasus Mengerikan Waduk Pluit 2024 ⚠️
Dunia maya gempar pada Oktober 2024 lalu saat ditemukannya potongan tubuh manusia di dua lokasi berbeda di Jakarta Utara. Kasus tragis yang menimpa seorang ibu 4 anak bernama Sinta ini berawal dari hal yang sangat sepele.
Kronologi Kejadian:
27 Oktober 2024: Sinta menemui seorang distributor ikan laut bernama Omeh untuk meminta ikan tuna keperluan arisan. Keduanya sempat check-in di hotel sore harinya.
Malam Hari: Omeh meminta Sinta datang ke rumah kontrakannya di Gang Waringin, Jakarta Utara. Keributan terjadi saat Sinta melontarkan kata-kata yang menghina istri dan ibu Omeh.
Aksi Tragis: Tersulut emosi, Omeh menghabisi ny4wa Sinta dan memisahkan tubuh korban menjadi dua bagian di kamar mandi rumahnya.
29 Oktober 2024: Potongan badan tanpa kepala ditemukan buruh di Pelabuhan Muara Baru. Di hari yang sama, warga Waduk Pluit menemukan karung berisi potongan kepala korban.
Penangkapan Pelaku:
Pelaku sempat membantah dan mencoba melarikan diri saat ditangkap. Namun, polisi mengambil tindakan tegas terukur hingga pelaku akhirnya mengakui seluruh perbuatannya. Pelaku dijerat ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.
Jadikan pelajaran, tetap jaga lisan di mana pun kita berada.
Baru aja baca laporan investor asing di Indonesia.
Bersedia bayar pajak lebih banyak asal extortion dan corruption ilang.
Jangan nerima penjelasan investor kabur gara2 buruh nuntut gaji naik.
Pemerintah yg korup dan pungli ormas ini masalah sebenarnya.
🚨 The Moment Trump Leaves the Iran War, the Petrodollar Dies Forever
Professor Jiang explains how the US economy is a giant Ponzi scheme dependent on Gulf nations investing in American tech. If Iran forces the Gulf to abandon the petrodollar for food security, the US economy will face total collapse and revolution in the streets.
Jeff Currie, former Goldman Sachs head of commodities and lifelong insider of the dollar system, just laid out the one line America cannot cross. Handing control of the Strait of Hormuz to Iran is not a tactical retreat. It is the formal end of the United States as global hegemon and the death of the dollar as the world’s reserve currency.
JP Morgan CEO Jamie Dimon said that Iran had its “throat on the Strait of Hormuz” for 45+ years and told the Trump administration to “finish this thing and finish it right.”
Bank of America reports that U.S. now only has 43-day emergency buffer of crude oil left in 45-year low.
Rapid Analysis: Kesenjangan Meningkat Khususnya di Kota. Jawa Urban resiko tensi sosial naik.
Dari bbrp rilis BPS kemarin, banyak akun yg analisis PDB, pengangguran & kemiskinan. Tapi sedikit yg bahas kesenjangan.
Kesenjangan pengeluaran naik 0,05 point (range 0-1) dari Sep 25 ke Mar 26. Sepertinya kecil tapi ini kenaikan terbesar sejak periode Sep 22- Mar 23 yg boom paska pandemi lalu trend turun.
Daerah perkotaan kesenjangan naik 0,004 dan desa naik 0,001.
Pada maret 2026, lapis 20 % teratas di kota berperan thd 47,1 % belanja sedangkan 20 % terbawah hanya belanja 18,31 % dari total. Untuk desa angkanya 38,9 % dan 22,2 %.
Tiga dari lima wilayah urban dgn kesenjangan tertinggi ada di Jawa (Jakarta, Jawa Barat dan Jogja). Jakarta dan wilayah urban Jabar juga alami kenaikan yg tinggi dgn 0,012 dan 0,016. Wilayah urban Jateng dan Jatim juga alami kenaikan walau lebih sedikit (0,003 dan 0,001). Jogja dan Banten turun kesenjangan urban nya (0,007 dan 0,002).
Apa arti angka2 diatas? Waspada ketika pertumbuhan melambat berbarengan dgn kesenjangan yg meningkat.
Ini data bulan Maret 2026 yg pertumbuhan Q1 lebih tinggi dari Q2, sehingga layak diduga angkanya sekarang sudah berubah ke lebih tinggi.
Data pertumbuhan PDB Q1 dan Q2-2026 tunjukkan bhw belanja pemerintah (G) sbg motor terbesar. Shg perlu hati2 thd persepsi bhw banyak penerima manfaat program pemerintah yg tidak penuhi rasa keadilan masyarakat.
Prof Burhanudin (UIN dan Indikator) pernah analisa surveynya bhw ketidakpuasan masy miskin dan rentan tinggi pada penerima manfaat program pemerintah yang dianggap sudah mampu.
Pemerintah perlu perkuat targeting program2 bansos dan andalan (MBG, KDMP, Kampung Nelayan dll) shg sampai mayoritas ke kelompok miskin dan rentan serta ada upaya serius berantas korupsi.
Jangan sampai kesenjangan terus meningkat ketika pertumbuhan melambat dan persepsi ketidak adilan membesar shg tensi sosial naik khususnya di Jawa yg kunci.
Sudah ada klarifikasi dari orang yg cantumkan nama Presiden Prabowo sbg penulis paper ttg MBG dan menominasikan ke seleksi Nobel Perdamaian.
Point penting:
- tidak pernah izin dan/atau dapat persetujuan Presiden Indonesia dan Presiden Prancis buat cantumkan nama.
- Kemdagri dan IPDN tidak terlibat
Bikin malu aja post kyk gini, bandingin kok sama negara frontier. Katanya mau bersaing, ya bandingin sama emerging juga lah.
Noh lihat passport kita kalah sama Brunei.
dr. Gia Pratama membagikan sebuah utas di threads sebut bahwa “Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi.”
Teman-teman dokter, teman-teman nakes.
Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi.
Saat seragam itu dipakai, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa segala lelah, kecewa, marah, dan segala tekanan yang kita rasakan, ada tanggung jawab besar untuk tetap bersikap profesional.
Karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, masih lebih melelahkan menjadi pasien.
Sakit itu Tidak Enak.
Badan terasa asing. Pikiran penuh ketakutan. Waktu berjalan lebih lambat. Bahkan bagi kita yang setiap hari bekerja di rumah sakit, sejujurnya menjadi pasien adalah salah satu hal yang paling kita takuti.
Kita memahami keterbatasan fasilitas. Kita tahu rumitnya sistem rumah sakit dan BPJS. Kita mengerti perpindahan kamar membutuhkan proses. Kita tahu padatnya IGD, rumitnya rawat inap, dan betapa banyak hal harus dikerjakan dalam waktu bersamaan.
Kita tahu semua itu.
Tapi pasien kan enggak.
Pasien hanya melihat keluarganya kesakitan. hanya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, berapa lama harus menunggu, dan apakah ada seseorang yang sungguh peduli kepada mereka.
Sering kali, cukup kata-kata kita,
“Mohon maaf ya, Pak, Bu. Saat ini prosesnya masih berjalan. Kami masih menunggu kamar tersedia. Perkiraannya sekitar satu jam (atau berapapun jam) lagi. Kami akan terus memberi kabar.”
Bagi orang yang sedang takut kejelasan adalah bentuk kasih sayang.
Nada suara yang lembut adalah obat pertama. Penjelasan yang apa adanya itu membuat menunggu terasa lebih manusiawi.
Hubungan kita dengan pasien tidak dibangun seperti hubungan atasan dan bawahan. Kita adalah partner. Kita berdiri di sisi yang sama, bahu-membahu melawan penyakit.
Kita mengerjakan bagian kita dengan ilmu, keterampilan, dan hati. Pasien menjalankan bagiannya dengan kepercayaan, keberanian, dan kesabaran.
Keduanya sama-sama berjuang.
Dan ketika perjuangan itu berhasil, ketika seorang pasien sembuh dan akhirnya pulang, kembali memeluk keluarganya, kembali bekerja, kembali menjalani hidupnya, itu perasaan BAHAGIA yang tiada dua.
Itulah salah satu alasan kita memilih jalan ini.
Lalu ketika ada pasien menyampaikan keluhan di media sosial, bahkan ketika nama rumah sakit atau BPJS ikut disebut, mengapa kita harus begitu mudah tersulut?
Mengapa kelelahan kerja harus dituangkan menjadi kata-kata yang kejam dan jahat?
Lelah dapat dipahami. Marah dapat terjadi. Frustrasi adalah bagian dari hidup.
Namun Merendahkan pasien, Mempermalukan orang yang sedang sakit, atau melontarkan kalimat yang melukai martabat manusia, tidak memiliki pembenaran dari sisi mana pun.
Pasien kan salah satu jalan datangnya rezeki kita.
Allah selalu mengirimkan rezeki melalui tangan manusia. Dan rezeki kita, para tenaga kesehatan, datang melalui manusia yang sedang sakit, takut, rapuh,dan membutuhkan pertolongan.
Maka sesungguhnya pasien adalah ladang karunia kita.
Melalui mereka, ilmu kita memiliki arti. Melalui mereka, tangan kita dapat menolong. Melalui mereka, kesabaran kita dilatih. Melalui mereka pula, terbuka begitu banyak kesempatan untuk mendapatkan pahala.
Jadi ayo kita sayangi pasien-pasien kita.
Bagi kita, mungkin mereka adalah pasien ke empat puluh hari itu.
Namun bagi mereka, hari itu mungkin adalah salah satu hari paling menakutkan dalam hidupnya.
Pertolongan kita harus selalu dimulai dari rasa kemanusiaan.