Anak kecil lebih gampang bahagia, masih kuat dimensi kesadarannya (BEING).
Orang dewasa sulit bahagia, gampang menghakimi & membenci, udah didominasi dimensi pikirannya (DOING).
Saya nonton film Na Willa, ngliatnya dari sisi… Mind itu ada kesadaran (being) & pikiran (doing).
Dulu kita lahir, waktu kecil, mind kita masih kuat di dimensi kesadaran. Mode being. Sadar penuh hadir utuh.
Masih terhubung sama hakikat diri, the deep I, our true nature. Belum keambil alih sama diri yang diciptakan pikiran, ego, “aku”.
Belum punya beban “harus jadi siapa.” Belum sibuk bandingin diri. Belum kuat identitasnya, belum ada “aku lebih baik dibanding kamu” “kelompokku lebih suci dibanding kelompokmu”.
Main ya main. Ketawa ya ketawa. Nangis ya nangis. Rebutan main, marahan, abis itu main bareng lagi, ketawa bareng lagi.
Simple… oleh karena itu anak kecil lebih gampang bahagia.
Nggak gampang sakit hati, nggak dendam.
Nah, makin kita gede…
Pelan-pelan kita diajarin orang-orang dewasa dan tua di sekitar kita:
“Kamu itu identitasnya ini. Beda dengan itu.”
Terjadi pengelompokkan, fragmentasi. Dan itulah akar dari kebencian, penghakiman, kekerasan. “Aku benar, kamu salah.” “Kelompokku benar, kelompokmu salah.”
Kita juga jadi terprogram:
“Kamu harus begini.”
“Kamu harus sukses.”
“Kamu harus lebih dari orang lain.”
Mulai mikir terus, bandingin, ngejar.
Dan tanpa sadar… kita jadi didominasi dimensi pikiran. Mode kita jadi doing.
Kalo udah gitu, kita mulai ribet. Jadi susah bahagia. Dikit-dikit kepikiran. Dikit-dikit konflik.
Karena kita makin jauh, nggak terhubung sama hakikat diri, the deep I, our true nature.
Kita makin jauh sama diri kita sendiri. Jadi kesulitan kayak anak kecil yang sekadar hadir, sadar di sini-kini.
Present moment is wonderful moment ✨
Itulah kenapa yang seringkali menghancurkan kebahagiaan anak kecil adalah orang-orang dewasa dan tua di sekitarnya.