BANGGA SAMA NETIZEN UDAH SPILL INI😭😭
HIDUPKU JADI TERCERAHKAN‼️
Selama ini aku ngerasa pintar beli bumbu bakar mahal,
ternyata aku cuma korban marketing😭
@apansa_kalengs pernah punya civix sir 97.. ada sunroof. dipake pas pertama beli coba2 suka ada mainan baru. setelah itu ga pake lagi. hahaha unfaedah. pake 3 tahun cuma pertama beli.
@tanyakanrl ya kayak Yugoslavia.. pecah pecah...paling apes ikut negara pecah yg lemah kyk bosnia trus ada pembantaian etnis sm negara pecah yg kuat hahha
Silakan Simak ulasan Komjen Pol (Purn) Oegroseno (mantan Wakapolri)
bhw salah satu penyidik yang “memaksakan”
Roy Suryo dan dokter Tifa utk dibawa ke RS Polri Kramat Jati adalah penyidik yg mengantar ES dan DHL ke rumah Jokowi di Solo untuk nego “damai”.
Artinya Parcok masih dikendalikan dari Solo
#KamiBersamaRoyTifa
#KamiBersamaRoyTifa
HP temen gue hilang. Besoknya syok berat, tagihan Paylater Rp12 juta dari transaksi yang gak pernah dia lakuin.
Aplikasinya dengan enteng bilang, "Pelaku masuk pakai PIN asli, berarti kelalaian user."
Temen gue sampai depresi. Gue langsung turun tangan.
3 hari kemudian, tagihan itu resmi jadi Rp0. Total biaya jadi Rp0.
Ini yang gue lakuin:
Bukan nyari HP lewat GPS. Prioritas utama adalah, amankan semua akun finansial dari perangkat lain. Login dari device cadangan, force logout semua sesi aktif. Terus telpon operator, blokir SIM card sementara. Ini krusial biar pelaku gak bisa terima OTP via SMS.
Yang paling penting dan kebanyakan orang gak tahu yaitu, minta log IP address + Device ID dari semua transaksi. Email resmi ke CS, minta data lengkap. Ini bukti kuat kalau transaksi dilakuin dari perangkat dan lokasi yang BEDA dari lo.
Buat laporan polisi (STPL). Banyak orang males ke polisi, padahal ini bukti hukum resmi bahwa lo korban, bukan pelaku yang pura-pura hilang.
Kirim surat sanggahan resmi via EMAIL, bukan chat CS biasa. Lampirkan kronologi, foto STPL, permintaan pembekuan tagihan selama investigasi. Chat CS gampang diabaikan, email formal punya kekuatan hukum.
Mereka masih nolak? Lapor OJK. https://t.co/vDQmTDwwDW atau telpon 157. OJK punya wewenang penuh buat nindak platform yang abai perlindungan konsumen. Begitu laporan OJK masuk, respons mereka biasanya berubah 180 derajat.
Alasan "PIN asli = kelalaian user" itu gak valid secara hukum. POJK 6/2022 bilang perusahaan WAJIB punya verifikasi berlapis untuk transaksi tak wajar. Kalo sistem mereka gak bedain pemilik asli vs pelaku, itu kegagalan MEREKA.
Hasilnya, hari 1 laporan polisi + sanggahan. Hari 2 eskalasi OJK. Hari 3 tagihan Rp12 juta DIHAPUS jadi Rp0.
Btw, stop nyatet PIN di Notes HP lo.
@txtharihariWNI karena semua dipajakin negara dri bangun smp malam .. sekali kali makan subsidi ga apa lah.
dripada nyinyir sm2 rakyat noh pejabat korup sono nepalkan..negara ini hidup dri pajak rakyat. hasil SDA dimakan pejabat² anjing
Adik gue lulus S1 tahun lalu.
IPK 3,8. Cumlaude.
Udah 11 bulan nganggur.
Yang nerima dia kerja pertama kali?
Warung kopi depan rumah.
Gajinya Rp1,2 juta.
Gue gak nulis ini buat nyalahin dirinya.
Atau nyalahin kampusnya.
Gue nulis ini karena gue tau ada jutaan "adik gue" di luar sana.
Yang dibesarkan dengan satu keyakinan:
"Kuliah yang bener, nanti hidupmu terjamin."
Dan sekarang mereka bingung janji itu ke mana?
Gue bukan anti kuliah.
Tapi gue mulai curiga.
Gelar itu dulu pintu masuk.
Sekarang?
Gelar cuma tiket antre.
Semua orang pegang tiket yang sama.
Yang beda adalah apa yang ada di balik tiket itu.
HRD temen gue cerita jujur:
"Dari 200 lamaran yang masuk, 190 punya gelar S1."
"Yang gue panggil? Yang CV-nya beda."
"Portfolio. Project. Pengalaman nyata. Bahkan konten."
"Gelar? Gue liat belakangan."
Itu bukan pengecualian.
Itu udah jadi standar baru.
Adik gue habiskan 4 tahun belajar teori.
Skripsinya 80 halaman.
Tapi pas interview pertama ditanya:
"Pernah handle project apa?"
Dia diem.
Bukan karena dia bodoh.
Tapi karena 4 tahun itu gak ada yang ngajarin dia bikin sesuatu yang nyata.
Yang perusahaan cari sekarang bukan yang paling pintar.
Tapi yang paling siap.
Siap problem solving.
Siap komunikasi.
Siap deliver hasil bukan cuma tugas.
Skill itu gak ada di mata kuliah manapun yang pernah adik gue ambil.
Gue akhirnya kasih adik gue satu hal yang gue nyesel gak tau dari dulu.
Bukan buku kampus. Bukan modul.
Tapi cara berpikir yang beneran dibutuhin dunia kerja sekarang.
Sebulan setelah itu, dia udah punya 2 project freelance.
Tapi tunggu dulu ini belum selesai.
Ada bagian yang lebih bikin gue marah.
Yang bikin gue paling geram bukan sistemnya.
Tapi narasinya.
Orang tua kita masih bilang:
"Kuliah dulu yang bener, jangan kebanyakan kegiatan."
Padahal kegiatan itulah yang dicari HRD.
Kita dilarang melakukan hal yang justru menyelamatkan kita.
Gue gak bilang kuliah itu buang waktu.
Gue bilang kuliah aja gak cukup.
Bedain dua hal itu.
Gelar itu fondasi.
Tapi rumahnya lo yang harus bangun sendiri.
Dan kampus gak pernah ngajarin cara bangun rumahnya.
Adik gue sekarang udah kerja.
Bukan karena gelarnya.
Tapi karena dia akhirnya berhenti nunggu gelar itu bekerja.
Dia mulai bikin portfolio.
Dia mulai belajar skill yang beneran dibutuhin.
Dia mulai kelihatan di tengah 190 orang yang cuma pegang tiket yang sama.
Kalau lo atau adik lo lagi di titik ini
Gelar udah di tangan tapi jalan masih buntu
Jangan tunggu sistem berubah.
Sistemnya gak akan berubah secepat yang lo butuhin.
Mulailah dari apa yang bisa lo kerjakan hari ini.
Bangun portfolio.
Cari pengalaman.
Belajar skill yang memang dibutuhkan.
Karena pada akhirnya, yang membedakan lo dari ratusan pelamar lain bukan cuma gelar yang lo punya, tapi apa yang bisa lo tunjukkan dan kerjakan.
Menurut kalian, di zaman sekarang yang lebih menentukan dapat kerja itu gelar, pengalaman, atau koneksi?
sc:threadssarikuesari
1
Lu coffee shop kalau pake bahannya merk ginian tapi dijualnya Rp40.000 an per porsi, sesat sih. Mau cepet naik haji atau gimana itu konsepnya wkwk.
cc:nadiemalbaik