Nih ya buat lu pada yang ganti knalpot ori jadi knalpot gombreng berisik, gue cuma mau bilang
KNALPOT LU JELEK.
MOTOR LU JELEK.
SELERA LU JELEK.
KELAKUAN LU JELEK.
LU KALAU MAU BERISIK, LU PASANG TU HEADSET DI KNALPOT LU, DENGERIN DAH SAMPE KUPING LU BERDARAH. KAMPUNGGG!!!
Hukum Fisika dalam Pengereman Kereta Api.
Rasanya pilu banget denger berita kecelakaan Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur kemarin malam. Banyak keluarga yang tiba-tiba harus menerima kabar yang tidak mereka bayangkan sebelumnya. Aku turut berduka buat semua yang terdampak.
Di tengah duka itu, banyak yang mulai bertanya-tanya di kolom komentar: kenapa masinis tidak langsung ngerem? Kok bisa sampai tidak keburu berhenti?
Sebelum buru-buru menyalahkan, ada beberapa hal yang perlu kita pahami dulu. Soal fisika, soal inersia, momentum, dan energi.
Kereta api itu berat banget, satu rangkaian kereta jarak jauh beserta isinya bisa mencapai ratusan ton. Di sini, konsep fisika bernama inersia dan momentum masuk.
Inersia itu sederhananya adalah "keengganan" sebuah benda untuk mengubah kondisinya. Kalau diam, maunya tetap diam. Kalau bergerak, maunya tetap bergerak. Semakin berat bendanya, semakin besar inersianya, semakin susah kondisinya diubah.
Kita semua pernah ngerasain ini. Waktu naik motor dan tiba-tiba ngerem, badan kita reflek maju ke depan. Itu inersia. Tubuh kita "enggan" berhenti padahal motornya sudah berhenti.
Nah, kalau Momentum itu muncul saat sebuah benda mulai bergerak. Momentum adalah gabungan antara seberapa berat benda itu dan seberapa cepat dia melaju.
Nah, bayangkan itu terjadi pada benda seberat ratusan ton yang melaju di atas rel, dengan kecepatan tinggi. Sebesar apa momentumnya?
Momentum sebesar itu tidak bisa hilang begitu saja dalam hitungan detik, harus dilepaskan pelan-pelan lewat gesekan rem ke roda, dan roda ke jalan.
Nah, masalah berikutnya, roda kereta terbuat dari besi dan relnya juga besi. Gesekan antara keduanya jauh lebih kecil dibanding ban karet mobil di atas aspal.
Desain ini memang bikin kereta bisa melaju dengan efisien, tapi juga susah berhenti cepat. Kalau rem dipaksa sekuat tenaga, roda malah terkunci dan kereta akan tergelincir dan meluncur di atas rel, bukannya berhenti.
Kombinasi dari dua hal tadi menghasilkan jarak pengereman yang panjangnya bikin kaget. Kereta yang melaju 100 km/jam bisa memerlukan jarak lebih dari 1 kilometer untuk berhenti dengan aman. Masinis sudah harus mulai mengerem jauh sebelum halangan terlihat jelas.
Di kasus Bekasi kemarin, begitu KRL terhenti mendadak karena insiden taksi, Argo Bromo yang ada di belakangnya hampir tidak punya cukup jarak untuk bereaksi. Baru sebagian informasi sampai, sinyal langsung merah (sepertinya menandakan kereta sudah harus berhenti).
Investigasi masih berjalan, di kondisi duka ini, kita jangan menyalahkan siapapun.
Secara fisika, ini menunjukkan betapa kompleksnya keselamatan kereta api. Sistem sinyalnya, jarak amannya, semuanya dirancang karena kereta tidak bisa berhenti mendadak.
Makanya, kalau kamu lagi di perlintasan rel dan kereta sudah kelihatan, jangan coba-coba melintas. Masinis sudah pasti ngerem sekuat yang dia bisa. Tapi hukum fisika tidak peduli seberapa keras dia mencoba.
Millions of Indonesians are currently sharing this blue picture saying “Emergency Warning.” What is happening in Indonesia?
🧵A THREAD🧵
In less than 72 hours ...
Karena banyak yg minta bikin diluar komun aku bikin disini yaa jadi yang bersangkutan yang juara satu ini udah bully aku selama 3 tahun di SMA (2018-2020), so far belum ada minta maaf atau apapun sampe saat ini 4 thn setelahnya aku belum speak up karena trauma dan capek
lu pernah gak sih udah ngebayangin outfit ini kyknya fit you the most tp pas giliran udah dipake dan ngaca gak sesuai ekspetasi sedih bgt kyk anjiiiiing jelek lu