Yang paling aneh dari Indonesia tentang ibadah haji adalah gelar "Haji". Udah jelas bukan bagian dari syariat Islam dan berpotensi riya' (pamer) serta juga warisan kolonial Belanda untuk mengawasi cendekia muslim. Namanya ibadah seharusnya mendekatkan diri kepada Allah secara pribadi (ikhlas), bukan menjadi "badge" sosial yang ditempel di depan nama. Malah jadi kelihatan norak, bukan sakral. Orang-orang kaya norak.
Buat maba, jangan bikin konten atau menormalisasi bahwa pak Dibyo itu gemoy, lucu dan sebagainya. Dia orang yng sama yang ngusir mahasiswa waktu demo UKT di rotunda.
WHY are we interpreting this as it is?? 😭😭 tulisan sereflektif ini dijadiin ajang dakwah dan saling koreksi sama orang-orang di rep 😭 what did we learn di kelas sastra pas SD guys???
Dibantah sama Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassalam. Justru orang yang lebih membutuhkan secara ekonomi lebih ringan hisabnya daripada orang kaya.
Heran. Mudah sekali meninggalkan ajaran Islam seperti hisab di hari akhir, istidraaj, dan hadits di bawah ini over an article 😑
🚨🚨 BREAKING: Neymar announces his RETIREMENT FROM INTERNATIONAL FOOTBALL. 👋🏼🇧🇷
“I tried. I tried. It started here at Met Life stadium and I finished here. It is now over”, Ney said after the game.
His story with the Brazilian national team is over.
it’s discriminative, tapi frustrationsnya para penggenjot transum ini valid juga dah 🤣 the system has failed both sides, the classist middle class and the “gak beradab” lower class
i mean kalo bahas “kan ketikannya bs lebih beretika”, it could apply to either sides gasi… as in yang “gak beradab” bisa lebih beretika jg pas naik transum. both parties are in control of their respective behaviors, nobody really needs to tell them how to behave in public spaces
UI Menciptakan Pengkritik melahirkan politisi, BINUS Menciptakan pengusaha Melahirkan Pencipta.
Tidak semua kampus mencetak lulusan dengan cara berpikir yang sama.
Ada kampus yang membentuk mahasiswanya untuk menjadi politisi dan memegang jabatan dalam pemerintahan.
Ada kampus yang membentuk mahasiswanya untuk menjadi pengusaha sukses melahirkan sesuatu yang baru dan bermanfaat untuk rakyat.
Perbedaan itulah yang terlihat antara kultur yang berkembang di Universitas Indonesia (UI) dan BINUS.
UI sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat aktivisme mahasiswa terbesar di Indonesia. Mahasiswanya terbiasa berdiskusi tentang politik, demokrasi, kebijakan publik, ketimpangan sosial, dan berbagai isu kenegaraan.
Dari rahim UI lahir banyak politisi, aktivis, birokrat, menteri, anggota DPR, hingga tokoh pergerakan nasional.
Dari rahim BINUS lahir banyak pengusaha teknologi, bisnis, inovasi, kewirausahaan, startup, dan ekonomi digital.
Mahasiswa BINUS lebih sering berbicara tentang produk, aplikasi, investasi, kecerdasan buatan, dan peluang pasar dibandingkan dinamika politik praktis.
Mahasiswa UI lebih sering berbicara tentang kekuasaan, bagaimana cara menggapainya, bagaimana cara meraihnya agar masa depan mereka cemerlang, salah satunya adalah dgn berpura2 bela rakyat.
Perbedaan kultur tersebut terlihat jelas ketika menghadapi sebuah masalah.
Ketika harga pangan naik, mahasiswa UI :
Menuntut harga BBM jangan naik.
Menuntut penggunaan APBN tidak boros.
Menuntut harga sembako turun.
Menuntut harga hasil panen petani naik.
Menuntut Program Makan Bergizi Gratis dihentikan.
Jika harga gabah naik, harga beras berpotensi naik.
Jika harga beras turun, petani berpotensi menerima pendapatan lebih rendah.
Jika subsidi BBM diperbesar, anggaran negara harus bertambah artinya pemborosan.
Jika program MBG dihentikan, salah satu pasar terbesar bagi hasil pertanian, peternakan, dan UMKM pangan justru hilang.
Ironisnya, kontradiksi seperti ini jarang dibahas di atas mobil komando.
Sementara mahasiswa BINUS :
Ketika melihat harga pangan mahal, mereka berpikir bagaimana memangkas rantai distribusi.
Ketika melihat produktivitas petani rendah, mereka berpikir bagaimana menerapkan teknologi pertanian.
Ketika melihat lapangan kerja kurang, mereka berpikir bagaimana menciptakan perusahaan baru.
Ketika ada persoalan ekonomi, mahasiswa UI memilih cara kekerasan dengan turun ke jalan membawa tuntutan.
Kelompok kedua justru membuka laptop dan mencoba membangun solusi.
Tentu tidak semua mahasiswa UI seperti itu dan tidak semua mahasiswa BINUS seperti ini. Namun secara umum, kultur yang berkembang memang mengarah ke sana.
Akibatnya, tidak mengherankan jika demonstrasi mahasiswa yang menuntut harga BBM tidak naik, harga sembako turun, harga hasil panen petani naik, dan Program Makan Bergizi Gratis dihapus lebih sering lahir dari lingkungan yang kultur politiknya kuat dibanding kultur kewirausahaan dan teknologi.
Masalahnya, ekonomi tidak berjalan berdasarkan slogan.
Tidak mungkin harga hasil panen petani naik sementara harga pangan terus turun tanpa ada peningkatan produktivitas.
Tidak mungkin subsidi terus diperbesar tanpa memikirkan sumber anggaran.
Tidak mungkin APBN hemat jika subsidi di perbesar.
Tidak mungkin kesejahteraan petani meningkat jika pasar yang menyerap hasil pertanian justru dikurangi.
Di sinilah terlihat perbedaan cara berpikir yang dibentuk oleh kultur kampus.
Kultur aktivisme menghasilkan amarah dan kemampuan mengkritik tanpa solusi.
Kultur inovasi menghasilkan kemampuan memecahkan masalah dengan solusi.
Kultur politik melahirkan demonstran dan politisi.
Kultur kewirausahaan melahirkan pencipta lapangan kerja.
Kultur perlawanan melahirkan tuntutan.
Kultur teknologi melahirkan solusi.
Indonesia membutuhkan keduanya. Namun yang perlu diingat, negara tidak bisa dibangun hanya dengan kritik dan tuntutan.
Jalan raya tidak dibangun oleh demonstrasi.
Pabrik tidak dibangun oleh spanduk.
Lapangan kerja tidak lahir dari pengeras suara.
Kemajuan bangsa lahir dari inovasi, investasi, produktivitas, dan keberanian menciptakan sesuatu yang baru.
Mungkin karena itulah kita jarang mendengar lulusan startup sukses berkata, "Mari turun ke jalan."
Mereka biasanya berkata, "Mari kita bangun solusinya."
Dan dalam jangka panjang, sejarah sering kali lebih mengingat para pencipta solusi dibanding para penyampai tuntutan.