Setelah gue baca artikelnya dan modusnya, ini kejadian di pondok pesantren di Lombok Barat. Pelakunya Ahmad Faisal, 52 tahun, pimpinan sekaligus ketua yayasan. Dia mencabuli sekitar 20 santriwati dengan dalih menyucikan rahim agar melahirkan keturunan saleh. Aksinya dilakukan bertahun-tahun, dari sekitar 2016 sampai 2023, memanfaatkan kedekatan spiritual dan posisinya sebagai guru agama untuk memanipulasi para korban.
Seharusnya hukuman terhadap pelaku seperti ini jauh lebih berat, bukan karena jumlah korban, tapi karena dia mencemarkan simbol yang seharusnya paling dijaga, agama. Semakin sakral sesuatu, semakin besar tanggung jawab moralnya. Karena kejahatan seperti ini bukan berdampak desentralisasi, ia menghantam kepercayaan umat secara kolektif. Sekali ajaran agama dijadikan kedok untuk menipu dan menindas, maka luka itu bukan hanya milik korban, tapi juga milik seluruh umat yang harus menanggung stigma. Masyarakat juga mesti bareng-bareng ikut mengritik dan mengawal, bukan apatis dan membiarkan kasus seperti ini tenggelam hanya karena kejahatannya terjadi di pesantren. Diam itu bukan bentuk hormat pada lembaga agama, tapi justru pengkhianatan pada nilai-nilai Islam yang suci.
Ribuan pengemudi Ojol mengantar almarhum Affan ke peristirahatan terakhirnya.
Affan mati dibunuh Polisi.
DITABRAK. Bukan tertabrak.
DIBUNUH. Bukan terbunuh.
Sisipkan doamu, untuk Affan dan Indonesia. Sebentar saja hari ini.