This is the greatest and bravest woman you will ever see in your life Dr. Amira from Gaza.
Under the siege of the hospital, in front of the snipers’ bullets, she ran forward without hesitation, pulled out the stranded patient, and saved his life.
This video will be remembered by generations to come…forever.
Thiago was kidnapped for one reason: for denouncing Zionist crimes to the world !!
Thiago's clarity in identifying and holding the true culprits accountable, coupled with his mobilization capacity, terrifies the two greatest enemies of humanity today: Imperialism, led by the US, and Zionism, led by Israel.
This is why we are witnessing desperate acts like those of last Wednesday. Acts of piracy, violence, and abduction are the perfect portrait of Zionist desperation to halt an organized civil movement such as the Flotilla.
People power can change the world!
Trump and Netanyahu know this, and that's why they fear it.
We will not be silenced!
We demand immediate answers!
WHERE ARE SAIF AND THIAGO?
Video recorded on April 11th, at the launch of the Global
Sumud Flotilla in Barcelona.
Kita bantu viralin, biar cepet ketangkep pelakunya guys...
Sebuah mobil diesel menabrak gerobak sayur di Jalan Raya Kalimalang, Duren Sawit, Jakarta Timur, Setelah kejadian, kendaraan tersebut langsung melarikan diri, 02/05/2026
“Either they will kill us, or we will enter Gaza.”
Global Sumud Flotilla activist Şuayb Ordu says preparations are underway for a new flotilla, with ships being readied in Turkey and across Europe to gather and sail toward Gaza.
This movie got nominated for the golden globe awards, the Oscars, and many more.
It’s about a 3 year old Palestinian girl.
Why? The IDF shot at her 355 times.
They killed her with 355 bullets.
Say her name. Hind Rajab.
Guys, ada kabar duka yang sangat berat hari ini dan di baliknya ada cerita yang menurut gue harus diketahui semua orang.
dr. Myta Aprilia Azmi meninggal dunia pada 1 Mei 2026 dokter internship di RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal.
Tapi sebelum dia meninggal ada surat resmi dari IKA FK Unsri yang mengungkap fakta-fakta yang sangat mengkhawatirkan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Ini bukan sekadar dokter yang sakit lalu meninggal:
Berdasarkan investigasi internal dan kronologi tertulis yang dikumpulkan IKA FK Unsri ada empat temuan yang menurut gue perlu lo baca dengan sangat serius.
Pertama — beban kerja yang tidak manusiawi.
Dr. Myta menjalani tiga bulan tanpa libur di bangsal dan IGD. Tiga bulan. Tanpa libur.
Dan selama itu dia bekerja tanpa supervisi dokter definitif melanggar aturan Kemenkes yang jelas menyatakan dokter internship statusnya dokter magang, bukan pekerja tetap rumah sakit.
Kedua — kelalaian medik yang sangat mengkhawatirkan.
Dr. Myta sudah melaporkan gejala sakit sejak Maret 2026. Tapi dia tetap dipaksa menjalani jadwal jaga malam dalam kondisi sesak napas berat dan demam tinggi.
Yang paling mengejutkan:
saturasi oksigennya sudah menyentuh 80% sebelum akhirnya mendapat penanganan yang layak.
Saturasi 80% itu bukan kondisi ringan. Itu kondisi darurat yang seharusnya langsung ditangani.
Ketiga — dugaan malapraktik administratif.
Obat Sulbacef kosong di rumah sakit.
Dan pasien yang merupakan tenaga kesehatan di wahana tersebut yaitu dr. Myta sendiri diminta mencari obat sendiri di luar.
Dokter yang sakit disuruh cari obatnya sendiri.
Keempat — tindakan intimidasi dan upaya penutupan informasi.
Ada arahan dari oknum pembimbing untuk merahasiakan kondisi dr. Myta agar tidak terjadi prolong atau perpanjangan masa internsip.
Dan ada narasi gaslighting yang menyerang para dokter internship ketika mereka menyuarakan hak dasar kesehatan mereka dengan sebutan "generasi Z lembek."
Ini bukan kasus individual.
Ini adalah cerminan sistem:
Yang membuat kasus ini lebih dari sekadar tragedi personal adalah konteksnya yang sangat sistemik.
Dokter internship di Indonesia berstatus dokter magang bukan pegawai tetap.
Tapi dalam praktiknya mereka diperlakukan seperti tenaga kerja penuh tanpa perlindungan yang memadai.
Tidak ada batasan jam kerja yang ditegakkan.
Tidak ada supervisi yang dijamin.
Tidak ada mekanisme yang melindungi mereka ketika mereka sakit dan membutuhkan istirahat.
Dan ketika mereka berani bersuara mereka dibungkam dengan label "lembek."
Dokter yang sesak napas dengan saturasi 80% dan demam tinggi tetap dipaksa jaga malam.
Ini bukan tentang ketabahan atau dedikasi.
Ini adalah eksploitasi yang berpotensi fatal.
Dan terbukti fatal.
IKA FK Unsri bergerak dan ini langkah konkret yang mereka tuntut:
Surat resmi tertanggal 30 April 2026 dari Ketua Umum IKA FK Unsri, dr. H. Achmad Junaidi, Sp.S(K)., MARS., ditujukan langsung kepada Menteri Kesehatan RI. Isinya empat tuntutan.
Audit menyeluruh terhadap RSUD K.H. Daud Arif sebagai wahana internship dan evaluasi kelayakan oknum pembimbing yang terlibat dalam kronologi ini. Perlindungan agar tidak ada sanksi administratif atau ancaman prolong terhadap dr. Myta dan rekan-rekan internship lain yang mengalami beban double job akibat kekosongan posisi.
Somasi administratif kepada RSUD agar memberikan penjelasan resmi dan pertanggungjawaban atas pengabaian kondisi klinis dr. Myta sejak awal sakit.
Dan tidak menutup kemungkinan langkah hukum jika ditemukan unsur pidana terkait kelalaian yang mengancam jiwa.
Yang paling menohok dari seluruh cerita ini:
Dr. Myta Aprilia Azmi sudah melewati bertahun-tahun kuliah kedokteran yang keras.
Sudah melalui koas.
Sudah lulus ujian.
Sudah berhasil sampai di tahap internship tahap terakhir sebelum resmi menjadi dokter penuh.
Dan di tahap itu dia jatuh sakit, melaporkan kondisinya, tidak didengar, tetap dipaksa bekerja, saturasi oksigennya jatuh ke 80%, dan akhirnya tidak sempat menikmati gelar dokter yang sudah dia perjuangkan bertahun-tahun.
Sementara ada oknum pembimbing yang sibuk memikirkan bagaimana supaya kondisinya tidak menyebabkan prolong bukan bagaimana supaya dia bisa sembuh.
Untuk semua dokter internship yang sedang membaca ini:
Kalian bukan "generasi Z lembek." Kalian adalah manusia yang berhak atas jam kerja yang manusiawi, supervisi yang layak, dan penanganan medis ketika kalian sakit. Itu bukan privilege. Itu hak dasar.
Dan untuk sistem yang selama ini menganggap dokter internship sebagai tenaga kerja murah tanpa perlindungan kasus dr. Myta harus menjadi titik balik. Bukan hanya menjadi trending topic sehari lalu dilupakan.
Semoga dr. Myta Aprilia Azmi mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Dan semoga perjuangan ini tidak sia-sia.
Al-Fatihah.
cc: threads
RELEASE THIAGO AND SAIF NOW!
We demand that all governments do all they can to pressure the Israeli regime to release all the illegal abductees. The remaining captive participants were released in Crete except Thiago and Saif.
Israel hijacked 7 boats in international waters and kidnapped all on board.
Those kidnapped included Canadians and New Zealanders.
MAINSTREAM MEDIA SILIENT‼️
I am so heartbroken.
Israel has just shot my 30-year-old aunt in the chest while she was sitting with her three young children in a school shelter in Jabalia Camp. She is in critical condition; the bullet pierced her chest and exited through her back, devastating her lungs and spleen.
At the moment she was hit, she was holding her one-year-old son. He fell from her lap as she collapsed and was found bleeding from one of his ears.
I just spoke with my uncle, who told me that Israel has been using subsonic bullets lately. He said his sister is the second mother in the camp to be shot in the chest today.
Please pray for her and our family. Her husband was abducted by Israel in November 2024, and we still have no word on his condition.
سنكسر الحصار عن غزة | رسالة قوية من قلب البحر..
الناشط التركي عمر أصلان من على متن #أسطول_الصمود:
"نحن هنا لنسمع العالم صراخ أطفال غزة، ونواجه هذا الظلم العالمي بإرادة صلبة. لن نسمح باستمرار تجاهل ما يحدث للرضع والأبرياء."
إرادة إنسانية تسعى لكسر القيد وإيقاظ الضمائر الميتة.
Guys, ada kasus yang menurut gue perlu lo dengar karena ini bukan cuma soal satu anak di satu sekolah di Pemalang. Ini adalah cerminan dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Seorang orang tua di Randudongkal, Kabupaten Pemalang sebut saja Bapak ini memposting sesuatu di media sosialnya.
Isinya dua hal: kritik terhadap implementasi MBG dan pengingat bahwa sekolah negeri dilarang memungut biaya LKS dan infak berdasarkan aturan pemerintah yang sudah berlaku.
Dia tidak menyebut nama sekolah anaknya.
Tidak menyebut nama kepala sekolah.
Tidak menyebut nama guru siapapun.
Tapi anaknya Mas Azhim, siswa SD N 01 Banjarayar dikeluarkan dari sekolah.
Yang terjadi secara kronologis:
Bapak ini memposting kritik soal MBG dan pungutan liar di sekolah negeri di akun media sosialnya.
Kepala sekolah memanggil dia.
Dan setelah pertemuan itu anaknya diberhentikan secara sepihak.
Tidak ada surat resmi pemberhentian yang prosedural.
Tidak ada proses klarifikasi yang fair.
Tidak ada mekanisme banding.
Satu pertemuan dan anak itu tidak boleh masuk sekolah lagi.
Dua bulan lebih Mas Azhim tidak mengikuti pelajaran. Dua bulan lebih seorang anak SD kehilangan haknya atas pendidikan bukan karena dia berbuat salah, tapi karena bapaknya berani bicara.
Dan di atas itu semua Mas Azhim juga mengalami bullying.
Bukti percakapan yang beredar dan ini yang paling mengejutkan:
Ada screenshot percakapan WhatsApp yang beredar. Pihak sekolah melalui salah satu guru membalas pesan si Bapak dengan kalimat yang menurut gue sangat mengungkapkan segalanya:
Meskipun njenengan tidak menyebutkan identitas sekolah, tapi kan masyarakat tahu kalau Mas Azhim sekolah di SD N 01 Banjarayar, jadi menggiring opini publik ke SD kami.
Berhenti sebentar di sini.
Pihak sekolah sendiri yang mengakui bahwa yang jadi masalah bukan tindakan si Bapak secara hukum tapi dampak reputasi ke sekolah.
Bukan soal anak yang melanggar aturan. Bukan soal proses belajar yang terganggu.
Tapi soal opini publik yang mengarah ke SD mereka.
Artinya anak ini dikeluarkan bukan karena dia salah. Tapi karena bapaknya membuat sekolah tidak nyaman di mata publik.
Apa yang dilakukan si Bapak itu sebenarnya?
Dia mengingatkan bahwa sekolah negeri tidak boleh memungut biaya LKS dan infak.
Ini bukan opini.
Ini fakta hukum.
Permendikbud dan berbagai regulasi turunannya sudah jelas melarang pungutan di sekolah negeri yang sudah mendapat BOS Bantuan Operasional Sekolah.
Sekolah negeri mendapat dana BOS dari APBN untuk membiayai operasional sekolah.
Dana itu sudah termasuk untuk pengadaan buku, alat tulis, dan kebutuhan belajar siswa.
Memungut LKS tambahan di atas BOS adalah pelanggaran regulasi.
Si Bapak tidak mengarang.
Dia mengingatkan aturan yang memang ada.
Dan untuk itu anaknya dikeluarkan.
Soal kritik MBG yang dia sampaikan dan ini relevan dengan konteks yang lebih besar:
Kita sudah bahas panjang lebar soal MBG dari Rp340 miliar yang menurut Mahfud MD hanya sampai ke makanan dari total triliunan yang dianggarkan, sampai 33.000 kasus keracunan, sampai 1.720 SPPG yang tutup tapi tetap dibayar Rp6 juta per hari.
Orang tua yang kritis terhadap MBG bukan musuh program. Mereka adalah orang-orang yang paling langsung terdampak ketika program itu tidak berjalan dengan baik.
Anak-anak merekalah yang makan makanan dari program itu. Anak-anak merekalah yang keracunan ketika standar sanitasinya tidak terpenuhi.
Mengkritisi MBG bukan kejahatan.
Mengkritisi sekolah yang memungut biaya ilegal bukan kejahatan.
Tapi di Banjarayar Pemalang melakukan dua hal itu ternyata cukup untuk membuat anakmu kehilangan akses pendidikan.
Ini bukan hanya masalah satu sekolah ini adalah masalah sistemik:
Yang terjadi di sini adalah penggunaan kekuasaan institusional untuk membungkam kritik warga.
Dan yang dikorbankan bukan si orang tua tapi anaknya yang tidak berdaya.
Ini adalah bentuk intimidasi yang sangat kejam justru karena targetnya bukan si pengkritik secara langsung. Targetnya adalah orang yang paling dicintai oleh pengkritik itu anaknya sendiri.
Kalau lo mau membungkam seseorang tanpa kelihatan melanggar hukum secara terang-terangan sakiti anaknya.
Itu yang terjadi di sini.
Dan kalimat dari guru itu tadi "menggiring opini publik ke SD kami" menunjukkan bahwa ini adalah keputusan yang diambil secara sadar untuk melindungi reputasi institusi, bukan untuk kepentingan terbaik anak didik mereka.
Apa yang seharusnya terjadi secara hukum:
Pertama — sekolah tidak punya kewenangan hukum untuk mengeluarkan siswa secara sepihak hanya karena orang tuanya mengkritik di media sosial.
Ini melanggar hak anak atas pendidikan yang dijamin Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan UUD 1945 Pasal 31.
Kedua — pungutan LKS dan infak di sekolah negeri yang sudah menerima BOS adalah pelanggaran regulasi yang seharusnya dilaporkan dan diinvestigasi oleh Dinas Pendidikan dan inspektorat daerah.
Ketiga — bullying terhadap anak karena tindakan orang tuanya adalah pelanggaran serius yang masuk dalam kategori kekerasan berbasis relasi kuasa.
Kasus ini sudah masuk ke Polres Pemalang.
Dan si Bapak memohon agar Kapolres mengawal proses penyidikan ini agar berjalan sesuai hukum bukan sesuai keinginan pihak tertentu.
Yang paling menyentuh dari seluruh cerita ini:
Si Bapak menulis: "Saya tidak mampu membayar pengacara untuk mencari keadilan."
Dan di sisi lain dia bilang: "Tidak apa-apa, saya bisa mendidik anak-anak walaupun tanpa ada ijazah."
Ini adalah seorang ayah yang sudah pasrah dengan sistem tapi belum menyerah pada kebenaran.
Yang tahu dia mungkin tidak punya kekuatan finansial untuk melawan.
Tapi tetap berjalan karena dia yakin masih ada orang-orang baik yang bisa membantu.
Dan si Bapak menutup pernyataannya dengan kalimat yang menurut gue harus diingat oleh setiap pejabat dan kepala sekolah di Indonesia:
"Jangan semena-mena dengan jabatan yang kau sandang karena itu semua hanya titipan."
Kalau kita bisa marah pada triliunan rupiah MBG yang tidak sampai ke makanan anak-anak kita juga harus bisa marah ketika satu anak SD kehilangan haknya atas pendidikan hanya karena bapaknya berani mengingatkan aturan.
Keduanya adalah wajah dari sistem yang sama sistem di mana institusi lebih sibuk melindungi dirinya sendiri daripada melayani mereka yang seharusnya dilayani.
Mas Azhim berhak atas pendidikannya.
Dan bapaknya berhak atas keadilannya.
22 KAPAL DICEGAT DI PERAIRAN INTERNASIONAL — MISI KEMANUSIAAN GAZA TERANCAM!
Saat ini (30/04/2026) 22 dari total 58 kapal Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan dan delegasi kemanusiaan menuju Gaza telah dicegat di perairan internasional. Israel melumpuhkan mesin dan menelantarkan awak kapal di tengah badai besar — sebuah tindakan yang mengancam nyawa para relawan.
Seruan kepada seluruh masyarakat Indonesia!
Buka mata, Pantau dan Bersuara.
Kita tidak boleh diam saat delegasi Indonesia dan relawan dari berbagai negara dihalangi dalam misi perdamaian menuju Gaza. Ini bukan hanya soal politik, tapi soal kemanusiaan.
Mari kawal bersama:
1. Sebarkan berita ini di segala lini media sosial.
2. Desak pemerintah & penguasa untuk hadir melindungi misi kemanusiaan.
3. Pantau perkembangan situasi melalui akun @gbsumudflotilla
Keselamatan delegasi indonesia di Global Sumud Flotilla adalah tanggung jawab kita bersama. Jangan tunggu sampai ada korban!
Keselamatan para delegasi GSF merupakan salah satu prioritas Julid Fi Sabilillah!
https://t.co/HgQu8Jl50L
Dirut KAI Bobby Rasyidin juga tegas KRL bukan masalah gender. Jadi, buat yang gak pernah naik KRL gak perlu sotoy kek Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi.
Kita tidak membedakan dari tingkat keselamatan, tidak kita bedakan antara gender perempuan dan laki-laki. Selama ini kami melakukan pemisahan (gerbong) itu karena ada beberapa aspek:
1. Supaya tidak terjadi yang namanya harassment
2. Memberikan kemudahan akses untuk para perempuan
3. Memberikan security yang lebih karena itu kan lebih dekat dengan penjaga, maka dari ujung ke ujung (gerbong paling depan dan belakang)
Sumber: Dok Kemenhub/Konferensi Pers di Stasiun Bekasi Timur, Rabu (29/4)
Gengs, karena berita di Aceh makin tenggelam, kita bakal up lagi situasi di sana.
Kondisi di Aceh masih banyak titik-titik yang belum pulih akibat banjir tahun lalu, ekonomi belum bisa bergerak penuh seperti sebelumnya.
Ya Allah!
Gadis Palestina bernama Reem Aziz bekerja berjam-jam mengayuh sepeda rakitan untuk menggerakkan mesin jahit keluarganya di Gaza karena jaringan listrik di wilayah tersebut sebagian besar masih hancur akibat genosida "Israel".
@ajenglish@sahabatalaqsha
Children in Gaza also Got Talent!
They have rights, dreams, and futures—just like your own children.
Do they deserve less? Do they deserve to be killed? Starved? Orphaned? Maimed?