[BREAKING]
Demi meredam gejolak Rupiah yang terus berada di bawah tekanan,
Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%, dari sebelumnya 4,75%.
Guys, Ligwina Hananto baru ngomong panjang dan sangat jujur tentang kondisi keuangan kelas menengah Indonesia dan menurut gua ini adalah salah satu obrolan paling membuka mata yang pernah ada.
Dan dia membuka dengan satu kalimat yang langsung menghantam.
Banyak banget yang kita bilang UMKM tulang punggung ekonomi negeri ternyata bukan. Ternyata itu cuma orang lagi dagang doang.
Soal kondisi kelas menengah yang sebenarnya dan ini datanya nyata bukan opini.
10 juta orang turun kelas dari kelas menengah dalam beberapa tahun terakhir.
Tapi di saat yang sama jumlah UMKM terus naik dan jumlah investor retail terus naik.
Kelihatannya paradoks.
Tapi Ligwina menjelaskan kenapa dua hal itu bisa terjadi bersamaan.
Ekonomi kita tumbuh tapi pertumbuhan penghasilan individu tidak signifikan.
Konsumsi terus meningkat tapi dibiayai oleh utang bukan oleh penghasilan yang naik. 70 persen konsumen Indonesia pakai paylater.
Dan inklusi keuangan yang naik cepat karena digital artinya akses utang makin mudah tapi literasi keuangan tidak naik secepat itu.
Hasilnya adalah orang punya lebih banyak akses untuk berhutang tapi tidak punya lebih banyak kemampuan untuk mengelola hutang itu. Dulu hutang ke rentenir atau saudara tidak tercatat.
Sekarang hutangnya ke pinjol dan terdata.
Bukan berarti lebih banyak yang berhutang tapi yang berhutang sekarang lebih kelihatan.
Soal perbedaan dagang dan bisnis dan ini adalah insight paling penting dari seluruh obrolan yang menurut gua wajib didengar semua orang yang punya usaha kecil.
Dagang adalah jual beli jual beli jual beli.
Tidak ada sistem.
Tidak ada laporan keuangan.
Tidak ada tim.
Ownernya adalah Chief Everything Officer mengerjakan semua dari produksi sampai pemasaran sampai keuangan sampai pengiriman.
Bisnis adalah entitas yang terpisah dari ownernya. Punya sistem.
Punya tim.
Punya laporan keuangan yang jelas.
Dan yang paling penting ownernya bisa gajian dari bisnis itu secara rutin dan terpisah dari uang operasional bisnis.
Masalah terbesar UMKM Indonesia adalah mereka mengaku punya bisnis padahal masih di level dagang.
Dan selama masih level dagang maka uang hasil jualan langsung masuk ke kantong pribadi untuk kebutuhan hidup tidak ada yang tersisa untuk modal, tidak ada yang dicatat, tidak ada yang bisa diaudit, dan tidak mungkin bisa dapat pinjaman bank.
Soal prinsip paling dasar yang wajib dimiliki siapapun yang punya usaha Ligwina mengambil dari prinsip Islamic Finance tapi berlaku universal.
Jelas tercatat transparan.
Seolah-olah ada investor lain yang akan melihat catatan itu.
Kalau kamu membangun bisnis dengan mindset ada orang lain yang akan mengecek laporan keuanganmu maka secara otomatis kamu akan lebih disiplin.
Kamu tidak akan sembarangan pakai uang bisnis untuk beli lipstik atau baju karena kamu tahu itu akan kelihatan dan akan ada yang bertanya.
Dan satu cara paling sederhana untuk memulai ini tanpa harus langsung bikin laporan keuangan formal adalah pisahkan rekening bisnis dari rekening pribadi. Semua transaksi bisnis masuk dan keluar dari satu rekening.
Di akhir bulan tidak perlu mencatat apapun karena mutasi rekening sudah mencatat semuanya secara otomatis.
Soal utang dan Ligwina sangat tegas tentang ini.
Di kepala kebanyakan orang Indonesia pinjam itu kalau kepepet.
Padahal yang benar adalah pinjam itu kalau mau ekspansi dan sudah jelas cara bayarnya.
Utang yang sehat adalah utang yang cicilan per bulannya tidak lebih dari 30 persen dari penghasilan.
Kalau sudah ada cicilan rumah dan cicilan motor yang totalnya sudah 25 persen dari gaji maka kapasitas utang tersisa hanya 5 persen.
Artinya tidak boleh ambil utang baru apapun alasannya.
Dan untuk bisnis lebih ketat lagi sebelum boleh pinjam modal saldo rekening bisnis harus bisa menutup cicilan 3 sampai 4 bulan ke depan kalau tiba-tiba tidak ada pemasukan sama sekali.
Karena bisnis tidak sekontrol karyawan yang gajinya pasti masuk setiap bulan.
Soal investasi dan ini bagian yang paling sering disalahpahami.
High risk high return itu mitos.
Yang benar adalah high risk maybe yes maybe no return.
Risiko tinggi tidak menjamin return tinggi.
Risiko tinggi hanya menjamin kemungkinan kehilangan uang juga tinggi.
Dan yang paling fundamental investasi bukan untuk jadi kaya raya tanpa batas.
Investasi yang benar adalah investasi yang punya tujuan spesifik dan tahu kapan exit.
Mau berangkat umrah angkanya berapa?
Mau beli rumah angkanya berapa?
Mau sekolahkan anak angkanya berapa?
Kalau sudah sampai angka itu keluar.
Jangan terus tahan karena serakah.
Ligwina menyebut ini sebagai masuk jalan tol ada exit gate-nya. Masalahnya adalah banyak investor retail yang masuk tol tapi lupa di mana mereka mau keluar.
Soal rumus keuangan pribadi 10-20-30-40 yang Ligwina ajarkan.
Dari total penghasilan 10 persen ditabung minimal tidak bisa kurang dari ini.
20 persen untuk gaya hidup dan bersenang-senang. 30 persen untuk cicilan utang maksimum.
40 persen untuk biaya hidup dasar.
Kalau biaya hidup di kota besar memakan 60 persen maka yang dikorbankan pertama adalah gaya hidup. Bukan tabungan.
Bukan cicilan.
Tapi gaya hidup.
Dan kolesterol keuangan adalah angka cicilan utang. Kalau kolesterol tubuh batasnya 200 maka kolesterol keuangan batasnya 30 persen.
Kalau cicilan sudah di atas 30 persen dari penghasilan ada yang salah dan perlu segera diperiksa.
Soal satu hal yang paling keras Ligwina sampaikan dan ini ditujukan bukan kepada masyarakat tapi kepada pembuat kebijakan.
Mengajarkan financial planning kepada orang yang penghasilannya sangat rendah atau tidak punya uang adalah sebuah kekejaman.
Apalagi yang mau diatur?
Apalagi yang mau dihemat kalau semuanya sudah ngepas?
Orang miskin yang dibutuhkan bukan edukasi finansial.
Yang mereka butuhkan adalah lapangan kerja yang layak, pendidikan yang terjangkau, dan akses kesehatan yang mudah.
Itu namanya kebijakan publik bukan financial planning.
Dan selama kebijakan publik belum beres maka jurang antara si punya dan si tak punya akan terus melebar dan friksi sosial yang bisa berujung kekerasan tinggal menunggu waktu.
uang itu netral. Uang tidak punya perasaan. Yang banyak baper adalah manusianya.
Dan selama kita masih baper dengan tampilan kekayaan orang lain di media sosial selama kita masih mengira dagang adalah bisnis selama kita masih berpikir solusi ketika butuh uang adalah pinjam kondisi keuangan kita akan terus rapuh bahkan di saat kita merasa baik-baik saja.
@SeekHustle ga expect bakal seantri itu karena minggu lalu baru beli dan gak antri. kalo rasa menurutku sih emang bisa dicombine karena ubinya ngga manis (cenderung plain) dan kejunya melted. so far sekali beli cukup tapi ga sampe mesti beli lagi apalagi skrg ngantrinya mengular 😅
@Xbacottetangga ini yg bikin driver jujur jadi kena dampak image buruk driver-driver nakal begini. resiko yang diambil ga sebanding sama nilai makanannya pak 🥴
Keluarga besar KompasTV menyampaikan duka sedalam-dalam atas berpulangnya salah satu rekan kami, Nur Ainia Eka Rahmadhynna (Ain).
Semoga almarhumah diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan.
Terima kasih atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan selama ini. Jejak kebaikan dan kenangan Ain akan selalu hidup di hati kami.
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
Halo @Telkomsel, saya pelanggan setia kalian selama 4130 hari. Bukan pengguna baru, bukan sekadar numpang lewat. Tapi hari ini saya merasa hak saya sebagai pengguna tidak dihargai.
i’m saying this with empathy: klo ada cewe yang gamau punya anak dengan alasan gamau ‘merusak’ tubuhnya, it’s super valid. tubuh yang altered itu sangat ngehantam self esteem dan ngaruh ke psikologis dia, ngaruh ke the way she carries herself dan berinteraksi sama orang lain.