Eh gue udah bertahun-tahun abis maghrib baca Al-Waqi'ah, apakah emang iya efek sampingnya bikin tenang tiap menghadapi masalah, soalnya ngerasa diri ini santai tapi tetep dipikirin cara dan solusinya gimana
guys kalian tau gak sih kalo KEMENKES punya layanan konseling PSIKOLOGI yang gak bayar alias GRATIS.
IYA Rp. 0 DAN YANG BALES BUKAN BOT.
namanya Healing119, bisa kamu akses sepuasnya karena ini gak butuh trial-trial gitu. aku kasi linknya di bawah ya.
Dengan sebanyak ini efek samping kontrasepsi perempuam, udah sewajarnya sih laki-laki yang dituntut melakukan kontrasepsi.
Metode coitus interruptus bukan kontrasepsi ya. "Buang" di luar itu tetap berpeluang untuk menghamili.
Ada opsi kondom. Ga enak? Lebih ga enak bagi perempuan jika mereka mengalami kondisi seperti di bawah ini.
Mau yang enak? Ada vasektomi. Tak perlu kondom. Tak perlu coitus interruptus.
Kita sebagai laki-laki tak boleh egois dan tak boleh menutup mata bahwa metode kontrasepsi yang sekarang banyak digunakan itu lebih berpengaruh secara fisik ke perempuan.
jgn pernah married sm cowo bloon yg ga punya pengetahuan dasar tentang obstetri dan ginekologi, menstruasi, ovulasi dan lain-lain. terutama cowo2 yg suka sembarangan nyuruh minum emergency pill tanpa tau long term effectsnya apa
gaji 2 digit, resign tanpa back up plan. nganggur setahun. turns out, masuk kerja lagi gajinya🤟🏻 neraka orang beda2. kemampuan bertahannya jg beda2. interview 16x, gaji admin aja gue ttp apply yg gajinya 7juta tp ternyata tetep dikasihnya berkali kali lipat. gausah fear mongering
ini ngga tahu siapa yg butuh, tapi kalo kalian lagi terkendala biaya/bpjs nya ngga aktif dan butuh ke psikolog. ini aku rekomendasiin Rumah Cahaya, gratis tanpa pungutan biaya. cuma emg ngantri bisa sampe sebulan, ini konsulnya tatap muka lewat zoom kalo offline ada di jaksel
Ngesex akan selalu jadi kegiatan pinggir jurang bahkan setelah menikah.
Aktivitas ini melibatkan ratusan faktor biologis dan psikis sekaligus. Hormon yang meledak, sistem saraf yang overdrive, memori tubuh yang merekam setiap sentuhan, ditambah emotional layer yang bisa naik-turun bak roller coaster dalam hitungan detik.
One wrong move bisa bikin ambyar ketenangan jiwa kamu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, ekspektasi tak terpenuhi, komunikasi yang macet, atau sekadar perasaan yang tiba-tiba “kosong” setelahnya.
Margin of error-nya memang kecil. Tapi kalau kamu dapet sweet spotnya, semua elemen itu nyambung; biologi, psikis, timing, momentum dan kedalaman attachment, gratifikasinya GAK MAIN-MAIN. benar-benar meledak dari jempol kaki sampe ke ubun-ubun.
Bukan sekadar “enak”, tapi semacam pelepasan total yang bikin tubuh dan pikiran seolah di-reset.
Makanya kamu suka mendadak bego kan kalo habis sex hebat sampe orgasme.
Kadang disertai post nut clarity.
Itu soalnya badan dan otak kamu kayak habis dapet hard reset.
Everything, everywhere, all at once.
Justru karena risikonya setinggi itu, setiap kali melakukannya (baik sebelum maupun sesudah nikah) sebetulnya kita sedang bermain di tepi jurang yang sama: satu langkah salah, bisa jatuh jauh; satu langkah tepat, bisa terbang.
Berhubungan sex setelah menikah hanya memperlebar margin of error, bukan berarti jadi bebas dari risiko 😬
Saya bisa bahas lanjutannya terutama dari segi attachment kalo kalian mau tau lebih 🙏
Banyak banget, dan justru yang sering kelupaan malah topik yang paling penting 😭. Sebelum menikah, menurutku minimal ngobrolin:
Keuangan: penghasilan, utang/cicilan, tabungan, gaya hidup, rekening bersama, dan siapa yang menanggung apa.
Anak: mau punya anak atau tidak, jumlah, pola asuh, pendidikan, sampai pembagian tanggung jawab.
Tempat tinggal: tinggal sendiri, dekat orang tua, atau kemungkinan pindah kota/negara.
Karier: apakah dua-duanya tetap bekerja, bagaimana kalau salah satu harus pindah kerja, dan bagaimana mendukung karier pasangan.
Keluarga besar: batasan dengan mertua, seberapa sering berkunjung, bantuan finansial untuk keluarga, dan privasi rumah tangga.
Pembagian pekerjaan rumah: jangan cuma “nanti dibicarakan” bahas konkret siapa melakukan apa.
Konflik: kalau marah biasanya seperti apa, apa yang dianggap tidak bisa ditoleransi, dan bagaimana cara menyelesaikan masalah tanpa saling mengancam pisah.
Nilai dan prinsip hidup: agama, pendidikan, cara memandang kesetiaan, pergaulan, dan keputusan besar.
Komunikasi & kebutuhan emosional: butuh ruang seperti apa, cara menunjukkan kasih sayang, dan apa yang membuat masing-masing merasa aman.
Batasan dalam hubungan: teman lawan jenis, media sosial, privasi HP, flirting, dan hal-hal yang dianggap sebagai perselingkuhan.
Kesehatan dan kehidupan seksual: ekspektasi, batasan, kenyamanan, dan hal-hal yang perlu diketahui pasangan.
Rencana masa depan: target 5–10 tahun, gaya hidup yang diinginkan, rumah, perjalanan, karier, dan prioritas hidup.
Dan satu hal penting: jangan cuma bahas “kita mau punya kehidupan seperti apa”, tapi juga “kalau hidup kita gak berjalan sesuai rencana, kita akan menghadapi itu seperti apa?”
Karena menikah bukan cuma soal cocok saat semuanya baik-baik aja. Justru cara kalian menghadapi uang, konflik, keluarga, kegagalan, dan perubahan bakal jauh lebih menentukan.
Waktu aku kecil, aku iri melihat temanku yang bapak ibunya kerja.
Karena mereka kelihatan kaya 😁✌️
Sebagai konteks, ibuku full IRT. Yang kerja cuma bapak. Ibu beberapa kali minta izin ke bapak buat kerja, tapi bapak melarang.
Teman-temanku yang bapak ibunya kerja, mereka terlihat kaya. Sementara kehidupan keluargaku terasa sederhana, dan aku mengira itu terjadi karena ibuku nggak kerja.
Jadi dulu aku bertekad, aku harus menjadi wanita karir!!!!! Yang tetap bekerja meskipun sudah menikah dan punya anak!!!! Pokoknya karir jalan, urusan rumah pun jalan!!!! Aku wanita kuat dan perkasa HAHAHA 👍👍👍👍👍
Sekarang aku menjalani hidup yang dulu aku mau: karir jalan, urusan rumah pun jalan. AKUNYA YANG CAPEK. 😩👎
Ternyata dulu aku naif, aku nggak paham apa-apa, aku menganggap rendah ibuku yang IRT, dan aku nggak sadar betapa kerennya bapakku yang sanggup memprovide seluruh kebutuhan keluarga sekaligus berusaha memuliakan istrinya.
Btw aku ngetik ini sambil nangis. 😭
Andai anak-anak bisa memahami ini ya, biar mereka jadi lebih menghargai ibu-ibu mereka yg memutuskan jadi IRT.
maju mundur pelan dulu sambil ngegesek, jangan langsung naik turun kenceng.
pegang dada dia biar seimbang, suruh dia pegang pinggang atau tt gue.
kalo udah mentok enak, diam di dalem sambil muter pinggul pelan.
yang penting lepasin aja, jangan ditahan kalo ngerasa mau keluar 😭
Btw aku punya tips buat yg punya problem yg sama, ini bisa dilatih dan sebenernya yg dilatih bukan public speaking, tapi structured thinking. Gimana kita bisa berpikir yang terstruktur/ runut.
Coba biasain kalau mau jelasin sesuatu selalu pakai kerangka sederhana: konteks → masalah → penyebab → solusi (atau awal → tengah → akhir). Jangan langsung ngomong semua yang ada di kepala. Lama-lama otak jadi terbiasa dan otomatis berpikir terstruktur, dan cara ngomong biasanya ikut lebih runut.
Bisa start latihan dgn coba latihan ngomong tiap hari pilih satu topik:
1. cara bikin Indomie,
2. kenapa hujan turun,
3. plot film yang baru ditonton.
Rekam suara 2–3 menit. Nanti dengerin lagi. Biasanya langsung ketahuan bagian mana yang muter-muter.