⠀
Begitulah yang dijelaskan Susumu-san. Aku lantas mengangguk pelan, memandang ketiga jenis besi yang hadir dalam bentuk balok-balok dan lempengan itu.
“Totalnya jadi berapa, Susumu-san?” Aku merogoh kantong koin dari yukata milikku. Semoga saja uang yang kubawa cukup.
⠀
⠀
Hiruk-pikuk Distrik Naniwa terlalu kontras denganku. Begitulah yang dikatakan oleh setiap orang. Suara transaksi yang hampir tidak pernah berhenti, warna biru yang mendominasi—semua melengkapi kesendirianku.
Naniwa terlalu hidup.
Ataukah justru aku yang terlalu mati?
⠀
⠀
Aku tak bisa bilang bahwa sedari dahulu aku hobi merakit (ramuan). Tapi, aku juga tidak bisa memungkiri bahwa kehidupanku di sini membuka mataku akan banyak teknologi baru.
“Yang tebal ini untuk rangka, yang resonansi tinggi untuk mesin. Sisanya untuk baling-baling.”
⠀
⠀
Begitulah penggalan lagu yang sayup-sayup terdengar bagiku. Aku mengernyit setelah mendengar bait lagu bagian kedua.
“Ganti lagumu,” titahku gerah, memencet tombol segitiga di kanan. Siapa juga yang tenggelam, astaga? Bernapas di bawah air, ya, tinggal naik ke permukaan.
⠀
⠀
[✉️] @elaftheria, @tsuitcru
Naniwa, 26 Juni.
結婚おめでとうございます! Aku turut berbahagia di hari terpenting kalian berdua. Semoga berkah Dewa selalu menyertai kalian.
— 神崎春
⠀
⠀
“Tidak heran kau bisa mengenaliku meskipun wajahku berubah,, Ren-san” kataku. Hiruk-pikuk suara Fujimoto-san yang mengusir tengkulak nakal penjual madu artifisial itu terdengar sayup-sayup saja bagiku. “Wajah ini bukan kecelakaan laboratorium—benar-benar berubah sendiri.”
⠀
⠀
Sesuai tujuanku, aku benar-benar menghabiskan waktu di luar, tak lagi di dalam kotak kecil yang dibatasi tembok—rumahku—seperti yang sering kulakukan.
Malam ini, Pasar Daichi no Ichiba. Bagaimana dengan malam-malam ke depannya? Aku akan menentukannya nanti di lain waktu.
⠀